80 Tahun Kongregasi MSF Berkarya di Kalimantan: Menegaskan Panggilan dan Misi berdasarkan Semangat Pater Berthier

Mentari mulai condong ke barat. Secara perlahan siang bergeser menjadi senja.sekitar 35 para pastor, dua buder dan dua frater, datang dari beberapa paroki berkumpul bersama di Wisma Sikhar Banjarbaru, tempat di mana para pastor MSF akan mengadakan pertemuan yang  berlangsung dari tgl 19-27 september 2006.

Mereka datang dengan maksud dan tujuan yang sama yakni mengikuti pekan MSF dan sekaligus retret. Pertemuan ini memang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan oleh Depimprop yang merupakan agenda tetap dan barangkali bukanlah kebetulan kalau pekan MSF kali ini mengambil tema “Delapan Puluh Tahun Karya MSF di Kalimantan”.

Kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari ini dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin langsung oleh Provinsial MSF provinsi Kalimantan P. Teddy Aer, MSF. Dalam khotbahnya beliau mengisahkan kembali penampakan Maria La Salette yang sudah berlangsung selama 160 tahun lalu. Penampakan Maria La Salette pertama-tama dan terutama untuk menyuarakan keprihatinan Allah. Simbol dari keprihatinan Allah yang disuarakan oleh Maria La Salette sangat jelas terlukis pada simbol; Palu dan Catut. Di mana setiap umat manusia berbuat dosa dipakukan pada salib dan setiap kali orang bertobat paku itu akan dicabut dengan catut. Tentu pesan rekonsiliasi yang diwartakan oleh Bunda Maria tidak lain tak bukan adalah supaya relasi Allah dengan manusia terus berlangsung.

Tetapi bagaimana dengan prakteknya sekarang? P. Teddy, MSF mencoba menjelaskan bahwa dari ketujuh sakramen Gereja, sakramen tobat yang paling banyak ditinggalkan umat. Kita bisa bertanya ada apa sebenarnya? memang di beberapa daerah tradisi tobat masih ada. Jawaban sederhana dari pertanyaan ini adalah nampaknya sikap tobat yaitu berdamai dengan Allah tidak lagi menjadi way of life, suatu nilai yang mestinya dihidupi, dan diperkembangkan oleh para imam MSF. Oleh sebab pastor itu provinsial pun mengajak para anggota missionaris keluarga kudus untuk menyadari panggilannya yakni dipanggil untuk meneruskan pesan pertobatan (rekonsiliasi) yang  telah disampaikan oleh Bunda Maria di Bukit La Salette 160 tahun lalu. Tentu semuanya harus berawal dari diri sendiri baru kemudian mengajak orang lain untuk bertobat.

Lebih lanjut P. Teddy, MSF menyampaikan usulan dari P. Paul Yan Ola, MSF agar para imam MSF kembali mengenakan salib La Salette (kalung La salette). Tradisi pemakaian salib La Salette ini sampai sekarang tinggal provinsi Polandia yang masih meneruskannya.Beliau mengatakan bahwa di Generalat tradisi ini tidak pernah dihapuskan, kalau demikian mengapa tidak diteruskan? Bekiau mengutip pandangn dari P. Egon Faber yang mengatakan bahwa “inilah salah satu sisi negatif dari semangat keterbukaan Vatikan II yakni banyaknya nilai-nilai baik masa lalu yang terlalu dilonggarkan”. Diakhir khotbahnya beliau mengajak para pastor untuk tidak usah memaksa Maria La Salette untuk datang lagi karena adanya kita para imam MSF. Ajakan untuk menjadi perpanjangan tangan Allah, yakni untuk menyampaikan pesan rekonsiliasi agar semakin banyak orang yang bertobat atau berdamai dengan Allah, namun sekali lagi semuanya harus berawal dari diri kita (para imam MSF red) untuk menghidupi semangat rekonsiliasi itu sendiri, tandasnya.

Pekan MSF ini ditutup dengan Misa Konselebarasi di Paroki St. Perawan Maria Yang terkandung Tanpa Noda Kelayan-Banjarmasin oleh sekitar 35 imam bersama Mgr. Sutrisnaatmaka, MSF uskup Palngkaraya sebagai selebran utama yang didampingi oleh Mgr. Harjasusanto, MSF uskup Tanjung Selor dan P. Teddy Aer, MSF provinsial MSF provinsi Kalimantan.

Sekali lagi dalam khotbahnya Pastor provinsial menegaskan bahwa sekarang ini Gereja semakin berkembang pesat namun tidak seimbang dengan jumlah pelayan yang bisa dikata tidak meningkat. Namun yang lebih tidak sehat lagi di mana umat seringkali menggerutu soal pelayanan sebagian pastor ada yang bilang kurang inilah, kurang itulah, dll. Maka di awal khotbahnya beliau membacakan beberapa litani serba salah pastor, yang sempat membuat umat tertawa namun tentunya menyentuh hati. Dan point yang paling bermakna adalah tetapi kalau pastornya meninggal lalu siapa yang menggantikan?

Perayaan ekaristi yang dihadiri lebih dari tigaratusan umat, tentu saja menjadi moment yang tepat untuk mengajak umat semakin mengenal MSF, lebih jauh dari itu semoga ada yang terpanggil untuk menanggapi seruan Yesus dan kemudian dikutip oleh P. Berthier, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. (Luk 10:2). Dalam kesempatn itu pula seluruh keluarga beriman diajak agar sedini mungkin menjadikan keluarga sebagai tempat awal untuk menanamkan benih-benih panggilan, caranya? Orang selalu mengajak anak-anaknya untuk lebih terlibat dalam kegiatan-kegiatan gerejani, dalam kelurga selalu mengusahakan adanya waktu-waktu khusus untuk bisa kumpul bareng dan berdoa, pada prinsipnya keluarga berusaha menciptakan suatu kondisi yang sungguh-sungguh menyadarkan akan panggilannya. Dan terlebih juga hendaknya keluarga-keluarga kristiani menjadikan keluarga Kudus Nazaret sebagai teladan.

3 responses to “80 Tahun Kongregasi MSF Berkarya di Kalimantan: Menegaskan Panggilan dan Misi berdasarkan Semangat Pater Berthier

  1. Parabens, Tuhan memberkati 80 tahun MSF berkarya di Kalimantan, dan untuk tahun tahun selanjutnya.
    Terimakasih para MSF, diusia-ku sekarang 40 tahun, separoh dari usiaku imanku dibentuk dan dikembangkan dan warisan para MSF,
    Sekarang ini aku rindu, pengembangan iman model MSF: yang lebih berpihak pada keluarga, yang mau meningkatkan mutu iman umatnya berbasis pada keluarga, ngapling surga bersama keluarga,
    Terus terang aja sekarang ini iman keluargaku lebih dikembangkan oleh para Pr.
    Kapan ya MSF mengembangkan sayapnya dan menclok berkembang di Tanah Timor Loro Sae?
    kami nantikan MSF mission di keluarga besar bangsa Timor Loro Sae.
    Salam, Anastasia.

  2. Puji Tuhan MSF sudah 80 thn berkarya di Bumi Kalimantan. Profisiat!Tuhan senantiasa Memberkati Karya Para Missionaris.

  3. Kapan ya MSF bekerja sama mengembangkan sayapnya dan menclok berkembang di Tanah BOGOR, Bojonggede?
    Kami nantikan kerja sama MSF mission di keluarga besar Umat Bojonggede, Bogor, Jawa Bara.
    HIDUP MSF

    Salam, Antonius Yosef Ratmono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s