<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Musafir MSF</title>
	<atom:link href="http://msfmusafir.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://msfmusafir.wordpress.com</link>
	<description>Misionaris Keluarga Kudus - Provinsi Kalimantan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Oct 2009 23:10:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='msfmusafir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/48c2d61e39e016d0fa8e6b3f8ebac478?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Musafir MSF</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Negara dan Korban Bencana</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/17/negara-dan-korban-bencana/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/17/negara-dan-korban-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 23:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Gempa yang mengguncang Sumatera Barat menelan lebih dari 1.000 korban. Namun, upaya membantu korban berjalan lamban dan tidak sistematis (Kompas, 12/10). Korban mempertanyakan tanggung jawab para pengambil kebijakan publik dan kehadiran negara di tengah mereka. Berita bencana alam datang susul-menyusul dari Jawa Barat, Sumatera Barat, Jambi, Vietnam, Filipina, Jepang, dan Italia. Kenyataan itu tidak sepatutnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=468&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gempa yang mengguncang Sumatera Barat menelan lebih dari 1.000 korban. Namun, upaya membantu korban berjalan lamban dan tidak sistematis (Kompas, 12/10). Korban mempertanyakan tanggung jawab para pengambil kebijakan publik dan kehadiran negara di tengah mereka. Berita bencana alam datang susul-menyusul dari Jawa Barat, Sumatera Barat, Jambi, Vietnam, Filipina, Jepang, dan Italia. Kenyataan itu tidak sepatutnya menjadi alasan untuk meremehkan, melalaikan, atau melihat derita korban sebagai hal lumrah. Bencana alam datang tak terduga, tetapi upaya pertolongan menampakkan kualitas dan intensitas tanggung jawab setiap pemerintahan. Tanah longsor yang menghantam Messina, Italia selatan, menewaskan 26 korban. Pemerintah Italia segera mengumumkan hari berkabung nasional, diiringi upacara penguburan para korban secara kenegaraan dan ditayangkan di TV secara nasional (Corriere della Sera, 8/8). Pemerintah Italia juga berjanji membangun rumah bagi para korban, serupa dengan korban gempa wilayah L’Aquila yang kini setiap pekan menerima dari pemerintahnya 300-400 rumah siap pakai. <span id="more-468"></span></p>
<p><strong>Gambaran berbeda</strong></p>
<p>Apa yang terjadi di lembah Gunung Tigo memperlihatkan gambaran berbeda. Keputusan dan kerelaan keluarga korban untuk membiarkan lokasi bencana menjadi kuburan massal menimbulkan rasa gundah. Ia menampakkan ketidakberdayaan, ketidaksiapan negara menghadapi bencana. Para korban yang selamat masih didera derita batin karena sanak keluarganya yang meninggal dikuburkan dengan cara tidak lazim sesuai adat dan agama (Kompas, 7/10). Harapan keluarga untuk sebuah penguburan secara layak dijawab dengan kebijakan pragmatis, parsial, dan absen kepekaan akan nilai kemanusiaan. Solidaritas negara dengan korban terkesan seakan absen. Lembah Gunung Tigo perlu menjadi peringatan bahwa bangsa ini perlu lebih banyak belajar bertanggung jawab. Alih-alih mengumumkan kabung nasional, para wakil rakyat justru terbenam dalam pesta pelantikan mewah, elite partai politik berebutan kursi kekuasaan dengan hamburan uang seratus juta hingga satu miliar rupiah per satu suara. Yang kita saksikan di lembah Gunung Tigo adalah bangsa yang kehilangan visi. Problem besar bangsa ini adalah kecenderungan untuk segera mengaitkan bencana alam dengan ”kutukan Tuhan” atau menerimanya sebagai nasib yang tak terelakkan. Sikap yang kemudian tumbuh menghadapi bencana adalah kepasrahan akan nasib serta minimnya inisiatif. Di sini berkembang secara tak disadari sikap deterministis yang meremehkan serta mengabaikan kemampuan manusia membuat pilihan dalam tindakannya. Visi moral Dalam kehidupan bangsa ini, kiranya masih absen apa yang disebut Sacks sebagai ”visi moral”, yang berfungsi bagai kompas pemandu arah tingkah laku saat situasi yang dihadapi (baca: bencana) seakan tak terkendali. Dalam visi moral itu, ada ide dasar ”tanggung jawab”. Sikap pasif, serba menerima, diubah dengan mengundang manusia menggunakan kemampuan memilihnya untuk membangun masa depan. Kemampuan memilih dan bertanggung jawab secara moral atas tindakannya menjadi pandangan atas hakikat manusia yang diyakini dalam agama Yahudi, Kristen, maupun Islam (Jonathan Sacks, The Dignity of Difference, 2007). Dalam alur pemikiran demikian, manusia (negara) tidak seharusnya membiarkan rakyatnya menerima nasib di tengah bencana yang menimpa. Dengan segala sumber yang dimilikinya, negara mempunyai kemampuan untuk memilih dan mewujudkan tanggung jawabnya terhadap para korban bencana. Proses evakuasi yang lambat, distribusi bantuan yang tidak merata, data korban simpang siur, kepanikan dan ketidaksiapan aparat di lapangan memperlihatkan betapa lemahnya sistem perencanaan penanganan korban bencana di negeri ini. Dinantikan respons politis yang komprehensif dan urgen, tetapi tidak hanya reaktif agar negeri rawan bencana ini tidak gagap setiap menghadapi bencana. Bencana alam akan selalu terjadi, tetapi negara sebesar Indonesia seharusnya tidak dikuasai sikap deterministis. Perlu diusir cara pemikiran yang meremehkan kemampuan manusia sebagai makhluk yang dapat memilih karena ia merupakan hasil dari apa yang diputuskannya. Pemerintah tidak perlu kehilangan kendali dan tanggung jawab atas akibat bencana yang terjadi. Keberpihakan pada para korban seharusnya tampak dalam kemampuan pemerintah melakukan pilihan-pilihan cerdas, memerangi sikap pasif, mati rasa atau cuci tangan di hadapan derita warganya. Hiruk pikuk pembentukan kabinet hendaknya tidak meninggalkan para korban bencana seakan yatim piatu!</p>
<p>Paulinus Yan Olla MSF</p>
<p>Rohaniwan; Lulusan Program Doktoral Universitas Pontificio Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma; Bekerja dalam Dewan Kongregasi MSF di Roma, Italia</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/468/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=468&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/17/negara-dan-korban-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Letter from Rome</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/15/letter-from-rome/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/15/letter-from-rome/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 09:03:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Jenderalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Roma, 15.10.2009
 1. Pertemuan di La Salette
Dewan Pertimbangan Kongregasi telah mengadakan pertemuannya dari tanggal 24-29 Agustus 2009 di La Salette. Pertemuan yang diadakan di tahun Centenarium wafatnya Pendiri ini menjadi kesempatan merenungkan identitas kita sebagai anak-anak rohani P. Berthier. Pertemuan yang sama merupakan kesempatan memikirkan dan merencanakan perjalanan Kongregasi kita ke masa depan. Karena alasan-alasan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=466&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2>Roma, 15.10.2009</h2>
<p> <strong>1. Pertemuan di La Salette</strong></p>
<p>Dewan Pertimbangan Kongregasi telah mengadakan pertemuannya dari tanggal 24-29 Agustus 2009 di La Salette. Pertemuan yang diadakan di tahun Centenarium wafatnya Pendiri ini menjadi kesempatan merenungkan identitas kita sebagai anak-anak rohani P. Berthier. Pertemuan yang sama merupakan kesempatan memikirkan dan merencanakan perjalanan Kongregasi kita ke masa depan. Karena alasan-alasan di atas maka Dewan Pimpinan Umum telah memutuskan mengundang ke La Salette para Provinsial dan salah satu Asistennya. Dalam pertemuan itu hadir di La Salette sebanyak 36 orang (35 peserta dan satu Sekretaris yang bukan anggota Dewan). Disamping refleksi, berbagai kegiatan telah dilakukan misalnya: perayaan ekaristi di desa asal P. Berthier (Chatonnay) atau perayaan Centenarium bersama uskup Grenoble di La Salette.</p>
<p><span id="more-466"></span></p>
<p><strong>2. Para Provinsial Baru </strong></p>
<p>a. Provinsi Perancis Provinsi Perancis dalam Kapitelnya yang berlangsung dari tanggal 8-9 Juni 2009, telah memilih P. Raymond Brück sebagai Provinsial. Para Asistennya: P. Claude Avrillon (Asisten I), P. René Chain (Asisten II), Joseph Poinar (Asisten III). Tugas mereka telah dimulai terhitung pada tanggal 01 Juli 2009.</p>
<p>b. Provinsi Madagaskar Provinsi Madagaskar dalam Kapitelnya yang berlangsung dari tanggal 22-25 September 2009, telah memilih provinsialnya P. Marié Michel Jérémie Raberavo untuk periode kedua sebagai Provinsial yang akan dimulai terhitung sejak tanggal 19 Oktober 2009. Para Asistennya adalah: P. R. Benoit Fidèle (Wakil dan Asisten I), P. R. Clément Berthin Régis (Asisten II), P. Ratiarison Gaël (Asisten III).</p>
<p><strong>3. Penutupan Tahun Centenarium </strong></p>
<p>Sebagian besar dari Provinsi kita telah merencanakan penutupan tahun Centenarium sekitar tanggal 16 Oktober 2009. Beberapa Provinsi menutupnya dengan retret yang diakhiri dengan perayaan meriah di tingkat Provinsi atau di tingkat komunitas-komunitas lokal (Unio, Rukun). Di Jenderalat Centenarium akan ditutup pada bulan November 2009 karena kunjungan ke berbagai Provinsi tidak memungkinkan kehadiran semua anggota Dewan Jenderal di Roma pada bulan Oktober.</p>
<p><strong>4. Sebuah Kapel di Kuburan P. Berthier</strong></p>
<p>Pada akhir pertemuan di La Salette P. Jenderal, P. Edmondo, bertemu dengan P. Perin, Rektor untuk komunitas Tempat Ziarah di La Salette, membicarakan soal Kapel di tempat Pendiri dikuburkan. Hal itu telah lama diusulkan. Pertemuan itu berlangsung baik dan menghasilkan kesepakatan yang baik pula. Dewan Jenderal akan menindaklanjuti proses peerwujudan proyek itu.</p>
<p><strong>5. Pengumuman Soal Kunjungan-Kunjungan </strong></p>
