Feed on
Tulisan
Komentar

Pembuat film Borneo (1934)

dayak.jpg 

Hendrik Tillema lahir di pinggir selatan danau “Tjeuke” propinsi Friesland (Belanda). Setelah menyelesaikan kuliah sebagai apoteker ia berangkat pada tahun 1896 ke Semarang untuk bekerja di  “Samarangsche Apotheek“. Tahun 1899 ia membeli Apotek tersebut dan pada umur yang masih muda ia menjadi pimpinan perusahaan yang diberi nama ‘Hygeia‘. Sejak menjadi pemimpin Apotek itu ia memperhatikan pembuatan air mineral dan berhasil membuat suatu perusahaan yang up to date. Pabrik pertama dibangun dengan konstruksi beton dan produksi air mineral dengan cara kerja gaya Amerika. Promosi produk dengan iklan gaya Perancis. Semuanya berhasil sehingga Tillema menjadi kaya raya. Pada tahun 1910 ia dipilih menjadi anggota Dewan Kota Semarang. Lanjut Baca »

Film MSF Borneo

goirle.jpg

Kongregasi MSF setelah dapat dukungan dari para waligereja mulai bergerak untuk mencari dana mengongkosi para misionaris yang sedang bekerja di Kalimantan dan yang akan  bekerja.

Sarana dari dahulu adalah P.U.C.I. yang didukung oleh majalah “Bode van de Heilige Familie”. Propinsi MSF telah banyak dapat menyumbangkan karya misi di Kalimantan.
Sarana film yang baru berkembang pun dipakai untuk promosi panggilan.

Dengan budget yang minimal telah diedit film bisu (hitam/putih) pada tahun 1935. Berkat bantuan perusahaan pelayaran “de Nederlanden” dan bahan film F. Tillema dikisahkan perjalanan beberapa misionaris yang berangkat dari Seminari di Kaats-heuvel. Mereka adalah pastor Th. v. Diepen, pastor J.Hagens, pastor J.Kusters, pastor A.v.Rossum dan bruder Longinus. Satu rombongan yang berangkat menuju stasiun kereta api di Nijmegen. Kemudian menuju Genua, lewat terusan Suez, Mesir mereka sampai Tanjung Priok, Batavia (Jakarta).

Bagian film ini jelas dari perusahaan pelayaran sebagai promosi perjalanan ke Indonesia. Bagian berikutnya adalah campuran gambar dari Barito, Banjarmasin, Tering, Laham dan wilayah Apo-Kayan. Mengisahkan cara hidup orang Daya dan karya misionaris di pedalaman Kalimantan. Beberapa pastor jadi artis dalam film dengan adegan specific: antar komuni kepada orang sakit dll.

Film ditutup dengan permohonan untuk memberi sumbangan kepada karya misi MSF.

Oleh: Fr. Diakon Yohanes Kopong Tuan MSF

Merayakan hari ulang tahun merupakan kebahagiaan dan rasa syukur tersendiri bagi yang merayakannya karena masih diberi kesempatan hidup oleh Sang Sumber Kehidupan. Demikian juga dengan merayakan sebuah peristiwa bersejarah dalam arus perkembangan zaman. Lanjut Baca »

Oleh: Br. Urbanus Teluma MSF

Ada saat dunia terasa gelap, ruang-ruang kehidupan sesak menghimpit, segala langkah jadi buntu dan sejauh mata memandang, hanyalah tembok tebal yang mengurung. Adakalanya manusia mengalami hal-hal yang tidak pernah dinginkan. Mau tidak mau ia harus melewati masa-masa yang suram, yang menghimpit batinnya dan menghadang setiap langkahnya. Bagaimana kita harus melewati masa-masa seperti itu? Kita harus berani keluar dari diri sendiri dan mundur sejenak dari kesibukan untuk menciptakan ruang hening, membuka diri untuk mendengarkan suara Tuhan. Marilah kita melihat dan merenungkan perjalanan hidup seorang nabi Elia. Elia menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dalam keheningan dan kesunyian hidup semata-mata hanya untuk Allah. Lanjut Baca »

ikon-maria.jpgMelihat sambil mendengar kisah ikon Maria Bunda Selalu Menolong, banyak orang menjadi kagum. Namun kekaguman akan berkembang menjadi kecintaan dan penghormatan yang benar kepada Maria Perawan dan Bunda Allah, setelah mengetahui makna dan arti yang terkandung di balik gambar yang kaya akan tanda dan simbol. Dalam ikon akan kita temukan tokoh-tokoh dalam sejarah penyelamatan. Lanjut Baca »

Selamat Ulang Tahun!

