Mengayau

mengayau01Sungai di sini agak lebar dan kami melewati banyak karangan kerikil luas. Andaikata para pendayung berada dalam kondisi baik perahu akan digalah teralun dan tergoyang di sini. Tetapi sekarang mereka sedang lelah dan sering perahu sangkut di karangan karena pikiran sang pengemudi termenung.

Di sebelah kanan kami melihat Batu Milih yang besar serta pejal; puncaknya masih tertutup dalam kabut pagi hari.
Di sebelah kiri kami melewati Long Bluu, tempat bekas kampung Long Pakaq. Masih kelihatan beberapa pohon buah dan beberapa tiang ulin yang ditinggalkan. Kami berdayung lewat tempat ini pelahan-lahan karena rupanya para pendayung ingin mengamat-amati tempat ini dengan seksama. Sementara saya sudah mendoakan Vesper dan saya menutup brevir, meminum segelas kopi dan menyalakan sebuah sigaret lagi.

Sekali lagi saya mengajak para pendayumg supaya bekerja lebih kuat sebab kalau tidak kami tidak akan sampai Long Cihan, kampung yang berikut. Tetapi ajakan saya sia-sia. Bahkan orang yang tadi sakit perut mengusulkan supaya bermalam di Long Troni. Long Troni adalah anak sungai kecil di sebelah kanan dan dekat muara terletak beberapa ladang yang ditinggalkan orang tetapi pondok-pondoknya masih agak bagus. Pondok-pondok ini sering dipakai orang sebagai tempat pemberhentian bila air naik dan orang-orang tidak dapat sampai Long Cihan. Saya mengatakan dengan tegas bahwa kami sama sekali tidak akan bermalam di Long Troni, paling-paling kami akan makan di sana dan kemudian terus ke Long Cihan, biar hari sudah jauh malam.

Perkataan saya sebentar berhasil; mereka berdayung kuat tetapi sebuah perahu kecil yang hanyut menarik perhatian mereka dan mereka omong-omong entah tentang apa. Perahu saya mudik dengan tenang tetapi terlalu lambat. Terpaksa saya meminum segelas kopi lagi, merokok lagi sambil membaca sedikit.

Di bagian sungai ini kurang berlalu lintas. Kadang-kadang kita bertemu dengan sebuah perahu yang sedang menuju ladang. Di suatu tempat seorang nelayang memasang umpannya. Tetapi bisa terjadi juga kita tidak bertemu perahupun sepanjang jalan ini.

Hari ini lalu lintas lebih ramai. Beberapa perahu melewati kami dan tiap-tiap perahu menarik perhatian para pendayumg kami. Saya acuh-tak acuh terhadap perahu-perahu itu, juga terhadap orang-orang yang duduk di dalamnya, karena saya tidak mengenal mereka. Tetapi menjelang tengah hari sebuah perahu melewati kami, yang juga menarik perhatian saya. Perahu itu sedang besar dan berat muatannya. Waktu perahu itu masih jauh dari kami seorang pendayung kami berkata :
“Oppas milir – polisi milir.”

Saya agak mengenal petugas-petugas polisi dan karena itu saya bertanya:
“Siapa namanya?” “Ringkai”, mereka menjawab.
Saya membaca lagi. Waktu perahu mendekat terjadi pembicaraan antara para pendayung saya dengan orang-orang yang duduk di perahu lain dan saya dapat menangkap sedikit dari pembicaraan mereka. Berulang kali saya mendengar kata “Heban”. Ini adalah nama suatu suku Dayak, yang berdiam di bagian Kalimantan Inggeris dan terkenal karena pengayauan. Sebelum pemerintahan Belanda mereka sering menyerang suku-suku di pinggir sungai Mahakam dan orang tua-tua masih mempunyai kenang-kenangan akan pengayauan itu. Di Long Ka„i masih ada sisa pemukiman militer kecil yang didirikan di sana guna membatasi pengayauan itu.

Perahu itu melewati kami di pinggir seberang dan sebagai salam saya melambai-lambaikan dengan topi saya. Sebentar lagi perahu itu sudah terlalu jauh sehingga tidak mungkin lagi berbicara dengan mereka. Kata “Heban” telah menarik perhatian saya dan karena itu saya bertanya:
“Bagaimana kalian ramai membicarakan Heban; apakah ada berita tentang suku itu?”
Langsung mereka berhenti mendayung dan keheran-heranan mereka serentak bertanya:
“Apakah tuan tidak mendengar apa-apa tentang suku Heban?”
Saya menjawab:
“Saya hanya mendengar bahwa nama suku itu disebut tadi, tetapi lain-lain tidak saya tahu.”
Pada saat itu si sakit perut itu tidak tahan lagi dan secara mencela ia berkata:
“Tuan, Heban sudah datang!”
“Di mana mereka?” saya bertanya. Lantas mereka menjawab:
“Di hulu sungai Mahakam dan jumlah mereka diperkirakan seribu orang,” mereka jawab.

Terdengar suara mereka ketakutan dan terlihat mata mereka ketegangan. Andaikata saya kini memberi isyarat rasa takut juga pasti mereka akan balik haluan.

Tetapi saya tidak mau menyerahkan begitu saja berdasarkan kabar angin yang tak terperiksa, lantas saya bertanya secara lucu:
“Mereka mencari apa di sini? ?
Mereka semua menjawab serentak:
“Mengayau, tuan!”