<p>Sampai awal bulan November mendatang, hampir semua anggota Dewan Jenderal akan berada di Provinsi untuk berbagai kegiatan. P. Edmondo akan berada di Polandia, Swiss, Perancis dan Spanyol dari tanggal 15-31 Oktober. P. Itacir dan P. Santiago akan berada di Brasile Utara dan Brasil Timur dari tanggal 11-30 Oktober. P. Patrice akan berada di Swiss, Perancis dan di Spanyol bersama P. Edmondo tanggal 14-31 Oktober. P. Paulinus tidak dapat ambil bagian dalam kunjungan karena sedang membarui izin tinggal di Italia. Kami mohon bantuan doa para konfrater untuk segala kegiatan Jenderalat di atas.</p>
<p> Paulinus Yan Olla MSF Sec.Generale MSF</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=466&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/15/letter-from-rome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konser Mengenang Pater Pendiri MSF</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/08/konser-mengenang-pater-pendiri-msf/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/08/konser-mengenang-pater-pendiri-msf/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 15:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Provinsialat]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun Yubileum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu, sekitar pukul 20.00 Wita, bertempat di aula Syalom, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan – Banjarmasin, Senin, 28 September 2009, digelar Konser Peringatan 100 tahun Wafatnya Pater Berthier, MS (Pendiri Kongregasi MSF). Konser ini adalah salah satu acara yang digelar untuk mengisi Perayaan Tahun Berthier yang dimulai sejak tanggal 16 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=462&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Malam itu, sekitar pukul 20.00 Wita, bertempat di aula Syalom, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan – Banjarmasin, Senin, 28 September 2009, digelar Konser Peringatan 100 tahun Wafatnya Pater Berthier, MS (Pendiri Kongregasi MSF). Konser ini adalah salah satu acara yang digelar untuk mengisi Perayaan Tahun Berthier yang dimulai sejak tanggal 16 Oktober 2008 silam dan berakhir tanggal 16 Oktober 2009 besok.</p>
<p><span id="more-462"></span>Dalam konser ini tampil Pastor Antonius Garinsingan, MSF (yang lebih akrab dipanggil Pastor Garin), bersama para pendukung album Peringatan 100 Tahun Wafatnya Pater Jean Berthier, MS. Mereka adalah : Yohanes Nindito Adisuryo, Maria Nurista Astari dan Ira Damayanti (backing vocal). Album tersebut diproduksi dan dikeluarkan oleh MSF Provinsi Kalimantan. Konser dibuka dengan permainan gitar oleh Pastor Garin. Tiga buah komposisi ditampilkan dalam kesempatan ini. Selanjutnya, seluruh penyanyi pun naik ke atas panggung dan diperkenalkan satu persatu kepada penonton oleh pembawa acara. Sebuah lagu berjudul “Pater Pendiri MSF” pun di saat berikutnya terdengar mengalun merdu dibawakan oleh Yohanes Nindito diiringi oleh penyanyi lainnya yang bertindak sebagai backing vocal. Lagu ini adalah “arah” dari keseluruhan lagu-lagu yang ditampilkan dalam album Peringatan 100 Tahun Wafatnya Pater Jean Berthier, MS. Lagu berbentuk madah sederhana ini hendak memperkenalkan Pater Berthier dan kharismanya dan diciptakan Pastor Garin sebagai persembahan khusus untuk sang pendiri Kongregasi MSF. Tiga buah lagu berbahasa asing juga ikut menyemarakkan konser pada malam itu. Sebut saja nomor berjudul “Maria Nome Soave” (Maria Nama yang Manis) yang berbahasa Spayol. Lagu yang dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Maria Nurista ini berkisah mengenai kecintaan Bunda Maria yang begitu dalam kepada umat manusia. Hal ini pulalah yang kemudian menjadi alasan Pater Berthier untuk mengangkat Bunda Maria sebagai Pelindung Kongregasi MSF. Lagu berbahasa asing lainnya adalah nomor berjudul “Missionàrios da Sagrada Familia” dan “Vejam” dalam bahasa Portugis. Kedua lagu tersebut dibawakan begitu apik oleh Yohanes Nindito. Lagu Missionàrios da Sagrada Familia bercerita tentang asal muasal berdirinya Kongregasi MSF yang dirintis oleh Pater Berthier. Di sebuah bekas tangsi tentara Pater Berthier merintis misinya dan akhirnya berkembang ke seluruh dunia. Sedangkan lagu Vejam (Lihatlah!) ingin menggambarkan tentang suka duka yang harus dihadapi untuk menjalani hidup panggilan di bawah Terang Kasih Allah. Kedua lagu berbahasa Portugis ini merupakan karya dari Padre Loacir Luiz Luvizon, MSF dan aransemennya dikerjakan oleh Pastor Garin. Bahkan untuk lagu Missionàrios da Sagrada Familia diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia. Tiga buah lagu lainnya yang diciptakan sekaligus dinyanyikan langsung oleh Pastor Garin adalah lagu berjudul : Misionaris Borneo, Sadhana, Kehadiran dan Kubersyukur. Lagu “Misionaris Borneo” yang berirama Jukung (dalam bahasa Itali : Barcarolle) mengisahkan tentang semangat perjuangan para misionaris MSF di bumi Kalimantan yang tidak kenal lelah dan tidak pernah menyerah, demi mewartakan Kabar Gembira kepada umat hingga ke pedalaman. Satu lagi lagu berirama Jukung adalah nomor berjudul Sadhana (Jalan) yang bercerita tentang perjalanan sang misionaris beserta pergulatan hidup panggilan yang harus dialaminya setiap saat. Pada malam itu tampil pula anak-anak REMAKA Paroki Kelayan yang ikut mengiringi konser saat sebuah lagu berjudul “Laskar Berthier” dibawakan di atas panggung. Secara keseluruhan konser yang berdurasi 90 menit tersebut berjalan sukses dan mendapat perhatian yang cukup antusias dari umat. Dalam kata sambutannya Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF berujar, “Melalui lagu-lagu tadi, Pastor Garin mencoba menyampaikan pesan dari Pater Jean Berthier melalui karya musik, dengan harapan kita semua dapat mengikuti jejaknya.” Lebih lanjut Pastor Teddy mengungkapkan bahwa hasil penjualan album tersebut adalah untuk membiayai pendidikan para calon Imam MSF dan untuk mendukung karya misi yang ditangani oleh Kongregasi MSF. Pembaharuan Kaul dan Retret Para Imam MSF Sebelum penyelenggaraan konser, sore harinya diadakan Perayaan Ekaristi Pembaharuan Kaul para Imam MSF, sekaligus Perayaan Syukur 114 Tahun Kongregasi MSF, yang didirikan oleh Pater Jean Berthier, MS pada tanggal 28 September 1895 di kota Grave, negeri Belanda. Sebanyak 41 orang Pastor MSF dan 4 orang Bruder MSF memperbaharui kaulnya. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Pastor Teddy, MSF (Provinsial). Dalam homilinya Pastor Teddy mengutip ungkapan yang seringkali didengarnya sewaktu bertemu dan berbincang dengan Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin Mgr. F.X. Prajasuta, MSF. Ungkapan itu berbunyi, “Man from God, man for others.” Kepada semua yang hadir Pastor Teddy mengatakan, “Pada hari-hari menjalani Retret di Banjarbaru, kesimpulannya adalah bahwa Anda adalah orang-orang dari Allah dan pada akhirnya diutus kepada sesama.” Pastor Teddy menggarisbawahi bahwa ungkapan itu bukan hanya berlaku untuk para Imam saja, akan tetapi bagi semua umat yang hadir. “Karena kita diharapkan menghayati hidup sebagai orang yang berasal dari Allah dan siap melayani orang lain. Ada tantangan dan ada perjuangan yang dituntut, ketika kita mau menghayati cita-cita itu.” Menyinggung tentang krisis panggilan, Pastor Teddy berkata, “Kita seringkali mengatakan tentang adanya krisis panggilan, padahal yang sebenarnya terjadi adalah krisis jawaban! Karena yang memanggil adalah Allah, sedangkan sangatlah sedikit jawaban dari kita. Beranikah kita semua bersama para Pastor, Suster, Frater, Bruder, para Seminaris dan seluruh umat menjawab tantangan sejauhmana penghayatan kita terhadap cita-cita surgawi? Dengan kata lain kita berani menjadi orangnya Allah dan pada gilirannya berani melayani sesama?” Dalam Perayaan Ekaristi sore itu, 3 orang Imam MSF merayakan pesta perak hidup membiara; mereka adalah : Pastor Aloysius Lioe Fut Khin, MSF, Pastor Robertus B. Berthras Reksotomo, MSF dan Pastor Yosef Tjoek Prasetyo, MSF. Sedangkan satu orang Imam MSF yaitu Pastor Petrus Suryo Hadi Atmoko merayakan pesta syukur 25 tahun tahbisan Imam. Sebelum digelar Perayaan Ekaristi sore itu, selama seminggu lamanya, sejak tanggal 23 September 2009 hingga 28 September 2009 diadakan pula Retret Imam MSF di Wisma Sikhar – Banjarbaru. Retret dibimbing oleh Pastor Wim van der Weiden, MSF</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/462/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=462&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/10/08/konser-mengenang-pater-pendiri-msf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENJELANG MATAHARI TERBENAM</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/08/13/menjelang-matahari-terbenam/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/08/13/menjelang-matahari-terbenam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 06:16:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meditasi dan Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Misi]]></category>
		<category><![CDATA[Panggilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu mata sepertinya tidak mau kompromi untuk dipejamkan. Pikiran agak kacau. Agar bisa mengantuk, membaca adalah solusi yang paling gampang. Maka jadilah majalah Intisari dibaca dibawah sinar lampu baca di tempat tidur. Ketika itulah saya menjadi terkejut ketika memandang kerut-kerut pada tangan. ‘Menjadi tua’, itulah yang terlintas. Ini untuk ketiga kalinya keterkejutan meliputi diriku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=460&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Arial;">Malam itu mata sepertinya tidak mau kompromi untuk dipejamkan. Pikiran agak kacau. Agar bisa mengantuk, membaca adalah solusi yang paling gampang. Maka jadilah majalah Intisari dibaca dibawah sinar lampu baca di tempat tidur. Ketika itulah saya menjadi terkejut ketika memandang kerut-kerut pada tangan. ‘Menjadi tua’, itulah yang terlintas. Ini untuk ketiga kalinya keterkejutan meliputi diriku. Pertama, ketika membeli tiket masuk Sea-Wold di Dufan, Ancol, Jakarta. “Bapak bayar separuh saja karena sudah manula.” “Hah!” hanya itu yang spontan terlontarkan. Kedua, ketika menerima KTP seumur hidup. Yang ketiga, ketika memandang kerut-kerut kulit di malam itu. Terima kenyataan, tak tersangkalkan dan memang sudah 36 thn menjadi imam dalam Konggregasi MSF dan 45 thn hidup berkaul, sudah memasuki usia 66 thn.<span id="more-460"></span></p>
<p></span><strong>Masa bulan madu.</p>
<p></strong></p>