Juli
12 Fr. Yohanes Kopong Tuan
16 Yuvenalis Raga Gening (Postulan)
29 P. Yohanes Marharsono
29 P. Felix Sumarjono

Agustus
03 P. Stanislaus Maratmo
05 Fr. Hardianus Usat
08 Fr. Agustinus Gunawan
10 P. Filemon Amel
11 Stanislaus Naben (C)
19 P. F.X.  Huvang Hurang
 Fr. Yosep Pati Mudaj
30 P. Raimundus Prawiro Suyono

September
12 Aloxius Jefri Hampu
18 Fr. Yosep Septumburman

Pastor G. H. Borst, MSF semasa hidup“Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir ini telah mendampingi dan merawat Pastor Borst, MSF selama tinggal di Biara Wisma Simeon…”, demikian disampaikan Alex de Jong yang mewakili keluarga ketika memberikan sambutan dalam Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah mendiang Pastor Gerardus Hendrikus Borst, MSF yang wafat pada tanggal 17 Mei 2007, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus.  Lanjut Baca »

Dapat didownload di sini :

http://rapidshare.com/files/20233121/80_Tahun_MSF_Kalimantan.ppt (83.950 KB)

http://rapidshare.com/files/27393567/80_years_MSF_Kalimantan_versi_english.ppt (84.029 KB)

April
04 1978 Amtono, Yohanes (Fr)
12 1957 Lahajir, Yuvenalis (P)
12 1965 Salianus Hendisaputra, Fransiscus (P)
20 1966 Huvang Ajat, Lukas (P)
21 1984 Andi Hasti (Fr)
22 1979 Lekyanto Hayon, FX (Fr)
25 1983 Ndagur Huma, Erminus (Fr)
30 1976 Prillion, Petrus (P)
31 1983 Roka, Yonas (Fr)

Mei
11 1985 T.Tiro Mayolus (Postulan)
11 1982 Labaruing, Ambrosius (Postulan)
17 1977 Kosmas Boli Tukan, Krispinus (P)
17 1973 Stanley Robinson, Genial (P)
23 1971 Syamsudin, Gergorius (P)
24 1984 Hurmali, Tarsisius (Fr)
26 1967 Doni Tupen, Agustinus (P)
30 1940 Pfeuffer, Willibald (P)

Juni
01 1984 Ping Poto, Petrus (Postulan)
02 1971 Garinsingan, Antonius (P)
03 1986 Naben, Mikhael (Postulan)
05 1986 Meol, Marselinus (Postulan)
05 1985 Valeriana Serau, Yohanes (Postulan)
07 1987 Jewaru, Meinradus (Novis)
11 1951 Sumantoro Pranjono, Fransiscus (P)
22 1963 Yan Olla, Paulinus (P)
24 1987 Amsiria, Yohanes (Postulan)
28 1958 Liu Fut Khin, Aloysius (P)
29 1987 Emanuel Fay, Paulus (Postulan)

Dari Provinsial

“ … Ya Tuhan, panggillah kaum muda kami
Untuk berkarya di Kebun Anggur-Mu,
Tetapi jangan anakku, ya Tuhan …”

ProvinsialSepotong kalimat “doa” yang sering kali dipakai sebagai sebuah anekdot yang menggambarkan ketidakrelaan orang tua untuk melepas anaknya masuk seminari atau biara. Ketidakrelaan itu mempunyai banyak dan beragam alasan. Ketika ketidakrelaan itu bertemu dengan keengganan kaum muda sendiri untuk masuk seminari atau biara, maka lengkaplah argumentasi untuk mengatakan bahwa tidak ada yang masuk seminari atau biara. Itu berarti anggota seminari atau biara tidak akan bertambah; pekerja di Kebun Anggur Tuhan tidak bertambah.