Saya menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa setiap tahun terjadi isyu tentang pengayauan dan bahwa setiap kali isyu itu tidak benar. Tetapi saya sudah melihat banyak perahu yang milir yang mengantar ibu-ibu dan anak-anak. Mereka membawa serta harta milik mereka ke tempat aman di atas gunung. Setelah segala-galanya diamankan para pemuda akan balik kembali untuk berperang. Juga polisi melarikan diri dan itulah tanda bahwa keadaan serius.

Saya perlu merenungkan hal-hal itu. Andaikata berita itu benar: apa yang harus saya lakukan? Apakah mudik terus dan dengan demikian membawa para pendayung saya ke dalam keadaan yang membahayakan? Apakah saya membiarkan konfrater saya seorang diri yang juga dalam keadaan bahaya? Dalam surat yang telah saya terima dari pastor Slot beliau sama sekali tidak menyinggung Heban. Jadi isyu kali ini lagi tidak benar?

Setelah saya memikirkan semuanya saya ambil keputusan yang saya sampaikan kepada pendayung saya:
“Kita mudik terus sampai kita menerima berita dari pastor Slot atau pastor v.d. Salm”.
Seseorang dari pendayung mengemukakan pendapat bahwa kedua pastor itu kemungkinan sudah dibunuh. Saya melawan pendapat pendayung itu dan berkata:
“Andaikata kedua pastor sudah dibunuh kita pasti mendengar berita dari orang yang melarikan diri”.

Saya coba menguat hati mereka dan mengemukakan bahwa kita tidak akan melarikan diri karena suatu kabar angin.
Para pendayung duduk tegak kembali, memegang dayungnya dan ternyata perahu laju maju. Untuk saya sekarang segala-galanya jelas. Soal surat di Long Pakaq tadi bermaksud meyakinkan Kepala Adat bahwa saya belum tahu apa-apa. Sakit perut itu berupa hanya ketakutan dan berdayung lambat disebabkan oleh keyakinan bahwa mereka menuju kematian. Tetapi pendayung yang telah meramalkan air tinggi rupanya benar. Daun pohon yang kering hanyaut dengan arus; air menjadi keruh dan dari jauh kelihatan sebuah batang pohon sedang hanyut.

Kami telah melewati Long Troni dan di ulu sedikit kami makan. Sungai kini menjadi lebih sulit dilayari karena karang dan batu banyak di alur sungai. Kesulitan-kesulitan menjadi semakin besar dan para pendayung harus bekerja semakin keras. Menyolok mata saya bahwa pengungsian semakin terjadi. Banyak perahu, kadang-kadang tiga atau empat sekaligus milir.
Arus semakin deras dan gelombang semakin tinggi. Sering air masuk ke dalam perahu. Membaca tidak mungkin.

Kesibukan saya kini mencedok air dari perahu dan menangkis dahan karena air naik cepat.
Walaupun para pendayung bekerja keras kami lambat maju. Matahari mulai menurun ke belakang puncak gunung-gunung. Para pendayung saya mau cepat-cepat, rupanya mau memperbaiki kelambatan mereka di siang hari tadi. Para pendayung di haluan perahu dan pengemudi saling berkomunikasi dengan perintah yang diteriakkan. Perjuangan sengit melawan kekuatan alam.

Sekitar jam 17.00 lewat kami melihat jauh di depan asap yang naik dan kami mendengar bunyi orang yang menumpuk padi. Jadi pasti di situ ada ladang dan orang. Hal ini menenangkan para pendayung yang mengira bahwa di daerah ini tidak ada orang lagi karena pasti sudah melarikan diri. Sedikit malu karena mereka lambat tadi siang Baan berkata:
“Tuan, kemungkinan kami tidak akan sampai Long Cihan.”
“Lihat saja”, saya menjawab. Saya mengerti bahwa hari akan cepat malam dan dengan air yang deras ini tidak mungkin kita berjalan dalam gelap. Maka kita akan minta izin tidur di ladang orang. Para pendayung kini bekerja keras sekali dan punggung mereka yang telanjang mengkilat dari keringat.

Jarak antara kita dengan ladang masih jauh, air menderu dan sulitlah mencari alur yang baik. Tetapi kesulitan ini dapat diatasi dan akhirnya kita berlabuh di depan sebuah pondok. Kami diizinkan tidur dan para pendayung mulai mengosongkan perahu. Saya menyuruh Baan mengikat perahu kuat-kuat dan bila perlu ditarik ke atas pinggir untuk mencegah perahu hancur atau hanyut andaikata tali rotan putus. Sesudah itu saya naik darat masuk pondok orang yang suka menerima tamu.

Sementara matahari sudah terbenam di belakang gunung dan sungai sudah berwarna agak coklat karena pasir dan tanah liat yang dihanyutkan oleh air deras. Air sudah naik sampai mengenai dahan pohon yang rendah dan sungai berdesir, disebabkan daun-daun yang tergantung dalam air. Beberapa meter di ilir, tepat pada tempat sungai berbelokan air menderu dasyat ke atas batu-batu besar. Satu jam yang lalu para pendayung telah melewati tempat itu dengan susah payah. Kini mereka menghadap jalan yang lebih sulit lagi.