<p>Tahbisan imam di Tering tgl. 10 Desember 1972 dari tangan Mgr. Jac. Romeijn MSF merupakan puncak dari suatu penyerahan diri kepada Tuhan dalam imamat. Bukan tanpa persiapan diri. Suatu obsesi harus diimbangi dengan suatu persiapan. Entah mengapa, kerinduan untuk mengabdikan diri pada masyarakat kecil di pedalaman selalu membisiki hati. Mungkin karena latar belakang sebagai “orang pedalaman”. Bisa terjadi terobsesi seruan Bpk. Pendiri untuk menjadi missionaries bagi mereka yang jauh. Di satu pihak, perjalanan waktu ketika mempersiapkan diri menjadi imam, menjadikan diri terbiasa sebagai orang yang selalu hidup dalam lingkungan perkotaan. Karena itu pemenuhan obsesi memerlukan persiapan lahir batin. Tidak berlebihan kalau kursus pertanian di KPP Salatiga menjadi ajang pelatihan persiapan diri. Tidak berlebihan juga kalau praktek pastoral di desa-desa menjadikan diri terbiasa kembali dengan dunia desa. Tidak berlebihan juga kalau bacaan-bacaan mengenai budaya pedalaman Kalimantan dilahap. Kegiatan olah raga dan bela diri juga menjadi bahan persiapan olah diri dari segi physic. Beberapa hari setelah tahbisan, suatu kursus kilat mengenai keperawatan diikuti, dan mendapat satu peti perlengkapan medis, hadiah dari Memisa. Ketika penempatan pertama di pedalaman, rasanya seperti mendapat durian runtuh.</p>
<p>Obsesi terpenuhi. Paroki Barong Tongkoq menjadi pijakan pertama. Bermodalkan sepeda ontel, stasi-stasi dari Paroki Barong Tongkoq dan paroki Melapeh dijelajahi tanpa mengenal lelah. Tidak jarang harus jalan kaki melalui rimba, dengan resiko bertemu binatang buas dan tertikam belantik, sejenis bambu runcing dengan tenaga pegas dari kayu keras. Pernah dikejar ular karena terlindis ban sepeda, tetapi laju sepeda tidak bisa diimbanginya. Tidak jarang tidur di komplek peladangan, dan malamnya merayakan ekaristi di pondok ladang, lalu menyantap durian ranum nan sedap. Sungguh sangat mengesankan. Perjumpaan dengan masyarakat menjadi ajang diskusi tentang pertanian dan perkebunan., dan pelan-pelan diarahkan kepada pewartaan Injil. Perayaan ekaristi hampir selalu dirayakan malam hari, disusul pengobatan dan setelah itu bisa bertukar ceritera sampai ayam berkokok kedua kalinya.</p>
<p>Pertengahan tahun dipindahkan ke paroki Melapeh yang lagi kekosongan tenaga imam. Harus menempati pastoran tua, dinding kulit kayu, atap tua dan bocor, ruangan tanpa isi, kecuali satu tilam busa yang sangat berat. Kalau hujan turun, maka tidur di bawah meja agar tak kuyup karena air hujan. Untuk keperluan gisi, dibuat kebun kecil samping pastoran. Menu rutin adalah nasi, ikan asin dan sayuran, tanaman sendiri. Kalau lagi tak turne, maka setelah makan malam (jam 18.00) pakai sarung, lalu berkunjung ke rumah umat. Ngobrol sampai tinggi malam dan disuguhi kopi. Hemat minyak tanah dan kopi. Pagi cukup dengar siaran dari radio tetangga yang di stel sangat keras. Lagi-lagi hemat beterai. Irama turne seperti semula. Kiang (semacam tempat menyimpan barang dari rotan) menjadi perlengkapan turne, tempat menyimpan perlengkapan misa dan pakaian ganti (campur saja dalam satu wadah. Ditempelkan di samping boncengan sepeda ontel. Mandau dan topi Dayak berhiaskan bulu enggang tak ketinggalan, bak prajurit pengayau jaman dahulu. Pernah serombongan ibu-ibu lari lintang pukang, karena disangka ada “ayau” (musuh pemenggal kepala).Sering terjadi, sepeda yang menjadi tuan, karena harus dipikul. Ada pohon-pohon tumbang melintang di jalan. Pernah terjadi, dalam hujan sangat lebat, sepeda terpeleset dari lantai jembatan, lalu bersama sepeda jatuh dalam sungai yang lagi banjir. Sekali lagi sepeda menjadi tuan. Sambutan umat di stasi sangat antusias. Pengalaman pahit terjadi ketika pingsan di tengah jalan karena kepanasan dan kehausan. Seorang guru menolong, diberi air mentah dan keesokan harinya diari berat. Hampir semua stasi menghidangkan lauk ayam bersantan. Kedekatan dengan umat, obsesi mau jadi missionaris pedalaman, semangat yang tinggi membuat segalanya terasa ringan, tanpa keluhan, tanpa rasa disisihkan.</p>
<p><strong>Kehidupan di kota.</p>
<p></strong></p>
<p>Masa bulan madu sepertinya harus diakhiri dengan perpindahan ke paroki Kathedral, Samarinda, april 1974. Seperti ada pukulan dengan palu godam di hati. Sangat berat. Umat merasakan yang sama. Beramai-ramai melayangkan surat agar tidak terjadi mutasi. Dengan gampang dan halus para petinggi keuskupan mengatakan bahwa perpindahan ini adalah untuk kepentingan yang lebih besar. Sebesar apa? Umat hanya mengurut dada dan meneteskan air mata. Kaul ketaatan memaksa angkat kaki. Dengan sepeda ontel dan satu kiang kecil berisi pakaian plus seekor anak musang, pemberian kenang-kenangan dari cintanya umat, sepeda dikayuhkan ke Tering untuk kemudian dengan kapal milir ke Samarinda. Ditengah hiruk pikuk kota dan persoalan rumit dari orang-orang kota, pos berikutnya ditempati. Paroki Kathedral! Tidak ada lagi keakraban desa. Ada sesuatu yang hilang, Komunitas sama sekali tak mendukung. Hidup sendiri-sendiri, mulut sulit terbuka untuk berbicara. Komunikasi tidak lancar seperti di desa. Frustrasi hampir saja menguasai diri. Kemampuan berkomunikasi pelan-pelan menumbuhkan penyesuaian diri. Dan ketika diangkat menjadi pastor paroki Kathedral, setengah tahun kemudian, sedikit banyak sudah ada penyesuaian. Banyak persoalan harus diselesaikan. Dewan paroki yang hanya ingin jabatan kehormatan, harus diubah menjadi dewan yang proaktif untuk kehidupan berparoki. Banyak hal harus dipelajari. Sabda Yesus: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan” (Mat. 11:15) mulai disesuaikan dengan realitas. Melihat, mendengar, belajar dan analisa sosial yang tepat, menjadi prinsip pastoral. Tantangan tidak jarang muncul dari konfrater. Ada yang tidak terima bahwa “anak kecil itu” menjadi pastor paroki Kathedral. Ada yang tidak mau mengikuti keputusan yang ada, Kata-kata menyakitkan terlontarkan bahwa semua pelayanan sakramental tidak sah. Perkembangan baru atau suatu perubahan sering memicu protes dari umat. Ketika pertama kali mengambil misdinar anak-anak putri, protes dilontarkan, tidak terima imam muda duduk dipanti imam dikelilingi gadis-gadis misdinar yang cantik-cantik.</p>
<p>Kekuatan dan daya tahan justeru muncul dari dukungan uskup dan provincial.</p>
<p>Kecintaan akan menjadi missionaris pedalaman tidak pupus ketika berkarya di kota. Disamping kesibukan di kota, masih ada 45 stasi yang harus dilayani, membentang dari muara Mahakam sampai daerah danau Jempang, sungai Kelinjau dan sungai Belayan. Dua kali setahun, daerah-daerah pedalaman dilayani dan membuka daerah baru. Daerah Danau Jempang dimulai dari stasi Mancong dan Tanjung Jan, menyusul Tanjung Isuy. Sungai Belayan dilayani mulai dari Ritan Baru, Kampung Baru, Tabang dan daerah orang Punan, dan beberapa desa lainnya. Sungai Kelinjau dilayani dari Long Segar, Melan, Long Bentuk sampai Long Puh. Sungai Telen dilayani dengan membuka daerah baru: Selabing, Dea’ Lay dan Dabeq. Pelayanan ini dijalani selama dua bulan. Stasi sekitar kota adalah Sanga-Sanga, Palaran, Bukuan, Belimau, Loa Duri dan Tenggarong.</p>
<p><strong>Missionaris domestik.</p>
<p></strong></p>
<p>April 1980, perpindahan ke Buntok, Kalimantan Tengah memasukkan ke situasi dan kondisi yang sama sekali baru. Provinsi MSF Kalimantan melihat bahwa perlu ada pertukaran misionaris antar kedua keuskupan (Samarinda dan Banjarmasin). Buntok menjadi daerah tujuan misionaris domestic pertama. Buntok adalah kota kabupaten dengan sejumlah stasi yang bisa dijangkau dengan klotok dan sepeda motor. Jalan darat sangat memprihatinkan. Masyarakat masih sederhana, dengan budaya yang hampir punah karena pengaruh Protestantisme. Syukurlah dengan loka karya musik liturgi dar PML di Buntok, banyak lagu-lagu Maanyan, Dusun, Kapuas dan Teboyan digali. Kemudian menyusul 2 kali Loko di Tering, Kerinduan akan suasana desa masih bisa tersalurkan dengan kunjungan rutin ke satsi-stasi. Thn 1983 meninggalkan Buntok selama satu tahun untuk mengikuti kursus theology di EAPI, Manila. Sekembalinya, masih melayani Buntok selama satu tahun.</p>
<p>Buntukpun harus ditinggalkan awal thn, 1985, ketika diangkat menjadi Direktur Seminari Senakel Banjarmasin selama 6 tahun. Kemudian pindah lagi ke Balikpapan selama 9 tahun. Stasi-stasi sekitar kota: Semoi, Sepinggan, Amburawang dalam, Amburawang luar, Senipah, Handil, Petung, Babulu Darat dan sekitarnya masih dilayani. Ketika terjadi keributan besar di Grogot, dan pastor paroki harus pergi, maka pelayanan paroki Grogot dengan stasi-stasinya dilayani juga dari Prapatan.</p>
<p><strong>Jabatan sebagai seorang missionaris.</p>
<p></strong></p>
<p>Cita-cita murni untuk menjadi seorang misionaris untuk orang yang jauh, nampaknya tidak bisa secara murni dijalani. Tidak pernah terbayangkan ketika Uskup Samarinda menunjuk menjadi Ketua Yayasan P3R yang menangani sekolah-sekolah milik keuskupan. Tidak tahu harus berbuat apa dan dari mana. Syukurlah staf yayasan terdiri dari orang-orang yang cakap dibidangnya. Penunjukan menjadi direktur Seminari Senakel membuat kebingungan besar. Jabatan yang sangat strategis untuk suatu keuskupan demi masa depan tenaga-tenaga. Harus belajar lagi dari awal. Pada kesempatan yang sama masih dibebani lagi tugas sebagai ketua Yayasan Sekolah-Sekolah Bruder dan Yayasan Siswarta yang menangani sekolah-sekolah. Sepertinya tidak cukup dengan tugas tsb, masih lagi harus menjadi Ketua Yayasan Tahasak Danum Pambelum yang menangani Pendidikan Guru Agama di Palangka Raya yang menjadi cikal bakal STIPAS sekarang. Di Keuskupan dibebani tugas menjadi ketua komisi KLKP (Kateketik, Liturgi, Kitab Suci dan Pastoral). Masih satu jabatan yang sangat menarik, menjadi Moderator WK tingkat Keuskupan. Banyak keliling dengan para ibu untuk membentuk WK di Buntok, Muara Teweh dan Palangka Raya.</p>
<p>Dalam renungan pribadi, putera P.Berthier MSF selalu terbuka dan siap untuk melaksanakan dan menjalani tugas apapun, sungguhpun tidak ada persiapan untuk itu. Dan kesadaran untuk itu membuat keluhan-keluhan dan tuntutan-tuntutan tidak hinggap di hati. Semua dijalani dengan kegembiraan seorang misionaris.</p>
<p>Semangat pengabdian sebagai misionaris membawa dampak pada pyisik: 5 kali maag-bloeding, 2 kali rawat jantung, I kali disentri amuba, 1 kali sakit kulit seluruh badan, 1 kali demam malaria., 2 kali vertigo dan satu kali pingsan karena tekanan drop. Biarpun demikian, sampai kini semangat bermisi dan semangat hidup dll, masih tetap tinggi.</p>
