Pelita Itu Telah Memancarkan Sinarnya

Pasutri Dita dan Diktus baru saja mendudukan diri mereka di atas kursi undangan pernikahan itu. Mereka menghadiri suatu perhelatan pernikahan. Tamu berjubel, silih berganti karena perhelatan itu dilaksanakan menurut budaya Banjar asli. Tidak ada pidato, tidak ada kata-kata petuah, tidak ada doa panjang lebar. Tamu datang, beri amplop, ambil makanan dan kalau selesai makan, salaman dengan mempelai, lalu pulang. Ada musik dangdut yang memekakan telinga dengan penyanyi yang genit berbusana melawan RUU Pornografi dan porno-aksi. Apalagi goyangan ngebor Inul berbusana yang membuat gregetan kaum turunan Adam.

Beberapa ibu (yang memang sendirian datang tanpa suami) mendekati pasutri Dita dan Diktus, menanyakan resep untuk kemesraan yang mereka lihat terjadi pada pasutri ini. Apakah ibu menggunakan pelet atau guna-guna sehingga bapak sepertinya tidak mau jauh dari ibu ? Sungguh mati, mereka sangat iri hati melihat kemesraan dan relasi pasutri Dita dan Diktus ini. Kemanapun pergi mereka selalu bersama dan sungguh mesra!

Pasutri Diktus dan Dita adalah alumni ME (Marriage Encounter) angkatan V. Sebelum mengikuti week end ME, mereka sama saja seperti pasutri lainnya. Rukun ya memang rukun, tetapi perwujudan rukun itu seperti arus dalam masyarakat biasa, tidak berani menunjukkan kemesraan. ME telah memberikan dan menawarkan pelatihan bagaiman mereka harus menjalin kemesraan melalui ralasi dan dialog yang setiap malam mereka lakukan. Apa saja mereka dialogkan dalam keseharian mereka. Kegembiraan yang mereka alami hari itu, masalah anak, masalah rumah tangga, masalah ekonomi, masalah perasaan, silang selisih, bahkan sampai ke masalah hubungan intim antas keduanya, semuanya didialogkan melalui surat cinta yang mereka buat. Hanya sepuluh menit tiap harinya. Perlahan tapi pasti, kebiasaan ini menciptakan suatu perwujudan cinta yang tidak terduga dampaknya, baik terhadap diri sendiri, maupun terhadap orang banyak. Apa yang ada di dalam diri mereka, yang menjadi kebiasaan, akan terpancarkan keluar. Tanpa disadari pasti akan dilihat oleh pihak luar.

Inilah yang dilihat oleh para ibu yang kebetulan tidak bersama suami mereka, karena memang para suami tidak terlalu suka hadir bersama para isteri. Bukan karena isteri tidak cantik, tetapi memang tidak ada yang harus diwujudkan keluar. Keluarga sebagai Gereja mini, tertuangkan dalam penampilan para pasutri. Pasutri Diktus dan Dita telah melaksanakan amanat Kristus untuk ikut “mewartakan Kerajaan Allah”

Oleh : P. Frans HH MSF

Marriage Encounter (ME) di Indonesia

Awalnya seorang Suster, Patricia dari Gembala Baik-Jakarta, mengikuti weekend ME pertamanya di St Louis USA. Weekend Marriage Encounter membuatnya dia begitu terkesan sehingga ia mengungkapkan dalam sebuah rapat dimana hadir juga Mgr. Leo Soekoto, Uskup Agung Jakarta. Ini merupakan introduksi pertama untuk Mgr. Leo.

Kedua kalinya Mgr. Leo mempelajari gerakan Marriage Encounter waktu beliau mengunjungi Centrum Marriage Consultation di keuskupan Gent, Belgia. Bapak Uskup diperkenalkan dengan pastor Guido Heyrbaut Pr. yang ditugaskan oleh Kardinal Suenens untuk menangani gerakan Marriage Encounter.

Kedua pertemuan ini menjadi alasan untuk mengundang pastor Guido dengan teamnya agar datang untuk memperkenalkan Marriage Encounter dengan segala seluk beluknya. Itu terjadi 25 s/d 27 Juli 1975. Pertemuan pertama ME diadakan di Evergreen, Tugu, Puncak, dalam bahasa Belanda. Yang hadir adalah:

  • Mgr. Leo Soekoto SJ
  • Pastor Cor van de Meerendonk CICM
  • 9 Pasangan suami-isteri: Sindhunata, Soetandar, Undyantara, Gunawan, Sarwono, Iskandar Tjan, Gitomartoyo,Tony Trisnadi, dan Marsidi
  • 2 suster: Sr. Dolorose CB dan Sr. Caroli

One response to “Pelita Itu Telah Memancarkan Sinarnya

  1. aloysius harianto

    Salam damai sejahtera dalam yeseus.

    Aku belum pernah mengikuti ME, namun aku sudah sering mendengar kat-kata itu.
    Barangkali pengasuh rublik ini bisa memberikan gambaran bagaimana kami yang sudah 20 tahun berumah tangga ini bisa seperti yang di tunjukan Sdr. Dita dan Diktus.
    Terima kasih.
    Syalom…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s