<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Musafir MSF</title>
	<atom:link href="http://msfmusafir.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://msfmusafir.wordpress.com</link>
	<description>Misionaris Keluarga Kudus - Provinsi Kalimantan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 08:16:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='msfmusafir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Musafir MSF</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://msfmusafir.wordpress.com/osd.xml" title="Musafir MSF" />
	<atom:link rel='hub' href='http://msfmusafir.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PASKAH DAN SUARA KRITIS TOKOH AGAMA</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/20/paskah-dan-suara-kritis-tokoh-agama/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/20/paskah-dan-suara-kritis-tokoh-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 15:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Jenderalat]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi dan Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[Umat Kristiani memasuki Perayaan Paskah dalam suasana di Tanah Air yang ditandai kekerasan sosial. Kasus “bom buku” belum tersingkap, kini muncul teror bom di masjid Mapolres Cirebon yang mengakibatkan jatuhnya korban di kalangan aparat kepolisian setempat. Aksi kekerasan pun telah &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/20/paskah-dan-suara-kritis-tokoh-agama/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=542&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Umat Kristiani memasuki Perayaan Paskah dalam suasana di Tanah Air yang ditandai kekerasan sosial. Kasus “bom buku” belum tersingkap, kini muncul teror bom di masjid Mapolres Cirebon yang mengakibatkan jatuhnya korban di kalangan aparat kepolisian setempat. Aksi kekerasan pun telah terjadi antara TNI dan rakyat kecil di Kebumen, Jawa Tengah dalam kasus sengketa tanah. Rangkaian kekerasan itu semakin meredupkan jalannya demokrasi yang ingin dibangun di negeri ini. Banyak hal menyangkut pengelolaan hidup bersama dirasakan tidak berjalan dengan baik. <span id="more-542"></span>Telah beberapa kali para tokoh lintas agama menyuarakan kritikannya yang pedas terhadap pemerintah dan para politisinya. Kritik terakhir dilontarkan terkait enam kebohongan baru pemerintah dan sikap keras kepala para wakil rakyat untuk tetap membangun gedung DPR mewah di tengah penderitaan rakyat.<br />
Bukankah pemimpin agama seharusnya berdiam diri di masjid, gereja, kuil, vihara atau di tempat pertapaannya untuk mengurusi hal-hal rohani? Mengapa kini mereka ikut mencampuri urusan “duniawi” dan “kotor” seperti politik? Pertanyaan-pertanyaan yang demikian kiranya telah membingkai serangan balik segelintir politisi yang menyamakan tokoh lintas agama sebagai “gagak hitam pemakan bangkai.”<br />
Sejak Pascal dan kemudian Revolusi Prancis memang sangat disadari perlunya pemisahan antara tatanan kerohanian (mistica) dan tatanan politik (politica) di ranah publik. Ketika tatanan kerohanian terbaur politik, ia kehilangan watak religiusnya dan politik yang berbaju rohani akan menjelma menjadi pemerintahan tiran dan totaliter (bdk., Paul Valadier, Lo spirito e la politica, 2011: 5-8). Namun benarkah agama dan nilai kerohanian yang diusung para pemimpin agama harus dibersihkan dari politik?<br />
Ketidakpuasan terhadap para wakil rakyat telah menyulut seruan agar rakyat mencabut mandat DPR, karena anggotanya dianggap arogan, tidak beradab dan telah kehilangan legitimasinya sebagai wakil rakyat. Ketika Ketua DPR menggangap rakyat bodoh dan tidak perlu diajak berbicara, demokrasi yang ingin dibangun di negeri ini kehilangan fondasinya. Hal itu menjelaskan pula mengapa Indeks Demokrasi Global yang dikeluarkan Economist Intelligence Unit tahun 2010, menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 167 negara. Indeks demokrasi Indonesia jauh lebih rendah dari negara-negara tetangga seperti Papua Nugini (ke-59), Thailand (ke-57) dan bahkan kalah dari Timor Leste (ke-42).<br />
Penulis dan pemikir Perancis Charles Péguy (1873-1914), pernah berujar, “La politica si beffa della mistica, ma è ancora la mistica a innervare la politica”, (Politik memperolok hidup mistik, namun hidup mistiklah yang membuat panik dunia politik).<br />
Situasi di Tanah Air memperlihatkan bahwa campur tangan para tokoh agama di ruang publik telah membuat panik para politisi. Para tokoh agama yang mewakili aspek “mistica” atau aspek kerohanian dalam ranah publik menggugat pemerintah dan politisi untuk memenuhi janji dan menuntaskan banyak kasus yang mencuat ke ranah publik  etapi kemudian tenggelam tanpa penyelesaian.<br />
Sekali lagi mengapa para tokoh lintas agama merasa perlu angkat bicara dalam ranah politik saat ini? Jawabannya tidak semata karena kini semua saluran demokratis untuk menyatakan inspirasi telah tertutup. Krisis terdalam yang kini dialami pemerintah dan aparatnya adalah berkembangnya politik tanpa jiwa. Dipraktekkan politik tanpa “mistica” akni pengabaian nilai-nilai luhur bagi kepentingan bersama.<br />
Sikap wakil rakyat yang seakan tercerabut dari kenyataan rakyat, semakin memperkuat dugaan bahwa politik dijalankan hanya untuk kepentingan dan kemakmuran para elite politik. Filsuf perempuan Hannah Arendt menegaskan bahwa hidup politik (baca: vita activa), tanpa dilandasi nilai-nilai kerohanian (baca: vita contemplativa), akan mereduksi manusia ke tingkat “animal laborans” (binatang pekerja). Maksudnya, politik tanpa kerohanian akan mereduksi manusia hanya pada aspek “kebinatangannya” karena tujuan kegiatannya hanya terarah pada mempertahankan kebutuhan dasarnya dan mereproduksi diri sendiri (Hannah Ardendt, Vita activa. La condizione umana, 2001).<br />
Mengikuti logika Arendt, bagi rakyat kecil, politik hanya urusan rebutan rezeki dan kekuasaan antar elite partai dan pejabat pemerintahan. Tindakan dan keputusan yang dihasilkan lebih merupakan ekspresi watak “animal laborans” yang kerjanya mengejar kebutuhan tak terpuaskan akan harta, kenikmatan (baca: nonton video porno) dan mereproduksi diri dalam kekuasaan tanpa kontrol.<br />
Para pemimpin agama yang memasuki arena politik di Tanah Air sejauh ini tidak ada yang ingin meraup kekuasaan dengan “menjelekkan” pemerintahan yang ada. Keberpihakan mereka terhadap nasib rakyat kiranya dipicu oleh semangat memberi pencerahan. Meminjam filsuf dan teolog Bernard Lonergan (1904-1984), sumbangan para tokoh gama di ruang politik adalah membantu para politisi mencapai transendensi diri (pemberian diri) dan pengorbanan diri (selfsacrifice) bagi kepentingan rakyat pada umumnya.<br />
Memihak Kebenaran<br />
Dalam perayaan Paskah, penderitaan Yesus dialami sebagai yang merangkum dan memantulkan derita manusia masa kini. Derita Yesus memberi pertanyaan kritis terhadap situasi mapan para penguasa yang inginmelanggengkan kekuasaan dan kenikmatan hidupnya dengan membiarkan kebenaran diperkosa dan ketidakadilan sosial membunuh kaum miskin.<br />
Jika jiwa tamak akan harta, gaya hidup mewah dan arogansi kekuasaan yang lebih ditampilkan di ranah publik, para tokoh spiritual terpanggil menyuarakan nurani rakyat di ruang politik. Jika para pemimpin agama bungkam dihadapan derita rakyat, maka yang dipertaruhkan adalah otentisitas hidup keagamaan mereka.<br />
Para tokoh lintas agama menghayati apa yang telah dilakukan Yesus, yakni memihak kebenaran dan rakyat kecil. Cara perjuangan Yesus tidak dilakukan untuk polularitas dan keuntungan politis melalui kekerasan. Ia melakukan embelaan dengan memberi diriNya sendiri. Tindakan pengorbanan diri yang mengatasi egoisme.<br />
Yesus tampil di hadapan para penguasa bukan karena senang bermain politik, sampai dihukum mati, tetapi karena kasihnya yang berpihak terhadap semua yang terpinggirkan dan berada dalam kegelapan hidup.<br />
Sikap seperti itulah yang kiranya telah diambil para tokoh lintas agama. Memasuki ranah politik sebenarnya bukan sebuah kenikmatan bagi seorang rohaniwan. Ia lebih merupakan sebuah panggilan batin dan tangisan rohani yang diekspresikan untuk menghentikan penderitaan rakyat kecil yang menjadi korban kebijakan para elite politik di negeri ini.</p>
<p>Paulinus Yan Olla</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/542/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=542&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/20/paskah-dan-suara-kritis-tokoh-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kita Menyediakan Diri Untuk Pelayanan Injil Dengan Seluruh Diri Kita Dan Segala Kegiatan Kita.</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/18/kita-menyediakan-diri-untuk-pelayanan-injil-dengan-seluruh-diri-kita-dan-segala-kegiatan-kita/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/18/kita-menyediakan-diri-untuk-pelayanan-injil-dengan-seluruh-diri-kita-dan-segala-kegiatan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 22:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Jenderalat]]></category>
		<category><![CDATA[Info Dari Roma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=539</guid>
		<description><![CDATA[ROMA, 02/2011 Para Konfrater terkasih, Pada   tahun   2008-2009   kita   mendapat   kesempatan   merayakan dengan penuh kegembiraan 100 tahun wafatnya P. Berthier. Selain insiatif dari Jenderalat, Provinsi-Provinsi telah memperlihatkan kreativitas yang besar dalam perayaan tahun yubileum itu. Dewan Jenderal telah mengucapkan terima &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/18/kita-menyediakan-diri-untuk-pelayanan-injil-dengan-seluruh-diri-kita-dan-segala-kegiatan-kita/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=539&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ROMA, 02/2011</p>
<p>Para Konfrater terkasih,</p>
<p>Pada   tahun   2008-2009   kita   mendapat   kesempatan   merayakan dengan penuh kegembiraan 100 tahun wafatnya P. Berthier. Selain insiatif dari Jenderalat, Provinsi-Provinsi telah memperlihatkan kreativitas yang besar dalam perayaan tahun yubileum itu. Dewan Jenderal telah mengucapkan terima kasih kepada semua Provinsi dan mereka yang bertanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan yang sangat berharga itu.<span id="more-539"></span>Tahun lalu kami telah mengajak semua komunitas mengadakan refleksi menyangkut tema rasa kongregasionalitas, yakni tentang perlunya merasa sebagai satu Kongregasi dan saling membantu dalam karya apostolik kita di seluruh dunia. Kami ingin berterima kasih kepada semua komunitas yang telah berusaha mendalami tema itu dan yang telah membagikan kepada Jenderalat hasil refleksi mereka.</p>
<p>Pada tahun 2011 kita merayakan dengan penuh syukur 100 tahun dimulainya misi pertama Kongregasi kita. Merupakan hal indah dan bermakna merayakan peristiwa misi itu dan keberlanjutannya dalam karaya para Misionaris Keluarga Kudus. Sambil merayakannya kita   mengevaluasi kegiatan apostolik kita di masa kini,  baik  dalam  lingkup  setiap  komunitas  maupun  di  tingkat Provinsi dan dalam seluruh Kongregasi.</p>
<p>Hendaknya kita menjadikan kegiatan itu seakan sebuah perhentian dalam perjalanan misi untuk merenungkan warisan yang telah dipercayakan kepada kita oleh Pendiri dan tentang apa yang kini sedang kita lakukan. Selain itu, bentuk beristirahat sambil mengadakan evaluasi sangat membantu kita untuk merencanakan kembali   karya   apostolik   kita   sesuai   dengan   kharisma   kita, kebutuhan Gereja dan sumber daya manusia kita maupun daya material kita. Hal itu akan sangat membantu pula refleksi tentang misi yang tepat untuk saat ini dan yang dapat kita tawarkan ke masa depan.</p>
<p>Untuk melengkapi setiap lingkup atau tahap dalam evaluasi – di tingkat komunitas-komunitas lokal, di tingkat Provinsi dan tingkat Kongregasi – kami mengusulkan agar diadakan sebuah perayaan berdekatan dengan sebuah tanggal liturgis atau historis: tanggal 12  Juni (Pentekosta), untuk evaluasi dalam komunitas-komunitas lokal; tanggal 15 Agustus (tanggal dimulainya misa di Marzagão, Brasil), untuk evaluasi di setiap Provinsi;tanggal 28 September (tanggal berdirinya Kongregasi), untuk evaluasi di tingkat Kongregasi.</p>
<p>Kami mengharapkan dan menginginkan agar semua serta masing- masing konfrater, setiap komunitas lokal dan Provinsi-Provinsi terlibat   dalam   kegiatan   yang   penting   ini.   Melaluinya   kita menghidupi semangat misioner bagi kebaikan Kongregasi dan Gereja.  Semua  Provinsi  baik  yang  sebagian  besar  anggotanya berusia muda maupun yang anggotanya berusia lanjut – semuanya diajak merenungkan jalan yang telah ditempuh dan yang masih akan dilaksanakan kini sebagai Kongregasi. Konstitusi kita mengatakan bahwa kita menyediakan diri untuk pelayanan misi dengan seluruh diri kita (cfr. K. 48), dan bahwa  para konfrater yang berusia lanjut dan sakit diundang pula mempersatukan diri dengan misi Kristus bagi keselamatan dunia (cfr. DU 043).</p>
<p>Kepada Provinsi-Provinsi tua  kami ingin mengingatkan kata-kata yang  membesarkan  hati  dari  Yohanes  Paulus  II:  “Kalian  tidak hanya   mempunyai   sejarah   yang   mulia   untuk   dikenang   dan dikisahkan, tetapi juga sebuah sejarah agung untuk dibangun! Pandanglah ke masa depan, ke tempat dimana Roh merencakan bersamamu untuk masih melakukan hal-hal besar. Jadikanlah hidupmu sebuah penantian yang hidup akan Kristus, sambil berjalan menyambut-Nya seperti para perawan bijaksana yang menantikan Mempelai. Hendaknya kalian senantiasa siap, percaya pada Kristus, pada Gereja, pada Institutmu dan pada manusia masa kini. Dengan demikian kalian akan dibarui oleh Kristus setiap hari untuk membangun bersama RohNya komunitas persaudaraan, untuk bersama Dia membasuh kaki para kaum papa dan memberikan sumbangan tak tergantikan darimu bagi pencerahan/perubahan dunia” (Vita Consacrata, 110).</p>
<p>MOTIVASI</p>
<p>Direktorium Umum kita meminta agar   “setiap Provinsi dalam kesepakatan dengan Dewan Pimpinan Umum, selalu meninjau kembali arah kerasulannya, dengan maksud agar tetap setia pada tujuan Kongregasi dan mengerahkan tenaganya untuk melayani Gereja, sesuai dengan situasi” (DU 044).</p>