<p>Sekarang menempati paroki dengan komunitas “orang tak berdaya”, menghadapi umat yang unik, penuh semangat dan kadang sangta kritis yang sebenarnya sama sekali tidak kritis.</p>
<p><em>P. Frans Huvang Hurang MSF.</p>
<p></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=460&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/08/13/menjelang-matahari-terbenam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MISIONARIS ASAL POLANDIA ITU TELAH TIADA : “DUA KEUSKUPAN BERDUKA !”</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/08/06/misionaris-asal-polandia-itu-telah-tiada-%e2%80%9cdua-keuskupan-berduka-%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/08/06/misionaris-asal-polandia-itu-telah-tiada-%e2%80%9cdua-keuskupan-berduka-%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 13:59:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Unio Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsialat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Suasana duka terpancar dari wajah mereka yang menghadiri pemakaman Pastor Marian Wiza, MSF di kompleks Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru – Kalimantan Selatan, Rabu, 5 Agustus 2009 kemarin. Tak sedikit dari antara mereka yang menitikkan air mata, ketika peti jenazah Pastor Marian dimasukkan ke liang kubur, terlebih bagi mereka-mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=457&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Suasana duka terpancar dari wajah mereka yang menghadiri pemakaman Pastor Marian Wiza, MSF di kompleks Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru – Kalimantan Selatan, Rabu, 5 Agustus 2009 kemarin. Tak sedikit dari antara mereka yang menitikkan air mata, ketika peti jenazah Pastor Marian dimasukkan ke liang kubur, terlebih bagi mereka-mereka yang mempunyai kenangan indah bersama almarhum. Siang itu cuaca tampak begitu cerah. Panasnya terik matahari di atas kepala tak menghalangi niat para peziarah untuk tetap bertahan, demi menghantarkan sang Pastor tercinta ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Siang itu waktu menunjukkan pukul 13.15 Wita ketika upacara pemakaman dimulai. Upacara dipimpin langsung oleh Provinsial MSF Kalimantan Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF. Hadir para Pastor, Suster, Biarawan/Biarawati dari berbagai Kongregasi, juga umat dari berbagai tempat di Keuskupan Banjarmasin maupun Keuskupan Palangkaraya; khususnya dari Paroki-paroki dimana Pastor Marian pernah tinggal dan berkarya.</p>
<p><span id="more-457"></span>Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah Tepat pada pukul 11.00 Wita pada hari yang sama diselenggarakan Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah Pastor Marian Wiza, MSF yang dipimpin oleh Konselebran Utama Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Petrus Boddeng Timang didampingi oleh sekitar 30-an orang Pastor dari Kongregasi MSF Kalimantan, Kongregasi MSF Jawa dan beberapa Kongregasi lainnya, terutama para Pastor yang berkarya di Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangkaraya. Hadir pula dalam kesempatan ini Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Lantunan lagu-lagu Gregorian mengiringi perayaan ini. Suasana duka tercermin dari pakaian hitam yang dikenakan oleh mereka yang hadir ketika ini. Mengawali homili yang disampaikannya, Mgr. Timang mengutip perikop bacaan pertama hari itu yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri (bdk. Roma 14:7). Lebih lanjut Uskup Banjarmasin berkisah tentang perjumpaannya yang terakhir kali dengan almarhum Pastor Marian. “Kendati kita tahu bahwa kematian adalah sisi lain daripada kehidupan, namun kepergian seseorang yang sangat kita kasihi pastilah tetap akan meninggalkan perasaan duka bagi kita! Sekitar 1 bulan yang lalu saya menjenguk Pastor Marian di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin. Pada hari Senin yang lalu, saya diberitahu oleh Suster bahwa Pater Marian telah pergi pada waktu subuh. Satu bulan yang lalu saya tidak pernah menyangka bahwa Pastor Marian akan pergi secepat ini. Maka kepergian seorang Misionaris yang agung ini merupakan suatu peringatan bahwa suatu saat hidup kita pun akan berakhir dengan kematian. Namun yang pasti – seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam bacaan tadi mengungkapkan bahwa hidup atau mati, kita ini milik Tuhan. Maka kita mesti siap menghadapi kematian itu, seperti halnya dengan apa yang telah dialami oleh Pastor Marian. Entah itu siang, ataupun malam, kita harus selalu siap untuk menerima panggilan Tuhan, entah kita diutus ataupun ketika kematian itu datang dalam hidup kita. Tiga puluh tahunan yang lalu Pastor Marian siap menerima panggilan sebagai seorang Misionaris. Beliau datang ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan mempersembahkan dirinya kepada Tuhan dengan jalan memberikan pelayanan kepada umat di wilayah-wilayah tersebut. Banyak umat yang kemudian mengenal Kristus karena keberanian beliau untuk hidup dan mati bagi Tuhan.” Kepada semua yang hadir, Mgr. Timang menghimbau supaya kematian Pastor Marian tidak menjadikan kita bersedih. “Karena seperti kata Injil, di saat kita mati kita bukannya masuk ke dalam kegelapan; melainkan masuk ke dalam fase yang lebih tinggi! Umat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, khususnya umat di Paroki-paroki yang pernah dilayani oleh beliau : Buntok, Pangkalan Bun, Tamiyang Layang, Tanjung Tabalong, Kuala Kapuas dan Ampah dapat bersyukur karena ada begitu banyak umat yang dilayani oleh beliau. Seperti halnya dengan apa yang pernah disampaikan oleh umat dari beberapa Stasi ketika saya melakukan kunjungan kerja ke Paroki Ave Maria Tanjung beberapa waktu yang lalu. Banyak diantara mereka yang mengaku sebagai umat pertama di daerah tersebut semasa Pastor Marian berkarya. Kini tiba saatnyalah bagi Pastor Marian untuk pensiun. Beliau telah sampai pada ujung harapan. Kita percaya bahwa apa yang menjadi cita-cita dan motivasi beliau sewaktu meninggalkan negerinya, sekarang ini telah sampai pada kesudahannya. Sekarang beliau telah mendapatkan penghargaan atau trophy atas perbuatan baik yang dipersembahkannya kepada Tuhan. Kini tinggalah warisan beliau yaitu semangat bagi kita semua. Kita sekalian percaya bahwa apa yang selama ini diperjuangkan oleh Pastor Marian, sekarang juga menjadi obyek perjuangan kita; juga tempat yang kini dihuni oleh beliau juga akan kita warisi nantinya. Beliau adalah seorang Misionaris yang tangguh.” Dalam kata sambutannya, Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF mewakili Kongregasi MSF Propinsi Kalimantan, berkisah tentang detik-detik terakhir kematian Pastor Marian. Pastor Teddy menyebutkan bahwa Pastor Marian meninggal karena 2 sakit yang dideritanya. “Ketika Pastor Marian dibawa ke Rumah Sakit Elizabeth Semarang, beliau harus menjalani operasi karena seluruh rongga tubuhnya mengalami keracunan. Hal ini disebabkan oleh adanya kebocoran pada bagian sambungan antara usus halus dan usus besar, sehingga kemudian kotoran meracuni organ-organ penting dalam tubuh Pastor Marian. Dalam operasi tersebut diketahui kemudian bahwa Pastor Marian ternyata juga menderita kanker usus halus yang ganas. Selanjutnya dilakukan operasi kedua karena terjadi infeksi berat di paru-paru dan lambung yang dideritanya. Meski kondisinya lemah, operasi tetap dilangsungkan karena memang tidak dapat ditunda lagi pelaksanaanya. Dengan bantuan ventilator dan alat pacu jantung, operasi itu dilakukan. Kondisi Pastor Marian sesudah operasi naik turun sampai dengan Minggu malam. Pada hari Senin yang lalu, sekitar pukul 01.00 Wib hari saya mendapat kabar dari RS. Elizabeth Semarang bahwa kondisi Pastor Marian sangat kritis. Pada jam 02.40 Wib Pastor Marian pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.” Wakil dari Keuskupan Palangkaraya yaitu Vikaris Jenderal Keuskupan Palangkaraya Pastor Silvanus Subandi, Pr dalam sambutannya berkisah tentang pengalaman masa kecilnya bersama sosok Pastor Marian. Menurut Pastor Subandi, Pastor Marian adalah seorang Misionaris yang ulung. “Hari ini terutama bagi Keuskupan Palangkaraya adalah hari dimana kami mengalami kehilangan seorang Imam yang mempunyai semangat luar biasa. Saya kagum kepada beliau, bahkan saya mengenal beliau sebelum saya menjadi seorang Katolik. Karena beliau juga akhirnya saya menjadi seorang Imam. Dengan kesabaran yang dimilikinya, beliau menempuh perjalanan misi yang jaraknya jauh. Beliau adalah salah seorang Imam Pionir yang berkarya di daerah Barito Selatan dan Barito Timur, juga di Paroki Ave Maria Tanjung dan Kuala Kapuas. Terakhir beliau berkarya di Paroki Santo Yohanes Patas, Keuskupan Palangkaraya. Saat ini umat di Paroki Patas merasa kehilangan beliau setelah beliau dipanggil kembali ke pangkuan Bapa. Banyak dari umat di Keuskupan Palangkaraya yang mengalami kasih Allah lewat pelayanan yang diberikan oleh Pastor Marian, bahkan ada umat yang mengalaminya semenjak mereka masih kecil. Kami yakin bahwa nama Pastor Marian akan tetap diingat umat, juga pesan dan nasehat beliau – terutama bagi umat dimana beliau pernah berkarya.” Dimakamkan Diantara Para Misionaris Kalimantan Makam Pastor Marian terletak di sisi sebelah kanan lantai Altar kecil yang dibangun dalam Kompleks Pemakaman Misionaris Kalimantan. Di sisi lain sebelah kiri, berjajar beberapa makam dari para Misionaris Kalimantan lainnya, antara lain : Pastor G.H. Borst, MSF, Fr. M. Gregorius Rudolf, Pr, Pastor Karl Klein, MSF, Pastor Yohanes Henricus Wieggers, MSF, Br. Alexsander Apui, MSF, Pastor Jacobus Kusters, MSF dan Pastor Antonius van Rossum, MSF. Pastor Marian Wiza, MSF dilahirkan di Wielen – Polandia pada tanggal 24 Desember 1933. Beliau adalah putra pasangan Yosef dan Hedwig. Pastor Marian masuk Seminari Kazimierz Biskupi – Polandia pada tanggal 13 Nopember 1961. Tanggal 19 Mei 1966 menerima Tahbisan Imam di Poznan – Polandia. Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 23 April 1972, Pastor Marian tiba di Jakarta bersama beberapa orang Misionaris MSF Provinsi Polandia. Mereka adalah : Pastor Stanislaus Wrszesniewski, MSF, Pastor Stefan Kolodziej, MSF, Br. J. Falba, MSF dan Br. Wencenslaus Stelter, MSF. Kala itu kelima orang Misionaris MSF Provinsi Polandia ini dijemput langsung oleh Provinsial MSF Kalimantan Pastor M.C.C. Coomans, MSF. Awalnya mereka melakukan kunjungan ke Seminari Agung MSF di Yogyakarta, lalu melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Karena sakit, Br. Stelter akhirnya kembali ke Polandia, sedangkan 4 orang Misionaris lainnya tiba di Banjarmasin pada tanggal 13 Agustus 1972. Selama berada di Kalimantan, Pastor Marian pernah berkarya di beberapa Paroki di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Tahun 1972 – 1977 Pastor Marian bertugas di Buntok/Pendang, Kalimantan Tengah. Kemudian pada tahun 1977 – 1979 berkarya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Pastor Marian bertugas di Tamiyang Layang (Kalimantan Tengah) dan Tanjung Tabalong (Kalimantan Selatan) sejak tahun 1979 hingga 1999. Lalu pada tahun 1999 – 2004 melanjutkan karya misinya di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Tahun 2004 – 2008 Pastor Marian bertugas di Ampah, Kalimantan Tengah. Mulai tahun 2008, Pastor Marian berkarya di Buntok. Akhirnya pada tanggal 3 Agustus, tepat pada pukul 02.40 Wib, Pastor Marian, MSF meninggal dunia dengan tenang di Rumah Sakit Elizabeth Semarang, Jawa Tengah. Terimakasih dan selamat jalan bagi Pastor Marian yang kami cintai!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/457/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=457&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/08/06/misionaris-asal-polandia-itu-telah-tiada-%e2%80%9cdua-keuskupan-berduka-%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1:70.000</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/07/18/170-000/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/07/18/170-000/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 00:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2009/07/18/170-000/</guid>
		<description><![CDATA[Satu berbanding tujuh puluh ribu. Satu pastor melayani 70.000 umat dalam satu paroki. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar perbandingan itu. Kalau di Indonesia, jumlah sekian itu sama dengan atau bahkan lebih dari satu keuskupan. Tapi di sini, Manila, jumlah umat sekian itu terdapat hanya dalam satu paroki yang teritorinya tidak lebih luas dari paroki Katedral [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=455&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Satu berbanding tujuh puluh ribu. Satu pastor melayani 70.000 umat dalam satu paroki. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar perbandingan itu. Kalau di Indonesia, jumlah sekian itu sama dengan atau bahkan lebih dari satu keuskupan. Tapi di sini, Manila, jumlah umat sekian itu terdapat hanya dalam satu paroki yang teritorinya tidak lebih luas dari paroki Katedral St. Maria Samarinda dan jauh lebih kecil dari luas teritori paroki St. Paulus Buntok. Inilah situasi paroki Holy Trinity, tempat komunitas Pastor Bonus berada di Metro Manila, Filipina. Ternyata, jumlah 70.000 itu bukanlah jumlah yang fantastis untuk ukuran Filipina. Masih ada banyak paroki lain yang jumlah umatnya lebih dari 100.000 orang hanya dalam satu paroki. Alamak…………………………………………………<br />
Betapa ladang masih teramat luas membentang dan panenan menunggu penuainya. Banyak hal yang bisa dikerjakan. Teramat luas kesempatan untuk saling berbagi dalam karya pastoral. Itulah yang diungkapkan Mgr. Antonio Tobias, uskup keuskupan Novaliches, kepada kami bertiga (P. Teddy, P. Lukas, dan P. Yam) saat beratatap muka dengan beliau di kantornya, 1 Juni 2009 lalu. Tatap muka dengan Bapak Uskup memang menjadi salah satu agenda Provinsial dalam kunjungannya ke Manila yang ketiga ini. Provinsial juga menyampaikan kepada Bapak Uskup penugasan P. Lukas sampai dengan akhir tahun 2010 dan kedatangan P. Andy Mering yang akan berkarya di keuskupan Novaliches. Dengan mata berbinar, senyum yang mengembang, dan tangan terbuka lebar, Bapak Uskup berkata, “Welcome Fathers…….”<br />
Esok harinya, 2 Juni 2009, agenda dilanjutkan dengan kunjungan kepada pastor paroki Holy Trinity. P. Luciano Felloni, seorang imam asal Argentina, menyambut kami bertiga di pastoran. Kembali Provinsial menyampaikan hal penugasan P. Lukas dan rencana kedatangan P. Andy Mering. Tentu saja beliau sangat senang, mengingat jumlah 70.000 umat yang harus digembalakan seorang diri. Beliau bahkan mempercayakan satu wilayah yang terdiri dari sekitar 600 KK sebagai medan karya MSF. Wow……mama mia&#8230;.betapa bersyukurnya kami atas anugerah ini. Setelah membicarakan beberapa hal praktis, kunjungan diakhiri dengan merienda (snack ringan).<br />
Sampai dengan saat ini, skuad Pastor Bonus beranggotakan empat imam (P. Wahyu, P. Lukas, P. Erwin, dan P. Yamrewav). P. Benoit kembali ke Madagascar setelah menyelesaikan studi masternya di ICLA (Institute of Consecrated Life in Asia). Selain pelayanan sacramental, Pastor Bonus juga ikut berbagi dalam bidang konseling dan psikoterapi untuk keluarga, individu, dan pecandu narkoba, dan terlibat dalam program alternative education bagi siswa/i yang tinggal di daerah kumuh. Inilah yang bisa kami bagikan sebagai salah satu usaha meneladan Keluarga Kudus Nazareth dan belajar dari tapak peziarahan P. Berthier.<br />
Indeed, we do not have much, but we have everything in us to be shared with those who are in need.  Siapa yang akan menyusul? Berani menerima tantangan? Salam dalam Jesus, Maria, dan Joseph.</p>
<p>P. Yamrewav MSF</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/455/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=455&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/07/18/170-000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“TIDAK BANYAK USKUP KATOLIK PUNYA CUCU&#8221;</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/05/28/%e2%80%9ctidak-banyak-uskup-katolik/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/05/28/%e2%80%9ctidak-banyak-uskup-katolik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 12:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Unio Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsialat]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF
 Paroki Bunda Maria – Banjarbaru, 5 Mei 2009

Sore itu langit begitu cerah. Sekitar seribu orang umat dari 4 paroki kota (Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Veteran dan Paroki Bunda Maria Banjarbaru) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=451&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF</strong></p>
<p> <strong>Paroki Bunda Maria – Banjarbaru, 5 Mei 2009</strong></p>
<p><span id="more-451"></span></p>
<p>Sore itu langit begitu cerah. Sekitar seribu orang umat dari 4 paroki kota (Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Veteran dan Paroki Bunda Maria Banjarbaru) telah berkumpul di Paroki Bunda Maria Banjarbaru bersama 30-an orang Imam dari 4 Keuskupan di Regio Kalimantan Timur (Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Palangkaraya dan Keuskupan Tanjung Selor), para Suster, Bruder, dan Frater ikut serta berdoa dan bersyukur dalam Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 18.00 Wita dipimpin oleh Konselebran Utama Mgr. F.X. Prajasuta, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin), didampingi oleh Mgr. Petrus Boddeng Timang, Pr (Uskup Keuskupan Banjarmasin), Mgr. Florentinus Sului (Uskup Keuskupan Agung Samarinda), Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap (Uskup Keuskupan Agung Pontianak), Mgr. Isak Dora, Pr (Uskup Emeritus Keuskupan Sintang), Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF (Uskup Keuskupan Palangkaraya), Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF (Uskup Keuskupan Tanjung Selor) dan yang berbahagian Mgr. W.J. Demarteau, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin).</p>
<p>Perayaan Ekaristi ini pun terasa lebih istimewa dengan kehadiran 2 orang keponakan Mgr. Demarteau, yaitu Mrs. Nancy dan Mrs. Maryo yang datang jauh-jauh dari negeri kincir angin Belanda untuk bergembira bersama Oom mereka. “Kita berkumpul di sini bersama Mgr. Demarteau untuk memuji Tuhan atas rahmat Tahbisan Uskup 55 tahun yang lalu dan juga selama 55 tahun menjadi Uskup; tidak hanya ketika beliau pensiun, namun sesudah pensiun beliau tetap memiliki jasa yang besar bagi Keuskupan ini,” ucap Mgr. Prajasuta mengawali homili singkatnya. “Maka sudah selayaknya kita juga berterimakasih dengan Mgr. Demarteau yang telah bersedia dijadikan alat Tuhan untuk meneruskan kasih-Nya kepada umat di Keuskupan Banjarmasin, yang dahulu mencakup Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Dari beliau kita bisa belajar banyak. Bayangkan saja, ketika beliau turney waktu itu selama 6 bulan dalam perjalanan memakai perahu yang masih mendayung. Beliau juga masih mengalami medan yang amat berat dan sulit sekali, tetapi semua beliau laksanakan dengan senang hati. Semangat misioner inilah yang pantas ditiru oleh saya, para Imam dan umat sekalian. Mari kita mohon rahmat Tuhan supaya hati kita dikobarkan untuk mewartakan Kabar Gembira yaitu memeruskan kebaikan kasih Allah kepada sesama kita,” himbaunya.</p>
<p>Mgr. Prajasuta memuji figur Mgr. Demarteau sebagai figur Uskup yang sederhana dan penuh perhatian khususnya kepada orang-orang miskin. Teladan semangat hidup yang sulit ditemukan pada masa sekarang ini. “Saya pribadi sangat terkesan dengan sikap hidup beliau. Saya yakin pada hari sepuhnya, Mgr. Demarteau mendoakan kita semua. Banyak hal-hal besar yang beliau lakukan bagi kita semua, bagi Gereja Indonesia pada masa tua beliau melalui hening dan doa-doanya. Marilah kita bersyukur dikaruniai seorang pendoa seperti beliau.” Di akhir homilinya, Mgr. Prajasuta juga menyampaikan homilinya secara singkat dalam bahasa Belanda. Homili yang begitu singkat tersebut dibuka dan ditutup dengan lagu karya Mgr. Prajasuta, masing-masing lagu HATI BARU dan BERSERAH DIRI.</p>
