<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Musafir MSF</title>
	<atom:link href="http://msfmusafir.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://msfmusafir.wordpress.com</link>
	<description>Misionaris Keluarga Kudus - Provinsi Kalimantan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 May 2009 12:58:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/48c2d61e39e016d0fa8e6b3f8ebac478?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Musafir MSF</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>“TIDAK BANYAK USKUP KATOLIK PUNYA CUCU&#8221;</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/05/28/%e2%80%9ctidak-banyak-uskup-katolik/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/05/28/%e2%80%9ctidak-banyak-uskup-katolik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 12:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Unio Banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsialat]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF
 Paroki Bunda Maria – Banjarbaru, 5 Mei 2009

Sore itu langit begitu cerah. Sekitar seribu orang umat dari 4 paroki kota (Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Veteran dan Paroki Bunda Maria Banjarbaru) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=451&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF</strong></p>
<p> <strong>Paroki Bunda Maria – Banjarbaru, 5 Mei 2009</strong></p>
<p><span id="more-451"></span></p>
<p>Sore itu langit begitu cerah. Sekitar seribu orang umat dari 4 paroki kota (Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Veteran dan Paroki Bunda Maria Banjarbaru) telah berkumpul di Paroki Bunda Maria Banjarbaru bersama 30-an orang Imam dari 4 Keuskupan di Regio Kalimantan Timur (Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Palangkaraya dan Keuskupan Tanjung Selor), para Suster, Bruder, dan Frater ikut serta berdoa dan bersyukur dalam Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 18.00 Wita dipimpin oleh Konselebran Utama Mgr. F.X. Prajasuta, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin), didampingi oleh Mgr. Petrus Boddeng Timang, Pr (Uskup Keuskupan Banjarmasin), Mgr. Florentinus Sului (Uskup Keuskupan Agung Samarinda), Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap (Uskup Keuskupan Agung Pontianak), Mgr. Isak Dora, Pr (Uskup Emeritus Keuskupan Sintang), Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF (Uskup Keuskupan Palangkaraya), Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF (Uskup Keuskupan Tanjung Selor) dan yang berbahagian Mgr. W.J. Demarteau, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin).</p>
<p>Perayaan Ekaristi ini pun terasa lebih istimewa dengan kehadiran 2 orang keponakan Mgr. Demarteau, yaitu Mrs. Nancy dan Mrs. Maryo yang datang jauh-jauh dari negeri kincir angin Belanda untuk bergembira bersama Oom mereka. “Kita berkumpul di sini bersama Mgr. Demarteau untuk memuji Tuhan atas rahmat Tahbisan Uskup 55 tahun yang lalu dan juga selama 55 tahun menjadi Uskup; tidak hanya ketika beliau pensiun, namun sesudah pensiun beliau tetap memiliki jasa yang besar bagi Keuskupan ini,” ucap Mgr. Prajasuta mengawali homili singkatnya. “Maka sudah selayaknya kita juga berterimakasih dengan Mgr. Demarteau yang telah bersedia dijadikan alat Tuhan untuk meneruskan kasih-Nya kepada umat di Keuskupan Banjarmasin, yang dahulu mencakup Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Dari beliau kita bisa belajar banyak. Bayangkan saja, ketika beliau turney waktu itu selama 6 bulan dalam perjalanan memakai perahu yang masih mendayung. Beliau juga masih mengalami medan yang amat berat dan sulit sekali, tetapi semua beliau laksanakan dengan senang hati. Semangat misioner inilah yang pantas ditiru oleh saya, para Imam dan umat sekalian. Mari kita mohon rahmat Tuhan supaya hati kita dikobarkan untuk mewartakan Kabar Gembira yaitu memeruskan kebaikan kasih Allah kepada sesama kita,” himbaunya.</p>
<p>Mgr. Prajasuta memuji figur Mgr. Demarteau sebagai figur Uskup yang sederhana dan penuh perhatian khususnya kepada orang-orang miskin. Teladan semangat hidup yang sulit ditemukan pada masa sekarang ini. “Saya pribadi sangat terkesan dengan sikap hidup beliau. Saya yakin pada hari sepuhnya, Mgr. Demarteau mendoakan kita semua. Banyak hal-hal besar yang beliau lakukan bagi kita semua, bagi Gereja Indonesia pada masa tua beliau melalui hening dan doa-doanya. Marilah kita bersyukur dikaruniai seorang pendoa seperti beliau.” Di akhir homilinya, Mgr. Prajasuta juga menyampaikan homilinya secara singkat dalam bahasa Belanda. Homili yang begitu singkat tersebut dibuka dan ditutup dengan lagu karya Mgr. Prajasuta, masing-masing lagu HATI BARU dan BERSERAH DIRI.</p>
