Ratapan Panjang Putra Linggang

Kepada: para sahabat
Karya: Yully Redzie

Sobat
Kau tentu tahu pasti,
Betap gelombang globalisasi
Telah melanda negeri ini
Dari hari ke hari tiada henti
Tak kan bisa dihindari, dibendung, dan ditawar-tawar lagi

Sobat,
Kau lihat dengan mata kepal sendiri
Betapa bumi negeri ini
Telah dikeruk, dibor, dan digali sesuka hati
Betapa hutan Kalimantan dan tanah adat di Kutai Barat
Telah dibabat dan digunduli tanpa kompromi
Tanpa peduli akan perbaikan nasib dan
Ketentraman hidup yang langgeng lestari
Bagi anak-cucu negeri ini di hari nanti

Sobat,
Kau saksikan sendiri,
Betapa derapo pembangunan pengisi kemerdekaan
Berjalan begitu simultan di sana-sini di santero negeri
Di segala segi di segala lini
Telah melalap dan melulur nilai-nilai nan luhur suci
Menelan hakikat dan arti nan paling hakiki
Dari misi dan karya penyelamatan manusi

Sobat,
Kau tak perlu lagi sangsi
Kau tak perlu termangu ragu
Karena bukanlah misteri dan rahasia lagi
Betap kini sikap aji mumpung begitu tinggi melambung
Betapa modus operandi terjalin tertata begitu rapi
Di segala segi di segala lini
Demi monopoli dan ingin menang sendiri
Demi komersialisasi, kolusi, dan korupsi

Sobat,
Kaun telah mengerti pula
Betapa emas, intan, dan tembaga,
Batubara, timah, dan minyak bumi
Telah disedot dan digali
Betapa danau dan kali lumar tercemar polusi
Ikan-ikan pada mati, Mahakam semakin legam,
Betapa kayu besi, bengkirai dan meranti
Gaharu dan tengkawang, dan masih banyak lagi
Tak terhitung, tak terbilang yang telah ditebang
Dan dipotong dengan gergaji bermata rantai
Sementar reboisasi cenderung hanyalah sekedar janji basa-basi
Realisasi minim dan lambat ssekali
Betapa punai, tiung, dan enggang pada kegerahan
Tak ada lagi pohon-pohon rindang untuk bernaung dan bersarang
Betapa rusa dan kijang, singa dan beruang
Harimau dan macan menggelinjang kehausan
Bergelimpangan mati kelaparan

Sobat,
Kau lihat
Betapa tanah-tanah adapt milik masyarakat
Hak ulayat warisan nenek moyang yang tak bersurat
Telah dirambah dan dibabat tanpa mufakat
Dirajang dan dicincang sewenang-wenang;
Betapa rumah-rumah panjang bertiang
Kian berkurang kian menghilang
Kian usang kian lekang
Tiang semakin goyang
Dinding dan atap kita berlubang renggang
Sedangka sirap, balok, reng, dan papan
Senantiasa disita dan ditahan, terkatung-katung berkepanjangan
So pasti,
Tempat tinggal yang ideal, sehat, dan asri
Hanyalah khayalan dan impian indah di siang hari
Terwujud menjadi kenyataan entah kkapan
Minyak kian melonjak
Listrik kian mencekik
Padam bermalam-malam
Rumah dan desa gelap gulita
Jalan-jalan desa hancur becek berlumpur
Tidak terurus tidak teratur jalan-jalan dan halu tak pupus-pupus

Sobat
Kau pun dengar
Banjir, hutan dan semak belukar yang terbakar
Lading berpindah dicap sah sumber masalah
Dayak yang salah, bebal, dan Bengal
Dituduh pangkal penyebab musibah
Dituding menjadi tumbal.

Sobat
Dengan suar serak dan hati yang terkoyak
Aku berteriak

Wahai Bahau
Mengapa kau masih saja nyalang terpukau
Apakah memang kau tak hirau-hirau
Apakah kau tidak merasa risau dan galau?

Wahai Benuaq,
Mengapa kau tak tampak bergerak untuk kompak
Apakah kau memang pekak-pekak badak dalam bertindak
Adakah kau merasa taraf hidupmu sudah cukup layak?

Wahai Bentian,
Mengapa kau masih saj berjalan sendirian,
Apakah kau memang berkeberatan bergandengan tangan
Dalam ikatan setia kawan senasib sepenanggungan
Adakah kau sudah merasa mapan?

Wahai Bukat,
Mengapa kau tetap saja berjalan di tempat
Apakah kau memang sangat berat untuk terlibat,
Dan ikut berbuat untuk mufakat tanpa syarat
Adakah kau merasa sudah kuat dan terhormat?