<p>Dalam kata sambutan yang disampaikan Mrs. Nancy dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Pastor Pieter Sinnema, MSF, terungkap ucapan terimakasih yang begitu mendalam atas perhatian dan cinta yang diberikan kepada Oom mereka selama ini. “Kami berterimakasih atas nama Oom kami dan famili kepada Kongregasi MSF dan kami berterimakasih karena dilaksanakan pesta yang bagus ini. Kami juga berterimakasih karena diterima dengan tangan terbuka selama kami berada di sini. Trimakasih kepada semua umat, khususnya kepada Ibu-ibu yang merawat Oom kami. Sungguh, pesta ini menjadi cahaya tersendiri bagi kami,” ucap Mrs. Nancy menutup sambutannya.</p>
<p>Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan dalam sambutannya berujar, “Kita bersyukur kepada Allah yang telah mengutus Mgr. Demarteau untuk berkarya bagi Gereja Kalimantan. Dalam diri dan hidu Mgr. Demarteau kita dapat meneladani hidup seorang Katolik; seorang Imam Allah yang sungguh mempercayai bahwa Allah itu baik dan bahwa Allah yang baik itu akan menolong kita. Kita dapat melihat dan meneladani apa yang dinamakan kesetiaan, ketekunan dan semangat hidup untuk maju. Terimakasih atas teladan hidup yang Mgr. Demarteau berikan bagi kami semua,” tutupnya.</p>
<p>“Tidak banyak Uskup Katolik di dunia ini yang mempunyai cucu,” kata Mgr. Timang dalam sambutannya. “Beliau adalah Mgr. Demarteau; yang setelah sekian tahun menjadi Uskup, beliau kemudian mentahbiskan Mgr. Prajasuta dan Mgr. Prajasuta telah mentahbiskan cucu dari Mgr. Demarteau (Mgr. Harjosusanto-red). Sehingga ada alasan ekstra bagi saya untuk mengucapkan terimakasih kepada Mgr. Demarteau. Mgr. Demarteau telah 55 tahun sebagai Uskup, sedangkan saya baru lima setengah bulan sebagai Uskup. Namun saya tidak perlu takut menjadi Uskup di Banjarmasin ini, karena saya selalu diingatkan oleh Mgr. Prajasuta bahwa umat di Banjarmasin ini adalah umat yang murah hati dalam segala aspeknya.” Dalam kesempatan berikutnya Mgr. Timang menyapa sekaligus mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar Mgr. Demarteau yang diwakili oleh kedua keponakannya. Mgr. Timang menyampaikannya dalam bahasa Belanda yang fasih.</p>
<p>Usai Perayaan Ekaristi, umat dijamu dengan santap malam bersama. Rombongan para Uskup, Imam, Suster, Biarawan/Biarawati secara khusus menikmati santap malam di ruang malam Wisma Sikhar – Banjarbaru. Tampak diantara mereka Mgr. Demarteau bersama keponakannya dalam suasana kekeluargaan yang penuh kegembiraan. Proficiat kepada Mgr. W.J. Demarteau, MSF atas Perayaan Syukur 55 tahun Pentahbisan Uskup. Berkat dan kasih Tuhan bersama Monsinyur selalu.</p>
<p>Perjalanan Hidup Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Mgr. W.J. Demarteau, MSF lahir di desa Horn (Belanda Selatan), pada tanggal 24 Januari 1917 pukul 10.00 pagi. Demarteau kecil adalah putera ke-5 pasutri Sebastianus Hubertus Demarteau dan Yohanna Moors. Sore harinya, dalam cuaca yang teramat dingin (150C di bawah nol), ia dibaptis dengan nama Wilhelmus (Wim). Wim kecil dibesarkan dalam sebuah keluarga besar. Ia mempunyai 4 orang kakak dan 3 orang adik. Dalam keluarganya, Wim kecil mengalami suasana asah-asih-asuh yang begitu hangat. Wim masuk TK di Horn (1921 – 1923). Saat itu Wim merasa kurang senang, karena ia beranggapan bahwa TK itu hanya “cocok” untuk anak perempuan, sebab di TK tidak diajarkan baca tulis. Tahun 1929 Wim menamatkan SD-nya di Horn. Setelah dapat membaca, Wim menjadi seorang “kutu buku”. Ketika itu orangtua Wim berlangganan “Bode v.d.Heilige Familie”, majalah bulanan yang diterbitkan para imam MSF. Majalah “Bode v.d.Heilige Familie”, memuat naskah-naskah dan surat-surat yang ditulis oleh para misionaris MSF, yang sejak tahun 1926 berkarya di Borneo (sekarang Kalimantan). Ternyata, Wim kecil sangat terkesan dengan surat-surat tersebut. Wim berkata pada ibunya, “Mama, besok kalau saya sudah besar, saya akan menjadi Pater dan pergi ke Borneo.” Ibunya menjawab, “Wim, engkau sangat sayang pada mama, mana mungkin engkau mau meninggalkan mama?!” Dengan semangat yang berkobar-kobar Wim kecil berkata kepada Ibundanya, “Mama, saya pergi ke Borneo dan di Borneo saya juga dapat sangat menyayangi mama.” Sekelumit kisah tersebut kemudian menghantarkan mimpi Wim kecil pada sebuah kenyataan. Ia sungguh-sungguh dikirim sebagai seorang Misionaris ke daratan Borneo (sekarang Kalimantan-red). Akhir Juli 1946 ia mendapatkan pemberitahuan bahwa akan dikirim ke Indonesia. Ia menyambut berita ini dengan kegembiraan yang meluap-luap. Keberangkatan P. Demarteau mengalami beberapa kali penundaan, karena pada waktu itu kapal-kapal lebih diprioritaskan untuk mengangkut “pasukan Belanda” ke Indonesia. Pada tanggal 11 April 1947 P. Demarteau bersama 2 orang rekannya sesama imam MSF berangkat menuju Indonesia. Sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 1 Mei 1947, kapal yang mereka tumpangi merapat di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah 2 kali gagal terbang ke Banjarmasin, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1947 pesawat yang ditumpangi P. Demarteau berhasil mendarat di Banjarmasin. Saat tiba di bandara, ia diberitahu bahwa akan menerima tugas sebagai pastor paroki di Katedral Banjarmasin. Ketika pertama kali tiba di Banjarmasin, P. Demarteau merasakan bahwa keadaan pada waktu itu tidak nyaman, tidak aman, banyak kerusuhan, kekerasan dan pertumpahan darah! Tanggal 27 Desember 1947, pertikaian Indonesia-Belanda dihentikan. Sampai akhir tahun 1949 Gereja Katolik tidak boleh bekerja di Kalimantan Selatan (Kalsel) kecuali di kota Banjarmasin. Akibatnya hampir semua misionaris bekerja di Kalimantan Timur (Kaltim) dan hanya Ordinarus dan dua/tiga pastor tinggal di Banjarmasin. Dewan Keuskupan Banjarmasin berpendapat bahwa situasi mendesak agar Kalimantan Timur menjadi keuskupan sendiri demi keselamatan dan perkembangan gereja di Kalsel. Tanggal 12 Desember 1951 P. Demarteau memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) demi memantapkan keberadaannya sebagai seorang misionaris. Tahun 1952, Mgr. J. Groen, MSF mulai mempersiapkan pemisahan Kaltim dari Banjarmasin, akan tetapi karena beliau sakit maka rencana tersebut kemudian dibekukan baik di Banjarmasin maupun di Roma. Pada bulan April 1953 Mgr. J. Groen, MSF, Vikaris Apostolik Banjarmasin wafat di Surabaya.</p>
<p>Takhta Suci Vatikan kemudian menunjuk P. Demarteau sebagai Uskup, menggantikan Mgr. Groen. Pada tanggal 5 Mei 1954 P. Demarteau ditahbiskan menjadi Uskup di Gereja Katedral Banjarmasin oleh duta Vatikan Mgr. De Jonghe d’Ardoye dan sebagai co-consencrator adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan Mgr. T. van Valenberg, OFM Cap. Dalam tahbisannya, Mgr. W. J. Demarteau, MSF mengambil motto : “Apostolus Jesu Christi” yang berarti “Utusan Yesus Kristus.” Logo uskup Mgr. W. J. Demarteau, MSF digambar oleh seorang Rahib Benediktus berkebangsaan Perancis dari Biara Benediktin di Oosterhout – Belanda. Simbol tersebut bermakna bahwa panggilan Mgr. W. J. Demarteau, MSF melalui kongregasi adalah menjadi misionaris dan uskup bagi daerah yang masih memerlukan “terang Injil.” Pada waktu itu Keuskupan Banjarmasin meliputi Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah-Kalimantan Timur, yang luasnya 12 kali lipat negeri Belanda (+ 410.000 km2). Mengingat luas dan sulitnya medan pelayanan, Mgr. Groen telah mengadakan langkah-langkah awal di Roma agar Kaltim dijadikan wilayah Gerejawi terpisah dari Keuskupan Banjarmasin. Usaha tersebut dilanjutkan oleh Mgr. W. J. Demarteau, MSF. Meski sebelumnya mendapat tanggapan yang negatif, namun Mgr. Demarteau tetap gigih memperjuangkan usaha tersebut agar pemekaran itu mendapatkan ijin dari Takhta Suci. Kegigihannya berbuah manis, sebab pada bulan September 1954 terjadi perundingan di Roma untuk membahas hal itu. Pada tanggal 25 Pebruari 1955 Vikariat Apostolik Samarinda resmi berdiri. Jika pada tahun 1954 Mgr. Demarteau menyetujui permintaan Roma untuk diangkat menjadi Uskup, maka pada tahun 1955, Roma ganti menyetujui permintaan Mgr. Demarteau untuk pemekaran Keuskupan Banjarmasin. Tahun 1954, gereja praktis belum dikenal di wilayah Keuskupan, khususnya di pedalaman Kalsel dan Kalteng. Uskup yang masih muda ini bersama-sama dengan para imam, biarawan, biarawati, para guru dan rasul-rasul awam, dengan rahmat TUHAN terus berkarya dengan giat dan penuh pengorbanan.</p>
<p>Pada tanggal 23 Oktober 1983 Mgr. W. J. Demarteau, MSF mentahbiskan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF sebagai Uskup Keuskupan Banjarmasin. Sampai saat ini Keuskupan Banjarmasin telah dimekarkan menjadi 4 keuskupan (Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya, dan Tanjung Selor).</p>
<p>reported by : Dionisius Agus Puguh Santosa &amp; Albertus Bambang Utoyo; Divisi LITBANG KOMKEP Keuskupan Banjarmasin</p>
<p>Foto : Pastor Felix Sumarjono, MSF</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=451&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/05/28/%e2%80%9ctidak-banyak-uskup-katolik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>surat dari Jenderalat MSF</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/23/surat-dari-jenderalat-msf/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/23/surat-dari-jenderalat-msf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 10:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Jenderalat]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[



 
 

Sejak tanggal 31 Januari lalu Dioses Januária, di Brasilia, mendapat seorang uskup baru, Mgr. José Moreira da Silva. Uskup José sebelumnya imam projo di Keuskupan Porto Nazionale, wilayah Amazzonia di Brasilia. Beliau ditahbiskan sebagai uskup tanggal 17 Januari lalu. Setelah hampir 25 tahun menjalankan tugas pastoralnya, Mgr. Anselmo Müller MSF akhirnya menjalani masa pensiun dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=427&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"></p>
<p align="justify"><img class="alignnone size-full wp-image-428" title="uskup-januaria" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/uskup-januaria.jpg?w=128&#038;h=165" alt="uskup-januaria" width="128" height="165" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></strong></p>
<p align="justify">Sejak tanggal 31 Januari lalu Dioses Januária, di Brasilia, mendapat seorang uskup baru, <strong>Mgr. José Moreira da Silva</strong>. Uskup José sebelumnya imam projo di Keuskupan Porto Nazionale, wilayah Amazzonia di Brasilia. Beliau ditahbiskan sebagai uskup tanggal 17 Januari lalu. Setelah hampir 25 tahun menjalankan tugas pastoralnya, Mgr. Anselmo Müller MSF akhirnya menjalani masa pensiun dan kini tinggal di Paroki San Augustino, di Chapada Gaúcha, sebuah wilayah pedesaan dalam keuskupan yang sama. Beliau akan melayani di paroki itu. Keuskupan Januária dilayani oleh para uskup dari MSF sejak tahun 1962, selama 47 tahun.</p>