<p>Dalam kata sambutan yang disampaikan Mrs. Nancy dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Pastor Pieter Sinnema, MSF, terungkap ucapan terimakasih yang begitu mendalam atas perhatian dan cinta yang diberikan kepada Oom mereka selama ini. “Kami berterimakasih atas nama Oom kami dan famili kepada Kongregasi MSF dan kami berterimakasih karena dilaksanakan pesta yang bagus ini. Kami juga berterimakasih karena diterima dengan tangan terbuka selama kami berada di sini. Trimakasih kepada semua umat, khususnya kepada Ibu-ibu yang merawat Oom kami. Sungguh, pesta ini menjadi cahaya tersendiri bagi kami,” ucap Mrs. Nancy menutup sambutannya.</p>
<p>Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan dalam sambutannya berujar, “Kita bersyukur kepada Allah yang telah mengutus Mgr. Demarteau untuk berkarya bagi Gereja Kalimantan. Dalam diri dan hidu Mgr. Demarteau kita dapat meneladani hidup seorang Katolik; seorang Imam Allah yang sungguh mempercayai bahwa Allah itu baik dan bahwa Allah yang baik itu akan menolong kita. Kita dapat melihat dan meneladani apa yang dinamakan kesetiaan, ketekunan dan semangat hidup untuk maju. Terimakasih atas teladan hidup yang Mgr. Demarteau berikan bagi kami semua,” tutupnya.</p>
<p>“Tidak banyak Uskup Katolik di dunia ini yang mempunyai cucu,” kata Mgr. Timang dalam sambutannya. “Beliau adalah Mgr. Demarteau; yang setelah sekian tahun menjadi Uskup, beliau kemudian mentahbiskan Mgr. Prajasuta dan Mgr. Prajasuta telah mentahbiskan cucu dari Mgr. Demarteau (Mgr. Harjosusanto-red). Sehingga ada alasan ekstra bagi saya untuk mengucapkan terimakasih kepada Mgr. Demarteau. Mgr. Demarteau telah 55 tahun sebagai Uskup, sedangkan saya baru lima setengah bulan sebagai Uskup. Namun saya tidak perlu takut menjadi Uskup di Banjarmasin ini, karena saya selalu diingatkan oleh Mgr. Prajasuta bahwa umat di Banjarmasin ini adalah umat yang murah hati dalam segala aspeknya.” Dalam kesempatan berikutnya Mgr. Timang menyapa sekaligus mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar Mgr. Demarteau yang diwakili oleh kedua keponakannya. Mgr. Timang menyampaikannya dalam bahasa Belanda yang fasih.</p>
<p>Usai Perayaan Ekaristi, umat dijamu dengan santap malam bersama. Rombongan para Uskup, Imam, Suster, Biarawan/Biarawati secara khusus menikmati santap malam di ruang malam Wisma Sikhar – Banjarbaru. Tampak diantara mereka Mgr. Demarteau bersama keponakannya dalam suasana kekeluargaan yang penuh kegembiraan. Proficiat kepada Mgr. W.J. Demarteau, MSF atas Perayaan Syukur 55 tahun Pentahbisan Uskup. Berkat dan kasih Tuhan bersama Monsinyur selalu.</p>
<p>Perjalanan Hidup Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Mgr. W.J. Demarteau, MSF lahir di desa Horn (Belanda Selatan), pada tanggal 24 Januari 1917 pukul 10.00 pagi. Demarteau kecil adalah putera ke-5 pasutri Sebastianus Hubertus Demarteau dan Yohanna Moors. Sore harinya, dalam cuaca yang teramat dingin (150C di bawah nol), ia dibaptis dengan nama Wilhelmus (Wim). Wim kecil dibesarkan dalam sebuah keluarga besar. Ia mempunyai 4 orang kakak dan 3 orang adik. Dalam keluarganya, Wim kecil mengalami suasana asah-asih-asuh yang begitu hangat. Wim masuk TK di Horn (1921 – 1923). Saat itu Wim merasa kurang senang, karena ia beranggapan bahwa TK itu hanya “cocok” untuk anak perempuan, sebab di TK tidak diajarkan baca tulis. Tahun 1929 Wim menamatkan SD-nya di Horn. Setelah dapat membaca, Wim menjadi seorang “kutu buku”. Ketika itu orangtua Wim berlangganan “Bode v.d.Heilige Familie”, majalah bulanan yang diterbitkan para imam MSF. Majalah “Bode v.d.Heilige Familie”, memuat naskah-naskah dan surat-surat yang ditulis oleh para misionaris MSF, yang sejak tahun 1926 berkarya di Borneo (sekarang Kalimantan). Ternyata, Wim kecil sangat terkesan dengan surat-surat tersebut. Wim berkata pada ibunya, “Mama, besok kalau saya sudah besar, saya akan menjadi Pater dan pergi ke Borneo.” Ibunya menjawab, “Wim, engkau sangat sayang pada mama, mana mungkin engkau mau meninggalkan mama?!” Dengan semangat yang berkobar-kobar Wim kecil berkata kepada Ibundanya, “Mama, saya pergi ke Borneo dan di Borneo saya juga dapat sangat menyayangi mama.” Sekelumit kisah tersebut kemudian menghantarkan mimpi Wim kecil pada sebuah kenyataan. Ia sungguh-sungguh dikirim sebagai seorang