<p>Dari pihak lain, Konstitusi mengatakan bahwa komunitas-komunitas lokal mempunyai kompetensi mewujudkan “tujuan-tujuan dan tugas Kongregasi  dalam  situasi  setempat”.     Karena  itu  diminta  agar “dewan pimpinan lokal senantiasa berusaha menyesuaikan kembali tugas dan kewajiban dengan tugas pokok Kongregasi dan Provinsi” (K. 129).</p>
<p>Sebagai Kongregasi religius dan misioner tingkat kepausan kita perlu memperhatikan tanda-tanda zaman dan terbuka terhadap kebutuhan Gereja universal (Sebagai Kongregasi internasional kita memikirkan Gereja sebagai keseluruhan. Karena itu kita terbuka untuk pengutusan Gereja universal dengan tetap menghormati tugas pastoral Gereja” (DU 03)) Berkaitan dengan itu,  Konstitusi  meminta agar: “kita senantiasa memperhatikan pengutusan Gereja universal. Kita berusaha membaca tanda-tanda zaman dan kita tetap terbuka untuk menempuh jalan-jalan baru pelayanan apostolik dalam rangka mempertahankan tujuan-tujuan tarekat dan kekhasan hidup bersama kita.” (K. 49).(Dalam tanda-tanda zaman kita melihat suatu tantangan bagi tugas misioner kita yang konkret. Kita saling mendukung dalam karya-karya kita di seluruh dunia. Jika suatu karya pelayanan terlaksana dan kelanjutannya terjamin, maka kita menerima tugas-tugas baru” (DU 03)).</p>
<p>ALASAN KEBERADAAN KITA</p>
<p>Konstitusi  mengatakan bahwa seturut  maksud  Pendiri dan sebuah tradisi yang teruji Kongregasi kita “mengambil sebagai tujuannya pelayanan  misioner  untuk  mewartakan  Kabar  Gembira  kepada segala bangsa” (Dekret Kongregasi Religius untuk pengesahan Konstitusi  1983).  Menyadari  bahwa Tuhan  memanggil kita untuk mengikuti Putera-Nya dan bahwa kita dibimbing oleh Roh-Nya, kita ingin “mengemban tugas misioner Gereja”,    terutama dengan membaktikan diri “di tempat-tempat di mana Gereja belum atau tak lagi dapat hidup” dan kita mengutamakan “tempat-tempat dimana keperluan paling mendesak, baik di negeri sendiri maupun di negeri orang” (cfr. K. 1-2; DU 02).</p>
<p>Agar tujuan umum itu terjamin, kita bersedia menerima pula pelayanan pastoral di paroki-paroki dan pastoral-pastoral khusus. Tetapi melalui  semua  pelayanan  tersebut,  tujuan kita  selalu  pada pembinaan komunitas lokal yang misioner dan mencari bentuk- bentuk kreatif untuk menggalang bantuan bagi kepentingan misi (cfr.DU 04).  (Apabila tugas-tugas reksa pastoral di paroki atau di bidang khusus ditawarkan kepada  kita,  maka  kita  bersedia  sejauh  tugas-tugas  itu  sesuai  dengan  tugas misioner kita. Dalam karya seperti itu pun kita membiarkan diri dibimbing oleh ilham Pendiri dan kita berusaha bersama kaum beriman membentuk sebuah umat yang bersemangat misioner” (DU 04).)</p>
<p>Berpangkal pada Vatikan II, Gereja dipahami sebagai seluruhnya bersifat misioner. (Gereja pada hakekatnya misioner, sejauh merupakan misi Putera dan Roh Kudus yang menurut rencana Allah Bapa merupakan sumbernya” (Ad Gentes 2).)<br />
Karya misionernya hanya satu, kendati perwujudannya   berubah   sesuai   situasi.   Apa   yang   umumnya dikatakan sebagai misi atau kegiatan misioner khusus merupakan kegiatan yang secara khusus dilakukan oleh mereka yang menjelajahi dunia sambil mewartakan Injil dan mengakarkan Gereja di antara bangsa-bangsa atau kelompok manusia yang belum hidup dalam iman akan Kristus” (Ad Gentes 6).</p>
<p>Paus Yohanes Paulus II berulangkali menegaskan bahwa semangat misioner Gereja secara keseluruhan – dan secara khusus sebuah Kongregasi misioner– merupakan termometer untuk mengukur iman dan keterikatannya dengan Injil. “Misi merupakan sebuah masalah iman; dan petunjuk yang tepat iman kita dalam Kristus dan cinta- Nya kepada kita” (Redemptoris Missio 11).</p>
<p>Misi khas Gereja adalah misi ad gentes, yang tidak mengenal batas. Tetapi   menurut   ajaran   Gereja,   adalah   mungkin   menunjukkan berbagai lingkungan di mana misi itu dilaksanakan.<br />
a) Lingkup teritorial: bangsa-bangsa atau wilayah di mana Injil belum   dikenal,   belum   berakar   atau   yang   telah   kehilangan vitalitasnya;<br />
b)  Lingkup  fenomen  sosial  yang  baru:  kota-kota  besar  tempat<br />
munculnya  gaya  hidup  yang  baru,  budaya  dan  komunikasi  baru, dunia kaum muda, imigran dan kaum miskin, dll.;<br />
c) Lingkup budaya dan Areopaghus baru: dunia komunikasi sosial, penelitian   ilmiah,   hubungan   internasional   dan   hak-hak   asasi anusia, perjuangan bagi perdamaian, bagi pembangunan dan pembebasan bangsa-bangsa; keterlibatan dalam usaha  memajukan erempuan, anak-anak dan keluarga; penyelamatan alam, dll. (cfr.RMi 37)</p>
<p>Tugas misioner Gereja masih jauh dari pemenuhannya. Baik dari segi jumlah (meningkat secara demografis) maupun dari sudut pandang sosial-budaya (munculnya hubungan baru dan perubahan situasi, misi mmperlihatkan horison yang luas. “Tugas mewartakan Yesus Kristus kepada segala bangsa nampak begitu luas dan tidak seimbang dengan tenaga manusia dari Gereja” (RMi 35).</p>
<p>MEDIASI-MEDIASI UTAMA</p>
<p>Dalam kaitan dengan sebuah Kongregasi religius, misi secara umum maupun misi secara khusus keduanya lebih merupakan peristiwa komuniter, daripada hanya sebuah urusan pribadi. Kita merupakan komunitas bagi pelayanan Injil dan “kita  menyediakan diri untuk pelayanan Injil dengan seluruh diri kita dan dengan segala kegiatan kita” (K.  48).  Tanggungjawab kerasulan konkret  diterima dengan tetap mempertahankan tujuan-tujuan Kongregasi dan kekhasan hidup bersama kita (cfr. K. 49).</p>
<p>Keterlibatan radikal dalam tugas perutusan Gereja di masa kini menuntut, selain inisiatif konkret dalam berbagai lingkup dan situasi batas, juga menuntut untuk menyadari dan mendukung kaum awam dalam misinya dalam Gereja dan dunia, dengan melibatkan diri kita untuk pembinaan mereka secara memadai.<br />
(“Kita membantu kaum awam untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam Gereja dan mengusahakan pembinaan mereka serta dalam pengembangan karya- karya pastoral yang baru” (DU 05). “Kita membantu kaum awam agar semakin menyadari tugas misioner mereka di dunia serta mendukung usaha mereka demi perdamaian dan keadilan. Kita secara khusus menguatkan mereka dalam hiudp kristianinya  sedemikian  rupa  agar  mereka  dapat  menunaikan  tugasnya  dalam segala bidang hidup kemasyarakatan.” (DU 06).)<br />
“Kita senantiasa berusa menarik orang awam untuk menjadi rekan sekerja kita dalam karya kerasulan” ( K. 52).</p>
<p>Namun kita tidak dapat melupakan bahwa untuk dapat mewujudkan tujuan misioner kita, kita perlu memperhatikan dengan sungguh pastoral panggilan. Karena keyakinan bahwa misi merupakan tugas esensial Gereja dan setiap orang kristiani, “kita berusaha mengajak sebanyak  mungkin  orang  menjadi  rekan  sekerja  kita”,  sambil mencari   jalan-jalan   baru   pastoral   panggilan.   Melalui   sebuah pastoral  panggilan  yang  sesuai  tuntutan  zaman,  setiap  Provinsi harus berusaha menumbuhkan jumlah imam dan religius, tidak hanya bagi Kongregasi kita, tetapi juga bagi seluruh Gereja (cfr. K. 3; DU 08).<br />
(“Melalui hidup yang dapat dipercaya dan diteladan serta melalui semangat besar yang menjiwai kita dalam melaksanakan tugas misioner, kita ingin menggiatkan umat beriman dan dengan demikian mempersiapkan lahan yang baik bagi pertumbuhan  panggilan  untuk  hidup  imamat,  hidup  religius  maupun  untuk kegiatan-kegiatan misioner lain” (DU 07). “Keprihatinan pastoral kita tertuju pula kepada   para   imam   dan   religius   dan   kepada   semua   yang   secara   khusus mengabdikan diri kepada Gereja” (DU 09).)</p>
<p>Pengabdian tak kenal lelah dan kreatif P. Berthier pada keluarga- keluarga di zamannya, sama seperti kebutuhan Gereja di masa kini dan panduan rohani kita pada Keluarga Kudus Nazareth, menuntut dari kita sebuah “penekanan yang jelas terhadap pastoral keluarga”. Keluarga-keluarga kristiani merupakan “Gereja domestik” dan melaluinya  diwujudkan  Kerajaan  Allah.  Untuk  sebuah  kesaksian yang  sehat,  keluarga-keluarga kristiani  mendorong  dan  menginjili keluarga-keluarga lain. Metode-metode konkret pastoral keluarga berbeda-beda sesuai waktu dan tempat dan harus selalu disesuaikan dengan keadaan setempat. Karenanya, setiap Provinsi harus secara berkala memeriksa manakah pastoral keluarga yang lebih tepat dan efektif (cfr. K. 4; DU 10).</p>
<p>Hal terakhir yang tak kalah pentingnya adalah adanya keterlibatan dalam pembinaan kesadaran misioner umat kristiani pada umumnya dan secara khusus kita yang terpanggil. Pendiri mendorong aspek itu dan menegaskan bahwa karya seorang pendidik para misionaris lebih penting dari karya mereka yang diutus ke daerah misi.</p>
<p>EVALUASI DALAM KOMUNITAS-KOMUNITAS LOKAL</p>
<p>Menurut Konstitusi, merupakan tugas Komunitas-komunitas lokal mewujudkan dalam situasi setempat tujuan-tujuan dan tugas Kongregasi serta mengevaluasinya secara teratur (cfr. K. 129). Beberapa pertanyaan penuntun untuk mengevaluasi karya pastoral di tingkat Komunitas lokal:</p>
<p>1.    Kegiatan-kegiatan kita saat ini: Manakah karya-karya pastoral yang secara intensif ditangani anggota-anggota Komunitas? Sejak kapan karya-karya  tersebut  dilakukan? Apakah  masih  dapat  dipertahankan karya-karya itu saat ini berhadapan dengan kebutuhan aktual umat dan Gereja lokal serta tujuan utama Kongregasi kita?</p>
<p>2.    Karya  di  paroki-paroki:  Apa  pendapat  kita  tentang  paroki-paroki yang diterima dan diasuh para konfrater Komunitas kita? Apakah karya yang kita lakukan itu mengungkapkan identitas misioner kita? Di manakah hal itu terwujud secara konkret?</p>
<p>3.    Karya-karya   pastoral   khusus:   Manakah   inisiatif   konkret   yang dilakukan Komunitas dalam bidang pembinaan dan animasi misioner, pastoral panggilan dan pastoral keluarga?</p>
<p>4.    Pembinaan  misioner:  Langkah-langkah  manakah  yang  harus  kita lakukan dan manakah tugas khusus yang harus kita terima untuk memberikan pada  pendidikan  awal,  bina  lanjut  kita  dan pembinaan kepemimpinan Gereja yang memberi perspektif misioner secara jelas?</p>
<p>5.    Inisiatif baru: dengan mempertimbangkan kenyataan umat dan Gereja lokal, manakah insiatif-inisiatif mendesak yang perlu diambil agar Komunitas setia secara kreatif terhadap kharisma Kongregasi?</p>
<p>6.    Tugas-tugas yang ditinggalkan: Manakah kegiatan dan proyek yang harus   atau   dapat   kita   tinggalkan,   dengan   maksud   memusatkan kekuatan kita pada apa yang mendasar?</p>
<p>7.    Sebuah tanda misioner yang jelas: Manakah tindakan konkret atau inisiatif yang dapat mengungkapkan secara memadai semangat dan keterlibatan misioner Komunitas pada peringatan   100 tahun misi pertama Kongregasi kita?</p>
<p>EVALUASI DI PROVINSI-PROVINSI</p>
<p>Kontitusi menuntut bahwa setiap Provinsi, dalam kerja sama dengan Dewan Pimpinan Umum secara teratur meninjau kembali arah kerasulan dan tugas-tugas kerasaulannya (cfr. DU 044). Tahap pertama dilakukan dengan mengangkat dan memperdalam evaluasi yang dilakukan di komunitas-komunitas lokal, yang merupakan tugas dari Dewan Provinsi dan   Dewan Pertimbangan Provinsi. Berikut beberapa pertanyaan yang dapat membantu refleksi:</p>
<p>1.   Kegiatan-kegiatan kita saat ini: Manakah karya-karya pastoral yang secara intensif ditangani sebagian besar anggota Provinsi? Sejak  kapan  dan   mengapa   karya-karya  tersebut   dilakukan? Apakah masih dapat dipertahankan karya-karya itu saat ini berhadapan dengan kebutuhan aktual umat dan Gereja lokal serta tujuan utama Kongregasi kita?</p>
<p>2.   Karya  di  paroki-paroki:   Apa  pendapat  kita  tentang  paroki- paroki dan karya pastoral khusus yang dilakukan Provinsi? Apakah  karya  yang  kita  lakukan  mengungkapkan  dan mewujudkan identitas misioner kita? Di manakah hal itu terwujud secara konkret?</p>
<p>3.   Pembinaan  misioner:    Langkah-langkah  dan  tugas  manakah yang  harus  kita  lakukan  untuk  memberikan  pada  pendidikan awal, bina lanjut kita dan pembinaan kepemimpinan Gereja yang memberi perspektif misioner secara jelas?</p>
<p>4. Karya-karya pastoral khas kita: Inisiatif-inisiatif konkret manakah   yang   telah   dilakukan   Provinsi   dan   yang   sedang dilakukan dalam bidang pembinaan dan animasi misi, pastoral panggilan dan pastoral keluarga? Apakah Provinsi telah menciptakan   beberapa   lembaga   pendukung   dan   animasi  di bidang-bidang pelayanan itu? Berapa konfrater yang terlibat? Manakah keterlibatan Provinsi dalam lembaga gerejawi (di keuskupan atau  regio)  yang  menganimasi dan  mengkoordinasi kegiatan-kegiatan tersebut?</p>
<p>5. Insiatif-inisiatif baru: Dengan mempertimbangkan kenyataan penduduk dan Gereja di wilayah kerja Provinsi, manakah insiatif- inisiatif yang penting dan mendesak dilakukan agar Provinsi setia secara kreatif terhadap Kharisma Kongregasi?</p>
<p>6.   Tugas-tugas yang dapat ditinggalkan:  Manakah kegiatan dan rencana-rencana   yang   harus   dan   dapat   ditinggalkan   oleh provinsi dengan tujuan agar memusatkan semua kekuatan pada hal-hal yang pokok?</p>
<p>7. Tanda misioner yang jelas: Manakah tindakan konkret atau manakah insiatif yang dapat mengungkapkan secara memadai semangat dan keterlibatan misioner Provinsi dalam rangka perayaan 100 tahun misi pertama Kongregasi?</p>
<p>EVALUASI DI TINGKAT KONGREGASI</p>
<p>Menurut Konstitusi, merupakan bagian dari tugas Dewan Jenderal memelihara warisan Pendiri, mengembangkan hidup religius dan kegiatan-kegiatan pastoral serta mengajukan prakarsa-prakarsa demi kebaikan seluruh Kongregasi (cfr. K. 161; DU 0116). Selain menerima dan memperdalam evaluasi yang diterima dari Provinsi- Provinsi, Dewan Jenderal dan Dewan Konsultasi Kongregasi akan merefleksikan pertanyaan-pertanyaan berikut:</p>
<p>1. Kegiatan-kegiatan kita saat ini: Manakah kegiatan-kegiatan pastoral yang secara intensif ditangani oleh sebagian besar anggota Kongregasi? Apakah karya-karya tersebut dibenarkan dalam terang tujuan utama Kongregasi?</p>