Seperti biasanya pondok itu dibangun di atas tongkat tinggi dan sebuah batang dengan takuk berdiri di depan sebagai tangga. Dari pondok keluarlah asap biru. Enam ibu menumbuk padi di bawah kolong. Mereka bekerja tergesah-gesah dan saya mendengar mereka berkata satu sama lain:
“Tuan datang,” tetapi mereka bekerja terus. Pondok itu tidak terlalu besar dan saya kurang bersemangat untuk duduk dengan kaki bersilang. Sepanjang hari saya telah duduk dengan kaki bersilang dalam perahu dan karena itu saya berjalan-jalan sedikit di halaman di depan pondok sedangkan para pendayung mengosongkan perahu dan memikul barang masuk pondok. Ayam dan ayam jago telah dimasukkan ke dalam keranjang yang digantungkan di bawah atap. Dua ekor babi yang kurus mendengkur kelaparan di bawah kolong tepat di atas dapur sehingga semua sampah dapur jatuh ke dalam kandang babi melalui celah papan lantai. Seekor anjing yang berkurap menyelinap di antara ibu-ibu yang menumbuk padi, ekornya di antara kaki, sedang rajin menjilat kulit padi yang jatuh dari lumbung.

Hari menjadi cepat gelap. Tiba-tiba saya mendengar suara anak-anak di ladang dan tidak lama kemudian tiga anak pria muncul. Mereka tertawa sedikit malu ketika melihat saya dan mengucap sambil menunduk kepala:
“Selamat malam, Tuan.”
Beberapa medali yang baru sekali tergantung pada leher mereka dan saya bertanya karena ingin tahu apakah mereka katolik. Mereka menjawab:
“Ya, kami telah dibaptis pagi ini oleh tuan Salm.”
Kemudian saya bertanya:
“Apakah kalian diberi libur?”
Mereka menyahut:
“Tidak, tuan, kami melarikan diri.”
Lantas saya berkata:
“Melarikan diri pada hari permandianmu rasanya kurang pantas.?
Mereka menyahut :
“Kami tahu, tuan, tetapi kami melarikan diri karena Heban. Sesungguhnya ayah menjemput kami dan langsung seusai Misa kami disuruh naik perahu, karena semua orang di sini ketakutan terhadap Heban.”
Ternyata sekolah di Batu-Urah tutup; rupanya adanya suasana panik. Anak-anak masuk ke dalam pondok, barangkali untuk memeriksa barang saya karena meja dan tempat tidur yang dapat dilipat menarik perhatian orang luar biasa.

Saya sedang berjalan-jalan tanpa tujuan di halaman yang kecil sambil berpikir. Saya meningat banyak perahu yang hari itu kami telah menemui, surat-surat Hang Kueng, kepala kampung Long Pakaq, polisi yang juga telah melarikan diri dan sekolah tutup di Batu Urah. Apakah ketakutan ini mempunyai dasar dan kami semua berada dalam situasi berbahaya? Apakah betul Heban mendekat datang? Kami, orang Eropah, tahu apa tentang pengayauan? Apa yang harus saya lakukan: besok mudik terus bila air baik atau milir kembali? Mudik terus mempunyai risiko bahwa kami akan menghadap bahaya; milir akan mengakibatkan suasana panik besar sekali.

Sebenarnya saya lebih condong untuk terus mudik bila air baik, lebih-lebih karena saya tidak mempunyai bukti jelas tentang Heban; semuanya berupa hanya isyu. Hanya soalnya apakah para pendayung saya bersedia lebih lama lagi menghadap bahaya demi tuan mereka yang putih lagi sok-tahu. Untuk saya bukan perkara gampang.
Sebuah obor damar di pondok sudah bernyala dan para ibu di kolong kelihatan sebagai bayangan gelap. Gunung-gunung sekitarnya kelihatan gelap dan terdengar teriakan seekor kera di hutan. Beberapa kalong keluar dari pohon, lantas terbang seperti setan-setan hitam melalui langit yang semakin gelap.

mengayau02.jpgTiba-tiba saya mendengar di belakang saya teriakan seseorang yang ketakutan. Saya terkejut, Saya berhenti sebentar, baru setelah beberapa detik saya membalik. Seorang Dayak, berbadan besar dan berat berdiri di depan saya. Ia memegang tombak dengan perisai, parangnya terikat di pinggang. Di atas kepalanya ia memakai topi yang dianyam dari rotan kasar. Topi itu berupa semacam helem karena rotan kasar itu dapat menangkis pukulan parang andaikata terjadi dan dengan demikian melindungi kepala. Badan bagian atas tertutup dengan semacam kasula terisi kapok. Kasula itu dibuat dari kulit kayu, padat sekali dan tebalnya lebih dar jari, jadi berupa semacam perisai yang dapat menangkis anak sumpit yang beracun. Perisai bagian belakang dan juga topi dihias dengan bulu ekor burung enggang.

Ia berdiri bagaikan sebuah bayangan gelap dan perisai yang kaku itu membuat bahu-bahunya lebih lebar lagi. Ketika ia melihat saya ia menggerutu sesuatu lantas menghilang ke dalam pondok. Para ibu mengikutinya. Tidak lama kemudian para pendayung saya muncul dan berjalan-jalan mengelilingi saya. Kemudian para ibu muncul kembali sambil memikul keranjang yang mereka isi dengan beras yang baru ditumbuk. Juga anak-anak muncul sambil memikul barang ke sungai.
Saya memanggil Bang dan bertanya:
“Apa yang sedang terjadi?”
Sahutnya:
“Mereka akan milir malam ini juga.”

Saya terkejut sekali. Saya merasa diri bertanggungjawab atas hidup mereka, yang hendak milir, sedangkan perjalanan itu penuh bahaya karena air tinggi dan hari sudah malam.
Saya bertanya lagi:
“Siapa yang menyuruh mereka milir?”
Jawabnya:
“Saya tidak tahu; barangkali tidak ada perintah sama sekali, tetapi orang yang baru tiba mengatakan bahwa Heban sudah dekat dan mereka harus melarikan diri demi keselamatan nyawa mereka.”
Lantas saya bertanya:
“Apakah orang itu tahu bahasa Malayu?”
Jawabannya:
“Ia tahu, tuan, karena ia pernah selama 5 tahun bersekolah di Tering.”