Misionaris ke daratan Borneo (sekarang Kalimantan-red). Akhir Juli 1946 ia mendapatkan pemberitahuan bahwa akan dikirim ke Indonesia. Ia menyambut berita ini dengan kegembiraan yang meluap-luap. Keberangkatan P. Demarteau mengalami beberapa kali penundaan, karena pada waktu itu kapal-kapal lebih diprioritaskan untuk mengangkut “pasukan Belanda” ke Indonesia. Pada tanggal 11 April 1947 P. Demarteau bersama 2 orang rekannya sesama imam MSF berangkat menuju Indonesia. Sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 1 Mei 1947, kapal yang mereka tumpangi merapat di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah 2 kali gagal terbang ke Banjarmasin, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1947 pesawat yang ditumpangi P. Demarteau berhasil mendarat di Banjarmasin. Saat tiba di bandara, ia diberitahu bahwa akan menerima tugas sebagai pastor paroki di Katedral Banjarmasin. Ketika pertama kali tiba di Banjarmasin, P. Demarteau merasakan bahwa keadaan pada waktu itu tidak nyaman, tidak aman, banyak kerusuhan, kekerasan dan pertumpahan darah! Tanggal 27 Desember 1947, pertikaian Indonesia-Belanda dihentikan. Sampai akhir tahun 1949 Gereja Katolik tidak boleh bekerja di Kalimantan Selatan (Kalsel) kecuali di kota Banjarmasin. Akibatnya hampir semua misionaris bekerja di Kalimantan Timur (Kaltim) dan hanya Ordinarus dan dua/tiga pastor tinggal di Banjarmasin. Dewan Keuskupan Banjarmasin berpendapat bahwa situasi mendesak agar Kalimantan Timur menjadi keuskupan sendiri demi keselamatan dan perkembangan gereja di Kalsel. Tanggal 12 Desember 1951 P. Demarteau memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) demi memantapkan keberadaannya sebagai seorang misionaris. Tahun 1952, Mgr. J. Groen, MSF mulai mempersiapkan pemisahan Kaltim dari Banjarmasin, akan tetapi karena beliau sakit maka rencana tersebut kemudian dibekukan baik di Banjarmasin maupun di Roma. Pada bulan April 1953 Mgr. J. Groen, MSF, Vikaris Apostolik Banjarmasin wafat di Surabaya.</p>
<p>Takhta Suci Vatikan kemudian menunjuk P. Demarteau sebagai Uskup, menggantikan Mgr. Groen. Pada tanggal 5 Mei 1954 P. Demarteau ditahbiskan menjadi Uskup di Gereja Katedral Banjarmasin oleh duta Vatikan Mgr. De Jonghe d’Ardoye dan sebagai co-consencrator adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan Mgr. T. van Valenberg, OFM Cap. Dalam tahbisannya, Mgr. W. J. Demarteau, MSF mengambil motto : “Apostolus Jesu Christi” yang berarti “Utusan Yesus Kristus.” Logo uskup Mgr. W. J. Demarteau, MSF digambar oleh seorang Rahib Benediktus berkebangsaan Perancis dari Biara Benediktin di Oosterhout – Belanda. Simbol tersebut bermakna bahwa panggilan Mgr. W. J. Demarteau, MSF melalui kongregasi adalah menjadi misionaris dan uskup bagi daerah yang masih memerlukan “terang Injil.” Pada waktu itu Keuskupan Banjarmasin meliputi Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah-Kalimantan Timur, yang luasnya 12 kali lipat negeri Belanda (+ 410.000 km2). Mengingat luas dan sulitnya medan pelayanan, Mgr. Groen telah mengadakan langkah-langkah awal di Roma agar Kaltim dijadikan wilayah Gerejawi terpisah dari Keuskupan Banjarmasin. Usaha tersebut dilanjutkan oleh Mgr. W. J. Demarteau, MSF. Meski sebelumnya mendapat tanggapan yang negatif, namun Mgr. Demarteau tetap gigih memperjuangkan usaha tersebut agar pemekaran itu mendapatkan ijin dari Takhta Suci. Kegigihannya berbuah manis, sebab pada bulan September 1954 terjadi perundingan di Roma untuk membahas hal itu. Pada tanggal 25 Pebruari 1955 Vikariat Apostolik Samarinda resmi berdiri. Jika pada tahun 1954 Mgr. Demarteau menyetujui permintaan Roma untuk diangkat menjadi Uskup, maka pada tahun 1955, Roma ganti menyetujui permintaan Mgr. Demarteau untuk pemekaran Keuskupan Banjarmasin. Tahun 1954, gereja praktis belum dikenal di wilayah Keuskupan, khususnya di pedalaman Kalsel dan Kalteng. Uskup yang masih muda ini bersama-sama dengan para imam, biarawan, biarawati, para guru dan rasul-rasul awam, dengan rahmat TUHAN terus berkarya dengan giat dan penuh pengorbanan.</p>
<p>Pada tanggal 23 Oktober 1983 Mgr. W. J. Demarteau, MSF mentahbiskan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF sebagai Uskup Keuskupan Banjarmasin. Sampai saat ini Keuskupan Banjarmasin telah dimekarkan menjadi 4 keuskupan (Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya, dan Tanjung Selor).</p>
<p>reported by : Dionisius Agus Puguh Santosa &amp; Albertus Bambang Utoyo; Divisi LITBANG KOMKEP Keuskupan Banjarmasin</p>