<p>2. Karya di paroki-paroki: Menurut ukuran manakah dapat dikatakan  bahwa karya-karya parokial kita secara bertanggung jawab  setia  pada  kharisma  misioner  kita,  tidak  menghalangi hidup misioner kita dan menyumbang untuk tugas misioner Gereja?</p>
<p>3.   Karya-karya  khas  kita:  Manakah  langkah-langkah  konkret yang harus kita lakukan dalam Provinsi-Provinsi dan sebagai Kongregasi untuk melalukan secara sungguh-sungguh pastoral keluarga, pastoral panggilan dalam sebuah perspektif yang luas dan gerejawi?</p>
<p>4. Pembinaan misioner: Manakah langkah-langkah dan karya konkret yang perlu kita lakukan agar memberi kepada pendidikan awal,  bina  lanjut  kita  dan  pembinaan  kepemimpinan  Gereja sebuah perspektif yang jelas?</p>
<p>5. Insiatif-inisiatif misioner baru: Dengan mempertimbangkan masalah-masalah  yang  muncul,  yang  mengganggu  dan menantang kemanusiaan dalam keseluruhannya (misalnya, tujuan pembangunan milenium).<br />
(Tujuan-tujuan  pembangunan  Milenium  dipromosikan  oleh  PBB  tanggal  6<br />
Desember 2000 dan ditandatangani oleh 147 kepala negara. Tujuan-tujuan yang harus mengarahkan kegiatan negara dan masyarakat sampai tahun 2015, itu sbb: 1) Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrim; 2) Menjamin pendidikan dasar secara universal; 3) Memperjuangkan kesetaraan seks dan otonomi perempuan; 4) Mengurangi kematian anak; 5) Meningkatkan kesehatan ibu; 6) Melawan HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya; 7) Menjamin kelestarian alam; 8) Membangun suatu kerja sama mondial untuk pembangunan.)<br />
kebutuhan mendesak Gereja universal dan  kekhasan  hidup  Bhakti…. (Pendidikan misioner merupakan karya Gereja lokal dengan bantuan para misionaris  dan  institut-institutnya,  juga  dengan  tenaga  di Gereja-Gereja  muda. Karya  tersebut  tidak harus dipahami  sebagai marginal  saja,  melainkan  sebagai karya utama dalam kehidupan kristiani” (Redemptoris Missio 83). “Sumbangan khusus  biarawan-biarawati  pada  evangelisasi  terletak  dalam  kesaksian  hidup mereka yang secara utuh dipersembahkan kepada Allah dan sesama, dengan meneladani Penyelamat, yang karena kasihNya akan manusia, Ia menjadi hamba” (Vita  Consacrata  76).  “Keberpihakan  kepada  yang  miskin  termasuk  dalam dinamika  kasih  yang  dihayati  seperti  Kristus.  Padanya  bersatu  semua  murid Kristus; terutama mereka yang ingin mengikuti Tuhan secara lebih dekat, dengan meneladani sikapNya, tidak dapat tidak merasa terlibat dengan cara yang sangat khusus. Ketulusan jawaban kita terhadap kasih Kristus menuntun kita untuk hidup sebagai   orang   miskin   dan   merangkul   masalah   para   kaum   miskin”   (Vita Consacrata  82).  “Sinode telah  memperjelas hubungan  mendalam hidup  bhakti dengan masalah ekumenisme dan kebutuhan mendesak akan kesaksian yang lebih intesif di bidang itu. &#8230; Sangat mendesak pula bahwa dalam  hidup mereka yang membaktikan diri kepada Allah terbuka ruang-ruang yang lebih besar pada doa ekumenis dan kesaksian injili yang autentik, agar dengan kekuatan Roh Kudus dapat  diruntuhkan  tembok-tembok  prasangka antarorang  kristiani”  (Vita Consacrata 100).<br />
,… manakah  inisiatif-inisiatif  yang dituntut dari kharisma misioner kita?</p>
<p>6.   Sebuah tanda misioner yang jelas: Manakah tindakan konkret atau inisiatif yang dapat mengungkapkan secara memadai semangat dan keterlibatan misioner Kongregasi dalam rangka perayaan 100 tahun misi pertama Kongregasi?</p>
<p>PROGRAM</p>
<p>a)  Evaluasi di tingkat Komunitas lokal: Maret-Mei 2011.<br />
b)  Perayaan dalam komunitas dan dalam kaitan dengan sebuah misi pada Hari Pentekosta (12 Juni);<br />
c)  Evaluasi di tingkat Provinsi Juni-Agustus 2011.<br />
d)  Perayaan keterlibatan Provinsi dengan salah satu misi tanggal 15<br />
Agustus (100 tahun awal misi di Marzagão, Amazzonia, Brasil). e)  Evaluasi di tingkat Kongregasi: Agustus-Oktober 2011.<br />
f)  Perayaan dan pembaruan semangat misioner sebagai Kongregasi tanggal 28 September 2011.</p>
<p>Para konfrater terkasih!<br />
Kami  mengharapkan  akan  terjadinya  sebuah  usaha  evaluasi  dan perencanaan yang menyenangkan dan membawa daya dorong dalam<br />
komunitas-komunitas maupun Provinsi-Provinsi. Kami pun berharap memanfaatkan  pertemuan  Dewan  Konsultasi  Kongregasi,  yang<br />
direncanakan  akan  berlangsung  tanggal    7-14  September  2011, untuk  mengumpulkan  dan  memperdalam  semua  hasil  kerja  yang telah   dilakukan   di   Provinsi   dan   bersama-sama   memperdalam argumen-argumen yang muncul darinya.</p>
<p>Konstitusi  mengatakan bahwa seturut maksud Pendiri dan sebuah tradisi yang teruji Kongregasi kita “mengambil sebagai tujuannya pelayanan misioner untuk mewartakan Kabar Gembira kepada segala bangsa.”</p>
<p>(Dekret Kongregasi Religius untuk pengesahan Konstitusi 1983).</p>
<p>Dewan Pimpinan Umum<br />
Roma, 24 Februari 2011<br />
(171 tahun dari saat lahirnya P. Berthier)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/539/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/539/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/539/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/539/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/539/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/539/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/539/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/539/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/539/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/539/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/539/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/539/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/539/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/539/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=539&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/18/kita-menyediakan-diri-untuk-pelayanan-injil-dengan-seluruh-diri-kita-dan-segala-kegiatan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>surat dari jenderalat 23</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/17/536/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/17/536/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 08:06:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Jenderalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[1. Pertemuan Bina Lanjut Regio Amerika di Argentina Para Misionaris MSF Regio Amerika telah mengorganisir sebuah pertemuan Bina Lanjut yang diadakan di kota San Miguel di Argentina tanggal 18-21 Januari 2011. Hadir sebanyak 34 peserta dari Provinsi-Pprovinsi MSF Amerika dan &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/17/536/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=536&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Pertemuan Bina Lanjut Regio Amerika di Argentina</strong></p>
<p>Para Misionaris MSF Regio Amerika telah mengorganisir sebuah pertemuan Bina Lanjut yang diadakan di kota San Miguel di Argentina tanggal 18-21 Januari 2011. Hadir sebanyak 34 peserta dari Provinsi-Pprovinsi MSF Amerika dan dari wakil Jenderalat. Hadir para konfrater dari Brasil Selatan (10), Brasil Timur (5), Cile (5), Bolivia (1), USA (1) Dewan Jenderal (2) dan tidak dapat hadir utusan dari Provinsi Brasil Utara. Dalam pertemuan tahun ini dibahas tema “Panggilan dan Misi”.<span id="more-536"></span></p>
<p><strong>2. Kapitel Provinsi Kalimantan </strong></p>
<p>P. Edmondo dan P. Paulinus berkunjung ke Indonesia untuk mengambil bagian dalam Kapitel Provinsi yang diadakan di Banjarbaru tanggal 2-9 Februari 2011. Sebelum Kapitel keduanya mengunjungi Malang tempat 4 frater Kalimantan yang belajar. Setelah Kapitel mereka mengadakan pula kunjungan singkat ke Yogya dan Salatiga.  Kapitel dihadiri 26 bapak Kapitel, 3 undangan (Provinsial Jawa dan dua utusan dari Jenderalat) dan 4 orang Sekretaris. Dewan Provinsi yang terpilih adalah: P. Stanislaus Kostka Maratmo (Provinsial), P. Agustinus Doni Tupen (Vikaris dan Asisten 1), P. Antonius Garin (Asisten 2), P. Krispinus Cosmas Boli Tukan (Asisten 3). Dewan yang baru ini telah memulai mandatnya tanggal 1 Maret 2011.</p>
<p><strong>3. Kapitel Provinsi Belanda </strong></p>
<p>P. Santiago mengambil bagian dalam Kapitel Provinsi Belanda yang diadakan tanggal 8.02.2011. P. Zwirs menjemput beliau di bandara  Eindhoven dan membawanya ke Teteringen.  Dalam Kapitel itu hadir semua konfrater yang masih kuat yang datang dari berbagai tempat di Belanda. Seluruh Dewan Provinsi yang lama dipilih kembali. P. Johannes Zwirs (Provinsial), P. Fredericus Groot (Vikaris dan Asisten 1), P. H. van Kleijnenbreugel (Asisten 2 dan Ekonom). Dewan telah memulai mandatnya tanggal 1 Maret 2011.</p>
<p><strong>4. Novisiat AntarProvinsi di Cile</strong></p>
<p>Provinsi-Provinsi Regio America Latin telah memulai Novisiat bersama di Cile tahun ini. Ada 9 Novis dari 5 Provinsi yang memulai tahun novisiat tanggal 15 Januari 2011 di bawah bimbingan Magister novisnya P. Pablo Barreiro MSF dan socius Br. Héctor Pinto MSF. Para novis (dari kiri ke kanan): <strong>Jeidson Cardoso Ribeiro</strong> (Brasil Timur); <strong>Márcio Cley Santos Silva</strong> (Brasil Selatan); <strong>Genivaldo de Souza Mendes</strong> (Brasil Timur);<strong> José Adailton Francisco Nascimento</strong> (Brasil Timur); <strong>Thiago Batista da Luz </strong>(Brasil Utara); <strong>Fr. Héctor Mauricio Pinto</strong> (Cile); <strong>Pe. Pablo Hernán Barreiro</strong> (Magister); <strong>Oberdan Henrique Fiorese</strong> (Brasil Selatan); <strong>Sergio Adrián Elifonzo</strong> (Argentina); <strong>Valmir Miguel Majolo</strong> (Brasil Selatan); <strong>José Cidrone Rodrigues do Amaral</strong> (Brasil Utara).</p>
<p><strong>5. Skolastikat Provinsi Kalimantan di Malang</strong></p>
<p>Provinsi Kalimantan mempunyai 11 frater yang kini belajar bersama para frater Provinsi Jawa di Yogyakarta. Namun dari tahun lalu, Provinsi itu telah mengirim 4 fraternya ke Malang-Jawa Timur.  Fakultas Filsafat dan Teologi “Widya Sasana” Malang adalah juga tempat belajar para frater dari semua keuskupan tempat para imam MSF Kalimantan bekerja. Ada beberapa kongregasi seperti SVD, Karmelit, Pasionis, Monfortan dan beberapa kongregasi lain yang mengirim para fraternya ke sana. Keempat frater itu: Fr. Daniel Rusen (menjalani program S2) dan  Fr. Sonitus Garsa Bambang, Fr. Tarsisius Asmat dan Fr.Yeremias B. Sae (ketiganya menjalani program S1).</p>
<p><strong>6. Simposium Keluarga di Polandia </strong></p>
<p>Provinsi MSF Polandia baru saja mengadakan sebuah Simposium tentang “<em>Familiaris Consortio”</em> dan aktualisasinya setelah 30 tahun terbitnya dokumen itu. Seminar diadakan 2-3 Maret 2011 di Seminari Tinggi MSF Kazimierz Biskupi, di Polandia.</p>
<p>Misa pembukaan dipimpin Mgr. Wiesław Mering &#8211; uskup Włocławek, sedangkan homili dibawakan oleh Mgr. Stanisław Stefanek Tchr -  uskup di Łomża. Superior Jenderal MSF MSF – P. Edmund Jan Michalski MSF, memberi sambutan Pembukaan dalam Simposium itu.</p>
<p>Beberapa konfrater dari Polandia mengambil bagian sebagai pembicara dalam Seminar itu. P. Andrzej Pryba MSF (Universitas Poznan) berbicara tentang “Pendidikan Anak, hak dan kewajiban orang tua”. Sedangkan dalam Sesi ke-5, P. Bogdan Peć MSF (Universitas Opole) memberi masukkan tentang “Ketika Therapi menjadi bantuan untuk beristirahat dengan baik”. Selanjutnya P.  Marian Machinek MSF (Universits di OLSZTYN) berbicara tentang “makna iman bagi pelayanan pembinaan biblis kehidupan pasangan suami-isteri”. Provinsial Polandia P. Marian Kołodziejczyk MSF, memberi sambutan terakhir untuk menutup Simposium yang dihadiri sekitar 100 peserta itu.</p>
<p align="right">Paulinus Yan Olla MSF</p>
<h2></h2>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/536/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=536&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/17/536/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SENGSARA YESUS (dan Maria)</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/07/sengsara-yesus-dan-maria/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/07/sengsara-yesus-dan-maria/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 22:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Unio Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi dan Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Kisah diawali peristiwa Yesus dielu-elukan oleh orang banyak. Yesus disambut bagai raja. Tapi Yesus tidak mau menjadi raja. Penyambutan Yesus hanya berlangsung sesaat, karena Dia lalu masuk dalam sengsara.  Kisah sengsara Yesus bisa jadi juga dialami orang pada jaman sekarang, &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/07/sengsara-yesus-dan-maria/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=526&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah diawali peristiwa Yesus dielu-elukan oleh orang banyak. Yesus disambut bagai raja. Tapi Yesus tidak mau menjadi raja. Penyambutan Yesus hanya berlangsung sesaat, karena Dia lalu masuk dalam sengsara.  Kisah sengsara Yesus bisa jadi juga dialami orang pada jaman sekarang, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Misal: buruh ditindas majikan, istri ditindas suami atau bahkan suami direndahkan istri, anak-anak ditekan orangtua. Atau, orang yang menderita sakit bertahun-tahun, orang yang dihina, dilecehkan, dsb. Ada begitu banyak “kisah sengsara” yang terjadi di dunia ini.<span id="more-526"></span><br />
Saat kita mengalami kesulitan hidup, penyakit, penindasan, mungkin kita bertanya-tanya: “Tuhan di manakah Engkau? Mengapa Engkau meninggalkan aku?” Persis itu yang dikatakan Yesus ketika dipaku di kayu salib: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”  Lalu Yesus berkata: “Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Yesus Kristus telah membuka hati kita, bahwa dalam penderitaan dan kesengsaraan, masih ada harapan. Ketika kita mengalami sengsara, ketika harapan seakan menghilang, ketika iman mulai pudar, ketika cinta mulai layu; kita ingat kepada Yesus, dan berkata: “Tuhan Yesus, kuserahkan diri hamba ke dalam tangan-Mu”.</p>