<p align="justify"><span id="more-427"></span> </p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong></p>
<p align="justify">2. Tromso, Norvegia</p>
<p>:</p>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p align="justify"><img class="alignnone size-medium wp-image-430" title="neuer_bischof1" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/neuer_bischof1.jpg?w=296&#038;h=300" alt="neuer_bischof1" width="296" height="300" /></p>
<p align="justify">Tanggal 28 Maret romo Berislav Grgi<span style="font-family:Times New Roman;">ć</span> akan ditahbiskan sebagai uskup di Tromso, Norwegia, untuk menggantikan Mgr. Gerhard Goebel MSF yang meninggal tanggal 4 November 2006. Mgr. Berislav Grgi<span style="font-family:Times New Roman;">ć</span> berasal dari Bosnia, pernah bejerja di Norwegia dan pada tahun-tahun terakhir bekerja di Jerman. Hampir seluruh imam di keuskupan itu adalah para imam MSF dari Provinsi Polandia. Superior Jenderal, P. Edmondo Michalski berencana menghadiri tahbisan uskup baru tersebut.</p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Brasilia Utara</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></strong></p>
<p> </p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify"><img class="aligncenter size-full wp-image-432" title="dewan-brasil1" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/dewan-brasil1.jpg?w=350&#038;h=204" alt="dewan-brasil1" width="350" height="204" />Dari tanggal 09 sampai 13 Februari Provinsi Brasilia Utara mengadakan kapitelnya. Mereka mendiskusikan dan menghasilkan 24 butir keputusan untuk dijadikan pegangan dalam animasi maupun perubahan beberapa aspek kehidupan Provinsi dalam bidang: pendidikan, administrasi, misi dan hidup komunitas. Kapitel tersebut telah memilih Dewan Provinsi yang baru yakni: P. Vicente Ferré Ferriera Campos (Superior Provinsial); P. Domingos de Sá Filho (Vikaris Provinsial); P. Islan Alves Gonçalves (° Asisten 2); P. Heribert Stahl (Asisten 3). Mereka akan memulai mandatnya dari tanggal 19 Maret 2009. Dari jenderalat hadir dalam kapitel itu P. Edmundo dan P. Itacir.</p>
<p align="justify"> </p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"></p>
<p align="justify">Pembenuman Angota Komisi Hukum</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></strong></p>
<p> </p>
<p align="justify">Dewan Jenderal setelah pembicaraan dengan para Provinsial terkait telah membenum beberapa konfrater sebagai anggota Komisi Hukum. Mereka: P. Egon Fäber (Jerman), P. Francesco Pavin (Swiss), P. S<span style="font-family:Times New Roman;">ł</span>awomir Wiktorowicz (Polandia), dan P. Silverter Susianto (Jawa). Komisi ini akan membantu Jenderalat menghadapi persoalan-persoalan hukum berpedoman mandat dari Kapitel Umum yang lalu. Pertemuan Komisi untuk pertama kalinya direncanakan akan berlangsung di Roma pada bulan Juni 2009.</p>
<p> </p>
<div><strong><span style="text-decoration:underline;">Para Prokurator Misi dan Provinsial Regio Eropa</span> </strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong></p>
<p align="justify"> <img class="aligncenter size-full wp-image-435" title="prokurator2" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/prokurator2.jpg?w=500&#038;h=203" alt="prokurator2" width="500" height="203" /></p>
<p align="justify">Dewan Jenderal telah mengundang para Prokurator Misi dan para Superior Provinsial dari wilayah Eropa untuk sebuah pertemuan di Gorka Klastorna, Polandia, dari tanggal 10 sampai 14 Maret. Tujuan pertemuan tersebut adalah saling membagi pengalaman antarProvinsi dan usaha mencari sebuah pedoman umum serta pengarahan tentang bagaimana karya para Prokur dilaksanakan. Pertemuan itu dikoordinir Jenderalat dengan kehadiran P. Edmundo dan P. Santiago, didukung keterlibatan Provinsi Polandia.</p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify"> </p>
<div></div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Tahoma;"></span></div>
<p></span><span style="font-size:small;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;font-family:Tahoma;"></p>
<p align="right"> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></p>
<p align="right"><strong>Paulinus Yan Olla MSF</strong></p>
<p align="right">Sec.Generale MSF</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p align="justify"> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=427&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/23/surat-dari-jenderalat-msf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/uskup-januaria.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">uskup-januaria</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/neuer_bischof1.jpg?w=296" medium="image">
			<media:title type="html">neuer_bischof1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/dewan-brasil1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dewan-brasil1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/prokurator2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">prokurator2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KELUARGA, SEKOLAH IMAN DAN NILAI-NILAI MANUSIAWI</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/keluarga-sekolah-iman-dan-nilai-nilai-manusiawi/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/keluarga-sekolah-iman-dan-nilai-nilai-manusiawi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 01:20:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga

Gereja menegaskan bahwa ada 3 komunitas yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak dan kaum muda, yaitu: Keluarga, Masyarakat/negara, dan Gereja. Ketiga komunitas ini secara kodratnya dianugerahi Allah tanggungjawab mendidik anak-anak dan kaum muda.Keluarga adalah komunitas pertama dan utama yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak, karena di dalam keluarga lah anak-anak lahir, hidup dan bertumbuh dewasa. Lebih dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=423&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><em><span style="font-family:Arial;"><strong><em>Keluarga</p>
<p></em></strong></span></em></strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Gereja menegaskan bahwa ada 3 komunitas yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak dan kaum muda, yaitu: Keluarga, Masyarakat/negara, dan Gereja. Ketiga komunitas ini secara kodratnya dianugerahi Allah tanggungjawab mendidik anak-anak dan kaum muda.<span id="more-423"></span><font face="Arial">Keluarga adalah komunitas pertama dan utama yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak, karena di dalam keluarga lah anak-anak lahir, hidup dan bertumbuh dewasa. Lebih dari itu, anak-anak mampu merealisasikan panggilan hidupnya sebagai manusia dan orang beriman kristiani dalam keluarga ( Paus Yoh. Paulus II, Surat kepada Keluarga-keluarga).</p>
<p>Paus Pius XI menegaskan dalam ensiklik Divini Illius Magistri (Pendidikan Kristiani untuk anak-anak dan kaum muda), bahwa Allah memerintahkan keluarga (suami – isteri) untuk melahirkan dan mendidik anak-anak. Dalam mendidik anak-anaknya, orangtua harus membangun suasana rumah tangga yang dipenuhi oleh cinta kasih, agar anak-anak mengerti bagaimana menjadi orang yang dicintai dan harus mencintai.</p>
<p>Dengan demikian keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama yang membimbing anak-anak untuk beriman dan berbakti kepada Allah dan sesama, dan keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh masyarakat (GE. 3; GS. 52; FC. 21).</p>
<p><strong><em>Orang tua</p>
<p></em></strong></p>
<p><em></em></p>
<p>Baik masyarakat/negara maupun Gereja mengakui dan menegaskan bahwa orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. “Karena orang tua telah memberikan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama”. (GE., 3; PIUS XI, ensiklik Divini Illius Magstri).</p>
<p>Tugas mendidik berakar dalam panggilan utama suami isteri untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah. Orang tua adalah pribadi-pribadi yang mempunyai kesempatan pertama untuk memperkenalkan realitas kehidupan duniawi kepada anak-anak. Karena itu sudah sewajarnya, orang tua juga menjadi pendidik pertama dalam iman melalui perkataan dan teladan, yang juga wajib memelihara panggilan anak-anak, terutama panggilan rohani (LG. 11).</p>
<p>Jika keluarga disebut sebagai Gereja rumah, maka orang tua adalah pewarta dan saksi iman bagi anak-anak. Dengan mendidik iman anak, mereka turut ambil bagian dalam tugas misi Gereja universal: mewartakan iman. Mengenai hal ini, Paus Yohanes Paulus II mengatakan dengan kalimat yang sangat indah, yakni orang tua menjadi duta Injil yang pertama. Pendidikan iman dalam keluarga harus didasari dengan kasih, kesederhanaan, kesaksian harian (FC. 53).</p>
<p>Dalam mendidik anak-anak itu, orang dituntut untuk menyampaikan kepada anak-anak semua pokok yang dibutuhkan, supaya mereka bertumbuh menjadi dewasa secara kristiani. Orang tua harus menunjukkan bahwa iman kristiani dan cinta kasih akan Allah memberikan makna yang dalam bagi kehidupan mereka. Misi orang tua untuk mendidik anak-anak diteguhkan oleh sumber istimewa: sakramen perkawinan. Sakramen perkawinan itu memberi martabat menjadi “pelayan” Gereja, demi pembangunan para anggotanya (yakni anggota keluarga, terutama anak-anak) (FC. 38). <strong><em>(Rm. B.R. Agung Prihartana, MSF)</em></strong></p>
<p></font></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=423&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/keluarga-sekolah-iman-dan-nilai-nilai-manusiawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERKAWINAN CAMPUR: ANTARA LOGIKA, IMAN DAN CINTA</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/perkawinan-campur-antara-logika-iman-dan-cinta/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/perkawinan-campur-antara-logika-iman-dan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 01:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Di mana logika hatiku
Jatuh cinta kepadanya
Tetapi ternyata asmara
Tak kenal dengan logika..”