<p>Foto : Pastor Felix Sumarjono, MSF</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=451&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/05/28/%e2%80%9ctidak-banyak-uskup-katolik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>surat dari Jenderalat MSF</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/23/surat-dari-jenderalat-msf/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/23/surat-dari-jenderalat-msf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 10:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Jenderalat]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[



 
 

Sejak tanggal 31 Januari lalu Dioses Januária, di Brasilia, mendapat seorang uskup baru, Mgr. José Moreira da Silva. Uskup José sebelumnya imam projo di Keuskupan Porto Nazionale, wilayah Amazzonia di Brasilia. Beliau ditahbiskan sebagai uskup tanggal 17 Januari lalu. Setelah hampir 25 tahun menjalankan tugas pastoralnya, Mgr. Anselmo Müller MSF akhirnya menjalani masa pensiun dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=427&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"></p>
<p align="justify"><img class="alignnone size-full wp-image-428" title="uskup-januaria" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/uskup-januaria.jpg?w=128&#038;h=165" alt="uskup-januaria" width="128" height="165" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></strong></p>
<p align="justify">Sejak tanggal 31 Januari lalu Dioses Januária, di Brasilia, mendapat seorang uskup baru, <strong>Mgr. José Moreira da Silva</strong>. Uskup José sebelumnya imam projo di Keuskupan Porto Nazionale, wilayah Amazzonia di Brasilia. Beliau ditahbiskan sebagai uskup tanggal 17 Januari lalu. Setelah hampir 25 tahun menjalankan tugas pastoralnya, Mgr. Anselmo Müller MSF akhirnya menjalani masa pensiun dan kini tinggal di Paroki San Augustino, di Chapada Gaúcha, sebuah wilayah pedesaan dalam keuskupan yang sama. Beliau akan melayani di paroki itu. Keuskupan Januária dilayani oleh para uskup dari MSF sejak tahun 1962, selama 47 tahun.</p>
<p align="justify"><span id="more-427"></span> </p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong></p>
<p align="justify">2. Tromso, Norvegia</p>
<p>:</p>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p align="justify"><img class="alignnone size-medium wp-image-430" title="neuer_bischof1" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/neuer_bischof1.jpg?w=296&#038;h=300" alt="neuer_bischof1" width="296" height="300" /></p>
<p align="justify">Tanggal 28 Maret romo Berislav Grgi<span style="font-family:Times New Roman;">ć</span> akan ditahbiskan sebagai uskup di Tromso, Norwegia, untuk menggantikan Mgr. Gerhard Goebel MSF yang meninggal tanggal 4 November 2006. Mgr. Berislav Grgi<span style="font-family:Times New Roman;">ć</span> berasal dari Bosnia, pernah bejerja di Norwegia dan pada tahun-tahun terakhir bekerja di Jerman. Hampir seluruh imam di keuskupan itu adalah para imam MSF dari Provinsi Polandia. Superior Jenderal, P. Edmondo Michalski berencana menghadiri tahbisan uskup baru tersebut.</p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Brasilia Utara</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></strong></p>
<p> </p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify"><img class="aligncenter size-full wp-image-432" title="dewan-brasil1" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/dewan-brasil1.jpg?w=350&#038;h=204" alt="dewan-brasil1" width="350" height="204" />Dari tanggal 09 sampai 13 Februari Provinsi Brasilia Utara mengadakan kapitelnya. Mereka mendiskusikan dan menghasilkan 24 butir keputusan untuk dijadikan pegangan dalam animasi maupun perubahan beberapa aspek kehidupan Provinsi dalam bidang: pendidikan, administrasi, misi dan hidup komunitas. Kapitel tersebut telah memilih Dewan Provinsi yang baru yakni: P. Vicente Ferré Ferriera Campos (Superior Provinsial); P. Domingos de Sá Filho (Vikaris Provinsial); P. Islan Alves Gonçalves (° Asisten 2); P. Heribert Stahl (Asisten 3). Mereka akan memulai mandatnya dari tanggal 19 Maret 2009. Dari jenderalat hadir dalam kapitel itu P. Edmundo dan P. Itacir.</p>
<p align="justify"> </p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"></p>
<p align="justify">Pembenuman Angota Komisi Hukum</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></strong></p>
<p> </p>