<p>Kita dapat memberi arti bagi penderitaan kita, jika kita menerima penderitaan itu bersama dengan Yesus. Hal ini mudah untuk orang-orang yang dapat menerima penderitaannya; misalnya sakit yang ringan-ringan saja, yang dapat diterima dengan sabar. Tapi akan menjadi sulit jika penderitaan kita begitu berat. Kita ingat akan mereka yang sedang menderita akibat banjir di Situ Gintung, Merapi, Wasior,Tsunami Aceh, Gempa Bumi Jogja, dsb.. Harta benda, bahkan keluarga yang dicintai tiba-tiba musnah. Pasti penderitaan mereka yang mengalami Situ Gintung dsb. amat berat untuk diterima dengan sabar dan penuh iman.<br />
Yesus mengajarkan kepada kita bahwa penderitaan kita sungguh-sungguh tidak berarti, jika kita tidak mampu menerimanya dengan sadar dan bebas. Penderitaan itu punya arti apabila kita mampu menghadapinya seperti yang dilakukan oleh Yesus; jika kita menerimanya bersama dengan Yesus.<br />
Kisah sengsara bukan sekedar cerita belaka. Kisah sengsara memberi pelajaran bagi kita. Orang yang berpasrah kepada Allah seperti Yesus, akan memperoleh kehidupan abadi seperti Yesus yang bangkit dari kematian. Kisah sengsara bukan untuk menimbulkan perasaan haru, tetapi untuk membuat kita makin menyadari bahwa Allah menyertai kita. Kisah sengsara ingin menunjukkan bahwa Allah selalu bersama kita. Allah tidak bakal meninggalkan kita sendirian. Inilah kabar baik bagi kita semua.<br />
Yesus tergantung di salib! Merupakan bukti kasih Allah; ini menunjukkan akhir dari Dirinya Sendiri, yang dilakukan Inkarnasi Sabda di atas bumi ini &#8211; sungguh, suatu manifestasi sengsara, tetapi, terlebih lagi, manifestasi kasih. Kita kadang kala suatu hari merenungkan Kasih Ilahi dalam pribadi Yesus yang Tersalib, kita tak akan pernah mampu memahami betapa luar biasanya kasih ilahi yang dilimpahkan atas kita, hingga Ia rela wafat demi kasih kepada kita.</p>
<p>Jika kita memandang tubuhNya yang tergantung di atas salib, tiadalah yang kita lihat selain dari luka-luka dan darah; lalu, apabila kita mengarahkan perhatianku pada hati Yesus, kita mendapati hati-Nya sepenuhnya sengsara dan berduka. Di atas salib kita melihat ada tertulis bahwa Engkau adalah raja; tetapi tanda-tanda kerajaan apakah yang ada pada-Nya? Kita melihat tak ada tahta kerajaan, selain dari pohon salib kehinaan ini; tak ada jubah ungu, selain dari daging-Nya yang penuh luka dan darah; tak ada mahkota, selain dari anyaman onak duri yang menyiksa-Dia. Itu semua menyatakan bahwa Yesus adalah raja kasih! ya, sebab salib ini, paku-paku , mahkota duri, dan luka-luka, semuanya, adalah tanda kasih.</p>
<p>Yesus, dari atas salib, tidak menuntut belas kasihan dan kasih sayang yang begitu besar dari kita; dan, jika toh Ia meminta belas kasihan kita, Ia memintanya semata-mata hanya agar belas kasihan itu menggerakkan kita untuk mengasihi-Nya. Karena Ia adalah kebaikan yang tak terbatas, sudah sepantasnyalah Ia mendapatkan segenap kasih kita; tetapi, saat tergantung di atas salib, seolah-olah Ia merindukan kita untuk mengasihi-Nya, sekurang-kurangnya karena belas kasihan kepada-Nya.</p>
<p>Siapakah gerangan yang tak hendak mengasihi Yesus, kita mengakui bahwa Yesus Tuhan, dan merenungkan bahwa Dia yang tergantung di atas salib adalah Tuhan. Luka-luka Yesus, kobaran api kasih memikat, mengundang kita dalam kobaran api cinta kasihNya. Dengan api kasih yang kudus Yesus rela wafat bagi kita yang sebenarnya layak untuk masuk neraka (jauh dari Allah). Yesus mau menerima manusia pendosa, yang menyesal yang telah menghina Dia dengan segala perbuatan dosa. Manuasia yang tulus hati rindu untuk mengasihi Yesus yang kebaikanNya tak terbatas, yang kasihNya tak terhingga</p>
<p>Yesus di atas salib disengsarakan oleh khalayak ramai yang tak berperikemanusiaan. Apakah ini yang Ia lakukan? Ia berdoa bagi mereka dengan mengatakan: “Ya BapaKu, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Dalam sakrat maut Yesus memanjatkan doa kepada Bapa memohon pengampunan bagikita juga, kita manusia yang telah begitu sering menghina Nya. Kemudian, Yesus berpaling kepada penyamun yang baik, yang berdoa mohon belas kasihan-Nya, dan menjawab: “Pada hari ini juga engkau akan bersama-Ku di Firdaus”  Dalam kitab Yeheskiel dikatakan bahwa apabila seorang pendosa bertobat atas dosa-dosanya, maka Ia akan menghapus dari ingatan-Nya segala pelanggaran yang telah dilakukannya: Tetapi, apabila orang fasik bertobat … Aku tidak akan mengingat-ingat segala kesalahannya (cf. Yeheskiel 18: 27; 33; 19).</p>
<p>Yesus, dalam sengsara-Nya di atas salib, dengan setiap bagian tubuh-Nya penuh siksa dan aniaya, dan segala dukacita dalam jiwa-Nya, mengarahkan pandangan-Nya ke sekeliling dan tak mendapati seorang pun yang memberi-Nya penghiburan. Yesus mohon penghiburan kepada BapaNya, bahkan Ia juga meninggalkan-Nya; dan saat itulah Yesus berseru dengan suara nyaring:’ AllahKu, ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ditinggalkan oleh Bapa yang Kekal mengakibatkan penderitaan Yesus Kristus menjadi semakin pahit, lebih pahit dari yang pernah dialami siapa pun; sebab wafat-Nya adalah wafat dalam sengsara yang sempurna, dan tanpa adanya penghiburan sedikit pun.</p>
<p>Di sana, dekat salib Yesus, berdiri Bunda-Nya. Kita melihat dalam Ratu Para Martir ini, suatu kemartiran yang lebih kejam daripada kemartiran lain manapun &#8211; bahwa seorang ibunda hadir demi menyaksikan Putranya yang tanpa dosa dijatuhi hukuman mati dengan tiang kehinaan: “ia berdiri”. Sejak Yesus ditangkap di taman, Ia telah ditinggalkan oleh para murid-Nya, tetapi Bunda Maria tidak meninggalkan-Nya. Ia ada bersama-Nya hingga ia menyaksikan-Nya wafat di hadapan matanya: “ia berdiri dekat salib”. Para ibu, pada umumnya, menghindarkan diri dari hadapan anak-anaknya ketika mereka harus menyaksikan anak mereka menderita, sementara dirinya tak dapat melakukan apa-apa untuk meringankan beban anaknya itu: mereka akan lebih suka andai mereka sendiri yang menanggung penderitaan anaknya; sebab itu, ketika mereka melihat anaknya menderita tanpa berdaya meringankan beban mereka, para ibu tidak memiliki kekuatan untuk menanggung dukacita yang demikian besar, dan karenanya menghindarkan diri dan pergi menjauh. Namun, tidak demikian halnya dengan Bunda Maria. Ia melihat Putranya dalam sengsara; ia melihat bahwa segala kesakitan-Nya akan menyebabkan kematian-Nya; tetapi ia tidak melarikan diri ataupun pergi menjauhkan. Sebaliknya, ia datang mendekati Salib di mana Putranya sedang meregang nyawa.</p>
<p>Maria berdiri dekat salib. Jadi, salib adalah pembaringan di mana Yesus menyerahkan nyawa-Nya; ranjang sengsara, di mana Bunda yang berduka memandangi Yesus, sekujur tubuh-Nya diliputi luka-luka akibat dera dan duri. Bunda Maria mengamati bagaimana Putranya yang malang, yang tergantung di antara tiga paku besi, tak dapat menempatkan tubuh-Nya  dengan nyaman ataupun beristirahat. Betapa ingin ia meringankan beban derita Putranya; ia berharap, setidak-tidaknya, karena Ia harus wafat, diijinkan baginya agar Ia wafat dalam pelukannya. Tetapi, segala kerinduannya hanyalah sia-sia belaka.</p>
<p>Bunda ini harus menyaksikan Putra yang sedemikian, wafat dalam sengsara tepat di hadapan matanya!</p>
<p>Kesetiaan</p>
<p>TUHAN menuntut KESETIAAN kita kepada-Nya. Sebab lebih dari sekedar sebuah pertanyaan, MELAYANI atau DILAYANI, hal yang paling hakiki dari kehidupan kekristenan adalah dibangun diatas sebuah kesetiaan. Sebab bila kesetiaan hadir dalam hidup kita, maka kita tidak akan mempersoalkan kapan kita akan dilayani melainkan dengan senang hati kita akan melayani oleh karena sebuah kesadaran bahwa hidup kita hanya berdasar pada kasih setia TUHAN.</p>
<p>Kesetiaan ini bukan sesuatu yang ”given”, atau datang dengan sendirinya, tetapi harus diupayakan dan ditumbuhkembangkan. Sebab orang yang setia tidak dilahirkan tetapi dibentuk. Ada upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang yang taat sehingga kelak menjadi pemenang iman.<br />
Pertama, kesetiaan harus dimulai dari perkara-perkara kecil. Untuk berjalan seribu langkah, kita harus memulai dengan satu langkah. Untuk menjadi seorang mahasiswa, kita harus mulai dari Sekolah Dasar. Begitu juga dalam hal kesetiaan. Tuhan Yesus sendiri pernah berkata, &#8220;Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.&#8221; (Lukas 16:10).<br />
Sulit mengharapkan seseorang dapat tetap teguh dan setia menghadapi berbagai kesulitan hebat, kalau janji saja seringkali tidak ditepati. Sulit mengharapkan seseorang bisa dengan gagah berani bertahan menghadapi tantangan dan ancaman demi imannya kalau, misalnya, ke gereja saja jarang dan malas-malasan, baca Alkitab atau berdoa saja sesekali kalau lagi mau.<br />
Kedua, kesetiaan harus diperjuangkan. Ada harga yang harus dibayar. Untuk setia ke gereja, membaca Alkitab, berdoa dan melakukan tanggung jawab lain sebagai orang beriman, kerap kita harus berjuang melawan kemalasan, keengganan, rasa lelah. Bahkan kita juga harus berjuang menghadapi banyak rintangan yang datang dari luar diri kita, mungkin cuaca yang buruk, acara bagus di TV, atau berupa sikap tidak simpatik dari orang lain.<br />
Tetapi memang justru di situlah letaknya arti mengikut Kristus, seperti yang dikatakan-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku.” (Markus 8:34). Menyangkal diri berarti menahan diri dari segala keinginan yang secara lahiriah enak dan menyenangkan. Memikul salib tidak hanya berarti dalam perkara besar, tetapi juga dalam keseharian, yaitu ketika kita mau melakukan sesuatu yang tidak kita senangi tetapi toh harus dilakukan sebagai bagian tanggung jawab hidup beriman kita.</p>
<p>F.X. Sumantoro P. MSF</p>
<p>(bahan refleksi untuk unio Samarinda)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/526/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=526&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/07/sengsara-yesus-dan-maria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MARRIAGE ENCOUNTER  SUATU HARAPAN DAN KENYATAAN</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/03/marriage-encounter-suatu-harapan-dan-kenyataan/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/03/marriage-encounter-suatu-harapan-dan-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 12:22:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Unio Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=524</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah terbersit dalam benak Pastor Gabriel Calvo PR pada saat sepasang pasutri: Mercedes dan Jame Ferrer, tahun 1952 mengunjunginya untuk minta nasihat dan bimbingan bagaimana mengabdi Tuhan sebagai pasutri, bahwa kunjungan itu menjadi titik awal suatu gerakan besar dan &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/03/marriage-encounter-suatu-harapan-dan-kenyataan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=524&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak pernah terbersit dalam benak Pastor Gabriel Calvo PR pada saat sepasang pasutri: Mercedes dan Jame Ferrer, tahun 1952 mengunjunginya untuk minta nasihat dan bimbingan bagaimana mengabdi Tuhan sebagai pasutri, bahwa kunjungan itu menjadi titik awal suatu gerakan besar dan mondial. Dan sepuluh tahun (1962) kemudian diadakan uji coba gerakan di Barcelona dengan nama Encuentro Conjugal dengan peserta  28 pasutri.<span id="more-524"></span> Berangkali tidak pernah terbersit dalam benak Pastor Charles A. Callagher SJ dan pasutri Ed dan Harriet Garezo,  aktivis  Christian Family Movement yang mulai menggerakkan gerakan ini di New York dengan nama Marriage Encounter, bahwa apa yang digerakkan mereka kemudian menjalar ke seluruh dunia dengan nama Marriage Encounter. Mereka menimba gerakan ini dari perkembangan yang telah ditularkan di Amerika Latin.  Hal yang sama berangkali terjadi di Indonesia ketika Ecclesial Team ME Belgia memulai gerakan ini di Jakarta atas undangan alm. Mgr Leo Sukoto SJ. Pastor Guido Heyrbaut PR dan pasutri Inneke &amp; Andre de Hondt, pasutri Simmy &amp; Rene Mues yang tiba di Jakarta tgl. 20 Juli 1975 mulai menyelenggarakan Week End pertama di kompleks Bungalow Evergreen. Tugu Puncak dengan menggunakan bahasa Vlaams (bahasa Belanda) dan diikuti  oleh alm. Mgr. Leo Sukoto SJ, dua suster dan sembilan pasutri. Kemudian gerakan ini menyebar keseluruh penjuru tanah air dengan ribuan pasutri mengikutinya. APME pertama diadakan di Banjarmasin  tgl. 22 Maret s/d 24 Maret 1996 dengan lurah pertama pasutri Wan Wan &amp; Yauw. Sejak saat itu Banjarmasin menjadi wilayah dari Distrik Surabaya. Pelan-pelan tapi pasti mulai melebarkan sayap ke Palangka Raya dengan APME I  tgl. 3 s/d 5 Januari 2005. Keuskupan Samarinda telah lebih dahulu “mencoba” memulai dua dekade yang lalu di Tarakan, tgl. 5 s/d 7 April 1986, dan sudah berlangsung selama 3 kali Week End, dan satu kali di Balikpapan dengan ecclesial team dari keuskupan Purwokerto, tetapi gaungnya tertelan oleh deru mesin penyuling minyak. Beberapa waktu kemudian, pasutri Tuti-Arianto mengambil inisiatif dengan mengundang Kornas: Pastor I. Wignyasumarta MSF,  Pasutri Tjahya &amp; Adriani, pasutri Elly &amp; Rusli untuk membuka area baru bagi kemunculan ME di Keuskupan Samarinda. Maka terjadilah pada tgl 22 s/d 24 Maret 2002 APME diadakan di Karang Joang, Balikpapan. Tidak tanggung-tanggung, APME pertama ini diikutim oleh Uskup Agung Samarinda, Mgr. Sului Florentinus MSF. Secara resmi ME Keuskupan Agung Samarinda menjadi wilayah distrik Jakarta. Kemudian dalam Denas di Bandung,  diputuskan menjadi wilayah dari distrik XIV Banjarmasin. Inilah suatu kenyataan dari suatu harapan, suatu kenyataan yang tak diprediksi sebelumnya.<br />