 
Sebait lagu tadi dinyanyikan oleh Vina Panduwinata belasan tahun yang lalu. Cinta memang bukan urusan logika, tetapi soal hati, bahkan soal cinta itu sendiri. Seringkali cinta mengalahkan segala-galanya, sehingga kita sepakat mengatakan bahwa love is blind, cinta itu buta. Kalau cinta berbicara, semua hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=421&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Arial;"><em><span style="font-family:Arial;"><em>Di mana logika hatiku<br />
Jatuh cinta kepadanya<br />
Tetapi ternyata asmara<br />
Tak kenal dengan logika..”</p>
<p></em></span></em> <span id="more-421"></span></p>
<p>Sebait lagu tadi dinyanyikan oleh <strong>Vina Panduwinata</strong> belasan tahun yang lalu. Cinta memang bukan urusan logika, tetapi soal hati, bahkan soal cinta itu sendiri. Seringkali cinta mengalahkan segala-galanya, sehingga kita sepakat mengatakan bahwa <em>love is blind</em>, cinta itu buta. Kalau cinta berbicara, semua hal bisa menjadi lain dan hidup terarah ke sana begitu kuatnya.</p>
<p>Kita tidak tahu kapan cinta itu datang, dan kapan cinta itu menguasai kita. Bahkan, kita tidak kuasa menahan gejolaknya. Segala halangan logis, hambatan fisik, social, bahkan idealitas pribadi tiba-tiba berubah menjadi lain, ketika kita mabuk kepayang dalam rasa cinta. Orang yang kita sayangi dan kita jatuhi cinta atau jatuh cinta kepada kita kadang bukanlah orang yang telah sejak semula kita idealkan. Bahkan agama bisa menjadi tantangan yang tidak terlalu sulit dikalahkan demi sepotong cinta.</p>
<p>Memang tidak selamanya demikian. Ada yang bisa mengalahkan rasa cinta dan membela idealitas atau prinsip pribadi. Beberapa orang lebih suka menderita demi iman, daripada menderita karena kasih tak sampai. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang terpaksa membuat toleransi iman demi cinta yang sudah matang.</p>
<p>Cinta bisa berlabuh di pelabuhan lintas iman. Ada yang berlabuh di lain gereja, kita sebut <em>mixta religio</em>, dan ada yang berlabuh di lain agama, yang kita sebut <em>disparitas cultus</em>. Cinta yang datang selalu tidak kita duga ke mana menambatkan dirinya. Kita hanyalah manusia yang mencinta dan dicinta. Iman yang kita yakini berada di belakang semua itu dan biasanya baru menjadi persoalan sesudah cinta menunjukkan bentuknya dalam relasi pribadi yang menjadi semakin kuat, dekat, dan masuk dalam lembaga perkawinan.</p>
<p>Bukan menjadi keanehan kalau orang baru berpikir ,mengenai agama setelah hubungan menjadi semakin akrab dan serius. Kita memang tidak selalu sedang diatur oleh iman kita. Kita mungkin lebih sering diatur oleh pikiran, hati, dan kepentingan sehari-hari yang berlangsung begitu saja, demikian juga ketika cinta melanda.</p>
<p>Krisna tidak pernah menyangka sebelumnya kalau ia akhirnya harus mempunyai kekasih seorang muslimat. Ia yang rajin mengikuti kelompok Mudika di parokinya dan rajin menjadi misdinar semasa SD dan SMP, sekarang malah jatuh cinta pada teman kuliahnya, Nurita yang beragama Islam itu. Kadang ia dihantui rasa malu jika bertemu dengan teman-teman waktu berjalan bersama Nurita. “Malu juga nih kalau ketahuan enggak dapet cewek Katolik!” Begitu juga ketika harus mengajaknya datang ke pesta teman Mudikanya, ia selalu dilanda kegalauan untuk mengajak atau tidak temannya itu.</p>
<p>Meskipun ia berkeputusan untuk menikah dengan kekasihnya muslimnya itu, dengan proses yang agak berbelit-belit, soal keluarga maupun administrasi Gereja, akhirnya mereka menikah di Gereja. Persoalan rasanya selalu datang ketika harus berbicara soal iman dalam keluarganya, mulai pendidikan iman anak sampai membina kesatuan dengan saudara seiman di lingkungannya. Tetapi, hatinya tidak pernah barang sekejap pun berpaling dari isteri yang beda agama itu. Ia masih tetap amat mencintainya, demikian juga sang isteri kepadanya.</p>
<p>Apa yang salah dalam hidup rumah tangganya? Bukankah kebahagiaan keluarga menjadi nomor satu? Mengapa tiba-tiba lingkungan menjadi “sebentuk sebab” yang membuatnya ragu memberi judul bahwa keluarganya itu biasa-biasa saja dan baik?</p>
<p>Tidak semua kita dapat berharap mendapatkan keluarga ideal seperti logika kita. Tidak semua aktivis katolik, orang orang yang rajin menggereja, mendapatkan jalan hidup berkeluarga yang katolik-katolik. Akan tetapi, kebahagiaan tidak mesti selalu diukur dari kesamaan iman dalam keluarga. Bahkan kita harus juga menginsyafi bahwa yang berbeda juga bisa menjadi sarana kebahagiaan dan keselamatan bersama. Iman tetap harus dibela, tetapi kenyataan jangan diabaikan.</p>
<p>Cinta memang mengalahkan segalanya di awal relasi, tetapi tidak demikian seterusnya. Cinta selanjutnya mesti berkembang menjadi jalan agar Tuhan dapat menyatakan diri-Nya dalam keluarga kita. Meskipun kesulitan mungkin kita temui, tetapi kesungguhan untuk membangun keluarga yang sejahtera dan bahagia harus menjadi semangat utama. Iman adalah dasar membentuk kebahagiaan itu secara rohani. Maka, perlulah hidup beriman mendapat perhatian kita meskipun kita berada dalam situasi yang dianggap rawan masalah.</p>
<p>St. Paulus mempunyai keyakinan bahwa kesucian/kekudusan pihak Kristen “menguduskan” pihak bukan Kristen. Kekudusan orang beriman mengalahkan keburukan orang tak beriman <em>(I Kor.7:12-14)</em>. Mereka yang menikah dengan orang dari iman lain tidak berlawanan dengan kemandirian dwi tunggal yang terbentuk antara Kristus dan orang beriman sehingga tidak termasuk dalam golongan perzinahan. Keyakinan ini dapat meneguhkan mereka yang terpaksa menikah campur.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia yang mayoritas masyarakatnya bukan Katolik, tentu saja kita harus mempunyai kebijaksanaan khusus agar iman saudara saudari segereja kita tetap terjaga, kendati harus berhadapan dengan situasi kawin campurnya. Pergaulan tidak dapat kita batasi, seperti perasaan kita yang tanpa batas meraih siapa saja dan bertaut pada siapa saja yang dianggapnya pantas dicintai. Pluralitas ini mengundang kita untuk lebih bijak menilai kawin campur.</p>
<p>Kita perlu mengingat bahwa kesejahteraan, kedamaian, kebahagiaan, dan cinta kasih dalam keluarga menjadi tiang utama yang mesti diperhatikan. Kita membutuhkan iman, tetapi sekali lagi, bukan iman logika, melainkan iman dalam konteks, iman dalam pengalaman konkrit dengan susah senangnya, dengan untung dan malang. Iman yang membumi dan sekaligus mengatas, ke arah Allah.</p>
<p>Kita bersama harus menjaga keutuhan keluarga sebagai yang terpenting. Dengan tidak mengabaikan masalah iman, sosial, dan pendidikan iman anak, keluarga dari pasangan campur mempunyai beban dan tanggung jawab istimewa untuk menjaga agar semua berjalan harmonis dan memuaskan semua pihak.</p>
<p>Kewajiban yang muncul dari hukum Gereja mengenai perkawinan campur tidak dengan mudah-mudah saja kita laksanakan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Perjuangan itu dihargai oleh Gereja. Gereja tidak memandang dengan sebelah mata tragedi dan persoalan keluarga kawin campur. Karena itu, Gereja melindungi pihak yang beriman dan keturunannya dengan hukum. Betapapun demikian, hukum kadang justru takluk di kaki kenyataan yang dihadapi keluarga. Persoalan yang timbul kadang melampaui jangkauan hukum, karena melibatkan hati.</p>
<p>Marilah kita renungkan bersama: perkawinan dalam setiap keluarga tetaplah sakral, sejauh pasangan yang menikah menganggap dan memperlakukannya demikian. Kekudusan itu terletak dalam cara bagaimana pasangan memulai, melangsungkan, dan memutuskan segala sesuatu dalam terang cinta kasih yang memulai segala-galanya. Komunikasi dan keterbukaan satu sama lain menjadi sarana paling ampuh agar suara Tuhan saling diperdengarkan. Cinta memulai segalanya, tetapi sekali lagi bukan hanya cinta dalam logika yang sempit. <strong><em>(Rm. Erwin Santoso, MSF)</em></strong></p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=421&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/perkawinan-campur-antara-logika-iman-dan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>