<p align="justify">Dewan Jenderal setelah pembicaraan dengan para Provinsial terkait telah membenum beberapa konfrater sebagai anggota Komisi Hukum. Mereka: P. Egon Fäber (Jerman), P. Francesco Pavin (Swiss), P. S<span style="font-family:Times New Roman;">ł</span>awomir Wiktorowicz (Polandia), dan P. Silverter Susianto (Jawa). Komisi ini akan membantu Jenderalat menghadapi persoalan-persoalan hukum berpedoman mandat dari Kapitel Umum yang lalu. Pertemuan Komisi untuk pertama kalinya direncanakan akan berlangsung di Roma pada bulan Juni 2009.</p>
<p> </p>
<div><strong><span style="text-decoration:underline;">Para Prokurator Misi dan Provinsial Regio Eropa</span> </strong></div>
<div><strong></strong></div>
<p><strong></p>
<p align="justify"> <img class="aligncenter size-full wp-image-435" title="prokurator2" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/prokurator2.jpg?w=500&#038;h=203" alt="prokurator2" width="500" height="203" /></p>
<p align="justify">Dewan Jenderal telah mengundang para Prokurator Misi dan para Superior Provinsial dari wilayah Eropa untuk sebuah pertemuan di Gorka Klastorna, Polandia, dari tanggal 10 sampai 14 Maret. Tujuan pertemuan tersebut adalah saling membagi pengalaman antarProvinsi dan usaha mencari sebuah pedoman umum serta pengarahan tentang bagaimana karya para Prokur dilaksanakan. Pertemuan itu dikoordinir Jenderalat dengan kehadiran P. Edmundo dan P. Santiago, didukung keterlibatan Provinsi Polandia.</p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify"> </p>
<div></div>
<div><span style="font-size:small;font-family:Tahoma;"></span></div>
<p></span><span style="font-size:small;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;font-family:Tahoma;"></p>
<p align="right"> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></p>
<p align="right"><strong>Paulinus Yan Olla MSF</strong></p>
<p align="right">Sec.Generale MSF</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p align="justify"> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=427&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/23/surat-dari-jenderalat-msf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/uskup-januaria.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">uskup-januaria</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/neuer_bischof1.jpg?w=296" medium="image">
			<media:title type="html">neuer_bischof1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/dewan-brasil1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dewan-brasil1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/prokurator2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">prokurator2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KELUARGA, SEKOLAH IMAN DAN NILAI-NILAI MANUSIAWI</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/keluarga-sekolah-iman-dan-nilai-nilai-manusiawi/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/keluarga-sekolah-iman-dan-nilai-nilai-manusiawi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 01:20:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga

Gereja menegaskan bahwa ada 3 komunitas yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak dan kaum muda, yaitu: Keluarga, Masyarakat/negara, dan Gereja. Ketiga komunitas ini secara kodratnya dianugerahi Allah tanggungjawab mendidik anak-anak dan kaum muda.Keluarga adalah komunitas pertama dan utama yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak, karena di dalam keluarga lah anak-anak lahir, hidup dan bertumbuh dewasa. Lebih dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=423&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><em><span style="font-family:Arial;"><strong><em>Keluarga</p>
<p></em></strong></span></em></strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Gereja menegaskan bahwa ada 3 komunitas yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak dan kaum muda, yaitu: Keluarga, Masyarakat/negara, dan Gereja. Ketiga komunitas ini secara kodratnya dianugerahi Allah tanggungjawab mendidik anak-anak dan kaum muda.<span id="more-423"></span><font face="Arial">Keluarga adalah komunitas pertama dan utama yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak, karena di dalam keluarga lah anak-anak lahir, hidup dan bertumbuh dewasa. Lebih dari itu, anak-anak mampu merealisasikan panggilan hidupnya sebagai manusia dan orang beriman kristiani dalam keluarga ( Paus Yoh. Paulus II, Surat kepada Keluarga-keluarga).</p>
<p>Paus Pius XI menegaskan dalam ensiklik Divini Illius Magistri (Pendidikan Kristiani untuk anak-anak dan kaum muda), bahwa Allah memerintahkan keluarga (suami – isteri) untuk melahirkan dan mendidik anak-anak. Dalam mendidik anak-anaknya, orangtua harus membangun suasana rumah tangga yang dipenuhi oleh cinta kasih, agar anak-anak mengerti bagaimana menjadi orang yang dicintai dan harus mencintai.</p>