Dalam kurun waktu 15 tahun terbentuknya distrik XIV Banjarmasin terbentang sederet panorama indah, tetapi terpaparkan juga aneka macam tantangan yang bisa membuat hati putus asa. Ada sededemikian banyak pasutri bahkan tokoh-tokoh agama yang mempunyai persepsi negative terhadap ME. Tapi dibalik semuanya itu ada  pertanyaan fundamental terbersit dalam hati. Mengapa sedemikian sulit menjaring peserta. Dkl. Mengapa sedemikian sulit bagi pasutri-pasutri untuk bergabung dalam gerakan ini? Mengapa selalu ada anggapan negatif dan kecurigaan? Jawaban popular yang sering memerahkan kuping: Keluarga kami baik-baik saja; ME itu hanya untuk orang kaya dan elit; ME itu hanya bisa dilaksanakan di hotel-hotel berbintang; ME itu suka makan enak, ME itu membentuk kelompok sendiri, ME itu merasa diri lebih baik dari orang lain, dan sederet persepsi negative lainnya. Kadang terdengar ucapan: “Tolong, keluarga itu di-ME-kan saja!” ketika berhadapan dengan keluarga yang tidak harmonis. ME dilihat sebagai terapi. Kalau kuping bisa memerah, apakah hanya sampai pada kondisi seperti itu? Semuanya itu menjadi bahan pembelajaran. Ada apa sebenarnya.<br />
ME itu ibarat buah durian. Buah yang berbentuk jelek dengan duri-duri tajam dan mengeluarkan aroma menyengat. Sering disebut beraroma busuk. Pertama melihat, orang sudah melengos lalu tutup hidung dan pergi menjauh. Tetapi begitu pernah mencicipi, mata sebentar terpejam, sebentar membelalak, lalu tanpa sopan santun, membawa lari untuk disantap sendiri. Enak luar biasa. Itulah ME! Penolakan berujung “kegilaan” pada ME. Setelah mencicipi nikmatnya durian ME, betapa muncul penyesalan, mengapa dari dulu saja tidak ikut. Tetapi bagaimana berupaya agar pasutri mau  mencicipi durian ME itu? ME juga ibarat terasi udang. Aroma menyengat, seperti barang busuk. Penampilannya juga menjijikkan, apalagi kalau melihat pengolahannya. Tidak ada satu orangpun mau menyimpan terasi dalam koper pakaian. Tidak ada satu orangpun mau makan terasi sebelum resepsi penting. Tapi ketika terasi dioleh menjadi “sambal terasi”, (terasi campur bawang rambut dengan lombok rawit) akan manjadi rebutan, bahkan ada yang tidak bisa  menikmati makan tanpa sambal terasi. Beraroma tetapi menggiurkan!<br />
Kenyataan sampai kini, APME selalu diadakan disuatu tempat yang sudah terkondisikan. Sepertinya sulit dirombak. Saya mempunyai mimpi, sedemikian banyak pasutri nun jauh dipelosok terpencil yang sama sekali tidak tersentuh. Padahal mereka, dalam kesederhanaan hidup dan pola pikir mereka, sangat membutuhkan gerakan ME berimbas pada kehidupan mereka. Mereka mendambakan bagaimana cinta terwujudkan dalam keseharian mereka. Tentu banyak kendala, tetapi pasti ada jalan keluar. Mimpi adalah pengharapan. Pengharapan menuju kepada kenyataan!<br />
Peristiwa merayakan Lustrum ke III Distrik XIV Banjarmasin merupakan peristiwa syukur ke hadirat Allah. Allah meletakkan cinta sebagai dasar sepasang pasutri yang menjadi ikatan mati dan tak terceraikan. Cinta inilah yang selalu mau dihangatkan dalam setiap APME dan sepanjang jalan para pasutri setelah APME. Campur tangan Allah tak terpungkiri. Hanya karena Allah yang mengutus Roh-Nya, ME Distrik XIV Banjarmasin  mampu berkembang. Kita berbahagia bersama Distrik XIV Banjarmasin. We Love You, We Need You!</p>
<p>P. Frans Huvang Hurang MSF<br />
Mantan Priest Team Distrik XIV Banjarmasin</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/524/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=524&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/03/marriage-encounter-suatu-harapan-dan-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGGALI HARTA KARUN YANG TERLUPAKAN</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/03/menggali-harta-karun-yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/03/menggali-harta-karun-yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 12:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat Istiadat]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Unio Samarinda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 1984, Rm. Prier SJ, Bpk. Paul Widyawan bersama saya, menelusuri sungai Barito dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan menuju Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, dengan menumpang kapal penumpang yang berfungsi juga sabagai pengangkut barang-barang kebutuhan masyarakat pedalaman.. Belum ada jalan &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/03/menggali-harta-karun-yang-terlupakan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=521&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 1984, Rm. Prier SJ, Bpk. Paul Widyawan bersama saya, menelusuri sungai Barito dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan menuju Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, dengan menumpang kapal penumpang yang berfungsi juga sabagai pengangkut barang-barang kebutuhan masyarakat pedalaman.. Belum ada jalan darat yang layak dipakai. Kapal penuh sesak dengan penumpang yang berjejal. Dapat dibayangkan kalau manusia berdesakan dengan barang-barang kebutuhan dengan seribu satu bau menyengat. Makan minum bisa dibeli di warung kapal. Menanak nasi, memasak kuah sayur dan air minum untuk kopi dan teh diambil semuanya dari air sungai yang keruh, (juga digunakan untuk MCK) yang sudah diendapkan dalam beberapa drum bekas. Mandi dan sikat gigi menggunakan air sungai yang sama. Belum ada Aqua atau minuman air jernih sejenisnya. Ketika makan, minum, orang juga tidak mempertanyakan sumber air untuk memasak itu dari mana. <span id="more-521"></span>Semua makan dengan lahap dan minum dengan kepuasan seorang musafir yang kehausan. Perjalanan ditempuh dalam jangka waktu kurang lebih 24 jam. Keletihan diatasi dengan menikmati keindahan lika-liku sungai, memandang kampung-kampung penduduk setempat, dengan pemandangan khas tepi sungai, orang mandi dan melakukan aktivitas khas sungai (MCK). Bagi pendatang baru, merasa sangat rugi kalau tidak menikmati semuanya ini. Hutan masih menampilkan hutan perawan dengan bekantan (sejenis kera hidung panjang), kera-kera panjang ekor, burung-burung aneka warna yang masih berlompatan dan terbang di atas pepohonan, Kadang-kadang menyaksikan ular menyeberangi sungai, atau kadang-kadang memandang buaya yang bermalasan berjemur di pantai. Semua berjalan seperti aliran sungai, tidak saling mengganggu. Kadang-kadang ada penumpang yang mengajak bicara, tetapi bagi pendatang sering agak bingung karena menggunakan bahasa Banjar atau bahasa Maanyan / Dusun, bahkan bahasa Ngaju. Kalau menggunakan bahasa Indonesia, logat kedaerahan sangat kental. Itulah rutinitas dalam suatu perjalanan menggunakan jalan air.<br />
<!--more--><strong>Loka Karya Musik Liturgi.</strong></p>
<p>Dalam pertemuan nasional musik liturgi pertama di Yogyakarta yang mencetuskan ide untuk menciptakan buku nyanyian baru sabagai pengganti buku nyanyian JUBILATE  yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan liturgi baru, ditugasi PML untuk mempersiapkan buku baru, yang kemudian diterbitkan buku nyanyian MADAH BAKTI, waktu itu masih menggunakan cover merah dan kuning. Pada waktu itu diperkenalkan beberapa lagu dari Jawa dengan nada khas Jawa, lagu Papua dengan nada khas Papua, lagu bergaya Melayu dan Kal-Bar.</p>
<p>Beberapa komponis menggubah lagu-lagu tsb. dan masih sporadis. Sepulang dari pertemuan tsb. hati selalu terusik, mengapa tidak menggali khasanah daerah yang hampir punah dan sudah mulai terlupakan. Mengapa budaya daerah yang sangat kaya tidak dimanfaatkan. Mengapa budaya yang beraneka itu tidak digali dan dikembangkan? Hampir semua lagu liturgi adalah terjemahan lagu-lagu liturgi di Eropah. Banyak yang sangat indah. Tetapi Indonesia sangat kaya dengan budayanya, yang bisa menelorkan sebuah karya nyanyian liturgi yang khas budaya setempat, termasuk tarian dan upacara adat yang sangat kaya dan variatif. Bpk. Soedjasmin alm., seorang komponis besar, yang hadir pada konggres musik liturgi pertama itu, dan duduk di samping saya, mendukung upaya menggali khasanah budaya lokal. Cukup lama wacana penggalian itu terpendam dalam hati. Sepulang dari Manila, PML diundang untuk datang ke Buntok untuk bersama-sama menggali khasanah budaya yang hampir tenggelam ini. Budaya setempat pasti masih tersimpan melalui para kepala adat, orang tua-tua, tokoh-tokoh agama asli Hindu-Keharingan,  tukang-tukang belian, dukun-dukun dan para pemerhati budaya. Kabupaten Barito Selatan terdiri atas beberapa sub suku Dayak: Ma’anyan, Dusun, Taboyan dan Ngaju’ Ketiga sub-suku ini telah lama menganut agama Kristen dan agama sepertinya tidak mengijinkan untuk memelihara dan mengembangkan budaya karena dianggap ada hubungan dengan kekuasaan kegelapan. Dalam istilah mereka, masih ada hubungan dengan budaya kafir, terutama dari agama-agama beraliran fundamentalis. Terlepas dari pemahaman tsb. seorang pendeta dari suku Ma’anyan, Pendeta Dr, Fridolin Ukur, mengadakan penelitian dan menulis sebuah buku: Tantang-Jawab Budaya Dayak. Gubernur pertama Kalimantan Tengah, Bpk. Tjilik Riwut alm. juga menulis sebuah buku mengenai budaya Dayak. Ada juga seorang pemerhati budaya yang mengumpulkan lagu-lagu daerah Ma’anyan, Dusun dan Taboyan. Jumlah mereka dapat dihitung dengan jari.</p>
<p>Disamping pengaruh agama yang tidak mendukung, budaya Banjar sangat dominan dalam budaya sub-sub suku ini. Bahasa pergaulan didominir oleh bahasa Banjar. Pakaian adat sangat dipengaruhi oleh pakaian adat Banjar. Sub-sub suku ini bahkan tidak tahu lagi bagaimana pakaian adat mereka. Hanya beberapa tarian: Belian Bawo, Tari Giring-Giring dan Belian Dadas masih cukup popular dan dipertahankan. Dan budaya sub suku di pedalaman Barito ini, pelan-pelan terpendam, dan generasi selanjutnya tidak mengetahuinya lagi.</p>
<p>Dasar pemikiran untuk mengadakan suatu loka karya music liturgy di Buntok adalah kenyataan berkembangnya Gereja Katolik yang sangat pesat. reka menjadi Katolik sebagai seorang Dayak. Iman mereka terhadap Allah adalah iman seorang Dayak. Allah bagi mereka adalah Allah yang dikenal sebagai Allah orang Dayak. Seperti orang Yahudi yang hanya mengenal Yahwe sebagai Allah orang Yahudi. Maka pada jaman itu, siapun yang ingin menjadi pengikut Kristus, harus disunat yang berarti harus menjadi Yahudi agar bisa mengenal Allah Yahudi. Konsili Yerusalem membatalkannya karena Gereja sudah berkembang ke manca Negara. Orang Dayak harus mencari wajah Allah dalam budaya Dayak sehingga kehadiran dan relasi timbal balik Allah dan orang Dayak harus dilihat dalam warna budaya Dayak. Berkaitan dengan pemahaman seperti itu, seharusnya banyak upacara keagamaan yang harus diinkulturasikan dalam budaya Dayak. Mengapa upacara permandian, perkawinan dan kematian tidak menggunakan unsur-unsur budaya setempat, yang juga mempunyai upacara-upacara seperti itu, dengan memperhatikan unsur-unsur hakiki dari Katolik? Memang harus dijaga jangan sampai muncul sinkretisme. Perayaan Ekaristi memang tidak bisa dirombak, karena sudah baku untuk seluruh dunia. Tetapi mengapa tidak meng-akkulturasi-kan tarian-tarian khas daerah? Banyak hal bisa di-akkulturasi-kan. Disamping tarian, pakaian misdinar bisa menggunakan busana setempat, bahan persembahan disamping bahan pokok persembahan, roti dan anggur, dapat menggunakan bahan-bahan khas daerah. Salah satu hal yang sangat perlu dikembangkan adalah bagaimana menciptakan suatu lagu dengan nada dan warna daerah, dan musik iringan dengan alat musik tradisional. Berangkali masa kini bisa dibandingakan dengan Tony Waluyo Sukmoasih (Tony Q Rastafara) yang membalut musik reggae dengan balutan musik tradisional, mengaloborasikan alat-alat musik tradisional.</p>
<p>Ketika ada rencana team dari PML akan datang, maka tokoh-tokoh adat, para pemimpin upacara adat, dukun-dukun, pemerhati budaya dari sub-sub suku Dayak Barito Selatan dan Utara dikumpulkan. Mereka yang diundang, sungguhpun transportasi pada waktu itu sangat sulit, semuanya datang dengan penuh antusias dengan hanya bermodalkan pengetahuan mengenai budaya mereka. Beberapa masih sangat menguasai lagu-lagu dan tarian tradisional.<br />
Proses loka karya dimulai dengan memberikan beberapa potongan teks dari mazmur untuk lagu pembuka, dan membiarkan mereka untuk menciptakan sebuah lagu dengan warna khas suku masing-masing. Hasilnya luar biasa. Dengan kesederhanaan mereka, mereka mampu menciptakan lagu-lagu baru. Beberapa mengambil lagu yang sudah ada, dan menyesuaikan lagu dengan teks yang diberikan. Teks tidak harus diikuti secara harafiah. Mereka bebas mengarang syair yang sesuai dengan taks. Teks hanya untuk bahan acuan. Teks yang sudah jadi, dikoreksi dan hasil akhir dinyanyikan dalam perayaan Ekaristi. Metoda inilah yang dikembangan selama seminggu. Malam hari dalam kesempatan rekreasi, para peserta dengan spontan mempersembahkan tarian-tarian khas daerah masing, tanpa menggunakan busana tarian. Dampaknya, banyak ember plastik yang jebol karena dijadikan gendang. Perlu diperhatikan bahwa suku Ma’anyan, Dusun, Teboyan pada umumnya menggunakan tambur, gong dan bonang untuk iringan tarian, sedangkan suku Ngaju banyak menggunakan alat musik karungut, sejenis gitar kecil dengan tiga senar.</p>
<p>Suatu sore, sebuah grup tarian khas Ma’anyan mempresentasikan upacara syukur panen dalam bentuk tarian yang sangat indah. Gerak tarian mereka menggunakan unsur dasar tarian sub-suku Ma’anyan. Dan alangkah indahnya kalau upacara ini di-inkulturasi-kan dalam upacara syukur panen Katolik.<br />
Setelah rangkaian loka karya selesai, kami masih mengunjungi beberapa desa untuk menemui beberapa tokoh adat yang masih banyak mengetahui mengenai budaya setempat.<br />
Loka karya pertama ini bisa menelorkan tidak kurang dari 15 (lima belas) lagu dengan warna budaya sub-suku Ma’anyan, Dusun, Teboyan dan Ngaju’. Sekarang kebanyakan dari para komponis etnis sub suku tsb telah dipanggil Tuhan dan mereka telah merintis sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Perhatian pemerintah untuk mengembangkan budaya sekarang telah membangkitkan lagi upaya pengembangan dan penggalian budaya setempat.</p>
<p>Samarinda, 20 Januari 2011<br />
P. Frans Huvang Hurang MSF<br />