Sementara orang itu telah keluar dari pondok dan berdiri bersandar pada tombaknya sambil menyaksikan kesibukan orang, yang sedang mengosongkan seluruh isi pondok dan memuatkan perahu-perahu untuk perjalanan malam. Perahu-perahu itu tertambat di pinggir sungai dan menabrak satu sama lain karena arus deras.
Saya mendekati orang itu, mengucap selamat malam lantas saya bertanya:
“Apa yang akan terjadi?”
Jawabnya:
“Lari, tuan, kami melarikan diri.”
Saya bertanya lagi:
“Apakah milir sekarang dengan air sejelek itu?”
Sahutnya:
“Ya, sekarang ini juga, tuan.”
Saya berusaha merobah pemikirannya lantas berkata:
“Bapa, cobalah bijaksana. Lihatlah sungai, air masih naik dan dengarlah bunyi sungai yang keras dan pusaran air. Bila kalian kini mau milir dengan air yang deras dan malam gelap kalian pasti akan kecelakaan. Jadi sebaiknya kalian tinggal di sini.”
Katanya: “Tidak, tuan, kami pergi!”
Saya menjawab:
“Bapa, janganlah bodoh, mau kemana dengan air yang masih naik ini dan di malam gelap? Tidak seorangpun mampu berdayung di sungai sejelek ini.”
Orang itu merasa diri agak tersinggung; dengan bangga ia berdiri tegak dan berkata:
“Kami, orang Penihing, lihai berdayung!”
Saya menjawab:
“Memang saya tahu bahwa Penihing lihai berdayung tetapi titak dalam keadaan ketakutan, dengan perahu-perahu yang terlalu penuh dan dengan air sekarang. Bapa, tinggallah di sini dan tunggu sampai besok pagi. Apa sebabnya begitu terburu-buru?”
Ia menyahut:
“Karena Heban, tuan.”
Sedikit mencerca saya berkata:
“Tidak apa-apa sang Heban!”
Sahutnya: “Apakah tuan melihat matahari hari ini?”
“Ya saya melihatnya,” saya jawab.
“Apakah tuan juga melihat bahwa matahari itu merah sama sekali,” katanya.

Dan memang benar matahari tidak dapat bersinar penuh hari itu. Barangkali orang masih membakar hutan di sana-sini untuk membuat kebun sehingga langit penuh dengan asap. Matahari berada pada langit berkabut seperti jeruk oranye yang besar.

Saya ingin tahu bagaimana orang itu bisa menjelaskan apa sebabnya matahari merah, lantas saya bertanya:
“Apa sebabnya matahari itu merah?”
Jawabnya: ” Disebabkan oleh asap, tuan; orang Heban membakar Long Apari dan karena itu langit penuh asap.”
Long Apari terletak 2 hari mudik lagi. Pertanyaan kini: dari mana asalnya orang ini. Ternyata ia datang dari ladang di Long Cihan yang terletak hanya 2 atau 3 jam berdayung dari pondok tempat kami tinggal saat ini.
Supaya jelas saya bertanya lagi:
“Saudara datang dari mana?”
“Dari Long Cihan, tuan.”
Saya menjawab:
“Long Apari terletak pasti 2 atau 3 hari berdayung di ulu Long Cihan. Jadi bagaimana saudara tahu bahwa Long Apari dibakar orang?”
Sahutnya: “Tuan, terbukti oleh asap dan matahari merah!”

Pernyataan itu saya anggap bodoh dan agak marah saya menjawab:
“Saudara janganlah beromong kosong. Matahari sudah merah dua atau tiga hari akhir-akhir ini; di mana-mana orang membakar kebun atau ladang. Sudah pasti saudara tidak boleh berangkat dan harus tinggal di sini.”
Lantas orang itu bertanya:
“Tuan mau berbuat apa?”
Pertanyaan ini merupakan bagi saya bukti bahwa keputusannya bergoyang dan tanpa bimbang saya berkata:
“Malam ini saya tinggal di sini.”
Langsung ia menjawab :
“Kami semua akan berangkat.”

Saya tidak bisa menahan diri lagi. Saya telah berusaha meyakinkan orang-orang ini supaya tidak berangkat dan dengan demikian akan membunuh diri; tetapi andaikata mereka keras kepala dan tetap mau menghadap bahaya maut, saya menyerahkan keputusan kepada mereka.

Maka dengan keras saya berkata:
“Jika kalian keras mau berangkat dan dengan demikian menghadapkan anak-anak serta ibu-ibu bahaya maut, silakan berangkat; boleh juga membawaserta para pendayung saya. Saya tinggal di pondok ini, karena di tempat ini saya merasa diri aman sedangkan andaikata saya ikut kalian pasti saya akan kecelakaan. Perahu-perahu kalian dimuat terlalu berat, air terlalu tinggi dan maih naik dan malam terlalu gelap. Tetapi saya mengucap kepada kalian: Selamat jalan.”
Saya berbalik hendak masuk pondok, tetapi orang itu menahan saya.
Lama ia berdiri sambil berpikir. Barangkali ia terdiam karena saya telah berkata akan tinggal seorang diri dalam pondok. Pada akhirnya ia bertanya:
“Tuan akan berbuat apa hari besok?”
Saya menjawab: “Bila air baik besok saya akan terus mudik ke Batu Urah.”