<p>Dengan demikian keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama yang membimbing anak-anak untuk beriman dan berbakti kepada Allah dan sesama, dan keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh masyarakat (GE. 3; GS. 52; FC. 21).</p>
<p><strong><em>Orang tua</p>
<p></em></strong></p>
<p><em></em></p>
<p>Baik masyarakat/negara maupun Gereja mengakui dan menegaskan bahwa orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. “Karena orang tua telah memberikan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama”. (GE., 3; PIUS XI, ensiklik Divini Illius Magstri).</p>
<p>Tugas mendidik berakar dalam panggilan utama suami isteri untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah. Orang tua adalah pribadi-pribadi yang mempunyai kesempatan pertama untuk memperkenalkan realitas kehidupan duniawi kepada anak-anak. Karena itu sudah sewajarnya, orang tua juga menjadi pendidik pertama dalam iman melalui perkataan dan teladan, yang juga wajib memelihara panggilan anak-anak, terutama panggilan rohani (LG. 11).</p>
<p>Jika keluarga disebut sebagai Gereja rumah, maka orang tua adalah pewarta dan saksi iman bagi anak-anak. Dengan mendidik iman anak, mereka turut ambil bagian dalam tugas misi Gereja universal: mewartakan iman. Mengenai hal ini, Paus Yohanes Paulus II mengatakan dengan kalimat yang sangat indah, yakni orang tua menjadi duta Injil yang pertama. Pendidikan iman dalam keluarga harus didasari dengan kasih, kesederhanaan, kesaksian harian (FC. 53).</p>
<p>Dalam mendidik anak-anak itu, orang dituntut untuk menyampaikan kepada anak-anak semua pokok yang dibutuhkan, supaya mereka bertumbuh menjadi dewasa secara kristiani. Orang tua harus menunjukkan bahwa iman kristiani dan cinta kasih akan Allah memberikan makna yang dalam bagi kehidupan mereka. Misi orang tua untuk mendidik anak-anak diteguhkan oleh sumber istimewa: sakramen perkawinan. Sakramen perkawinan itu memberi martabat menjadi “pelayan” Gereja, demi pembangunan para anggotanya (yakni anggota keluarga, terutama anak-anak) (FC. 38). <strong><em>(Rm. B.R. Agung Prihartana, MSF)</em></strong></p>
<p></font></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/423/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=423&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/keluarga-sekolah-iman-dan-nilai-nilai-manusiawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERKAWINAN CAMPUR: ANTARA LOGIKA, IMAN DAN CINTA</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/perkawinan-campur-antara-logika-iman-dan-cinta/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/perkawinan-campur-antara-logika-iman-dan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 01:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Di mana logika hatiku
Jatuh cinta kepadanya
Tetapi ternyata asmara
Tak kenal dengan logika..”
 
Sebait lagu tadi dinyanyikan oleh Vina Panduwinata belasan tahun yang lalu. Cinta memang bukan urusan logika, tetapi soal hati, bahkan soal cinta itu sendiri. Seringkali cinta mengalahkan segala-galanya, sehingga kita sepakat mengatakan bahwa love is blind, cinta itu buta. Kalau cinta berbicara, semua hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=421&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Arial;"><em><span style="font-family:Arial;"><em>Di mana logika hatiku<br />
Jatuh cinta kepadanya<br />
Tetapi ternyata asmara<br />
Tak kenal dengan logika..”</p>
<p></em></span></em> <span id="more-421"></span></p>
<p>Sebait lagu tadi dinyanyikan oleh <strong>Vina Panduwinata</strong> belasan tahun yang lalu. Cinta memang bukan urusan logika, tetapi soal hati, bahkan soal cinta itu sendiri. Seringkali cinta mengalahkan segala-galanya, sehingga kita sepakat mengatakan bahwa <em>love is blind</em>, cinta itu buta. Kalau cinta berbicara, semua hal bisa menjadi lain dan hidup terarah ke sana begitu kuatnya.</p>
<p>Kita tidak tahu kapan cinta itu datang, dan kapan cinta itu menguasai kita. Bahkan, kita tidak kuasa menahan gejolaknya. Segala halangan logis, hambatan fisik, social, bahkan idealitas pribadi tiba-tiba berubah menjadi lain, ketika kita mabuk kepayang dalam rasa cinta. Orang yang kita sayangi dan kita jatuhi cinta atau jatuh cinta kepada kita kadang bukanlah orang yang telah sejak semula kita idealkan. Bahkan agama bisa menjadi tantangan yang tidak terlalu sulit dikalahkan demi sepotong cinta.</p>