Paroki st. Lukas, Samarinda.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/521/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=521&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/04/03/menggali-harta-karun-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khotbah Misa Syukur HUT Ke-94 Mgr. Demarteau MSF &#8211; 24 Jan 2O11</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/31/khotbah-misa-syukur-hut-ke-94-mgr-demarteau-msf-24-jan-2o11/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/31/khotbah-misa-syukur-hut-ke-94-mgr-demarteau-msf-24-jan-2o11/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Jan 2011 23:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Unio Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi dan Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsialat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Dari perjumpaan dengan Mgr. Demarteau MSF, salah satu hal yang saya pelajari bagi kehidupan saya (sekurang-kurangnya) dari pribadi Beliau adalah upaya tak kenal putus dan tak kenal lelah untuk membuat hidup menjadi &#8220;tidak berkarat&#8221;. Ketakberkaratan itu terjadi karena Mgr, Demarteau &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/31/khotbah-misa-syukur-hut-ke-94-mgr-demarteau-msf-24-jan-2o11/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=516&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari perjumpaan dengan Mgr. Demarteau MSF, salah satu hal yang saya pelajari bagi kehidupan saya (sekurang-kurangnya) dari pribadi Beliau adalah upaya tak kenal putus dan tak kenal lelah untuk membuat hidup menjadi &#8220;tidak berkarat&#8221;. Ketakberkaratan itu terjadi karena Mgr, Demarteau mengisi kehidupannya dengan membaca dan menulis. Dengan cara itu, seperti yang pernah dikatakan oleh Mgr. Demarteau sendiri, otak Beliau menjadi tidak berkarat, dan karenanya hidupnya pun menjadi tidak berkarat. Hampir semua orang yang mengenal Mgr, Demarteau tahu bahwa dalam usia yang ke-94 ini banyak hal dalam kemampuan fisik Mgr, Demarteau sudah menurun, tapi hidupnya sebagai pribadi tidak menurun; tidak berkarat. Pastilah hal itu bukan baru saja te{adi dalam kehidupan Mgr. Demarteau. Pilihan menjadikan hidup tidak berkarat adalah sebuah proses panjang dalam kehidupan yang dilatih terus-menerus, Beliau membuat pilihan dan menekuninya.<span id="more-516"></span>Disisi yang lain, pilihan dan ketekunannya itu ditopang dengan iman dan doanya<br />
yang tidak pernah putus. Ketika beberapa waktu yang lalu Beliau sempat kritis dan saya harus memberikan kepadanya Sakramen Minyak Suci, semua yang hadir disekitar Beliau saat itu menangis. Satu-satunya orang yang tidak menangis adalah Beliau sendiri.</p>
<p>Dengan demikian, bukan hanya otaknya yang tidak berkarat, tetapi imannya pun<br />
tidak berkarat. Semuanya itu membuat hidupnya yang hari ini genap 94 tahun tidak berkarat.</p>
<p>Hari ini Bunda Gereja yang kudus merayakan peringatan wajib atas St. Fransiskus dari Sales, uskup dan pujangga Gereja. Kita sendiri di paroki Banjarbaru ini berdevosi kepada Keluarga Kudus Nazareth. Mereka adalah orang-orang (kalau tidak mau dikatakan tokoh-tokoh) yang tidak berkarat hidupnya. Apa buktinya hidup mereka tidak berkarat? Buktinya adalah hidup mereka tidak pernah lekang oleh zaman. Sampai dengan sekarang orang selalu dapat meneladan St. Fransiskus de Sales dan Keluarga Kudus Nazareth untuk membangun hidup yang berkenan di hadapan Allah.</p>
<p>Kalau hidup seorang Bapak atau seorang ibu tidak berkarat, maka ia akan dapat<br />
menjadi teladan yang kuat bagi anak-anaknya.  Kalau hidup seorang imam atau<br />
seorang religius tidak berkarat, maka ia dapat memberikan teladan dan<br />
memperkembankan umat yang dipercayakan Allah kepadanya. Kalau hidup para<br />
imam, para religius dan keluargn-keluarga katolik tidak berkarat, maka Beelzebul<br />
dalam berbagai bentuknya di dunia modern ini tidak akan pernah bisa<br />
menghancurkan atau memecah belah kehidupan para imam, para religius dan<br />
keluarga-keluarga katolik.</p>
<p>Mari kita tanya dan renungkan: sejauh mana hidup kita ini tidak berkarat? Amin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/516/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=516&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/31/khotbah-misa-syukur-hut-ke-94-mgr-demarteau-msf-24-jan-2o11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KELUARGA KUDUS NAZARETH  CERMIN PELAYAN KREATIF</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/19/keluarga-kudus-nazareth-cermin-pelayan-kreatif/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/19/keluarga-kudus-nazareth-cermin-pelayan-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 09:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi dan Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[“Dengan mengarahkan pandangan  yang sabar dan penuh kasih kepada seseorang, sebuah benda, sebuah situasi,kita mencapai pengertian yang semakin benar dan karena itu kita seakan-akan dengan sendirinya sudah tahu apa yang wajib kita lakukan.” (Iris Murdoch ) Manusia seringkali terperangah dengan &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/19/keluarga-kudus-nazareth-cermin-pelayan-kreatif/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=509&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Dengan mengarahkan pandangan  yang sabar dan penuh kasih kepada seseorang, sebuah benda, sebuah situasi,kita mencapai pengertian yang semakin benar dan karena itu kita seakan-akan dengan sendirinya sudah tahu apa yang wajib kita lakukan.” (Iris Murdoch )</em></p>
<p>Manusia seringkali terperangah dengan sistem dan cara kerjanya sendiri. Bahkan tidak jarang pula manusia jatuh dalam pemiskinan dan arogansi moral yang berlebihan. Anak-anak yang mulai khawatir bahkan lari dari kehidupan orang tuanya. Ayah, ibu, maupun anak-anaknya mulai bertindak tanpa dilandasi dengan sebuah nilai-nilai moral yang benar. Pimpinan yang selalu menuntut ini dan itu tanpa dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasionalistis. Anggota-anggota Gereja yang mulai enggan untuk mengikuti kegiatan peribadatan, dan lain sebagainya. Terhadap fakta-fakta ini Romo Magnis Suseno, S.J.  mengatakan demikian: “manusia mewujudkan nilai moral bukan dengan memperhatikan realitas  melainkan dengan bertekad untuk  bertindak secara moral. Dalam dunia kersang bebas tanpa nilai itu kehendak bergerak secara lepas, terisolasi tanpa substansi, bak bayang-bayang berpegang pada bayang-bayang, sebuah solipsisme moral yang menyedihkan”.<span id="more-509"></span></p>
<p>Kita umat Kristiani turut prihatin atas kemerosotan-kemerosotan yang terjadi akhir-akhir ini. Atas dasar sebuah realitas dan fakta yang demikian perlulah kita menggali kembali apa yang menjadi pedoman dan spiritualitas dalam melakukan sebuah karya pelayanan baik dalam keluarga, komunitas, Lingkungan tempat tinggal maupun dalam lingkungan kerja. Kita perlu menimba kembali hal-hal yang menjadi dasar spiritualitas kita dalam melakukan sebuah karya pelayanan, dalam memaknai kehidupan. Bertepatan dengan hal tersebut, dalam bulan Desember ini kita merayakan dua perayaan besar yakni perayaan Natal dan Tahun Baru   dan pesta Keluarga Kudus Nazareth. Karena itu dalam artikel kecil ini saya mencoba untuk menggali Spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth dalam kerangka karya pelayanannya di dunia ini.</p>
<p><strong>Hakekat Keluarga</strong><br />
Keluarga merupakan persekutuan antara orang tua dan anak-anak. Keluarga dapat disebut sebagai lembaga sosial alami. Sebab kebutuhan dan keterikatan anak-anak, kasih sayang dan usaha-usaha alami dari orangtua serta ikatan-ikatan darah dengan semua kekerabatan badani dan rohani mampu menyatukan dan melampaui berbagai macam rintangan. Sasaran dan tugas-tugas keluarga ini berupa membesarkan anak-anak serta memperhatikan kebutuhan sehari-hari para anggotanya.  Dapat kita katakan bahwa terdapat 3 fungsi utama keluarga yakni Pertama,  keluarga adalah satuan ekonomi dasar. Sebagai satuan ekonomi dasar keluarga menyediakan bagi manusia kebutuhan sehari-harinya akan makanan, perumahan dan pakaian. Semua yang termasuk dalam keluarga bersangkutan dan yang mampu menyumbangkan kerja atau pendapatan mereka untuk perawatan rumah tangga diharapkan terlibat dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga tersebut.<br />
Kedua, Keluarga adalah satuan pendidikan dasar. Perkembangan intelektual dan moral pribadi manusia amat bergantung pada pendidikan di dalam keluarga. Dalam keluarga inilah masing-masing individu anak menerima pengetahuan dan pemahaman pertama tentang dunia di sekitarnya. Dalam keluarga inilah mereka pertama kali diajarkan tentang cinta kasih timbal balik tanpa pamrih. Di dalam kehidupan keluarga ini juga mereka mengalami berbagai macam nilai-nilai kehidupan seperti keadilan, kesediaan untuk menolong sesama, tenggang rasa, kejujuran, keikhlasan, ketekunan dan lain sebagainya.  Pendidikan yang dialami ini tidak hanya dirasakan oleh pihak anak semata tetapi juga membawa serta pengaruh edukatif bagi orang tua itu sendiri. Orang tua ditantang untuk menampilkan kemampuan dirinya yang terbaik guna menggapai tujuan agung dan mulia yakni sebuah keluarga yang bahagia. Tanggungjawab orang tua merupakan suatu stimulus bagi orang tua itu sendiri. Demikianlah “anak-anak dengan cara mereka sendiri ikut serta menguduskan orang tua mereka” (GS 48).<br />
Ketiga, Keluarga adalah persekutuan spiritual dasar bagi manusia. Kehidupan keluarga yang berlandaskan pada kasih, kepercayaan, penghormatan dan penghargaan dapat membawa sebuah wahana spiritual. Di sana terdapat sebuah sikap yang saling bertukar pendapat, keyakinan, nilai dan tingkah laku, sharing pengalaman kegembiraan dan dukacita, keberhasilan dan cobaan, kerinduan untuk berkomunikasi, bersahabat, keindahan, permainan,dan rekreasi. Hal-hal tersebut   tidak ditemukan dalam kelompok manapun selain mendapat kepenuhannya yang paling dasar dalam lingkaran orangtua, saudara-saudari dan sanak kerabat. Keluarga menyediakan sentuhan pribadi, lingkungan insani yang hangat, persahabatan dan kasih sayang yang sangat dibutuhkan orang dimana saja. Keluarga adalah rumah tangga iman yang dipanggil untuk mewariskan iman para leluhur, membudidayakan tradisi keagamaan serta menterjemahkan keyakinan-keyakinan religius ke dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tradisi dan perayaan ini memberi kepada keluarga suatu cita rasa keikatsatuan dan jati diri religius.</p>
<p><strong>Keluarga Kudus Nazareth</strong><br />
Dalam lingkup keluarga,  Yusuf, Maria dan Yesus mengalami dan merasakan kepenuhan akan kebutuhan jasmani maupun rohani yang sangat mendalam. Berdasarkan pada latarbelakang masing-masing, mereka diutus untuk bersatu membentuk sebuah keluarga baru yang di dalamnya saling memberi dan menerima, mendidik dan dididik. Mereka saling belajar satu sama lainnya baik dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan maupun dalam meningkatkan perkembangan rohaninya. Walau mereka memiliki keterikatan batin yang kuat namun ketiganya tetaplah pribadi-pribadi yang tidak melebur dalam pribadi yang lainnya. Masing-masing tetap memiliki kekhasannya, pribadi yang mandiri dan utuh serta yang memiliki perannya masing-masing. Dalam pemahaman yang lebih jauh, mereka memiliki kesamaan  problem yang membutuhkan keterlibatan dari masing-masing pribadi mereka. Kepadanya, masing-masing mereka harus mampu mengambil sebuah tindakan tegas untuk ikut serta dalam karya keselamatan Allah atau tidak. Karena itu dalam kebebasan, tanpa paksaan dari apapun  dan siapapun keputusan penting harus mereka ambil. Sambil berdiri dihadapan misteri Ilahi, mereka menemukan bahwa mereka hanya mempunyai satu hidup yang harus dihidupi yakni hidup demi Allah. Menerima kenyataan tersebut dan menghayatinya berarti mereka menerima rahmat dan menemukan bahwa semua yang dari kehidupan adalah baik.<br />
Kehadiran Keluarga Kudus Nazareth ini diawali dengan memperlihatkan tokoh Yusuf keturunan Daud yang kemudian menurunkan daftar silsilah Yesus. Laki-laki yang rendah hati ini berdiri pada awal dan fajar keselamatan. Dialah yang menurut hukum Yahudi memberikan kaitan Yesus dengan umat Israel. Pribadi Yusuf  dipilih Allah untuk menjadi ayah biologis dari Yesus. Pilihan Allah terhadap Yusuf ini tidak hanya didasarkan pada sebuah  sikap kebetulan semata, yang pada waktu itu dia sedang bertunangan dengan Maria tetapi juga karena merupakan rencana yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri. Injil Matius menegaskan bahwa manusia Yesus termasuk  dalam deretan keluarga-keluarga dan generasi-generasi Daud yang rajawi, ahli waris janji-janji mesianik. Seorang Mesias yang akan datang berasal dari keturunan Daud (Mat 1:1-17). Tokoh Yusuf kemudian dihadapkan pada sebuah pilihan hidup yang sangat penting. Ikut terlibat dalam tawaran yang telah Allah berikan kepadanya, yakni untuk menjadi Bapa bagi penyelamat dunia ataukah tidak. Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memutuskan apakah ia tetap mengambil Maria sebagai istrinya dengan konsekuensi bahwa menerima Maria yang telah mengandung ataukah tidak. Berkat kekuatan dan peneguhan malaikat yang datang melalui mimpinya, ia memutuskan untuk tetap mengambil Maria  sebagai istrinya. Kepercayaan dan penyerahan diri secara total dalam rencana karya penyelamatan Allah ini memberikan konsekuensi kepadanya untuk berani bertanggungjawab terhadap keputusan yang telah dipilihnya tersebut. Sebagai seorang kepala keluarga ia harus mampu menjaga, melindungi, mendidik dan memberikan nafkah kepada keluarganya. Kenyataannya bahwa Ia dengan setia dan penuh iman menaruh seluruh kepercayaannya kepada Allah. Bersama Maria istrinya yang sedang mengandung, ia pergi ke Bethlehem untuk mendaftarkan diri kepada Kaisar dan mencari penginapan bagi istrinya untuk melahirkan Putra pertamanya. Dalam pencariannya, tidak satupun tempat penginapan yang mau menampung istrinya sehingga kandang dombapun dijadikannya sebagai tempat penginapan. Tidak hanya itu, sesudah kelahiran puteranya, ia diajak Tuhan untuk membawa keluarganya ke tanah Mesir yang kemudian menetap di Nazareth. Dengan kata lain, berkat kesetiaan, kepercayaan dan penyerahan dirinya secara total kepada Allah,  Ia memberanikan dirinya untuk mau menanggung segala resiko dan terus menerus mencari kehendak Allah bagi dirinya.<br />