Lama lagi ia berdiam. Mudik ke Batu Urah berarti: mendekati bahaya dan keputusan saya meyakinkan dia bahwa pelarian tergesah-gesah ini adalah kurang bijaksana. Ia berdiri tegak dan berkata sesuatu dalam bahasanya sendiri. Sebentar kesibukan orang terhenti, lantas mereka memikul kembali barang dari perahu masuk ke dalam pondok. Di belakang saya dalam kegelapan saya mendengar suara yang berbisik:
“Mesaan – kami tidur di sini.?
Para pendayung saya yang telah mendengarkan secara diam-diam pembicaraan saya dengan orang Penihing. Walaupun mereka juga penuh ketakutan terhadap orang Heban namun mereka kurang bersemangat berdayung di sungai yang dashyat yang kurang mereka kenal apalagi saat air naik dan malam gelap. Saya masih menungu sebentar di luar sampai semua barang terangkut ke dalam pondok. Bang sudah mulai memasak waktu saya masuk ke dalam pondok dan ibu-ibu sedang duduk menunggu karena sesaat Bang selesai masak mereka akan mengatur makanan. Sambil menunggu perjamuan saya membagi-bagi tembakau dan kami merokok sehingga pikiran menjadi lebih tenang.

Walaupun pondok penuh dengan orang yang sedang duduk suasana agak sepi. Para penghuni dan para pendayung saya berasal dari suku dan bahasa yang berbeda. Perlu mereka berorientasi sebentar untuk saling membiasakan. Suku Dayak-Bahau menganggap kebudayaannya lebih tinggi dari kebudayaan Dayak-Penihing. Sebaliknya orang Penihing berbadan lebih besar dan lebih mahir dalam riam. Karena itu kedua suku saling menghinakan. Orang Bahau menghina orang Penihing karena orang Penihing lebih kasar; orang Penihing menghina orang Bahau karena orang Bahau lebih lemah dan kurang mahir di riam. Pernikahan di antara kedua suku jarang sekali terjadi dan selalu makan waktu bila mereka bertemu satu sama lain untuk berbicara lancar. Ditambah lagi bahwa baik para pendayung saya maupun para penghuni pondok merasa diri capek dan lebih sauka makan dari bercakap-cakap.

Bang sedang masak nasi dan sibuk memotong-motong daun ubi kayu untuk direbus kemudian sebagai sayur. Para hadirin lain sedang merokok; satu-satunya menguap dan anak-anak sedang tidur di sudat pondok.

mengayau03.jpgTiba-tiba semua orang penuh perhatian. Kami mendengar bahwa sebuah perahu diikat di jamban. Orang saling memandang keheranan. Siapa gerangan itu? Seorang bapa yang tua mengemukakan bahwa mungkin Lejau singgah dan ternyata betul. Sebentar kemudian Lejau melempar seekor babi hutan ke dalam pondok melalui pintu yang terbuka sambil berkata:
“Seekor babi hutan!”
Orang-orang menyahut:
“Tuan tŠ – tuan ada.”

Bila seorang Dayak melihat babi hutan, ia melupakan segala-galanya. Kini juga terjadi keramaian. Beberapa pemuda mulai potong kayu dan beberapa ibu membersihkan kuali dan anak-anak terbangun dari tidur, mengelilingi babi itu sambil menerka berapa tebalnya lemaknya. Di belakang kaki depan babi itu kelihatan luka besar dari tombak yang akibatkan babi itu mati dan anak-anak memasukkan jari ke dalam luka itu untuk mengukur tebal lemaknya. Tetapi mereka diusir karena beberapa pemuda yang kuat menyeret babi itu ke tengah pondok dan menggantungkannya pada tiang pondok. Kemudian mereka menghanguskan bulu babi dengan memakai obor sehingga seluruh pondok berbau daging hangus. Kemudian dengan pakai parang mereka membersihkan kulit hitam itu, sehingga kemudian timbul lapisan lemak yang putih.
Dalam waktu tidak lama seekor babi kecil yang putih tergantung pada tiang. Beratnya babi kecil dan muda itu kl. 40 kg. Mereka melepaskan babi itu dari tiang lantas meletakkannya di atas lantai dan isi perut dikeluarkan lalu dimasukkan ke dalam sebuah nyiru. Sebentar kemudian tiga orang memotong-motong babi itu ke dalam potongan kecil, baik daging maupun tulang. Seorang bapa yang tua berdiri dengan susah payah, mengambil sebuah keranjang, berjongkok dekat isi perut, mengambil sesuatu yang ia kemudian masuk ke dalam keranjang. Kemudian ia berdiri tegak, mengambil sebuah dayung dan berkata:
“Saya pergi pancing.”
Seorang anak mengikutinya.

Ibu-ibu mencuci daging, lantas memasukkannya ke dalam sebuah panci besar setelah mereka membagikan daging dalam jumlah besar kepada Bang.
Sebentar kemudian panci sudah ditaruh ke atas api dan seorang ibu bertanya kepada Bang:
“Apakah sdr. punyai serai?”
Bang mengambil senter saya dan menyerahkannya kepada 2 anak yang kemudian lari ke belakang pondok. Tidak lama kemudian mereka timbul kembali dengan membawa serai yang diminta. Bersama anak-anak itu lima atau enam ekor anjing masuk pondok, menjilat lantai lantas mulai berkelahi keliling isi perut babi itu. Beberapa pemuda memukul pakai kayu bakar dan menyepak anjing ke luar dan anjing jatuh ke bawah sambil menyalak. Isi perut babi dilemparkan juga ke bawah di mana anjing meneruskan perkelahian mereka.