<p>Memang tidak selamanya demikian. Ada yang bisa mengalahkan rasa cinta dan membela idealitas atau prinsip pribadi. Beberapa orang lebih suka menderita demi iman, daripada menderita karena kasih tak sampai. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang terpaksa membuat toleransi iman demi cinta yang sudah matang.</p>
<p>Cinta bisa berlabuh di pelabuhan lintas iman. Ada yang berlabuh di lain gereja, kita sebut <em>mixta religio</em>, dan ada yang berlabuh di lain agama, yang kita sebut <em>disparitas cultus</em>. Cinta yang datang selalu tidak kita duga ke mana menambatkan dirinya. Kita hanyalah manusia yang mencinta dan dicinta. Iman yang kita yakini berada di belakang semua itu dan biasanya baru menjadi persoalan sesudah cinta menunjukkan bentuknya dalam relasi pribadi yang menjadi semakin kuat, dekat, dan masuk dalam lembaga perkawinan.</p>
<p>Bukan menjadi keanehan kalau orang baru berpikir ,mengenai agama setelah hubungan menjadi semakin akrab dan serius. Kita memang tidak selalu sedang diatur oleh iman kita. Kita mungkin lebih sering diatur oleh pikiran, hati, dan kepentingan sehari-hari yang berlangsung begitu saja, demikian juga ketika cinta melanda.</p>
<p>Krisna tidak pernah menyangka sebelumnya kalau ia akhirnya harus mempunyai kekasih seorang muslimat. Ia yang rajin mengikuti kelompok Mudika di parokinya dan rajin menjadi misdinar semasa SD dan SMP, sekarang malah jatuh cinta pada teman kuliahnya, Nurita yang beragama Islam itu. Kadang ia dihantui rasa malu jika bertemu dengan teman-teman waktu berjalan bersama Nurita. “Malu juga nih kalau ketahuan enggak dapet cewek Katolik!” Begitu juga ketika harus mengajaknya datang ke pesta teman Mudikanya, ia selalu dilanda kegalauan untuk mengajak atau tidak temannya itu.</p>
<p>Meskipun ia berkeputusan untuk menikah dengan kekasihnya muslimnya itu, dengan proses yang agak berbelit-belit, soal keluarga maupun administrasi Gereja, akhirnya mereka menikah di Gereja. Persoalan rasanya selalu datang ketika harus berbicara soal iman dalam keluarganya, mulai pendidikan iman anak sampai membina kesatuan dengan saudara seiman di lingkungannya. Tetapi, hatinya tidak pernah barang sekejap pun berpaling dari isteri yang beda agama itu. Ia masih tetap amat mencintainya, demikian juga sang isteri kepadanya.</p>
<p>Apa yang salah dalam hidup rumah tangganya? Bukankah kebahagiaan keluarga menjadi nomor satu? Mengapa tiba-tiba lingkungan menjadi “sebentuk sebab” yang membuatnya ragu memberi judul bahwa keluarganya itu biasa-biasa saja dan baik?</p>
<p>Tidak semua kita dapat berharap mendapatkan keluarga ideal seperti logika kita. Tidak semua aktivis katolik, orang orang yang rajin menggereja, mendapatkan jalan hidup berkeluarga yang katolik-katolik. Akan tetapi, kebahagiaan tidak mesti selalu diukur dari kesamaan iman dalam keluarga. Bahkan kita harus juga menginsyafi bahwa yang berbeda juga bisa menjadi sarana kebahagiaan dan keselamatan bersama. Iman tetap harus dibela, tetapi kenyataan jangan diabaikan.</p>
<p>Cinta memang mengalahkan segalanya di awal relasi, tetapi tidak demikian seterusnya. Cinta selanjutnya mesti berkembang menjadi jalan agar Tuhan dapat menyatakan diri-Nya dalam keluarga kita. Meskipun kesulitan mungkin kita temui, tetapi kesungguhan untuk membangun keluarga yang sejahtera dan bahagia harus menjadi semangat utama. Iman adalah dasar membentuk kebahagiaan itu secara rohani. Maka, perlulah hidup beriman mendapat perhatian kita meskipun kita berada dalam situasi yang dianggap rawan masalah.</p>
<p>St. Paulus mempunyai keyakinan bahwa kesucian/kekudusan pihak Kristen “menguduskan” pihak bukan Kristen. Kekudusan orang beriman mengalahkan keburukan orang tak beriman <em>(I Kor.7:12-14)</em>. Mereka yang menikah dengan orang dari iman lain tidak berlawanan dengan kemandirian dwi tunggal yang terbentuk antara Kristus dan orang beriman sehingga tidak termasuk dalam golongan perzinahan. Keyakinan ini dapat meneguhkan mereka yang terpaksa menikah campur.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia yang mayoritas masyarakatnya bukan Katolik, tentu saja kita harus mempunyai kebijaksanaan khusus agar iman saudara saudari segereja kita tetap terjaga, kendati harus berhadapan dengan situasi kawin campurnya. Pergaulan tidak dapat kita batasi, seperti perasaan kita yang tanpa batas meraih siapa saja dan bertaut pada siapa saja yang dianggapnya pantas dicintai. Pluralitas ini mengundang kita untuk lebih bijak menilai kawin campur.</p>
