“Cuti Plus”: Apa Itu?

Tanggal 20 Pebruari sore hari saya meluncur ke Bandara Samsudin Noor menjemput Romo Agus Aris MSF, Socius Direktur Berthinianum. Sesuai kesepakatan, beliau datang dan akan meng-gantikan saya selama satu minggu untuk memberikan bahan pendampingan kepribadian kepada para seminaris di Johaninum. Dengan demikian, program “cuti plus” dijalankan, tanpa mengurangi jam mengajar Direktur karena semua jam pelajaran dan juga kesempatan sore hari digunakan oleh Rm Agus Aris MSF untuk mendampingi para seminaris. Minggu kedua, setelah Rm Agus Aris kembali ke Salatiga, Fr Kopong MSF yang sedang menjalani tahun pastoral  di Balikpapan, akan mengisi jam-jam pelajaran Direktur untuk bersama para seminaris mempersiapkan Live in Paskah.

Keesokan harinya, tanggal 21 Pebruari 2006, hari masih pagi sekali, pak Sungkono mengantar saya ke Bandara karena harus lapor jam 06 pagi. Tepat jam 07 pagi WITA, Batavia Air terbang menuju . Transit di Jakarta sekitar dua jam, sehingga dengan maskapai yang sama, saya tiba di Bandara Supadio Pontianak pukul 11.00 WB, dijemput oleh Pak Yus, seorang umat yang pernah bekerja dan tinggal di Banjarbaru selama empat tahun. Dengan banyak bantuan dari Pak Yus sekeluarga, saya dapat mengadakan promosi panggilan di beberapa sekolah katolik di Pontianak.

Sekolah pertama yang saya kunjungi adalah SMUK St. Petrus, milik Kongregasi CDD. Dalam kesempatan kunjungan ke Sekolah ini, saya tidak bertatap muka langsung dengan para siswa, tetapi menyerahkan beberapa buku kenangan Seminari Johaninum  dan Kalendar MSF. Respon dari pihak sekolah sangat menggembirakan. Kepala sekolah memandang sosialiasi tarekat ini sebagai hal yang positif. “Kongregasi CDD yang notabene pemilik sekolah ini pun membuat promosi yang sama: menyediakan di perpustakaan sekolah bahan-bahan yang dapat dibaca oleh para siswa yang mempunyai acara wajib kunjungan perpustakaan” ungkap Pak Kadir, Kepala Sekolah SMUK Petrus.

Hari ketiga, tanggal 23 Februari 2006, saya mengunjungi SMUK St. Paulus, sekolah milik Bruder MTB di Pontianak, sekolah yang tidak jauh dari Katedral Pontianak. Dalam suasana yang sangat informal dan santai, saya berbincang-bincang dengan Bruder Kepala Sekolah (Br. Yulianus MTB). Setiap tahun, SMUK St. Paulus ini dapat menerima 400 siswa kelas I yang baru, setelah mengadakan seleksi! Kepada sekolah ini pun saya memberikan melalui kepala sekolah dan guru agama buku mengenai Seminari Johaninum. Kunjungan ke sekolah yang ketiga adalah SMUK Gembala Baik, milik Ordo Kapusin, yang terletak di jalan A Yani, jalan baru menuju Bandara, kawasan dengan masa depan yang menjanjikan. Tidak jauh dari sekolah ini, masih di pinggir jalan A. Yani, ada Universitas Tanjungpura. Saya bertemu Suster Arnolda KFS, Kepala SMUK Gembala Baik di kantor kepala sekolah. Seperti pada kedua sekolah sebelumnya, di sekolah ini pun saya hanya menyampaikan buku kenangan Seminari dan Kalender.

