Uskup Titulair Arsinoe

 Mgr Demarteau MSF, Uskup Emeritus Banjarmasin

Di usianya yang hampir menginjak 90 tahun ini, Mgr. Demarteau tetap beraktivitas dengan membaca, mengasah otak supaya tidak lusuh berkarat (Red: Ungkapan Beliau) dan juga jalan santai setiap sore di depan “rumah masa depan” Wisma Simeon-Banjarbaru-KALSEL.
Untuk mengetahui lebih dekat “kisah kasih” kehidupan Mgr. Demarteau di “rumah masa depan” Wisma Simeon, ikutilah petikan wawancara singkat Bung MUSAFIR (BM) bersama Beliau  dalam bentuk tulisan berhubung pendengaran Beliau yang sudah “tuli total”.

BM : Selamat siang Monseigneur. Sudah lama Bapak Uskup tinggal di Wisma Simeon ini (sekitar 5/6 tahun). Apakah Bapak Uskup merasa kerasan tinggal di Wisma ini ?

Mgr : Selamat siang Frater. Saya krasan tinggal di Wisma Simeon. Menurut Codex (Kitab Hukum Kanonik) Gereja Katolik, seorang Uskup Emeritus berhak memilih tempat tinggalnya. Tahun 1983 saya memilih Banjarbaru, tempat yang tidak terlalu dekat dengan Uskup Baru dan sekaligus tidak terlalu jauh dari penggantinya. Sampai dengan tahun 1997 saya masih dapat bekerja di paroki Banjarbaru sebagai pastor meskipun sebagai pastor pembantu. Syukurlah saya tinggal di tengah-tengah umat yang mencintai saya dan yang saya cintai. Pada umumnya saya merasa tenang dan senang hati tinggal di Banjarbaru khususnya di Wisma Simenon. Kadang hati saya gelisah kalau berpikir mengenai tanggung jawab saya di hadapan Tuhan berkenaan dengan pelaksanaan tugas selama menjabat sebagai Uskup Banjarmasin dan sebagai Uskup Emeritus. Mudah-mudahan Tuhan mengasihani aku.

BM : Selama berada di Wisma Simeon, kegiatan apa saja yang biasanya dilakukan oleh Bapak Uskup?

Mgr : Selama di Wisma ini  saya mencoba memperbaiki kekurangan-kekurangan saya pada waktu yang telah lewat dalam hidupku. Dengan terus terang saya akui bahwa, saat ini waktu untuk berdoa lebih banyak daripada sebelumnya. Saya berdoa untuk ujud-ujud global, umum, misalnya: untuk ujud Paus yang baru, untuk keselamatan Gereja, untuk korban tanah longsor di Philippina, untuk korban aksi terorisme, untuk korban kelaparan di Afrika, dll. Saya tidak hanya berdoa banyak untuk diri saya sendiri tetapi bagi dan demi yang lain juga. Di samping itu, saya membaca banyak buku (kalau ada buku yang menarik), memecahkan teka-teki silang supaya otak saya yang lusuh ini tidak berkarat. Jalan santai pada sore hari di depan wisma menjadi rutinitas yang tidak pernah saya lupakan, karena memberikan kekuatan pada saya. Itulah kegiatan seorang uskup yang hampir berumur 90 tahun.

BM : Monseigneur, dari pertemuan dan pembicaraan dengan beberapa umat yang mengenal Bapak Uskup, mereka mengharapkan agar Bapak Uskup masih bersedia untuk memimpin Perayaan Ekaristi di Gereja paroki Banjarbaru. Apakah Bapak Uskup sendiri masih ada keinginan untuk memimpin Perayaan Ekaristi sebagaimana yang diharapkan oleh umat paroki ?