Kini suasana dalam pondok menjadi lebih ramai. Suasana takut menhilang dan harapan akan perjamuan yang enak meningkatkan kesukaan berbicara. Lejau menceriterakan bagaimana ia telah menangkap babi itu sambil dengan penuh perhatian mencabut duri-duri dari telapak kaki. Bang sedang menggoreng daging babi sehingga pondok berbau daging masak. Bang mengetahui selera tuan. Ibu-ibu membungkus nasi ke dalam daun pisang, yang mereka menghangatkan lebih dahulu di atas api supaya daun itu lebih lemas. Orang menyediakan piring dari email serta mangkuk dari kayu. Bang mencari tempat yang cocok untuk memasang meja lipat saya tetapi tidak menemuinya. Saya memberi isyarat kepadanya supaya ia menyediakan makanan buat saya juga di lantai saja.

Tidak lama kemudian kami semua sedang makan. Beberapa ekor anjing berhasil masuk pondok lagi, mencari kulit dan tulang yangt dibuang oleh orang-orang yang sedang makan. Sebentar kemudian bapa yang tua itu muncul kembali sambil memegang seekor ikan yang besar sekali. Bapa itu bersama anak yang telah mengikuti dia duduk bersama orang yang sedang makan. Rupanya makanan enak sekali sebab semuanya habis dalam waktu setengah jam. Anjing-anjing menjilat sisa nasi dalam daun pisang. Setiap orang telah membersihkan piring dan mangkuk sendiri, mencuci tangannya dan berkumur. Ibu-ibu mengemaskan daun pisang dan obor ditaruh kembali di tengah pondok. Beberapa dari mereka membersihkan panci dan ikan yang baru ditangkap. Ibu-ibu yang lain duduk atau berbaring di pondok sambil merokok atau makan sirih.

Kemudian orang meninta pendapat saya tentang isyu adanya pengayau. Setelah saya memberi pendapat saya seorang bapa yang tua mulai bercerita tentang perjalanan pengayauan, yang pernah ia sendiri alami. Tidak seluruh ceritanya dapat saya menerti, tetapi karena ia demi para pendayung saya memakai sedikit bahasa Bahau saya dapat mengerti pembicaraan kurang lebih. Dari penangkapan para pendengar menjadi jelas bahwa mereka sangat tertarik.

Menurut cerita orang tua itu – dan banyak orang lain menguatkan cerita itu karena mereka telah mengalami juga – para Heban telah mempergunakan meriam waktu perjalanan pengayauan mereka yang terakhir. Juga suku Bahau di pinggir Mahakam mempunyai meriam ini; laras meriam itu dibuat dari perunggu dan dikirim oleh sultan ke pedalaman supaya masyarakat mampu membela diri terhadap serangan suku-suku yang bermusuhan. Ukuran meriam itu berbeda.

Beberapa meriam mempunyai hanya laras perunggu sedangkan pada beberapa meriam lain terpasang sebuah pasak sehingga meriam itu dapat berdiri di atas kaki. Meriam yang ini diangkut oleh Heban. Meriam itu diisi dengan mesiu dan sebagai peluru mereka mempergunakan rantai jala. Tetapi rupanya cara ini kurang berhasil:
Pertama: mesiu cukup hanya untuk beberapa tembakan dan kedua: orang dapat melihat rantai yang ditembaki sehingga sempat meminggirnya. Tetapi akibat moril meriam itu rupanya fatal karena ketakutan terhadap orang yang dapat meludahi api dan rantai menuju lawan melumpuhkan keberanian orang Bahau dan orang Heban berangkat lagi membawa serta banyak rampasan barang dan kepala sambil meninggalkan banyak kampung yang dibakar.
Pembicaraan menjadi ramai. Cerita demi cerita dikemukakan. Seorang bapa menceritakan bahwa ia pernah mengalami bahwa salah satu kampung dikepung oleh orang Heban. Mereka telah berkemah di hutan, lebih dari satu jam jauhnya dari kampung, tempat yang jarang diinjak orang karena daerah itu sulit sekali dan juga tidak ada ladang. Seseorang yang sedang berburu telah melihat asap yang ia kemudian dekati dengan hati-hati. Ia memperhatikan bahwa di mana-mana ada bekas kehadiran orang dan akhirnya ia menemui kemah. Ia tidak dapat menghitung jumlah orang yang hadir, tetapi jumlah mereka banyak sekali. Ia berbalik secara tersembunyi dan melaporkan pengalamannya di kampung. Kampung membuat tanda bahaya dan mempersiapkan pembelaan dengan mendirikan pagar mengeliling kampung. Sesudah jam enam malam semua orang tinggal di rumah dan semua tangga ditarik ke atas serambi. Bila siang hari ibu-ibu hendak ke ladang mereka ditemani oleh orang-orang pria yang bersenjata lengkap. Tetapi hari-hari berlalu dan tidak terasa suatu kegiatanpun di kemah musuh dan karena itu kewaspadaan melemah.