PAROKI PERBATASAN

Setelah mengunjungi beberapa SMUK di dalam kota Pontianak, saya melanjutkan perjalanan menuju kabupaten Kapuas Hulu, kawasan perbatasan Indonesia dan Serawak untuk mengunjungi keluarga (kakak) yang bekerja sebagai guru SD di kawasan perbatasan yang termasuk dalam wilayah pastoral keuskupan Sintang. Tanggal 26 Sore saya berangkat dari dengan bis umum menuju kecamatan Semitau, kabupaten Kapuas Hulu. Perjalanan ini melewati beberapa  keuskupan yakni: Sanggau dan Sintang. Kemudian dari kecamatan Semitau (daerah kerja para pastor OMI), saya menyusuri sungai Kapuas dan anak sungai (Sungai Empanang) menuju kampung tempat kakak saya mengajar, di paroki Nanga Kantuk. Seorang imam sekulir yang masih muda bekerja melayani umat di paroki ini. Sebelumnya paroki Nanga Kantuk juga dilayani oleh para pastor OMI.

Pemda Kalbar dan Pemda NTT sekitar tahun 1977-1979, dalam kerjasama dengan pemda NTT, mendatangkan banyak guru dari NTT. Sebagian besar dari mereka menjadi guru PNS di kabupaten Kapuas Hulu dan kabupaten lain di Kalbar. Mereka kemudian menikah dan memilih untuk menetap, menyatu dengan masyarakat. Dengan bekal “Ijasah Kateketik SPG” dan “pengalaman” beberapa guru NTT ini ikut menyebarkan iman kristiani di kawasan perbatasan ini. Boleh dikatakan bahwa buah dari karya pelayanan “guru PNS plus” di kawasan perbatasan ini telah menambah sejumlah paroki baru di perbatasan Indonesia-Serawak. Mereka terbiasa dengan menyebut “paroki perbatasan”. Dalam misa Jumat Pertama, juga jalan salib pertama masa prapaskah, saya diberi kesempatan pastor Paroki Nanga Kantuk untuk memimpin Ekaristi dan mem-perkenalkan MSF. Setelah hari berada di Paroki Nanga Kantuk, saya milir ke Pontianak lagi.

SEMINARI ANTONIO VENTIMIGLIA

Hari Minggu pagi tanggal 5 Maret saya tiba kembali di Pontianak. Senin keesokan harinya, saya minta diantar oleh keponakan untuk mengunjungi Seminari Tinggi Antonio Ventimiglia dan Sekolah Tinggi Teologi “Pastor Bonus” di Siantan. Saat ini, STT Pastor Bonus mempunyai sekitar 40 mahasiswa teologi (frater OFM Cap, Frater CP, dan Frater para calon dari Keuskupan-keuskupan di Kalimantan). Para frater diosesan ini tinggal di Seminari Tinggi, bangunan dengan kapasitas kamar tidur sekitar 48 tetapi saat ini kurang dari separuh dari semua kamar tidur itu dihuni oleh para frater (bila tidak salah hanya 17 orang frater saat ini, termasuk satu frater dari keuskupan Palangka Raya).

Saya diantar keliling oleh para frater untuk melihat unit ruang tidur  mereka seusai minum teh di kamar makan mereka. Dalam periode ini, seorang pastor sekulir dari keuskupan Sintang diberi tugas untuk menjadi rektor rumah di Seminari Tinggi ini. Setelah kurang lebih satu jam bertamu di Seminari Antonio Ventimiglia, saya mohon diri.

Tanggal 7 Maret, saya meninggalkan Siantan  menuju Pontianak dan selanjutnya ke Banjarbaru. Terima kasih kepada pasutri Yus-Katarina yang banyak membantu saya untuk mengadakan “promosi panggilan” singkat di Pontianak. Juga terima kasih kepada Rm Agus Aris MSF yang telah mengisi waktu satu minggu selama saya tidak ada di Seminari Johaninum, juga kepada Fr Kopong yang mengisi waktu satu minggu di seminari menemani para postulan ketika saya mengambil cuti plus ke Kalimantan Barat.

TEST MASUK UNIVERSITAS SANATA DHARMA

Rektor Skolastikat MSF, Rm Wahyu MSF pada pertengahan Maret 2006 mengirim surat dan beberapa lampiran kepada P Doni MSF mengenai ketentuan baru penerimaan mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanatha Dharma, hasil keputusan rapat bersama  Dewan Dosen beberapa waktu lalu.