Mgr : Setiap hari saya selalu dan ingin merayakan Ekaristi, karena menambah iman, harapan dan kasihku berkat pertemuan riil dengan Kristus, Imam Agung. Tetapi saya keberatan untuk memimpin Perayaan Ekaristi, karena ada beberapa alasan, antara lain: pertama, sakit vertigo yang kontinu membuat saya pusing dan kadang begitu hebat sehingga saya tidak mampu berdiri lebih lama dan membaca dengan suara yang nyaring. Kedua, masalah pendengaran. Sudah lama pendengaran saya kurang baik bahkan akhir-akhir ini sangat merosot, sehingga sekarang benar-benar tuli total, sehingga bunyi guntur pun tidak saya dengar. Karena masalah “ketulian” ini, maka bagi saya pribadi, komunikasi antara saya sebagai imam yang mempersembahkan misa dengan umat yang hadir sangat sulit. Santo Agustinus (1600 thn yang lalu) di Afrika Utara menulis kurang-lebih demikian; “Sebagai Uskup saya tinggal di tengah-tengah kamu sebagai gembala yang memimpin, tetapi kadang-kadang saya tinggal di antara kamu sebagai saudara seiman yang percaya akan Kristus yang sama. Saya setuju dengan Uskup Agustinus. Maka walaupun saya Uskup, saya suka merayakan Ekaristi/misa (sebagai umat) bersama umat paroki Banjarbaru.

BM : Pada tahun ini MSF Indonesia, khususnya MSF Provinsi Kalimantan akan merayakan 80 tahun karya Misi MSF di Indonesia, tepatnya di Kalimantan. Apa pesan Bapak Uskup bagi para pastor, frater dan postulant MSF Kalimantan serta para Suster, Bruder dan Petugas Gereja yang berkarya di Kalimantan ?

Mgr : Kalau kita mau merayakan 80 tahun misi di Kalimantan, kita harus terutama menyatakan bahwa kita sungguh bersyukur kepada Tuhan yang atas namanya para anggota MSF diutus dan berkarya mulai dari tahun 1926 sampai tahun 2006 ini. Tahun 1926, perutusan Yesus terulang kembali melalui tarekat MSF. Pada waktu mengutus para rasulNya ke kampung-kampung Palestina, Yesus berucap; “ Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35). Start karya misi mereka sangat berat. Mereka harus menanggung panas terik matahari secara riil dan kiasan. Air baptis mengering dalam sangku baptisan di gereja. Menanti, menunggu, sabar, berdoa dan tidak putus asa. Seperti padi bertumbuh dalam keheningan benih ilahi, Injil pun bertumbuh tumbuh dalam keheningan. Tuhan ikut membuka jalan melalui hutan Borneo. Para misionaris terus menabur dan Tuhan memberi pertumbuhan. Syukur kepada Tuhan. Kita berterima kasih kepada semua anggota MSF yang sudah atau yang masih bekerja di Kalimantan termasuk para misionaris non-MSF, juga tidak kami lupakan.   

Jumlah anggota MSF yang telah meninggal:
MSF Belanda  : 62
MSF Jerman  :   2
MSF Indonesia :   8

BM : Apa harapan Bapak Uskup bagi perkembangan karya kerasulan MSF Kalimantan dalam kerangka perkembangan iman dan Gereja di Kalimantan ?

Mgr : Setiap orang yang memeriksa Buku Petunjuk Gereja Katolik (2005) tidak akan menyangsingkan perkembangan Karya Kerasulan MSF di Kalimantan. Misalnya di Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Palangkaraya, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, ada daerah di mana hampir seluruh penduduk Dayak beragama Katolik (termasuk di Keuskupan Agung Pontianak dan Keuskupan Sanggau).  Memang pendalaman iman harus dinomorsatukan. Ada roh yang baik, tetapi ada juga roh jahat, yang aktif. Bermacam benih ditaburkan dan hasilnya bukan padi, melainkan alang-alang dan rerumputan. Para petugas Gereja menabur benih ilahi dan benih itu akan mengalahkan benih yang tidak baik.
Maka semoga anggota MSF Provinsi Kalimantan, di masa yang akan datang terus berkarya untuk “Menyempurnakan yang Lusuh, agar tidak berkarat”, seperti aktivitas saya saat ini.

BM : Terima kasih banyak banyak Uskup. Doa kami, para anggota muda MSF mengiringi perjalanan hidup dan panggilan Bapak Uskup

Mgr : Sama-sama, God Bless You !
           Salam Mgr. W. Demarteau MSF (Uskup em)

Bung MUSAFIR

Iklan

One response to “Uskup Titulair Arsinoe

  1. Anton Sudarisman (Sul Sel)

    Luar biasa mgr satu ini! Selamat berjuang. Mungkin mgr bisa membuat memoar (buku) perjalanan hidup dan tarikat…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s