Kerasulan Keluarga: Membangun Keluarga Katolik di Jaman Modern

Kemajuan teknologi memang suatu hal yang tidak bisa kita hindari. Seiring dengan itu, dewasa ini semakin banyak pula kita jumpai keluarga-keluarga Katolik yang bermasalah. Tidak hanya sampai di sini tetapi ada yang harus berakhir dengan perceraian. Menjadi rumit persoalannya karena Gereja Katolik pun tidak mengakui adanya perceraian perkawinan secara Katolik.. Berhadapan dengan dunia yang serba modern itu lalu keluarga-keluarga Katolik mau berbuat apa?

Tak dapat disangkal bahwa keluarga sebagai unit paling kecil dan dasar dari masyarakat, memiliki dampak yang dramatis dan menentukan dalam hidup seseorang. Karena dalam rahim keluargalah, kita ‘diciptakan, dikandung, dilahirkan dan dibesarkan. Begitu besarnya pengaruh keluarga dalam hidup seseorang, sehingga keluarga sering digambarkan sebagai harta yang paling berharga, istana yang paling indah. Keluarga menjadi lingkungan pertama dan atmosfir utama yang akan  membentuk seseorang untuk menjadi siapakah, bagaimanakah dan ke manakah dia?

Kita mungkin bisa bertanya lalu apa hubungannya perkembangan teknologi dengan kehidupan keluarga Kristiani? Bukankah keduanya adalah dua hal yang saling bertolak belakang? Dua hal yang berjalan sendiri-sendiri?

Barangkali ada benarnya juga, tetapi pertanyaan di atas secara tidak langsung sebenarnya kita sudah dihantar pada sebuah permenungan soal kehidupan berkeluarga, dan terutama juga bagi mereka yang saat ini sudah membina bahtera rumah tangga namun tak lepas dari pelbagai problem dalam membina rumah tangga. Dan kehadiran dunia teknologi bisa jadi salah satu dari sekian banyaknya pemicu munculnya masalah atau konflik dalam rumah tangga. Namun tidak berarti bahwa kita harus lari dunia modern dan kembali pada dunia primitive, tentu ini bukan solusinya. Tetapi bagaimana pun juga kita yang hidup di dunia yang serba canggi ini setiap saat ditantang untuk makin dewasa dalam bersikap arif terhadap dunia di sekeliling kita.

Memang hal yang sulit untuk kita hindari bahwa senang atau tidak senang, saat ini kita hidup di tengah arus globalisasi. Dunia di sekitar kita menawarkan banyak pilihan mulai dari yang mengembangkan daya kreativitas sampai yang merusak moral, tergantung bagaimana orang bersikap terhadapnya.

Maka hal-hal inilah yang mau diungkapkan oleh P. Yeremias Bala Pito, MSF dalam suatu sarasehan keluarga yang diadakan bersama keluarga-keluarga Katolik di wilayah Balikpapan. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 6 Agustus 2006, bertempat di Inhutani KM. 10 Balikpapan. Tidak sia-sia beliau datang dari Jakarta dengan suara yang agak serak-serak basah maklum baru bulik dari Eropa, namun antusiame umat Balikpapan tidak bisa dibendung untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Banyangin saja tiga paroki bertemu untuk mengikuti “rekreasi keluarga” ini. Acara ini menjadi sangat menarik karena dari detik-kedetik suasana menjadi lebih “hot”. Namanya juga Pastor Yere, MSF ahlinya keluarga, segala sesuatu bisa menjadi bahan guyonan, dan para pesertapun rasanya rugi kalau tidak tertawa akibat ulah dari pastor kita yang satu ini. Tetapi jangan dikira bahwa para peserta hanya datang untuk tertawa, mereka memang tertawa karena situasinya yang mendukung untuk bisa tertawa. 

Sarasehan yang berlangsung dari pagi hingga sore  ini diawali dengan Perayaan Ekaristi. Di tengah hutan belantara, diiringi dengan riuhnya angin pantai menciptakan suasana yang cukup romantis bagi pasangan untuk berbulan madu. Dalam perayaan Ekaristi, peserta juga khususnya pasutri kembali dingatkan akan janji perkawainan mereka lewat pembaharuan janji nikah dan pembaharuan janji imamat dari Pastor Yere yang disaksikan oleh para peserta. Dalam sarasehan ini para peserta pun diajak untuk berdiskusi dengan tiga pertanyaan panduan: apa saja yang terjadi di sekitar anda terkait dengan perkembangan dunia modern?, apa saja dampak atau pengaruh nyata terhadap kehidupan keluarga pada umumnya (positif-negatif)?, terkait dengan pertanyaan pada point dua apa saja pengaruhnya secara khusus dalam hal pendidikan dan pewarisan iman dalam keluarga?