Ketidakrelaan dan keengganan memang bukan merupakan satu-satunya alasan tidak bertambahnya anggota seminari/biara. Ada sejumlah orang muda yang dengan penuh semangat datang ke Seminari/Biara dan mengetuk pintu dengan penuh keyakinan. Mereka datang dengan semangat berkobar untuk menjalani panggilan Tuhan yang mereka rasakan dan yakini. Hanya saja semangat dan keyakini itu harus dibuktikan dan diikuti dengan kemampuan pribadi yang memadai. Mereka harus menjalani sejumlah tes masuk dan sejumlah wawancara-wawancara pribadi. Ketika semuanya dapat dijalani dengan baik, maka mereka akan diterima sebagai anggota baru di Seminari.

Proses untuk akhirnya sungguh dapat menjadi pekerja di Kebun Anggur Tuhan belumlah selesai dengan keberhasilan mengikuti test dan wawancara-wawancara awal. Proses masih harus dijalani selama pendampingan dan pendidikan di seminari/biara. Di Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) keseluruhan proses dijalani mulai dari tahap Postulat (tahun penjajakan yang berlangsung selama 1 atau 2 tahun), Novisiat (tahun penggemblengan hidup rohani yang berlangsung selama 1 tahun) dan Skolastikat (tahun seminari tinggi yang berlangsung selama 7 tahun untuk belajar filsafat dan teologi). Dalam keseluruhan proses yang tidak pendek itu orang-orang muda yang penuh semangat dan keyakinan itu di dampingi dan dipersiapkan untuk akhirnya sungguh siap menjadi pekerja di Kebun Anggur Tuhan yang handal, sebagai seorang Imam atau Bruder MSF. Ketika dalam keseluruhan atau sebagian proses tersebut orang-orang muda itu sampai pada kesimpulan bahwa mereka ternyata tidak mampu, entah dari sudut intelektual ataupun dari sudut kemampuan kepribadian untuk menjalani kehidupan khusus ini, maka mereka akan dibantu oleh para formator mereka untuk mengambil keputusan keluar dari pintu seminari/biara yang dulu mereka ketuk. Dengan demikian jumlah anggota pekerja di Kebun Anggur Tuhan juga tidak akan bertambah.

Mungkin akan ada yang protes : “Mengapa prosesnya harus dibuat sedemikian panjang dan berat, sehingga semangat dan keyakinan itu harus berhenti di tengah jalan?” Sekilas protes itu terdengar benar. Tetapi ketika kita harus berhadapan dengan fakta bahwa dunia dan Gereja sekarang ini berkembang dengan pesat; ketika umat menjadi semakin banyak yang pandai, juga dalam bidang rohani, tuntutan bagi para Imam dan Bruder serta calon-calonnya juga semakin berat. Dunia, Gereja dan Umat akan protes keras jika para Imam dan Brudernya hanya menyandang predikat sebagai Imam dan Bruder tanpa bisa berbuat banyak menjawab tantangan jaman dan kebutuhan Umat.

Ketidakrelaan, keengganan dan ketidak-mampuan orang muda Gereja untuk memilih dan menghidupi jalan hidup sebagai Imam atau Bruder (dan Suster bagi yang Putri) merupakan realita pahit yang sekarang ini mulai dialami oleh Gereja Katolik, mulai dari Eropa sampai di Indonesia. Semakin hari, semakin banyak seminari dan biara yang kosong dan akhirnya dengan berat hati harus ditutup. Entah kapan seminari atau biara itu dapat dibuka lagi. Sebagian terbesar bahkan sudah dialihfungsikan atau bahkan dibongkar sama sekali dan dibangun sesuatu yang baru. Akankah realita pahit itu segera berakhir dan berubah menjadi fajar harapan yang indah; ataukah relaita pahit itu akhirnya semakin menjadi tajam dan menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan? Adalah kita bersama yang diajak untuk berani menjawabnya; Adalah kita bersama yang diajak mengucapkan penggalan doa di atas, tanpa harus diembel-embeli dengan anak kalimat “…Tapi jangan anakku ya Tuhan…”; Adalah kita bersama yang diajak untuk mewujudkan fajar harapan yang indah itu. Semoga.

« Newer Posts - Older Posts »