29 Nopember 2007 oleh redaksi
Bapa di surga,inilah putra-putri-Mu,
Kami serahkan mereka kepada-Mu. Raihlah mereka dan sentuhlah
dengan jemari-jemari cinta kasih-Mu,
supaya mereka setiap kali berhenti di tempat,
merasakan kehadiran-Mu dan berpaling kepada-Mu
ambillah mereka dan buatlah mereka menjadi
apa saja menurut kehendak-Mu, dan bukan menurut kehendakku.
Panggillah mereka kepetualangan yang telah Engkau rencanakan
bagi mereka masing-masing, bukan menurut apa yang kuinginkan bagi mereka.
Bebaskanlah mereka dari dosa, tetapi jikalaupun mereka berdosa,
tariklah mereka kembali ke pangkuan-Mu.
Jauhkanlah mereka dari kekerdilan jiwa. Bantulah mereka agar
Mampu menggunakan anugerah-anugerah mereka untuk mengabdi sesama.
Adapun bagi kami, tolonglah kami untuk mencintai mereka tanpa ingin mendekap memiliki.
Bantulah kami agar teguh dan lindungilah mereka apabila kami harus melindungi.
Bantulah kami agar sabar selagi mereka berusaha menumukan diri mereka.
Bantulah kami agar dapat membimbing mereka dengan kebijaksanaan-Mu.
Bantulah kami untuk mencintai dengan melepaskan mereka pergi.
Dan apabila karya telah usai, mereka telah terbentuk, telah dibesarkan, dan
Telah pergi meninggalkan kami, bantulah kami untuk menoleh lagi kepada-Mu,
Tanpa anak-anak kami, dan meneruskan perjalanan dengan lebih bijaksana
Dan dengan lebih mengerti Engkau
Serta jalan-jalan-Mu bagi kami, karena kami
Telah melahirkan anak-anak kami.
(dikutip dari buku Menciptakan Keseimbangan, mengajarkan nilai dan kebebasana,
Karya Christopher Gleeson, S.J.)
Ditulis dalam Meditasi dan Renungan, Panggilan | Tidak ada komentar »
Para pembaca setia MUSAFIR…..
Mengisahkan kembali sebuah sejarah merupakan sebuah pengalaman yang menarik, karena di dalamnya kita dapat menemukan nilai-nilai penting yang dapat menjadi inspirasi perjalanan kita untuk mengembangkan kembali hidup dan karya kita.
Untuk itulah, kehadiran MUSAFIR pada edisi kali ini dikemas dalam edisi special, karena berusaha untuk mengisahkan kembali sebuah kisah, pengalaman dan kesaksian para misionaris awal yang telah merintis karya misi di Propinsi Gerejawi Keuskupan Agung Samarinda.
Pada edisi special ini, MUSAFIR berusaha hadir dan terlibat dalam peringatan 100 tahun misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur dengan caranya sendiri yaitu, mengisahkan kembali pengalaman dan kesaksian hidup para misionaris awal di bumi Kalimantan Timur.
Duc in Altum (Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam), demikianlah tema peringatan 100 tahun misi Propinsi Gerejawi Keuskupan Agung Samarinda di Kalimantan Timur yang mulai diselenggarakan dalam serangkaian acara pada tanggal 01-09 Juli 2007 di Kutai Barat, merupakan sebuah tema yang menarik, yang mengajak semua umat beriman di Propinsi Gerejawi Keuskupan Agung Samarinda untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam, ke tempat mana karya kasih Allah belum diwartakan secara maksimal oleh para pelayan pastoral agar kasih Allahpun hadir di tengah-tengah kehidupan mereka sebagaimana yang telah dirintis oleh para misionaris awal di bumi Laham.
Seiring peringatan 100 tahun misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur dan dengan kisah menarik dari para misionaris awal dan juga aneka renungan yang dikemas oleh MUSAFIR semoga dapat menggugah para pembaca setia untuk bertindak, berpartisipasi dan mengambil bagian dalam karya perutusan Gereja ke tempat yang lebih dalam agar Gereja kita khususnya Gereja di Keuskupan Agung Samarinda semakin menarik dan vital.
