Merintis Jalan Menuju Perubahan – Bersama Kaum Muda

(Benih Cologne – bersemi iman di Hongkong – menuai habitus baru di Cibubur) 

Oleh: Tuan Kopong MuSaFir & P. Syamsudin MSF

Pengantar

Orang Muda Katolik adalah musim semi Gereja sekaligus rasul-rasul Kristus dan Gereja masa depan. Paus Benediktus XVI dalam kotbahnya pada hari Orang Muda Katolik sedunia di Cologne-Jerman meminta Kaum Muda untuk bijak menggunakan kebebasan yang telah dianugerahkan  Tuhan. Kebebasan bukan berarti hidup dengan otonomi total atau mutlak. Namun kehidupan dengan koridor kebenaran dan kebaikan sehingga tiap pribadi tumbuh menjadi sosok yang benar. Dalam arti ini maka yang diharapkan dari Kaum Muda sebagai musim semi Gereja adalah mengaktualisasikan berbagai usulan dan program yang telah disusun dalam sebuah tindakan konkrit dan dinamis.

Pernas Orang Muda Katolik Indonesia (OMKI) 2005 dan Lokakarya di Macau menjadi cermin bagi Gereja di Asia, khususnya Indonesia untuk melihat sejauh mana Kaum Muda mengejawantahkan aneka programnya dalam tindakan konkret.

Merintis Jalan Menuju Perubahan: Suara Pernas OMKI 2005

Merintis Jalan Menuju Perubahan demikianlah suara dan dedikasi Orang Muda Katolik Indonesia untuk mengkaji secara lebih mendalam tentang rusaknya keadapan publik yang berdampak pada kemerosotan moral dan iman dalam hidup bersama sebagai akibat dari ketidakseimbangan relasi tiga poros kehidupan yaitu badan Publik, Komunitas dan Pasar.

Pemikiran Pernas OMKI 2005, kiranya sejalan dengan habitus baru yang dicanangkan dan dibahas dalam SAGKI (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia) di Wisma Kinasih, Caringin-Bogor; 16-20 November 2005. Dalam SAGKI Mgr. I. Suharyo (Sekertaris Jenderal KWI) menegaskan bahwa; membentuk habitus baru memprasyaratkan pertobatan. Bertobat berarti mengubah sikap dan hati, menentukan arah dasar hidup serta menata ulang mentalitas. Proses pertobatan membawa orang dari jalan yang salah ke jalan yang benar (HIDUP, 27 November 2005, hlm.10)

Sejalan dengan tema SAGKI 2005; ”BANGKIT DAN BERGERAKLAH” dalam satu mata rantai Gereja Menuju Pertobatan dan tema Pernas OMKI “Merintis Jalan Menuju Perubahan”, pertobatan menuju perubahan tidak bisa tidak dilepaskan dari suasana liturgi dalam Gereja. Maka dari itu penting juga bagi Orang Muda Katolik untuk menata ulang dan mengkaji kembali suasana liturgi di kalangan Kaum Muda, agar merekapun tahu dan belajar tentang cara mengungkapkan iman dalam  liturgi dan musik sebagaimana yang disampaikan dalam lokakarya di Macau-Hongkong pada tanggal 11-16 Oktober 2005 lalu yang melibatkan Orang Muda Katolik dari Hongkong, Macau, Malaysia, Taiwan, Timor Leste serta Vietnam.

Gerakan Keprihatinan

Dapat dikatakan bahwa baik Pernas OMKI, SAGKI dan Lokakarya Kaum Muda tentang Musik Liturgi di Macau merupakan sebuah gerakan keprihatinan atas peta situasi dan permasalahan sosial maupun religius yang mendorong Orang Muda Katolik untuk bertindak dan melakukan sebuah pembaharuan. Dengan mengusung tema “Merintis Jalan Menuju Perubahan” (Pernas OMKI 2005) dan “Bangkit dan Bergeraklah” (SAGKI 2005), Gereja Katolik Indonesia ingin menegaskan bahwa keprihatinan bangsa merupakan keprihatinan Gereja juga.