Wahai Busang,
Mengapa kau masih saja berjarak renggang,
Apakah kau nemang panatang berhati lapang
Mengapa kau masih saja tak tergoyang untuk saling menggalang
Apakah kau memang merasa tak perlu ditunjang dan ditopang?

Wahai Kenyah,
Mengapa kau masih saja ogah tak mau berubah untuk berkiprah
Mengapa kau masih saja suka bertingkah,
Apakah kau memang merasa tak gundah gelisah,
Walau dikunyah-kunyah dan dimamah,
Adakah kau telah  lesu darah dan pasrah?

Wahai Penihing,
Mengapa kau tetap saja bergeming tak bersuara nyaring
Apakah kau memang tak mau pusing-pusing
Adakah kau merasa berjalan searah-seiring itu tak penting?

Wahai Punan,
Mengapa kau masih saja berpangku tangan dan
Berjalan terlalu pelan
Apakah kau memang merasa tak berkepentingan
Untuk ikut aktif ambil bagian?

Wahai Tunjung,
Mengapa kau tetap saja sendirian mematung bingung
Dan enggan tak mau bergabung
Apakah kau masih saja hitung-hitung
Lantaran takut bunting dalam untung
Atau adakah kau memang cenderung hidup terkurung
Laksan katak di bawah tempurung?

Sobat,
Kini pilkada Kutai Barat sudah lewat
Tanggal 29 February 2006
Hari penentu hidup atau mati
Timbul atau tenggelam
Putih atau hitamnya masyarakat pedalaman
Telah kita lalui dengan jalinan tata kerja yang rapi
Hasil pilkadapun kita sudah tahu dengan pasti dan gamblang nyata

So pasati
Karena tanggung jawab moril, kita terpanggil untuk memberi andail
Dengan semangat sempekat dan mufakat bulat nan kokoh kuat
Dengan jalinan kerjasama yang rapid an bermartabat
Kita wajib terlibat untuk berbuat dengan syarat sebelum terlambat
Agar Kutai Barat kian segar, kian mekar, kian berkibar,
Demi masyarakat Kutai Barat yang adil, aman dan sehat segera terlihat
Demi anak cucu yang serdas dan maju, bahagia dan sejahtera
Seimbang dan merata di segala lini dan di segala segi tata dunia
Segera tercipta dan terealisasi.
Hasil pilkada haruslah diterima dengan jiwa kesatria
Legwa, dan lapang dada
Dan bukan dengan jiwa yang kerdil, pikiran picik, sempit dan dekil
Nalar lumar, kotor, tak sehat,
Sportivitas soal kualitas
Dan bukan semata-mata puas atau soal tidak puas.
Kiblat pada pilihan rakyat jangan tak kuat
Jangan diperkosa,jangan dikebiri, jangan disunat
Pilihan hati nurani rakyat yang suci dan tulus lurus
Harus dihormati dan dijunjung tinggi-tinggi
Jangan sangsi, jangan a priori, jangan emosi
Karena,
Selalu bersatu kita kan maju
Selalu berbantah kita kan pecah, lemah dan goyah
Selalu bentrok kita kan terperosok
Selalu berselisih kita kan tersisih, tertindih pedih perih
Selalu bersengketa kita kan menderita dan merana
Selalu bertikai, mustahil damai kan tercapai
Selalu dendam dan iri dengki
Kita kan tenggelam, terbenam dalam di dasar Mahakam
Di Sendawar, kita kan terdampar dan terkapar
Menggelepar menanti-nanti

Sobat, apakah kau sadar
Di luar di sekitar kita
Tak terkira jumlahnya, beruang, macan, harimau dan singa lapar
Berkeliaran mencari mangsa
Di luar di sekitar kita
Barisan panjang petualang jalang
Mengelilingi memagari menghadang berteriak berkoar garang
Mencri peluang

Sobat,
Kau perlu was-was dan cemas,
Di bawah Ismail Thomas, kita kan terbebas tuntas
Di bawah didk Efendi kita tidak perlu ragu atau sangsi
Segala idaman dan dambaan yang kita cari selam ini, kini dan nanti
Pasti akan ada realisasi
Niscaya akan ada solusi yang nyata dan terpuji
Karena sesungguhnya, wahai sobat,
Di Kutai Barat tiada tempat bagi yang bejat, lancung dan keji
Di Sendawar tiada kamar dan bilik bagi yang licik, munafik dan
Sok pintar, arogan kasar dan vulgar.
Di sini, kini dan nanti
Tiada layak bagi yang loba, serakah dan congkak
Sluman-sluman,aji mumpung dan pekak-pekak badak.

Samarinda, 15 April 2006.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s