Dari pertanyaan panduan itu, muncul beragam jawaban dan secara ringkas dapat disebutkan antara lain:

Berkat kemajuan teknologi dan komunikasi; komunikasi menjadi lancar, wawasan diperluas, mendorong orang untuk lebih mandiri, muncul kecenderungan untuk berbohong, relasi dengan Tuhan dan sesama menjadi renggang, orang semakin egois dan individualis. Sementara itu, pengaruh teknologi dalam kehidupan bersama, baik secara positif maupun negatif antara lain; muncul mis-komunikasi, pemborosan, kontrol diri kurang, wanita makin maju dan mandiri dalam mencari nafkah keluarga, anak makin berani, dugem, kawin campur, sukuisme, perhatian orang tua terhadap keluarga kurang. Dan bagaimana peserta menanggapi pertanyaan ketiga, mereka umumnya berkomentar demikian; orang makin sulit untuk doa bersama (lingkungan, rumah), orang lebih mengutamakan prestise dan prestasi, pendidikan diserahkan pada sekolah (guru), kebebasan beragama dijamin lingkungan, keakraban dalam keluarga berkurang, hidup bermasyarakat kurang.

Sebagai kesimpulan dari sarasehan ini, Pastor Yere, MSF mencoba menymipulkannya dalam sebuah puisi dengan judul Empat Lilin.

Empat Lilin

Ada empat lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Lilin pertama berkata:
“Aku adalah damai”
namun manusia tak mampu menjagaku.
Hati mereka membeku dan membatu dalam kebencian
Maka lebih baik aku mematikan diriku sendiri!
Demikianlah sedikir demi sedikit sang lilin Damai padam

Lilin kedua berkata
“Aku adalah Iman”
Sayang aku tak berguna lagi,
Manusia saling mencurigai dan tertutup.
Untuk itulah tak ada gunanya lagi
Aku tetap menyala.
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran
Lilin Ketiga  bicara:
“Aku adalah Cinta”
tapi aku tak mampu lagi
untuk tetap menyala.
Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna.
Mereka saling membenci, bahkan membenci orang yang mencintainya, membenci keluarganya.
Tanpa menunggu waktu lam, maka matilah Lilin ketiga.

Dengan mata bersinar, sang anak megambil lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah boleh mati, hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita…
…dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi
apapun, mampu menghidupkan dan menyalakan kembali
Damai, Iman, Cinta
Dengan
HARAPAN-nya !!!

Fr.Daniel Rusen, MSF.

9 responses to “Kerasulan Keluarga: Membangun Keluarga Katolik di Jaman Modern

  1. Rredaksi under yang terhoemat…saya mau bertanya pada Fr.Daniel Rusen,MSF. Bagaimana tanggapan Frater tentang :
    1. “Bagaimana meningkatkan efektivitas komunikasi antar pribadi dalam keluarga,khususnya keluarga katolik”.
    2. Apa yang menjadi hambatan
    3. Mungkin Fr. bisa memberikan sedikit
    gambaran/outline tentang meningkatkan
    efektivitas komunikasi dalam keluarga.
    4. Bagaimana tanggapan Fr. tentang moral
    politik dalam kehidupan menggereja.

    Terima Kasih sebelunnya atas jawaban dari
    Fr.

  2. Puisi yang indah…
    Cukup bagus untuk bahan renungan masa adven ke dua…
    Salam

  3. ceritanya bagus dan sangat menyentuh apalagi puisi empat lilin

  4. frater….
    saya ingin bertanya lebih mendalam dan juga pribadi tentang masalah keluarga saya.

    bolehkah saya minta alamat email frater pribadi atau alamat romo MSF yang lain yang biasa mengasuh masalah-masalah keluarga.

    terimakasih atas balasan frater.

  5. Salam Damai Kristus,

    Frater,
    Saya mau tanya lieratur yang membahas masalah keluarga, harta gono gini, keuangan keluarga, dan hukum gereja atau kanonisasi , di mana mencarinya ?

    Terimakasih.

  6. Dear all,

    Puisi yang sangat indah.

    Sedikit curhat saya..
    Hari ini saya punya masalah dengan istri saya, masalah yang serasa sepeleh namun oleh istri saya dianggap masalah yang paling berat.
    Saya tidak selingkuh, tidak memukul istri saya, masalahnya adalah perhatian.
    Saya mungkin salah satu dari sedikit orang yang sangat tulus mencintai istri namun terkadang susah untuk menunjukan rasa cinta itu.
    Hal ini lebih dipicu oleh saya yang tidak pernah berhenti berpikir untuk menjaga usaha kecil kami demi masa depan kami.
    Ceritranya sangat panjang, namun pada saat ini saya hanya ingin doa dari umat katolik sekalian agar hubungan kami kedepan semakin baik sampai maut memisahkan kami.
    Terima kasih untuk renungan & puisi yang indah ini…
    Tuhan memberkati…

  7. Frater…apa saya bisa mnta alaman email, sebab saya dan suami membutuhkan pembimbing dalam keluarga kami, megingat kami karena pekerjaan harus hidup terpisah demikian juga dengan anak kami. Terlebih kami mohon doa bagi keluarga kami agar tetap mampu menjadi keluarga yg kuat dan sesuai yg Tuhan inginkan di dalam segala keterbatasan kami.

  8. Frater, terima kasih atas sharingnya yang menurut saya sangat bermanfaat terutama untuk kehidupan keluarga saya. Apakah saya bisa kontak Frater secara pribadi, mungkin via email?

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s