Pourquoi á la Salette ?

Pada hari Jumat, 3 Februari 2006, aku bersama Rm. Frans, P. Pablo, P. Sczepan dan Diakon Firmino berangkat ke La Salette. Kami berangkat dari Lyon dengan naik kereta sampai Grenoble kemudian naik bus menuju La Salette. Mulai dari Grenoble hawa dingin sudah mulai menusuk tulang dan hampir seluruh kota dan pegunungan diselimuti salju yang cukup tebal. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 2 jam sedangkan bus hanya sampai Village (desa) Corps.

Saya mengambil tempat duduk di depan agar dapat menikmati perjalanan dan bisa melihat pemandangan kota Grenoble yang sangat indah. Perlahan tapi pasti kami mulai memasuki desa-desa yang jauh lebih indah lagi walau sebagian besar ditutupi salju yang tebal. Nampak keindahan gunung-gunung berselimutkan salju dan di sana-sini terlihat banyak orang bermain ski. Terlihat juga sungai dan danau yang membeku sehingga orang bisa bermain ski di atasnya. Tanpa kusadari kami akhirnya tiba di Corps.

Dari kejauhan di atas gunung terlihat ada bangunan megah dengan Basilik dan terlihat juga patung yang tidak asing lagi yakni Patung Bunda Maria La Salette dengan dua  patung kecil (patung Maximin dan Melanie) yang hanya telihat separuh badan karena tertutup salju. Sesampainya di tempat tujuan, tiada hentinya aku menikmati pemandangan disekeliling gunung dan terutama patung Bunda Maria La Salette yang selama ini hanya saya lihat melalui photo. Aku melayangkan pandangan lebih jauh lagi dan di salah satu puncak gunung terlihat sebuah Cimitière (kuburan) “rumah masa depan abadi” Bapa kita Pater Berthier sang Fondatur kongregasi kita ; Missionaris Keluarga Kudus terbaring dengan tenang. Aku tertegun seakan tidak percaya sambil bertanya;  mengapa Maria memilih tempat tersebut ? Mengapa Maria menampakkan dirinya kepada anak kecil ? Mengapa Pater Berthier jauh-jauh dari Chatonnay tertarik ke La Salette ? Saya membayangkan pada tanggal 19 septenber 1846, saat Maria menampakkan dirinya pada dua anak kecil (Maximin dan Melanie) daerah tersebut pasti sangat terasing dan sangat berbahaya karena dikelilingi gunung dan banyak jurang. Di puncak gunung La Salette aku mencoba merenungkan ketiga pertanyaan tersebut bersama dinginnya gunung La Salette.

Mengapa Maria memilih tempat tersebut ?

Pertama: Gunung merupakan lambang keteguhan dan kekokohan dimana juga sering digambarkan sebagai tempat yang baik untuk meditasi serta untuk menemui sang Pencipta. Dalam Perjanjian Lama nabi Musa menemui Allah dan menerima 10 perintah Allah di atas gunung Sinai. Dalam Perjanjian Baru, Yesus banyak mengajar para murid-Nya di atas bukit (gunung) yang terkenal dengan sabda Yesus di atas bukit. Berbicara mengenai gunung maka identik dengan batu tapi itu tidak seratus persen benar karena ada juga gunung pasir dan gunung es. Namun kembali pada Perjanjian Baru di mana Yesus menyerahkan tugas perutusan kepada Petrus yang berarti Batu Karang sebagai lambang kekokohan Iman..
Kedua : Gunung identik dengan keindahan dan merupakan tempat dimana kita bisa memandang dunia ini dengan lebih luas. Gunung selalu teguh berdiri dan setiap orang bisa melihatnya karena ia tidak pernah menyembunyikan dirinya. Di atas gunung, kita akan menyadari betapa agung Sang Pencipta dan betapa kecilnya kita sebagai ciptaan-Nya. Bunda Maria bisa melihat segala tingkah laku anak-anaknya dan mencoba mengingatkan mereka bila mulai meninggalkan Puteranya. Maria La Salette ingin meletakkan pesan rekonsiliasi pada satu fondasi yang kokoh yakni dengan mengambil simbol gunung. Gunung tersebut juga bisa berarti Melanie, Maximin, Pater Berthier dan tentu juga kita semua yang sekarang berlindung di bawah perlindungan Bunda Maria La Salette.

Mengapa Maria menampakkan diri kepada anak kecil ?

Seorang anak kecil identik dengan kepolosan dan kejujuran. Seorang anak kecil adalah lambang “kesucian”. Yesus menegaskan, bahwa bila kita ingin masuk surga kita harus seperti anak kecil tapi bukan dalam arti menjadi kekanak-kanakan melainkan dalam arti suci murni lahir-batin. Maka Maria memilih Maximin dan Melanie sebagai penyambung lidahnya. Mengenai dua pribadi ini, para Pastor Missionaris La Salette banyak menulis dan saya sangat percaya bahwa mereka berdua adalah dua pribadi yang sangat baik.

Mengapa Pater Berthier Tertarik ke La Salette ?

Pada jaman itu di Prancis, devosi kepada Bunda Maria memang sangat kuat. Pater Berthier juga mempunyai devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria dan rupanya pesan Rekonsiliasi dari Bunda Maria La Salette sangat menyentuh hatinya sehingga beliau memutuskan untuk masuk Missionaris La Salette serta melayani para peziarah di gunung La Salette. Gunung La Salette merupakan suatu tempat yang sangat indah (bahasa Prancis : Très Joli). Menurut saya ; pribadi Pater Berthier yang suka berdevosi kepada Bunda Maria dan juga mempunyai kemampuan untuk berkotbah, sangat tepat jika Beliau juga sebagai penyambung lidah Bunda Maria La Salette untuk menyampaikan pesan rekonsialiasi kepada seluruh umat manusia khususnya mereka yang berziarah ke La Salette. Pada saat musim dingin dimana para peziarah sangat sedikit dan untuk bekerja di luar rumah sungguh tidak memungkinkan karena semua gunung La Salette ditutupi salju, digunakan oleh Pater Berthier untuk merenung dan menulis tentang Maria La Salette dan Keluarga Kudus. Maria La Salette dan Figur Keluarga Kudus sangat mewarnai hidup Pater Berthier sehingga sangat bisa dipahami jika beliau memilih Maria La Salette sebagai pelindung Kongregasi dan Keluarga Kudus sebagai Teladan Kongregasi kita (MSF).

Di dalam keheningan dan keindahan gunung La Salette, Pater Berthier menangkap keprihatinan Bunda Maria La Salette dan juga keprihatinan Gereja saat itu, melalui ensiklik Bapa Paus Leo XIII (Sancte Dei Civitas 3 desembre 1880 dan Bref. Neminem Fugit) yang menginginkan misi ke seluruh dunia dan devosi kepada Keluarga Kudus. Pater Berthier bertekad untuk menjawab keprihatinan tersebut dengan mendirikan suatu institute, yang khusus mendidik anak muda untuk menjadi misionaris handal yang siap dikirim ke tanah misi dan mempunyai devosi khusus kepada Keluarga Kudus. Institut inilah yang menjadi cikal bakal kongregasi kita (MSF) sekarang ini.

Maka, kalau saya mengatakan La Salette menjadi penting bagi perjalanan sejarah kongregasi kita, karena proses ke arah terbentuknya kongregasi kita berawal dari La Salette. Kita juga jangan lupa, Pater Berthier adalah anggota Missionaris La Salette. Pater Berthier untuk selamanya tetap anggota MS.

P. Ionday, MSF.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s