Meneropong Keprihatinan
Kisah sedih Indonesia
Orang Muda Katolik Indonesia dalam Pernas OMKI di Cibubur 12-16 November 2005 yang dirangkai dengan SAGKI menemukan bahwa keprihatinan yang saat ini melanda bangsa kita meliputi beberapa situasi. Pertama adalah situasi sosial yang meliputi korupsi di mana praktek ini telah merebak ke berbagai wilayah dan instansi pemerintahan yang bersekutu dengan mewabahnya praktek kolusi terutama di antara poros Negara dan masyarakat pasar yang merupakan dua poros kekuatan sehingga melemahkan sistem hukum dan kebijakan-kebijakan publik yang berdampak pada hidup bersama masyarakat. Kekerasan yang terjadi atas nama SARA menjadi bukti paling jelas dari bentuk-bentuk politisasi agama, adat dan sentimen primordial. Di samping itu kerusakan lingkungan sosial sebagai akibat dari kekerasan dan upaya pencarian keuntungan dalam persaingan bisnis yang tidak sehat bahkan monopoli merupakan salah satu bentuk ketidakadilan di mana wibawa hukum sudah tidak ditegakkan lagi sehingg nilai keadilan semakin hilang konteks sosial ekonomi masyarakat. Dalam keterpurukan nilai keadilan, penggusuran terhadap pusat-pusat ekonomi rakyat dihalalkan demi menciptakan pasar-pasar baru yang lebih efisien dan efektif yang pada akhirnya menghilangkan daya tawar-menawar masyarakat sehingga semakin terpuruk dalam lingkaran kemiskinan. Dampak dari situasi di atas secara sosial budaya melahirkan kejahatan sosial yang baru seperti judi, miras, prostitusi, narkoba dan HIV-AIDS yang secara jelas memerosotkan penghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan karena hati nurani telah dikerdilkan bahkan dimatikan oleh penyalahgunaan globalisasi dan kemajuan teknologi.
Kedua; situasi Gereja yang kurang berani melibatkan diri sebagai komuintas gerakan penebusan dan pembebasan secara nyata dalam pergumulan bangsa yang berjuang mengusahakan keadilan dan perdamaian. Ketiga adalah situasi Orang Muda Katolik. Penyalahgunaan terhadap kemajuan teknologi komunikasi dan globalisasi dirasakan memberikan dampak negatif terhadap diri Orang Muda Katolik. Orang Muda Katolik semakin individualis, konsumtif dan kehilangan daya kritis bahkan mengalami krisis moral dan iman yang merupakan salah satu efek dari lemahnya pendampingan dari keluarga dan masyarakat serta belum memadainya strategi pastoral Gereja bagi pendampingan Orang Muda Katolik.

Merintis Keadaban Publik

Bercermin pada situasi bangsa kita saat ini, Orang Muda Katolik Indonesia bersama KWI sepakat untuk memulai gerakan merintis Keadaban Publik yang mencakup tiga isu strategis di negara kita yaitu; kerusakan lingkungan  hidup; korupsi dan lemahnya pendidikan nilai. Dalam merintis keadaban publik menuju perubahan, Orang Muda Katolik Indonesia ditantang untuk menjawab selaksa pertanyaan dan salah satunya adalah;  “Apakah suara Orang Muda Katolik Indonesia dari pelataran hijau bumi Cibubur dalam merintis Keadaban Publik sungguh-sungguh menjelma dalam aksi nyata dan konkret”? Masyarakat khususnya Gereja Katolik Indonesia menantikan lakonnya.

Eksplorasi Musik dan Liturgi Dari Macau

Pada tanggal 11-16 Oktober 2005 Pusat Pastoral Kaum Muda Keuskupan MACAU mengumpulkan sekitar 50 peserta dari Hong Kong, Macau, malaysia, Taiwan dan Timor Leste serta Vietnam dalam rangka eksplorasi dan bagi pengalaman tentang Musik Liturgi. Di tengah situasi sosial politik yang semakin merosot nilai moral dan iman sebagaimana yang terjadi di Indonesia, Kaum Muda dari beberapa negara menyadari bahwa dalam bidang liturgi juga telah terjadi kemerosotan semangat dalam mengungkapkan iman mereka terutama di dalam Liturgi. Menanggapi situasi atau persoalan yang ikut mempengaruhi dinamika perkembangan iman Kaum Muda, khususnya berkaitan dengan musik dan liturgi dalam pelayanan evangelisasi, maka diadakan lokakarya dengan tema “Liturgi dan Musik” sebagai bagian dari habitus baru menuju perubahan dan pembaharuan. Lokakarya diadakan dalam kerangka membantu Kaum Muda Katolik untuk belajar bagaimana cara mengungkapkan iman mereka dalam liturgi dan musik serta cara menggunakan musik dalam liturgi sebagai salah satu media pelayanana evangelisasi. Tujuan utama lokakarya ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan identitas sebuah paduan suara dan peran liturgi, sambil mendorong paduan suara untuk saling bertukar pengalaman tentang menggubah musik untuk liturgi. Ide dasarnya; bahwa peran liturgi pertama-tama untuk menunjukkan kemuliaan Allah.

