Redaksi yang terhormat…

Saya mau bertanya pada Fr. Daniel Rusen, MSF. Bagaimana tanggapan Frater tentang:

  1. “Bagaimana meningkatkan efektivitas komunikasi antar pribadi dalam keluarga, khususnya keluarga Katolik”?. Apa yang menjadi hambatan?
  2. Mungkin Frater bisa memberikan sedikit gambaran/outline tentang meningkatkan efektivitas komunikasi dalam keluarga.
    bagaimana tanggapan Fr. tentang moral politik dalam kehidupan menggereja?

Terima kasih sebelumnya atas jawaban dari frater.
melky fransiskus.

Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih buat Saudara Melky Fransiskus atas beberapa beberapa pertanyaan buat redaksi Musafir.

Tanggapan kami:

Masalah-masalah dalam kehidupan keluarga dan perkawinan dapat timbul karena berbagai faktor. Secara garis besar masalah yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga dapat dikelompkkan menjadi dua bagian, yakni secara internal dan eksternal. Faktor dari dalam (internal) salah satu yang bisa disebut di sini adalah masalah komunikasi. Paus Yohanes Paulus II menulis demikian dalam surat apostoliknya: “Tanpa komunikasi dialog yang jujur, terbuka, baik verbal dan non verbal sulitlah bagi kita untuk memahami keluarga sebagai suatu komunitas antar pribadi”. (Familiaris concortio. 18). Mengapa komunikasi ini sangat penting karena bila mana komunikasi antar masing-masing indvidu dalam keluarga berjalan pastilah banyak kesulitan dan masalah keluarga dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Dari sebab itu masing-masing pribadi perlu memahami teknik komunikasi yang baik, yang dapat memperdalam relasi antara suami-istri, serta relasi dengan anggota keluarga yang  lain. Tantangan keluarga-keluarga dalam bidang komunikasi dewasa ini adalah bagaimana dalam situasi yang serba sibuk ini: suami-istri, anak-anak, masih bisa meluangkan waktu untuk saling berkomunikasi baik secara kualitas dan kuantitas. Salah satu syarat yang penting agar komunikasi bisa berjalan dengan baik adalah masing-masing individu perlu mempunyai empati.

Empati berawal dari sikap terbuka, memberi kesempatan pihak lain untuk mengekspresikan dirinya, serta mau menerima yang lain apa adanya. Komunikasi yang baik mengandaikan masing-masing pihak saling mendengarkan. Juga bila dalam keluarga terjadi konflik maka masing-masing pribadi diberi kesempatan untuk berbicara secara terbuka, tanpa mengadili. Kemarahan muncul bisa jadi karena adanya perbedaan pandangan, tetapi perbedaan itu pun perlu dihargai sebab dalam hal-hal tertentu memang perlu berbeda, tidak semuanya harus serba seragam. Hambatan yang paling pokok adalah tidak adanya keterbukaan dalam keluarga. Mengapa demikian? karena masing-masing pribadi belum saling mengenal karakter antara satu dengan yang lainnya.

Saya rasa salah satu cara demi efektifnya komunikasi dalam keluarga adalah masing-masing pribadi saling mau membuka diri, setidaknya dalam suatu keluarga ada sikap saling menghormati, saling mendengarkan sehingga setiap ada permasalahan tidak hanya diselesaikan seorang diri (single figther), melainkan bisa disahrekan dengan anggota yang lain sehingga semua bisa ikut merasakan dan membantu mencari solusinya. Ini semuanya bisa terwujud sejauh masing-masing pribadi dalam keluarga berani membangun suatu dialog dan komnukasi antara satu dengan yang lainnnya.

Tentang moral politik dalam kehidupan menggereja: saya rasa peran umat beriman dalam panggung/dunia politik tidak bisa dilepaskan begitu saja dari tugas perutusan Gereja yaitu mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah. Seperti Kristus melaksanakan karya penebusan dalam kemiskinan, begitu pula Gereja dipanggil untuk menempuh jalan yang sama (LG.8). bentuk konkrit yang bisa dilakukan oleh umat beriman dalam kehidupan politik adalah menyelamatkan sesama dengan cara membela hidup manusia dalam segala dimensinynya. Hidup manusia perlu dibela karena hidup itu berharga, bernilai, dan sekaligus menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling tinggi martabatnya di antara ciptaan lainnya. Jadi Gereja Katolik tetap membebaskan umatnya untuk berpolitik, asalkan politik itu dilandasi pada nilai-nilai moral. Pada dasarnya bahwa politik Katolik adalah bahwa tidak ada sesuatu yang ekslusif Katolik dalam perkara politik. Artinya apa yang diperjuangkan Gereja Katolik adalah kepentingan umum, termasuk kepentingan kemanusiaan universal yang nota bene pun menjadi perjuangan agama lain. Kepentingan Katolik dalam politik adalah kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh masyarakat yang beragam, bukan hanya untuk kepentingan orang katolik saja. Dalam nota pastoral KWI Desember 2003 menyebutkan delapan prinsip berpolitik yaitu: (1) hormat terhadap martabat manusia, (2) kebebasan, (3) keadilan, (4) solidaritas, (5) subsidiaritas, (6) fairness, (7) demokrasi, dan (8) tanggung jawab.

Demikian beberapa tanggapan kami buat saudara Melky yang suda mengajukan pertanyaan kepada team redaksi Musafir. Semoga bermanfaat.
Fr.Daniel MSF
Salam hormat kami dari redaksi Musafir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s