Pada suatu malam langit berawan, pada ufuk terdengar bunyi guntur dan seusai hari yang panas terik suatu angin sejuk bertiup di hutan dan pohon-pohon bergerak bergoyang. Di kampung suatu upacara berlangsung guna meminta perlindungan terhadap bahaya yang mendekat kepada roh-roh. Orang-orang memukul gong sambil menyanyikan doa. Seorang tukang belian wanita yang tua menyanyikan dengan suara berderak sajak-sajak lantas bapa-bapa dan ibu-ibu mengulangi refrein sambil menggoyang-goyang badan bagian atas. Kadang-kadang nyanyian terhenti pada saat seekor ayam atau anak babi dipersembahkan; sesudah itu orang mulai menyanyi lagi dengan suara lebih keras, lebih mendesak dan bunyi pukulan gong juga lebih keras. Bila nyanyian sebentar terhenti terdengarlah bahwa angin sudah bertambah dan bertiup keras di hutan bagaikan suatu topan yang akibatkan pohon-pohon tergoyang oleh kekuatan angin. Juga rumah-rumah di kampung tergoyang oleh angin kencang. Tetapi para penduduk mempersembahkan dan bernyanyi berjam-jam lamanya sambil menantikan pertolongan para roh.

Walaupun beberapa hari sudah lewat tanpa kelihatan kegiatan dari para pengepung, namun sementara mereka tidak duduk diam. Tidak jauh dari kampung mereka telah mengumpulkan tumpukan kayu kering. Mereka tahu bahwa kehadiran mereka sudah diketahui oleh orang kampung karena mereka sudah memberi isyarat bahaya dan memasang pagar mengelilingi kampung. Kini mereka mengetahui juga bahwa tidak seorangpun dari penduduk akan keluar dari kampung. Dengan demikian mereka mempunyai waktu leluasa untuk mengumpulkan kayu. Dan kini dalam malam yang penuh angin ribut beberapa pengepung sedang memikul kayu kering itu ke bawah rumah-rumah kampung. Karena angin ribut dan bunyi pohon-pohon yang digerakkan oleh angin itu langkah kaki mereka tidak terdengar. Setelah mereka bekerja beberapa jam maka di beberapa tempat kayu kering itu sudah terpasang di antara tiang-tiang kolong rumah. Sesudah itu para pengepung mengelilingi kampung; mereka menyembunyikan diri di belakang pohon dan belukar. Seorang di antara mereka memasang api dan menyalakan sebuah obor yang disembunyikan di belakang perisainya. Kemudian ia lari dari tumpukan kayu yang satu ke tumpukan kayu yang lain dan dalam waktu beberapa menit seluruh kampung terbakar.

Gong-gong berdiam dan nyanyian diganti oleh teriakan ketakutan ibu-ibu dan anak-anak. Para pria menyiapkan senjata mereka. Akan tetapi api tak dapat dilawan. Karena takut mati kebakaran para penduduk melompat dari serambi ke bawah. Baru pada saat itu para pengepung muncul, berteriak-teriak sambil membunuh pria, wanita dan anak dengan parang dan tombak secara keji. Menjelang pagi hari para pengayau pulang sambil membawaserta rampasan banyak kepala. Banyak penduduk kampung mati dalam api, tetapi juga banyak berhasil melarikan diri karena para pengepung tidak mampu membunuh semua orang. Mereka yang sempat melarikan diri kembali ke kampung pada pagi hari dan menemui hanya tumpukan abu penuh dengan mayat yang terbakar.

Berjam-jam lamanya orang menceritakan kisah-kisah semacam ini di pondok. Akhirnya salah seorang laki yang tua berkata:
“Saya pergi tidur.”
Tetapi di tempat masak api masih bernyala. Dua ibu telah masak nasi dan ikan. Orang masih makan sedikit. Sesudah itu orang meletakkan sepotong kayu lapuk ke atas arang yang pijar lantas menututup dengan abu. Itulah cara orang menyimpan api untuk hari berikut. Waktu sudah setengah tiga malam ketika kami pergi tidur.
(akan bersambung).

mengayau04.jpg

4 responses to “Mengayau

  1. mohon maaf saya mengkopi satu tulisan teman Mas Aji Prasetyo yang menulis Dayak Penihing di mutiply.com

    sekadar bagi-bagi informasi disertai harapan untuk menguak legenda Dayak Penihing.

    Juli, 2006. Tanpa sengaja aku bertemu kawan lama. Mas Ahmadi dari komunitas BlueGrass. Pertemuan di warung nasi goreng itu berlanjut dengan bercerita tentang pengalaman masing-masing. Kawanku ini mantan Anggota Pecinta Alam yang sampai sekarang masih suka keluyuran kemana-mana. Saat itu, dia sedang gandrung dengan penjelajahan Kalimantan dan studi tentang suku-suku dayak. Banyak sekali kisah menakjubkan yang kudengar darinya waktu itu. Salah satunya adalah tentang harta karun sejarah dan kebudayaan salah satu kerajaan suku dayak yang sampai sekarang belum terjamah.

    Di ujung pertemuan, kuminta dia mengirim tulisan perjalanannya ke emailku. dan inilah copy email yang dikirim padaku tertanggal 3 juni 2006.

    Di hulu Sungai Mahakam ada peninggalan Kerajaan Dayak

    Penihing, Berupa Tower batu setinggi 150m – 200m, yang
    tadinya di jadikan Istana oleh Raja penihing beserta
    keturunanya. Lorong masuk satu satunya kedalam Tower
    tertutup batu besar, untuk memasukinya tinggal dua cara,
    menggunakan Helycopter ke puncak cerobong tower batu, atau
    dengan jalan panjat tebing. Mungkin menarik untuk diteliti
    lebih jauh, karna peninggalan beserta singasananya masih
    belum tersentuh manusia diluar Istana batu.