Bersama seluruh umat di Keuskupan Agung Samarinda, kami dari redaksi mengucapkan selamat MEMPERINGATI PERAYAAN 100 TAHUN MISI GEREJA KATOLIK DI PROPINSI GEREJAWI SAMARINDA. Mari kita satukan tekad, ayunkan langkah perutusan kita untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam agar kasih Allah dirasakan juga oleh semua orang. Tuhan memberkati.
Ditulis dalam Dari Redaksi | 2 Komentar »
(Matius 9:13)
Waktu adalah kekuatan terbesar dalam kehidupan kita. Tidak ada satu pun di kolong langit ini yang mampu untuk menahan lajunya sang waktu. Dia berjalan perlahan tapi pasti, melalui semua yang ada di hadapannya dan meninggalkan semua yang ada di belakangnya. Dia bergulir tanpa sering kali disadari dan dirasakan oleh siapapun, termasuk oleh manusia, ciptaan tertinggi di muka bumi ini. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Provinsialat | Tidak ada komentar »
Mgr W.J. Demarteau MSF
(Editor: P. Felix MSF)
Karya misi Katolik dimulai di bagian selatan Kalimantan Timur atau daerah sungai Mahakam. Ketiga misionaris yang pertama dari ordo OFMCap memulainya di stasi Laham pada bulan Juni 1907. Mereka adalah Pastor Libertus Cluts OFMCap, Pastor Camillus Buil OFMCap dan Bruder Ivo OFMCap. Pada awalnya para misionaris itu mau memulai karya misi di kampung lain, misalnya Mamahak Besar atau Long Iram, tetapi akhirnya kampung Laham yang dipilih karena jumlah penduduknya waktu itu 96 orang. Kedatangan para misionaris tidak disambut dengan penyambutan yang meriah tetapi justru mereka diterima sebagai orang asing. Orang kampung malahan bersikap “TUNGGU SAJA” sampai menjadi jelas apa maksud ketiga orang Belanda itu mendatangi kampung mereka. Meskipun begitu masyarakat di kampung Laham membantu para misionaris dengan membangun pastoran yang sederhana dan kapel yang kecil. Tetapi tidak ada satu orang Dayak pun yang datang kepada salah satu Pastor dan memberi tahu bahwa ia mau menjadi Kristen. Belum ada seorang Dayak yang berpikir mengenai hal itu. Tetapi mereka mulai menghargai missionaris sebagai orang yang “VERY KIND”, yang selalu siap sedia untuk membantu dengan obat atau garam, yang kadang tidak ada. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Misi | 2 Komentar »
(Fr. Daniel R MSF)
“Engkau Betlehem, sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara kota-kota utama, karena dari engkau akan datang seorang pemimpin”.
(Mat 2:6).
Tahun 2007 ini merupakan tahun yang penuh syukur bagi seluruh umat Katolik di wilayah Kalimantan, dan khususnya umat di Keuskupan Agung Samarinda. Hal yang patut disyukuri adalah mengenang seratus tahun karya misi di bumi Kalimantan Timur. Dalam suasana syukur itu keuskupan Agung Samarinda khususnya coba menatap masa depannya. Ada beragam tantangan besar yang dihadapi keuskupan ini seperti: masalah ekologi (perusakan hutan), minimnya tenaga imam dan religius/ rohaniwan-rohaniwati serta pelestarian budaya lokal. Tetapi kalau benar yang harus dihadapi oleh keuskupan hanya masalah dan masalah bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan yang mesti dialami oleh seluruh umat di keuskupan ini. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Misi | 5 Komentar »
karangan pastor Martinus OFMCap (Archivum Capuccinorum Hollandiae)
Karya Misi di bawah pimpinan Prefek Bos di Borneo Bagian Barat sejak 1905 sudah mendapat dua pangkalan kerja yaitu: Singkawang dan Sejiram. Dari Sejiram ada kemungkinan untuk mencari hubungan dengan suku Batang-Lupar.
