Kau Goreskan Cintamu Dalam Telapak Tanganku

“Karena engkau sangat dikasihi Sang Isa,
maka aku beranikan diri, mengajakmu untuk mengisi dan mengakhiri hidupmu dengan Indah”.

Refleksi Panggilan dari Skolastikat MSF Oleh: Fr. Ama Gebby Maing, MSF

Adikku yang sangat kucintai…..
Seiring dengan semilir angin dan senja kelabu, ijinkanlah aku berbisik di lubuk hatimu bahwa aku tengah dirundung kegelisahan yang tak kunjung pudar bahkan hadir dalam irama langkahku bagai kundur di atas dulang. Pada saat ini dengan kebulatan hati, kuberanikan diri untuk mengatakan sejujurnya kepadamu bahwa aku sedang merenungkan nasib dirimu. Aku tahu bahwa sikap ini tentu tak akan pernah membantu mengubah dirimu bahkan mungkin sebagai sesuatu yang sia-sia. Aku insaf bahwa aku mengalami kesulitan untuk mengubah sikap merenung menjadi tindakan nyata lantaran, aku semakin sadar bahwa cinta butuh pembuktian. Seandainya saat ini engkau meminta bukti maka aku hanya mengatakan; “detik ini juga kusebut namamu dalam intimitasku dengan Sang Isa”. Sesungguhnya hanya satu yang aku katakan padamu bahwa “aku sangat mencintaimu”.

Aku tahu bahwa cinta memang tidak harus memiliki, cinta tidak harus selalu dekat secara fisik, cinta tidak selalu memberi waktu dan perhatian, cinta tidak selalu diukur dengan harta. Lantas dengan semuanya itu, engkau malah balik bertanya padaku, “ seperti apakah cintaku itu?”. Maaf adikku…, untuk membahasakan kata Cinta, rasanya aku mengalami kesulitan. Cinta bukan soal rumusan matematika atau fisika seperti yang pernah ku pelajari enam tahun silam di bangku SMA St. Darius-Larantuka.  Cinta adalah sesuatu yang dirasakan, dialami dan dihayati sendiri. Maka dari itu aku ingin menjawab pertanyaanmu di atas dengan cara mengajak engkau untuk mengingat saat pertama kita melukis cinta. “ingatlah adikku bahwa disaat engkau menangis karena ditinggal-pergikan oleh orang tuamu, akulah yang pertama ada di sampingmu dan mengeringkan air matamu dengan lembut”. Itulah sebuah ekspresi cinta yang paling sederhana.  Saat-saat di mana engkau kesepian, aku mencoba mengajakmu untuk ceria dan dalam keceriaan yang mungkin terpaksa, kita bisa bersendagurau, becerita tentang dunia sepak bola. Engkau dengan senyum mengatakan padaku bahwa pemain kesayanganmu ialah Ronaldo dan team favoritmu ialah Liverpool.

Adik yang kucintai….
Bersamaan dengan suratku ini kukatakan padamu MAAF. Aku ingat betul kata “pardon me” yang pernah kau goreskan di telapak tanganku. Kini kuulangi lagi kata itu padamu karena aku pun telah menyakitimu. Inilah yang membuat aku begitu terbelit dalam pikiran dan perasaan. Dua persoalan yang membuatmu marah yaitu: pertama, ketika engkau mengatakan kerinduanmu agar aku dapat makan semeja denganmu dan aku tidak mengerti kerinduan hatimu; kedua: ketika engkau meminta alamat rumahku dan aku tidak bisa memberikannya karena aku tidak mengerti maksudmu. Adik…, aku tahu bahwa semuanya itu justru membuatmu marah sampai memukul dan meninju dadamu sendiri. Engkau benar-benar marah padaku hanya karena aku tidak mengerti isi hatimu. Namun itu semua tidak berarti bahwa aku egois kan…?. “Coba renungkan kembali! Saat-saat di mana aku menyendengkan telingaku pada kata serak yang keluar dari mulutmu, saat-saat di mana aku dengan serius melihat engkau membahasakan suatu bahasa dengan jari-jemarimu, saat itu pula engkau mengartikan maksud hati dan pikiran hanya dengan lirikan matamu, gerak bibir dan lidahmu”. Aduhh…kasihan, aku belum juga mengerti semuanya itu. Lantas engkau kehabisan cara, dan akhirnya engkau mendapatkan sebuah pena dan menuliskan pada telapak tanganmu bahwa “engkau ingin agar aku memahamimu”.

Adikku yang ku cintai….
Aku tahu tentang luka hatimu yang teriris menjadi kepingan-kepingan. Aku ingin berbagi dengan kepingan itu. Kata maafku adalah pembalut luka hatimu, walau kusadari bahwa kata maaf tidak pernah cukup. Luka tetap luka atau meskipun sembuh namun tetap meninggalakan bekas, andaikata engkau menolak maafku. Itulah tanda bahwa kita pernah saling mengisi dan berbagi. Aku tahu bahwa engkau sangat marah karena engkau berpikir; aku seharusnya lebih peka dengan dirimu karena aku adalah seseorang yang bisa mendengar dan bisa berbicara. Aku sadar mengerti bahasamu adalah perjuanganku. Maka baiklah aku mengajak engkau dan aku untuk berproses. Berproses untuk memahamimu adalah cita-citaku. Aku yakin bahwa ini tidak mudah, tetapi lebih bernilai jika kita saling menghargai proses melalui penerimaan, pemahaman, keterbukaan, komunikasi, penghargaan, rendah hati, kesabaran, pengampunan. Murid Sang Isa biasa mengistilahkannya dengan cinta kasih yang di dalamnya terkandung iman, harapan dan kasih.

Adikku yang terkasih,…
Bertumbulah menjadi dewasa, aku adalah sahabat sejatimu, “sahabat bisu-tuli”.
Aku ingin menegaskan kepadamu bahwa kendati engkau mengalami nasib sebagi sosok bisu-tuli, tokh “Engkau sangat diKasihi oleh Sang Isa. Hal ini kukatakan karena engkau adalah sosok bisu-tuli yang diberkati. Pernyataanku ini tentu tidak berfaedah apabila engkau sendiri tidak yakin bahwa engkau diberkati-Nya”. Sayang…, jangan sampai terlintas dalam benakmu, perasaanmu, dan hatimu bahwa engkau sebagai sosok terkutuk!.
Hadapilah hidupmu dan polesilah dengan keceriaan dan saatnya nanti engkau harus mengakhiri pula dengan indah!.
Aku tetap ingat saat aku mangatakan isi hatiku padamu via buku catatanmu bahwa “ setelah kita berpisah, aku akan menelponmu, dan engkau malah tertawa terbahak-bahak. Dengan senyum engkau membuka telapak tanganku dan menulis: “…. maaf aku anak bisu-tuli frater-aku sayang frater. Frater  SMS aku saja karena aku bisa mambaca dan mengoperasi HP. Aku jadi kaget, ternyata aku lupa bahwa engkau Bisu dan Tuli. Aku harus merenungkan kembali pengalaman ini, sebab jangan-jangan aku masih sibuk dengan diriku sendiri. Ma kasih sayang, kau telah mengajarkan banyak hal untukku. (dari yang punya hati untukmu).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s