    Latar belakang ( dari hasil wawancara dengan Tetua adat
    Dayak Penihing pada tahun 1996 dan Buku Ekspedisi Muller
    1886)

    Raja Penihing adalah salah satu Raja terkaya di hulu sungai
    Mahakam, tonggak perekonomian utama disokong hasil sarang
    Burung dari gua2 sarang burung di kawasan kars wilayahnya.
    Pada Abad XVlll barter sarang burung sudah merupakan barter
    Ekslusif. Letak kerajaan di kawasan perbukitan batu kapur
    nan terjal tersebut juga sangat mendukung pertahanan
    alamiahnya, sangat menyulitkan pihak yang akan menaklukan
    Kerajaan Penihing.

    Namun tak lama setelah Kerajaan Kutai menaklukan para Raja
    Suku dayak sepanjang aliran mahakam sampai keperbatasan
    Serawak, Kerajaan Penihing yang menempati daratan Kars
    sejauh -+ 30km dari tepian Mahakam menjadi target terakhir
    Raja Kutai.

    Istana Kerajaan Penihing berupa tower batu dengan lobang
    besar berbentuk cerobong dari atas sampai kedasar tower.
    Pintu masuk hanya satu, berupa lorong horizontal didasar
    Tower yang kini masih tertutup batu besar.

    Pada saat sebelum penyerbuan Pasukan Kerajaan Kutai, Raja
    Penihing beserta Prajuritnya telah menutup dengan batu besar
    lorong masuk kedalam Istana batu. Dengan harapan kalau Raja
    penihing beserta Prajuritnya berhasil mengusir Pasukan
    Kutai, maka batu besar penutup lorong tersebut akan mereka
    buka kembali dari luar.

    Raja Penihing lalu membawa pasukanya mencegat Laskar Kutai
    dari kejauhan, menjauh dari perkampungan rakyat Penihing dan
    Istana batu. Tindakan Kekhawatiran kalau kalah lalu di
    jarah, memang berhasil membuat Laskar Kutai pulang dengan
    tangan Kosong. Namun juga menyimpan tragedi bagi keluarga
    penghuni Istana Batu. Raja penihing beserta Prajuritnya
    gugur dan sampai kini tak seorangpun membuka pintu masuk
    berupa batu besar tersebut. sementara rakyatnya pada saat
    penyerbuan kerajaan Kutai melakukan Eklsodus ketepi Sungai
    mahakam.

    Peristiwa diatas terjadi sekitar Abad XVlll. Setelah Raja
    Dayak Benuaq Sumbing Lawing kalah dan dipenggal kepalanya
    oleh Raja Kutai( Sampai sekarang kepala Sumbing Lawing masih
    tersimpan dalam Keraton Kutai Kertanegara di Kota
    Tenggarong).

    Pada tahun 1993 saya mendekati Istana Tower Batu tersebut,
    setelah selama tiga hari melintasi perbukitan kars yang
    cukup terjal. Usai survey awal untuk memastikan titik
    lokasi, saya langsung balik ke Malang. Lalu pada tahun
    berikutnya dengan Alat panjat tebing saya kembali berangkat
    ke hulu Mahakam. Namun didesa terakhir saya sempat
    diingatkan seorang kawan dari Malang ( yang menikah dengan
    anak kepala adat Dayak Penihing), setiap kematian harus ada
    ritual pemanggilan roh nenek moyang dan ritual pelepasan
    roh, saya diperingatkan untuk mengadakan ritual itu
    terdahulu, apabila berkeinginan memanjat Tower Batu
    tersebut.

    Karna keluarga kerajaan tower batu yang meninggal terkurung
    di istananya tersebut, sampai saat ini upacara kematiannya
    belum dilakukan oleh rakyat Penihing. Saya mundur dan mundur
    karna upacara tersebut tidaklah murah biayanya bagi saya
    saat itu, lagipula saya belum punya jalur ” diberikan kepada
    siapa penemuan tersebut jadi berarti.”

    Sampai akhirnya pada tahun 1998 saya mendapat kabar ada
    perusahaan kayu dengan Helycopter mendekati Tower batu
    tersebut. Bahkan sempat Turun vertical kedalam Cerobong
    Tower, namun kekhawatiran pimpinan perusahaan ( ikut dalam
    rombongan tersebut ) akan adanya ular besar didasar
    cerobong, membuyarkan semuanya.

    cerita diatas tujuanya jelas untuk menggugah darah petualangan para pembaca dan mungkin ada yg minat mendanai ekspedisi mengungkap misteri tower batu tersebut

    Sekian

  2. saya menunggu sambungan cerita di atas. bukan sekadar untuk tahu, tapi betap perseteruan antarsuku di Indonesia nampaknya memang kerap terjadi sejak lama, sehingga untuk menyatukan & mengeliminir konflik antarsuku perlu pendekatan yang tidak saja retorika melainkan harus memahami betul budaya mereka. maksudnya agar kebijakan (untuk penyatuan antarsuku) benar-benar berangkat dari pemahaman atas pemaknaan yang (minimal) mendekati konsep budaya setiap suku yang bertikai.

    jika sesama suku dayak saja (seperti catatan di atas) bertikai dan saling menghunjamkan senjata, apalagi dengan suku lain sebagaimana terjadi perang antara dayak melawan madura di awal 1990 an karena perbedaan persepsi tentang tanah dan masalah ekonomi.

    demikian pula perang suku di tempat lain di wilayah Indonesia tercinta ini yang sering bermula dari persoalan kecil yang mestinya dapat diselesaikan bukan dengan saling tikam.

  3. apa maksud mengayau

  4. saya sangat tertarik pada cerita ini dan ingin rasanya untuk hadir pada masa itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s