Di bagian Timur dari Borneo ada daerah yang luas sekali yang sebenarnya diserahkan kepada prefek Bos juga. Bagian Selatan Borneo tidak boleh dimasuki oleh Misi Katolik, berdasarkan artikel 171, sebab di situ sudah mulai bekerja Zending Protestan. Prefek Bos seringkali memikirkan karya di bagian Timur, tetapi tidak tahu caranya. Dari pihak Pemerintah sudah ada dorongan agar Misi mulai di salah satu tempat. Disebutkan kampung Long Iram yang terletak pada sungai Mahakam bagian hulu. Kata orang bahwa bagian hilir sungai Mahakam seluruhnya beragama Islam. Diusulkan Long Iram sebagai basis kerja. Aparat Pemerintah ditempatkan di situ dengan pangkal besar di bawah pimpinan seorang Letnan, yang bertugas juga sebagai Kontrolir. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Misi | 2 Komentar »
ZONDAGSBLAD 9, hal 606
Pater Liberatus OFMCap menulis: kira-kira enam minggu kami di Laham ini dan mau menceritakan apa yang kami lihat dan dengar. Orang-orang Dayak di sini adalah manusia seperti kalian dan kami, kulitnya sedikit lebih coklat daripada kulit kami, badannya kuat, tetapi sangat miskin. Rumahnya dibangun dengan beberapa potongan kayu, dengan papan2 besar dan kecil, yang diikat satu dengan yang lain dengan rotan.
Dalam rumah ada beberapa bidai dari anyaman rotan yang digunakan untuk tidur dan juga untuk makan bersama. Meja dan kursi tidak mereka perlukan. Untuk makan mereka selalu duduk di lantai.
Alat untuk memasak sangat sederhana. Makanan mereka adalah nasi ditambah dengan sedikit sayuran yang diambil dari hutan. Mereka makan biasanya dengan menggunakan tangan. Untuk air minum mereka ambil dari sungai. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Misi | Tidak ada komentar »
M. Gloudemans
Maret sampai Mei 1936
27 Maret 1936 Kami mudik, singgah sebentar di Tenggarong tetapi kami diminta oleh seorang petugas Sultan untuk terus mudik karena jamban itu khusus untuk kapal Sultan. Memang pertaturan itu benar tetapi alangkah baiknya ada kelunakan sedikit dari Yang Mulia.
Malam hari kami tiba di Muara Kaman. Hari berikutnya kami sampai Kota Bangun di mana kami bertemu dengan tuan v.d. Woude.
Malam hari kami sampai Muara Pahu. Sungai menjadi indah dengan panorama bergantian. Suasana tenang. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Adat Istiadat, Misi | Tidak ada komentar »
Mgr. J.Kusters MSF
24.03.1946 s.d. 06.08.1946
Bulan September 1945 para pastor kami, yang diinternir di Kalimantan, menjadi bebas dan beberapa di antara mereka ingin dengan segera kembali ke Stasi mereka.
Karena itu pastor Jansen berangkat ke Samarinda tgl. 01 November, pastor Schoots bersama pastor Leeferink ke Tarakan, pastor Hagens bersama pastor Slot ke Balikpapan, pastor Ogier bersama pastor van der Salm ke pedalaman.
Karena keadaan tidak mengizinkan pastor Ogier dan van der Salm tidak bisa meninggalkan Samarinda dengan segera. Karena situasi di pedalaman belum aman. Sementara itu pastor Ogier jatuh sakit dan harus ke rumah sakit di Balikpapan. Sebagai gantinya adalah pastor Arts dan Gielens yang berangkat ke pedalaman sekaligus merekalah pastor yang pertama yang pergi ke pedalaman. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Misi | Tidak ada komentar »
Louis Jean dan Auguste Marie Louis Nicholas Lumière adalah penemu cinematographe, sebuah kamera gambar bergerak three-in-one yang terdiri dari kamera gambar bergerak (film) dan perlengkapanya termasuk proyektor. Keduanya merupakan para perintis penyutradaraan dan pembuatan film. Mereka dilahirkan di Twin Valley, Besancon (Perancis) namun kemudian besar di Lyon. Ayah mereka menjalankan bisnis fotografi dan keduanya bekerja di perusahaan ayahnya. Louis bekerja sebagai fisikawan sedangkan Auguste sebagai manajer. Louis kemudian membuat beberapa peningkatan pada proses fotografi. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Misi, Panggilan | Tidak ada komentar »