Maria, yang dalam kerendahan hatinya, mampu menjadi suri teladan bagi keluarganya. Maria adalah makhluk yang tiada duanya dalam dirinya sendiri dan yang mempunyai relasi dengan Allah  secara istimewa. Maria dilukiskan oleh para penginjil sebagai seorang tokoh yang unggul. Keunggulannya nyata dalam cara hidup dan sikap hatinya yang miskin serta rendah hati di hadirat Allah (Luk 1:38). Para penginjil menyebut Maria sebagai kaum anawim yakni kaum yang merasa diri bukan apa-apa dan tidak mempunyai apa-apa di hadapan Allah. Semua harapan mereka ada di hadapan Allah dan hanya dalam Dia mereka mencari dan menemukan keselamatan kekal. Atas dasar imannya, Maria mengenal cara Allah terlibat dalam sejarah hidup umat pilihannya. Tindakan Allah seperti menciptakan alam semesta, membebaskan bangsa terpilih, penyeberangan laut merah, mukjizat-mukjizat di padang gurun dijadikan sebagai sasaran madah pujian bagi Allah (Luk1:46-55). Karena itu Allah berkenan memberikan kerelaan dan memberkatinya. Bentuk konkret rahmat Allah dan penyertaan Allah dalam dirinya dirasakan oleh orang lain. Melalui dirinya kehadiran Allah semakin dirasakan  melindungi, menyelamatkan, menggembirakan, dan memuaskan kerinduan. Elisabeth saudarinya menyebutnya berbahagia. Sebab, Allah telah mempercayakan tugas pelayanan yakni menjadi Bunda Ilahi dan rencana Allah tersebut diterimanya dengan rela hati.<br />
Kesatuan Maria dengan Puteranya, Yesus Kristus terjalin dalam iman dan kasih (LG 53). Cinta kasih yang tiada taranya dan yang dibangun atas dasar penyerahan total kepada Allah. Walaupun kehidupannya begitu dekat dengan Allah dan Putranya Yesus, namun Maria yang bereksistensi di dunia tetap merupakan sebuah peziarahan iman. Artinya, Maria masih terus mencari jalannya rencana Allah yang tidak diberitahukan terlebih dahulu. Maria tidak pernah luput dari segala problem penderitaan dan godaan. Namun Ia menjadi teladan bagi para beriman sebab ditengah duka derita insani, ia tetap mempertahankan pengabdiannya kepada Tuhan. Ia tidak pernah melarikan diri dari kesulitan-kesulitan yang muncul sebagai konsekuensi imannya. Bahkan ia dituntut untuk tetap setia pada Tuhan hingga peristiwa penyaliban Puteranya dan Maria mampu melaksanakannya dengan sepenuh hatinya.<br />
Yesus sebagai Putera dari Maria danYusuf  hidup dan dididik dalam pengalaman dan pengaruh iman yang teguh. Walau secara rohani Ia adalah Putera Allah, namun secara manusiawi Ia tetap tunduk dan taat kepada kedua orang tuanya.  Ia mau diasuh dan dididik oleh manusia dalam wujud Yusuf dan Maria. Secara ekonomis Ia tidak mengalami kekurangan sebab ayahnya seorang tukang kayu. Tukang kayu pada zaman itu seringkali digolongkan ke dalam kelompok kelas menengah ke atas. Secara pendidikan Ia dididik dan dibesarkan dalam tradisi Yahudi. Sehingga seluruh pengalaman inderawinya itu sungguh-sungguh terpatri dalam diriNya. Dan secara spirituil Ia sungguh merasakan cinta dan kasih yang begitu besar dari kedua orang tuanya. Cinta kasih yang mengarahkan dirinya untuk sungguh-sungguh mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah BapaNya melalui peristiwa penyaliban. Sebuah pengorbanan yang tak dapat dinilai dengan apapun. Cinta kasih inilah yang pada akhirnya menjiwai seluruh kehidupan pribadi dan ajaranNya.<br />
Walau posisinya sebagai anak, namun Yesus tetap memberikan pengaruh positif bagi keluarganya. KedudukanNya sebagai Putera Allah meneguhkan Iman kedua orang tuanya. Kedua orangtuanya sungguh merasakan kehadiran Allah yang begitu dekat bahkan sekaligus terlibat aktif dalam kehidupan mereka. Di dalam keluarga yang sederhana itu, Allah Putra, Imam abadi utusan Bapa, menjadi manusia. Ia memancarkan cahya kabar gembira dengan tidak  membiarkan mereka menghadapi kesulitan dan tantangan hidup sendirian.<br />
Atas dasar inilah hubungan cinta kasih timbal balik antara ayah, ibu dan anak terjalin. Keluarga Kudus Nazareth saling hormat penuh cinta, bersatu dan berdoa bersama. Dalam  keluarga Nazareth yang beriman itu, tampak gambaran manusia yang hidup dalam pelayanan, kerukunan dan kedamaian.  Yesus, Maria dan Yosef merupakan  pribadi-pribadi yang sungguh murni dalam kesetiaan, iman, pengharapan dan pelayanan. Mereka mampu menangkap dan menjawab panggilan Tuhan.</p>
<p><strong>Cinta </strong><br />
Gabriel Marcel menyatakan demikian  bahwa hubungan manusia dengan manusia lain selalu ditandai dengan kata “kehadiran”.  Kehadiran di sini tidak diartikan sebagai berada ditempat yang sama dalam kategori-kategori ruang dan waktu melainkan komunikasi antara dua orang  tanpa mencapai taraf kehadiran. Keduanya baru dapat dikatakan hadir bila mereka saling mengarahkan diri satu sama lain dengan cara yang berbeda dari cara mereka menghadapi objek-objek. kehadiran orang lain yang oleh Immnuel Levinas menyebutnya sebagai pertemuan kita dengan “mukanya” membawa kita melampaui ciri-ciri fisiknya. Dalam muka ini, orang lain menyatakan diri sebagai betul-betul yang lain dari saya. Muka sabagai muka ini tidak dapat kita kuasai, kita pegang (hidung, mulut) ataupun diperbudak. Hal yang dapat dilakukan berhadapan dengan muka ini adalah hanya dengan meniadakannya (ia dibunuh). Namun dalam ketelanjangan dan ketidakberdayaan muka itu menyampaikan himbauan ampuh yakni “jangan membunuh”. Karena itu, dalam setiap pertemuan dengan orang lain dan sebelum segala sikap dan komunikasi yang sengaja, kita berhadapan dengan tuntutan dasar etika yakni “Jangan Membunuh Aku!”.<br />
Sebaliknya dalam pandangan satu-satunya yang membawa ke individu-individu tertentu hanya dapat ditangkap dan direalisasikan melalui dan di dalam yang oleh Max Scheler menyebutnya sebagai sikap cinta. Jadi nilai persona sebagai individu hanya dapat kita tangkap melalui cinta. Mencintai memberikan sebuah pendasaran melampaui segala rasionalisme-rasionalisme belaka (sifat-sifatnya perbuatannya, tindakannya, kelakuannya). Masing-masing fakta tersebut terus menerus berubah atau bahkan menghilang tanpa kita dapat berhenti mencintai pribadi itu. Karena itu alasan yang terus menerus berganti-ganti yang suka kita berikan kepada kita sendiri, mengapa kita mencintai seseorang, menunjukan bahwa alasan-alasan itu hanya dicari-cari belakangan dan diantaranya tidak ada yang sungguh-sungguh menjadi alasannya. Kesatuan persona yang dialami tidak dapat dikenal dan tidak dapat ditangkap dalam pengetahuan objektif semata. Persona hanya dapat kita tangkap apabila kita “ikut melaksanakan” sikap-sikapnya dari sudut pengetahuan dalam “pengertian” dan dalam “ikut mengalami” yang secara etis “menjadi pengikut”.</p>
<p><strong>Pelayanan Kristiani</strong><br />
Dalam ajaran Kristiani, kasih kepada sesama mempunyai warna yang khas. Ketika ditanyai oleh seorang ahli Taurat, manakah hukum yang paling utama, Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; itulah hukum yang pertama dan utama. Dan hukum yang kedua adalah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:37-39). Mengasihi Allah dan mengasihi sesama merupakan sebuah sikap yang dituntut oleh orang yang menyebut dirinya sebagai pengikut Kristus. Mengasihi Allah harus diimbangi juga dengan sikap mengasihi sesama. Sebab ia tidak mungkin mampu mengasihi Allah yang tidak dilihatnya sebelum ia mengasihi saudara yang dilihatnya. Karena itu Yesuspun berkata: “Aku mengasihi Allah dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta” (1Yoh 4:20).<br />
Dalam kasih kepada sesama kasih kepada Allah menjadi nyata. Kasih kepada sesama merupakan pengejewentahan kasih kepada Tuhan. “Barang siapa mengasihi sesama manusia ia sudah memenuhi hukum kasih (Rm.13:8.10). Allah sungguh menjadi nyata dalam diri sesamanya. Maka ia ditantang untuk tidak hanya berhadapan dengan kehidupannya semata melainkan juga harus berhadapan dengan kehidupan orang lain. Ia harus “memandang sesama tanpa kecuali, sebagai dirinya yang lain terutama dengan mengindahkan perihidup beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan untuk hidup yang layak.” (Gaudium et Spes 27).<br />
Henri J.M. Nouwen menyatakan setiap orang Kristiani adalah pelayan yang berusaha untuk hidup dalam terang Injil Yesus.  Pelayanan memuat pemahaman  bahwa sebuah usaha yang dilakukan sendiri, dengan kepahitan dan kegembiraannya, putus asa dan harapannya, siap dipakai oleh mereka yang ingin menggabungkan diri dalam pencarian itu tetapi tidak tahu jalannya.  Oleh karena itu pelayanan sama sekali bukanlah suatu hak istimewa. Sebaliknya pelayanan adalah inti hidup kristiani. Tidak seorangpun dapat disebut Kristiani  jika dia bukan seorang pelayan. Masing-masing orang Kristiani, imam dan umatnya dapat menjadi pembawa pelayanan dalam perubahan sosial tanpa harus terperangkap dalam manipulasi dunia yakni dalam bahaya kekuasaan dan kesombongan. Menurutnya terdapat tiga perspektif perubahan yakni Pertama, Perspektif Harapan. Pengharapan yang dimaksudkan bukanlah sebuah pengharapan yang bersifat fisik semata yakni berfikir agar apa yang diinginkan terpenuhi. Seolah-olah menantikan Santa Clause yang tugasnya memenuhi semua keinginan dan kebutuhan khusus. Jika keinginan konkret ini tidak terpenuhi maka kekecewaan, sakit hati, marah atau tidak peduli mulai menghinggapi dirinya sendiri. Dalam hal ini Nouwen mengkritik keras sikap para pelayan Kristiani dan imam yang menjadi korban dari cara berpikir ini. Karena itu menurutnya yang paling hakiki bagi harapan adalah menginginkan sesuatu, tetapi kita berharap pada. Dalam pengharapan orang tidak menuntut jaminan, tidak menetapkan sejumlah syarat untuk tindakannya, tidak meminta tanggungan tetapi menantikan segala sesuatu dari yang lain tanpa memberi batas pada kepercayaannya. Orang yang penuh harapan dapat memberikan seluruh tenaga, waktu dan kemampuannya bagi orang-orang yang dilayaninya. Dia tidak cemas akan hasil kerjanya sebab dia percaya bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janjinya.<br />
Kedua, Kesediaan menerima yang kreatif. Dengan mengembangkan kesediaan untuk menerima dalam diri sendiri maupun orang lain  seorang pelayan Kristiani dapat mencegah agar orang tidak jatuh dalam godaan kekuasaan.<br />
Ketiga, Berbagi tanggung jawab. Menjadi pembawa perubahan sosial, berarti siap berbagi kepemimpinan dengan orang lain. Konsekuensinya bahwa tidak ada satu pemimpin yang bekerja sendiri tanpa melibatkan orang lain dalam pekerjaannya.<br />
Atas dasar pelayanan kasih, pelayanan Kristiani akan mencapai puncaknya ketika teringat akan sabda Yesus “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13). Mengapa orang mau memberikan hidupnya bagi sahabat-sahabatnya? Satu jawaban yang dapatdiperoleh yakni untuk memberikan hidup baru. Semua funsi pelayanan adalah memberikan hidup baru. Semua bertujuan untuk membuka perspektif baru, menawarkan pemahaman baru, memberikan kekuatan baru, memutuskan rantai kematian dan kehancuran, dan menciptakan hidup baru yang dapat diakui. Dalam arti semua ini mengajar, berkotbah, pelayanan pastoral, berorganisasi dan merayakan merupakan tindakan pelayanan yang melebihi keahlian profesional. Sebab dalam tindakan-tindakan itu pelayan dituntut untuk memberikan hidupnya bagi sahabat-sahabatnya. Mengajar menjadi pelayanan jika guru melangkah lebih jauh daripada sekedar menyampaikan ilmu. Ia bersedia memberikan pengalaman hidupnya sendiri kepada muridnya sehingga kecemasan yang melumpuhkan dapat disingkirkan, pemahaman yang membebaskan dapat terjadi dan belajar yang sesungguhnya dapat berjalan. Kotbah menjadi pelayanan jika pengkotbah melangkah lebih jauh daripada sekedar “menceritakan kisah” dan membuat diri pribadinya yang paling dalam  tersedia bagi para pendengarnya mereka mampu menerima sabda Allah. Pastoral menjadi pelayanan jika  orang yang menyediakan dirinya untuk menolong melangkah lebih jauh dari sekedar menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima. Kesediaan untuk mengambil resiko atas hidupnya sendiri dan tetap setia pada kawanannya yang menderita, juga kalau nama dan ketenarannya berada dalam bahaya. Organisasi menjadi pelayanan jika orang yang berorganisasi melangkah lebih jauh daripada sekedar menginginkan hasil yang nyata  dan memandang dunianya dengan harapan yang tak pernah padam untuk diperbaharui seutuhnya. Perayaan menjadi pelayanan jika orang yang memimpin perayaan melangkah lebih jauh daripada sekedar upacara-upacara yang memberikan rasa aman dan ketaatan aturan formalitas belaka menuju ke penerimaan yang taat kepada kehidupan sebagai anugerah. Oleh karena itu, kalau orang ingin menjadi seorang pelayan, hendaknya dia bergembira dengan membuat  kelemahannya menjadi kebanggaannya sehingga kekuasaanYesus tinggal dalam dirinya… karena jika ia lemah maka ia kuat. (2Kor12:9-10).</p>
<p><strong>VIKTOR SATU  S.S.</strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong><br />
Henri J.M. Nouwen, Pelayanan yang Kreatif, Kanisius 1986<br />
Dokumen Konsili Vatikan II<br />
Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi, Kanisius 1996.<br />
Proff. Ignasius Suharyo, Pr., Dunia Perjanjian Baru, Kanisius 1991<br />
Karl-Heinz Peschke, SVD., Etika Kristiani Jilid III: Kewajiban Moral dalam  Hidup Pribadi, Ledalero 2003<br />
Etika Kristiani Jilid IV: Kewajiban Moral dalam  Hidup Pribadi, Ledalero 2003<br />
K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX jilid II: Prancis, PT. Gramedia Pustaka Utama 1996.<br />
A. Eddy Kristiyanto, OFM., Maria dalam Gereja: Pokok-Pokok Ajaran Konsili Vatikan II Tentang Maria dalam Gereja Kristus, Kanisius 1987<br />
Franz magnis Suseno, Etika abad kedua Puluh, Kanisius 2006<br />