Keputusan itu menetapkan bahwa terhitung mulai tahun akademik 2007-2008, setiap calon maha-siswa harus Lulus Tes Masuk Fakultas Teologi. Test masuk ini lain dengan tes penjajagan ke-mampuan akademik sebagaimana dijalankan pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan test masuk yang baru ini, calon mahasiswa yang tidak mencapai nilai minimal 5,6 ( lima koma enam) dinyatakan tidak lulus dan tidak diterima untuk kuliah di Fakultas Teologi Sanata Dharma.

Test masuk Fakultas Teologi ini akan diadakan di Kampus Fakultas Teologi Kentungan Yogyakarta pada pertengahan bulan April 2006. Para Novis MSF di Salatiga dan Siswa Seminari Berthinianum akan mengikuti test masuk  tanggal 19 April 2006.
Pihak Sanata Dharma bersedia memberikan test bagi calon mahasiswa Fakultas Teologi di luar Jawa dengan syarat biaya perjalanan para tim pemandu test ditanggung oleh pihak yang memanggil. Oleh karena itu, pastor Felix MSF, yang kebetulan pada bulan Maret ini berada di Yogyakarta, telah menghubungi pihak Sanata Dharma untuk menentukan jadwal test masuk FT USD untuk siswa Johaninum. Pihak USD bersedia datang dan memberikan test masuk itu pada tanggal 25-27 Mei 2006.

Para Seminaris di Seminari Johinum telah diberitahu mengenai jadwal test ini. Di tengah-tengah kesibukan mempersiapkan diri untuk menjalankan LIVE IN Pekan Suci di Paroki Tamiang Layang, mereka juga “bekerja keras” mempersiapkan diri untuk menghadapi test yang menentukan masa depan mereka ini.

P. Doni MSF

DIREKTUR
SEMINARI JOHANINUM

SYARAT (DOKUMEN) MASUK SEMINARI JOHANINUM BANJARBARU SELATAN

  1. Menulis Surat Lamaran ke Direktur Seminari Johaninum.
  2. Menulis Riwayat Hidup dan Panggilan (Maksimal dua halaman Folio).
  3. Fotocopy 1 lembar Ijazah SD/SMP/SMU/SMK atau Perguruan Tinggi.
  4. Fotocopy 1 eksemplar Rapor SMU/SMK kelas I, II dan III.
  5. Surat Rekomendasi dari Pastor Paroki dan sekaligus minta copy Surat Baptis.
  6. Rekomendasi atau keterangan dari Kepala Sekolah dan dari Pembimbing Asrama (Katolik) bagi mereka yang tinggal di asrama Katolik di bawah bimbingan Pastor, Suster, Bruder atau Frater atau Penanggungjawab.
  7. Rekomendasi dari Rektor Seminari Menengah (untuk mereka yang studi di Seminari Menengah).
  8. Restu atau persetujuan dari orangtua atau dari wali/wakil keluarga.
  9. Pas foto hitam putih atau warna 3 lembar, ukuran 3×4 cm.
  10. Keterangan kesehatan dokter (diutamakan dari rumah sakit katolik atau puskesmas katolik. Bila tidak dari rumah sakit lainnya).
  11. Mengisi Formulir Biodata yang dikirim oleh MSF Provinsi Kalimantan dan mengembalikannya bersama dokumen-dokumen lainnya.

Lamaran pertama dan surat-surat untuk kontak selanjutnya ditujukan kepada:

DIREKTUR SEMINARI JOHANINUM 
Jl. A. Yani KM 36 Gang Musafir  
Kotak Pos 1068
BANJARBARU 70714  Selatan        
Telp 0511-4778074
 

One response to ““Cuti Plus”: Apa Itu?

  1. Romo, saya sekarang di malang, kuliah di salah satu PTS. saya minta di kirimi brosur2 ttg MSF, lewat frater2 yang ada di STFT widya sasana pun tdk apa2 karena dekat. kebetulan sy aktif di unit kegiatan mahasiswa katolik dan kita sering adakan kegiatan dengan SMA Katolik se malang, jadi nanti saya bisa bagi-bagi. paling kurang mereka tau ttg MSF, syukur2 ada yg tertarik. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s