Lokakarya ini kiranya sejalan beriringan dengan hasil Pernas OMKI 2005. Maksudnya bahwa iman yang diungkapkan dalam perayaan liturgi akhirnya terwujudnyatakan dalam tindakan konkrit untuk memperjuangkan sekaligus merintis jalan menuju perubahan yaitu keadaban publik yang lebih baik dalam bidang moral maupun dan iman. Kalau dikaji lebih mendalam, ditemukan bahwa paduan suara gereja juga membawa satu misi dalam mencapai perubahan yaitu meningkatkan kekompakan dalam bernyanyi dan persiapan hati untuk beribadah karena hanya imanlah yang menyatukan perbedaan dalam satu koridor kerja sama dan kebersamaan. Maka lokakarya ini dapat diibaratkan sebagai “kembang api” yang membakar antusiasme Kaum Muda Katolik untuk membangun habitus baru berkaitan dengan musik liturgi.

Belajar Pada Spiritualitas Musik

Setelah menyimak hasil Pernas OMKI dan SAGKI 2005 serta Lokakarya Musik dan Liturgi di MACAU, setidaknya ada harapan baru untuk merintis jalan menuju perubahan. Namun harapan ini akan selalu berada dalam tangkai yang kokoh dan berbuah jika Kaum Muda Katolik berada dalam satu genggaman komitmen, mengenakan habitus dan spiritualitas baru yang inspiratif.

Dalam merintis jalan menuju perubahan dan keadaban publik, Kaum Muda Katolik dapat belajar pada spiritualitas musik dalam hal ini paduan suara yang terdiri dari beberapa suara dengan kekhasan vokal masing-masing mampu menciptakan satu harmoni yang serasi dan selaras sehingga ikut menyemangati orang lain. Dalam paduan suara nampak kekompakan yang dikomandoi oleh seorang dirigen. Dari sini kita dapat melihat bahwa para pemimpin Gereja adalah dirigen bagi Kaum Muda Katolik Indonesia dalam usaha merintis jalan menuju perubahan dan Kaum Muda sendiri adalah lakonnya. Pada intinya selalu ada kerja sama antara para pemimpin Gereja dengan OMKI dalam merintis keadaban publik.

Pada intinya perjuangan Orang Muda Katolik Indonesia adalah demi kemuliaan Allah sendiri dan pengangkatan martabat manusia, maka tidak mengurangi daya juang Orang Muda Katolik Indonesia, kiranya penting bagi Orang Muda Katolik Indonesia untuk belajar pada spiritualitas musik dan paduan suara yang pertama-tama untuk memuliakan Allah dan pengangkatan martabat manusia menuju perkembangan yang berdaya guna bagi diri sendiri, masyarakat dan Gereja. Atau dengan kata lain; menuju perubahan sejati yaitu keadaban publik dan penegakkan keadilan di dalam Gereja, masyarakat dan bangsa.

Sumber:

1. Merintis Jalan Menuju Perubahan, Hasil Pernas Nasional Orang Muda Katolik Indonesia 2005 (Cibubur, 12-16 November 2005).
2. Kaum Muda Katolik Eksplorasi dan Saling Tukar Ide Tentang Musik Liturgi,
www.chatolique.com, (Macau 11-16 Oktober 2005).
 

2 responses to “Merintis Jalan Menuju Perubahan – Bersama Kaum Muda

  1. tanggapan tentang IYD yang akan berlangsung di kalimantan nanti g mana?

  2. kaitan dengan gerakan orang muda katolik sekarang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s