Empaty Untuk Memahami dan Merasakan

Untuk mencapai sesuatu tak ada yang lebih sulit kalau mengetahui caranya, tetapi tak ada yang lebih mudah kalau mengetahui caranya.

Hidup Bersama dalam Komunitas
Untuk membangun hidup bersama dalam sebuah komunitas seperti di Seminari Johaninum, perlu sikap empathy terhadap sesama. Artinya kehidupan bersama di dalam sebuah komunitas, menjadi komunitas yang mengkrasankan kalau masing-masing pribadi mampu untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain seolah-olah memahami perasaan kita sendiri. Di samping itu untuk mampu memahami karakter setiap anggota komunitas yang berbeda-beda dalam kehidupan bersama, para postulan diajak untuk bersikap terbuka terhadapa sesama anggota komunitas (para postulan dan pen damping di Seminari) Demikianlah ajakan Pastor Felix MSF dalam rekoleksi bulan di Seminari Johaninum pada hari Sabtu-Minggu, tanggal 5-6 November 2005 yang mengusung tema “HIDUP BERSAMA DALAM KOMUNITAS“.

Pastor Felix mengatakan bahwa; “Untuk mencapai sesuatu tak ada yang lebih sulit kalau tahu caranya tapi tak ada yang lebih mudah kalau mengetahui caranya”. Artinya bahwa untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan akan menjadi gampang bila kita mengetahui caranya yaitu : bersikap terbuka dan saling pengertian satu sama lain.
Dengan adanya sikap terbuka dan saling pengertian satu sama lain maka buah-buah cinta kasih dengan sendirinya hadir dan bersemi di tengah-tengah komunitas Seminari Johaninum dan pada akhirnya menjadi aksi dan kesaksian hidup di tengah masyarakat. Dalam kaitannya dengan ini Pastor Felix mencontohkan; seperti seorang Marcos (Red:Postulan asli Timor) yang pada awalnya sangat pendiam, tetapi sekarang selalu menebarkan senyum kepada setiap orang karena sikap saling pengertian yang dibangun dalam komunitas. Maka dengan sensual saja seseorang telah menggerakkan 13 otot di wajahnya, tetapi jika seseorang murung maka ia menggerakan 47 otot wajahnya. Mendengar kelakar penuh makna dari P. Felix, Marcos bukannya mengurangi gerakan ototnya melainkan menambah gerakan ototnya dalam sensual untuk menerima sesama dengan senang hati dan terbuka.

Semangat keterbukaan dalam menerima sesama komunitas, kami konkritkan dalam sharing bersama atas pengalama hidup kami selama kurang lebih 3 bulan di Seminari tercinta Seminari Johaninum. Dalam sharing itu kami semua metazoan bahwa selama waktu hidup kami itu, kami semua merasa krasan hidup bersama di komunitas Johaninum karena sikap terbuka untuk saling menerima dan saling memahami satu sama lain, meskipun penghuni komunitas saat Johaninum berasal dari berbagai daerah alias “gado-gado”.Pada akhir sharing Mas Hendrik mengungkapkan, “Biar beta orang Kupang ma beta bisa menyesuaikan diri dengan kawan-kawan agar katong bisa hidup bae-bae di komunitas ini”.
Mendengarkan ucapan Mas Hen begitulah sapaan kerennya, kami langsung menimpali; Kita basaudara, maka mari kita wujudkan persaudaraan dan kebersamaan kita dalam pertandingan volley ball sore ini yang akhirnya memang terwujud. Soal kalah menang urusan belakang, yang penting pertandingan ini menjadi ajang untuk mengartikan kita besaudara.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s