Dr. Nico Syukur Dister, OFM., Kristologi: Sebuah Sketsa, Kanisius 1987.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=509&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/19/keluarga-kudus-nazareth-cermin-pelayan-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENDENGAR SUARA RAKYAT</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/19/mendengar-suara-rakyat/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/19/mendengar-suara-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 22:46:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa ini semakin hari seakan berjalan menuju lorong gelap demokrasinya. Produk hukum banyak kali melukai rasa keadilan. Pengelolaan ekonomi dan sumber daya alam gagal menyejahterakan rakyat. Integritas diri para pengambil kebijakan publik hilang oleh godaan kekuasaan dan korupsi. Yang ditunjuk &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/19/mendengar-suara-rakyat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=507&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangsa ini semakin hari seakan berjalan menuju lorong gelap demokrasinya. Produk hukum banyak kali melukai rasa keadilan. Pengelolaan ekonomi dan sumber daya alam gagal menyejahterakan rakyat.<br />
Integritas diri para pengambil kebijakan publik hilang oleh godaan kekuasaan dan korupsi. Yang ditunjuk sebagai penyebab segala persoalan itu adalah lemahnya karakter sebuah bangsa (Kompas, 8/1).<br />
Namun, keprihatinan yang kiranya lebih mendasar adalah semakin terabaikannya suara rakyat di satu pihak dan tidak dibukanya ruang bagi partisipasi politik rakyat di pihak lain.<br />
Sekali rakyat memberi atau ”dibeli” suaranya, seakan tamatlah haknya untuk didengarkan. Pemerintah menjadi pemain tunggal dan rakyat terus dijadikan penonton yang cemas tetapi tidak berdaya mengubah kesengsaraan nasib.<br />
<span id="more-507"></span>Bangun masyarakat sipil<br />
Pembangunan bangsa masih melupakan satu aspek penting yang menjadi penopang utama demokrasi, yakni pembangunan masyarakat sipil (civil society) yang kuat.<br />
Masyarakat sipil merupakan masyarakat yang bebas dari ketergantungan pada negara dan pasar, percaya diri, mandiri, sukarela, serta taat terhadap nilai dan norma-norma dalam negara hukum (Damsar, Pengantar Sosiologi Politik, 2010: 126).<br />
Surat Devina di harian Kompas yang kemudian membongkar isu Gayus Tambunan, pegawai pajak berstatus tahanan yang bisa pelesir ke luar negeri, merupakan bentuk partisipasi rakyat dalam masyarakat sipil yang berfungsi secara baik. Sayangnya, kontrol rakyat atas kekuasaan seperti itu jarang dialami sebagai peristiwa harian dan kini masih menjadi khayalan karena kedaulatan hukum di negeri ini telah diganti kedaulatan uang. Rakyat atau mereka yang bersikap kritis biasanya justru terkena teror atau yang lebih ringan dicap sebagai ”barisan sakit hati”.<br />
Jonathan Sacks benar ketika menegaskan bahwa, dalam era demokrasi liberal, masyarakat sipil sering merupakan satu-satunya yang mampu membendung ancaman kekerasan dari negara (politik) dan pasar (ekonomi). Keadaan ini terjadi ketika politik tidak memihak rakyat dan ekonomi hanya menguntungkan segelintir orang (Jonathan Sacks, The House We Build Together, 2007: 187).</p>
<p>Partai saling kunci<br />
Kini publik menyaksikan partai-partai politik ”saling mengunci” untuk tidak membuka borok karena sama-sama terlibat dalam berbagai kasus yang merugikan rakyat. Kenyataan itu tecermin pula dalam hasil jajak pendapat yang mengungkapkan adanya ketidakpuasan publik (75,3 persen responden) terhadap kinerja partai-partai politik yang dianggap gagal memperjuangkan aspirasi masyarakat (Kompas, 10/1).<br />
Terlukanya rasa keadilan masyarakat oleh berbagai keputusan, yang lebih didasarkan oleh hukum tanpa nurani dan berbagai salah kelola kekuasaan sehingga membuat rakyat terus menderita, telah menimbulkan kecemasan akan munculnya kekacauan jika kesabaran rakyat hilang. Dikhawatirkan muncul revolusi atau ancaman kediktatoran baru yang bisa menjawab kerinduan akan kurangnya kepemimpinan berwibawa saat ini.<br />
Masyarakat sipil yang berfungsi baik justru menjadi penyeimbang arogansi pejabat negara dengan mengajukan pertanyaan kritis atas jalannya kebijakan publik. Masyarakat sipil mampu merajut kepercayaan dan tanggung jawab sosial yang memungkinkan masyarakat berfungsi lebih efektif. Ia menjadi modal sosial yang ikut memengaruhi pengambilan keputusan politik yang prokesejahteraan umum (Ronald Jacobs, Civil Society, 2006: 27-29).<br />
Sistem demokrasi yang menjamin kedaulatan rakyat hendaknya ditegakkan jika bangsa ini ingin terselamatkan dari ancaman kekacauan sosial yang mengintai. Negeri ini tidak perlu menunggu semakin banyak rakyat kecil membunuh diri karena beban hidup yang berat atau tewas keracunan makan tiwul. Karena itu, para pemimpin, dengarkanlah suara rakyat. Jika yakin vox populi, vox Dei (suara rakyat, suara Tuhan), janganlah tuli terhadap teriakan mereka.</p>
<p>Buktikan komitmen<br />
Para pemimpin agama telah mengangkat keprihatinan itu dengan meminta pemerintah untuk ”bersikap jujur” kepada rakyat. Mereka mendesak pemerintah membuktikan komitmen dalam beragam persoalan mendasar, seperti penegakan hukum, pemberantasan korupsi, tenaga kerja, penghormatan hak asasi manusia, dan peningkatan kesejahteraan rakyat (Kompas, 11/1).<br />
Amat menyedihkan jika rakyat suatu bangsa akhirnya mengambil jalan pahit menggulingkan para pemimpinnya melalui jalan kekerasan karena suaranya lama diabaikan. Pemerintah seharusnya bersyukur karena rakyat sejauh ini masih memilih ”menjadi korban” atas kelalaian salah kelola ranah publik ini oleh para pemimpinnya.<br />
Dalam upaya membangun demokrasi yang kuat di negeri ini, kesediaan para pemimpin bangsa mendengarkan derita rakyat menjadi landasan meredam frustrasi sosial. Jika sikap mendengarkan ini dilanjutkan dengan upaya menumbuhkan masyarakat sipil yang kuat, rakyat akan terlibat sebagai penanggung jawab dan pemegang kedaulatan negara.<br />
Meminjam pemikiran Walter Benjamin (1892-1940), perjalanan demokrasi negeri ini akhirnya menjadi sebuah ”narasi yang ditulis oleh semua”. Alur narasi tidak lagi ditentukan oleh para penguasa, tetapi ditulis oleh seluruh masyarakat. Rakyat kecil, yang selama ini ”dibisukan” atau diabaikan suaranya, kembali menjadi pemilik kekuasaan yang sebenarnya.</p>
<p>Situasi di Tanah Air menggelitik kami menulis artikel di Kompas 19/01/2011. Yang tertarik bisa membacanya di web Kompas .</p>
<p>Paulinus Yan Olla MSF Rohaniwan, Lulusan Program Doktoral Universitas Pontificio Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma, Bekerja dalam Dewan Kongregasi MSF di Roma, Italia</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/507/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=507&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2011/01/19/mendengar-suara-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akhirilah Pembiaran Kekerasan!</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2010/09/17/akhirilah-pembiaran-kekerasan/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2010/09/17/akhirilah-pembiaran-kekerasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Sep 2010 04:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Jenderalat]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi dan Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang berakhirnya Ramadan, terjadi sebuah peristiwa langka dan menarik. Pihak-pihak yang sering berseberangan pendapat, berinsiatif mencegah kekerasan. Gerakan Peduli Pluralisme (GPP) menyelenggarakan dialog terbuka bertempat di gedung Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Cikini, Jakarta. Dialog terbuka itu dihadiri wakil-wakil dari &#8230; <a href="http://msfmusafir.wordpress.com/2010/09/17/akhirilah-pembiaran-kekerasan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=503&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang berakhirnya Ramadan, terjadi sebuah peristiwa langka dan menarik. Pihak-pihak yang sering berseberangan pendapat, berinsiatif mencegah kekerasan. Gerakan Peduli Pluralisme (GPP) menyelenggarakan dialog terbuka bertempat di gedung Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Cikini, Jakarta. Dialog terbuka itu dihadiri wakil-wakil dari KWI, Front Pembela Islam (FPI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), dan sejumlah tokoh lintas agama (Antara 1/9).</p>
<p><span id="more-503"></span><br />
Beberapa saat sebelumnya, menyambut berakhirnya Ramadan, Vatikan pun dalam pesannya mengucapkan selamat Idul Fitri kepada umat Muslim di seluruh dunia dan mengajak umat Kristiani maupun umat Muslim untuk bekerja sama menciptakan perdamaian antaragama-agama di seluruh dunia (bdk, Vatican Message to Muslims for Ramadan, no. 1, 5 dalam Zenit, 27/8).<br />
Jauh sebelumnya, Komisi Bersama untuk Dialog yang didirikan oleh Dewan Kepausan dan Komisi Tetap Al-Azhar untuk Dialog Antaragama-agama Monoteistik telah merefleksikan pula tema ini (mengatasi kekerasan antar para pemeluk berbagai agama) dalam pertemuannya di Kairo tanggal 23-24 Februari 2010.<br />
Masih dalam suasana perayaan Idul Fitri, segala usaha merajut kerukunan itu dengan mudah dinodai oleh peristiwa kekerasan berupa penusukan dan penganiayaan dua pemimpin Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pondok Timur Indah Bekasi. Peristiwa itu tidak dapat dilepaskan dari rangkaian kekerasan yang sebelumnya diderita Gereja HKBP dan rangkaian kekerasan lainnya yang mengancam kebebasan beragama namun terkesan dibiarkan pemerintah tanpa penyelesaian.<br />
Seriuskah pemerintah menjawab kecemasan warga negaranya yang terancam keamanan dan kebebasannya beribadah? Yang tampak dalam praktik di lapangan, mereka yang menjadi korban justru dijadikan kambing hitam. Dalam kejadian terakhir misalnya, Kapolres Bekasi menuduh jemaat HKBP membandel karena tidak mengikuti permintaannya untuk tidak beribadah. Kapolres yang mengetahui bakal adanya ancaman, tidak mengambil tindakan yang diperlukan untuk membendungnya, tetapi malah menempatkan diri sebagai pemberi izin pelaksanaan kewajiban keagamaan (The Jakarta Post, 13/9). Pembiaran kekerasan ini tak dapat diterima karena menjadi bentuk kekerasan negara terhadap warga negaranya. Negara gagal menjalankan salah satu fungsi minimalnya, yakni melindungi warga negaranya tanpa diskriminasi.</p>
<p>Kebiasaan Cuci Tangan<br />
Yang ditampakkan para pemimpin di negeri ini adalah kebiasaan mencuci tangan dan melempar tanggung jawab. Banyak pihak kini menanti tanggapan langsung Presiden atas kasus-kasus kekerasan yang mengancam kelompok-kelompok minoritas. Sikap penolakan Presiden seperti diperlihatkan menanggapi rencana pembakaran Alquran, kini dinanti perwujudannya dalam menanggapi kekerasan laten yang terus menggerogoti negerinya sendiri. Hendaknya pemerintah menjelaskan, mengapa Peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 8 dan 9 Tahun 2006 gagal menjamin kebebasan beribadah warga minoritas? Setara Institute mencatat ada 200 kasus pelanggaran atas kebebasan beragama sepanjang tahun 2009. Mengapa kekerasan itu kini terus berlangsung?<br />
Dalam sebuah artikelnya bulan ini, harian The New York Times (4 September 2010) menggambarkan pengalaman Amerika yang dilanda sebuah sejarah panjang ketakutan, kecurigaan serta diskriminasi bermotif agama. Penolakan atas Islamic Center di Manhattan atau protes atas rencana pembangunan masjid di Ground Zero memperlihatkan adanya pola ketakutan yang sama warga Amerika terhadap Gereja Katolik di masa lampau. Pada abad 19, Gereja Katolik dicurigai menjadi ancaman bagi demokrasi dan pada tahun 1834 ada kerusuhan massal hanya karena rumor yang tidak benar menyangkut gaya hidup para penghuni sebuah rumah biara Katolik. Ketakutan terhadap Islam saat ini pun mirip sikap anti-Yahudi tahun 1940. Dalam jajak pendapat di tahun itu, 17% warga Amerika melihat orang Yahudi sebagai ancaman bagi Amerika.<br />
Dalam konteks Indonesia, kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal yang mencederai hubungan antaragama diperparah dan dibayang-bayangi kegerahan karena banyaknya masalah dan kontroversi di ranah publik yang tidak menyejahterakan apalagi menenteramkan rakyat. Tak mengherankan Ketua Umum DPP Muhammadiyah meringkas segala masalah itu dengan menegaskan bahwa di negeri ini telah terjadi “merajalelanya tuna aksara moral, yakni buta huruf moral.” (Detik News, 6 September 2010). Buta aksara moral itu mewujud pula dalam kekerasan atas nama agama, sementara pemerintah terkesan ragu dan tidak tegas mengatasinya.<br />
Kekerasan haruslah dipahami sebagai tindakan anti-peradaban. Jika ia dibiarkan terus terjadi maka negeri ini, terutama pemerintahnya, akan terus dililit kultur kekerasan dan anti-peradaban. Filsuf Islam Pakistan, Mohammad Iqbal (1877-1938), menggambarkan Allah yang diimani orang Muslim sebagai keindahan abadi yang tercermin pada alam semesta. Ia yakin bahwa Allah adalah summum pulchrum (keindahan tertinggi). Wujud keindahan yang pertama adalah cinta atau kasih yang nampak dalam hidup manusia dan ciptaan (bdk., Mohammad Iqbal, Metafisika Persia, 1990: 93). Kasih Allah itu oleh manusia beriman diwujudkan dalam relasi harmonis dengan sesama entah ia seagama, atau pun yang berbeda agamanya.<br />
Deskripsi Iqbal dalam Islam tentang Allah ternyata sama dengan keyakinan orang Kristiani yang memahami Allah sebagai kasih, Deus caritas est. Pengalaman Iqbal maupun pengalaman Kristiani tentang Allah sebagai kasih, seharusnya memunculkan kewajiban etis dan spiritual orang beragama untuk menghindari kekerasan dan membangun perdamaian.<br />
Isu pembakaran Alquran di Amerika telah mempersatukan dan mendorong semua yang hadir dalam dialog di Indonesia, mengutuknya sebagai hal yang sungguh berlawanan dengan ajaran sehat agama-agama dunia. Kekerasan yang menyerang kebebasan beragama pun harusnya kini dikutuk sebagai hal tercela. Ia perlu segera dilenyapkan dari negeri ini karena mencederai martabat manusia dan tidak mencerminkan keindahan Allah yang adalah kasih!</p>
<p>Paulinus Yan Olla</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/msfmusafir.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/msfmusafir.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/msfmusafir.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/msfmusafir.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/503/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&amp;blog=269757&amp;post=503&amp;subd=msfmusafir&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2010/09/17/akhirilah-pembiaran-kekerasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