<p>Kita perlu mengingat bahwa kesejahteraan, kedamaian, kebahagiaan, dan cinta kasih dalam keluarga menjadi tiang utama yang mesti diperhatikan. Kita membutuhkan iman, tetapi sekali lagi, bukan iman logika, melainkan iman dalam konteks, iman dalam pengalaman konkrit dengan susah senangnya, dengan untung dan malang. Iman yang membumi dan sekaligus mengatas, ke arah Allah.</p>
<p>Kita bersama harus menjaga keutuhan keluarga sebagai yang terpenting. Dengan tidak mengabaikan masalah iman, sosial, dan pendidikan iman anak, keluarga dari pasangan campur mempunyai beban dan tanggung jawab istimewa untuk menjaga agar semua berjalan harmonis dan memuaskan semua pihak.</p>
<p>Kewajiban yang muncul dari hukum Gereja mengenai perkawinan campur tidak dengan mudah-mudah saja kita laksanakan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Perjuangan itu dihargai oleh Gereja. Gereja tidak memandang dengan sebelah mata tragedi dan persoalan keluarga kawin campur. Karena itu, Gereja melindungi pihak yang beriman dan keturunannya dengan hukum. Betapapun demikian, hukum kadang justru takluk di kaki kenyataan yang dihadapi keluarga. Persoalan yang timbul kadang melampaui jangkauan hukum, karena melibatkan hati.</p>
<p>Marilah kita renungkan bersama: perkawinan dalam setiap keluarga tetaplah sakral, sejauh pasangan yang menikah menganggap dan memperlakukannya demikian. Kekudusan itu terletak dalam cara bagaimana pasangan memulai, melangsungkan, dan memutuskan segala sesuatu dalam terang cinta kasih yang memulai segala-galanya. Komunikasi dan keterbukaan satu sama lain menjadi sarana paling ampuh agar suara Tuhan saling diperdengarkan. Cinta memulai segalanya, tetapi sekali lagi bukan hanya cinta dalam logika yang sempit. <strong><em>(Rm. Erwin Santoso, MSF)</em></strong></p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/421/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=421&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/perkawinan-campur-antara-logika-iman-dan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PACARAN BEDA AGAMA, MENGAPA DIBICARAKAN?</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/pacaran-beda-agama-mengapa-dibicarakan/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/pacaran-beda-agama-mengapa-dibicarakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 01:10:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[ Biasanya, dalam tahap pacaran, pemuda dan pemudi kurang memikirkan soal agama, yang penting cinta. Akan tetapi, hal ini sangat tergantung dari pendidikan dan kebiasaan dalam keluarga.
Para pemuda-pemudi yang berpacaran, merasa bahwa segalanya berjalan seperti adanya, dibiarkan mengalir, dan menikmati saja dulu hubungan pacaran mereka. Dalam banyak hal, justru ketika pacaran mulai lebih serius, pembicaraan mengenai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=418&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Biasanya, dalam tahap pacaran, pemuda dan pemudi kurang memikirkan soal agama, yang penting cinta. Akan tetapi, hal ini sangat tergantung dari pendidikan dan kebiasaan dalam keluarga.<span id="more-418"></span></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></p>
<div><span style="font-family:Arial;">Para pemuda-pemudi yang berpacaran, merasa bahwa segalanya berjalan seperti adanya, dibiarkan mengalir, dan menikmati saja dulu hubungan pacaran mereka. Dalam banyak hal, justru ketika pacaran mulai lebih serius, pembicaraan mengenai agama, keluarga, dll, menjadi lebih intensif.</span></div>
<p><span style="font-family:Arial;">Pebedaan agama bukanlah hal remeh dalam relasi pemuda-pemudi yang memutuskan untuk berpacaran, sejauh mereka menyadari bahwa pacaran mereka bukanlah sesuatu yang melulu “main-main” dan “asal dinikmati”.</p>
<p>Dalam masa perkenalan, ketika pacaran mulai menjadi serius, soal agama mesti menjadi bahan pembicaraan bersama. Tujuan pembicaraan bersama bukanlah untuk semata-mata mencari persamaan, atau mencari jalan bagaimana salah satu ikut dalam agama pacarnya. Pembicaraan justru mau membuka cakrawala berdua bahwa kehidupan yang akan mereka jalani bersama mempunyai beban dan PR yang jelas, bahwa agama kita berbeda!</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span><a href="http://msf-family.com/wp-content/uploads/2008/09/pacaran-beda-agama2.jpg"><span style="font-family:Arial;">Pembicaraan ini justru paling logis dibicarakan kalau pasangan ingin melanjutkan hubungan ke arah yang lebih jauh. Menyamakan dan mengabaikan masalah agama sama saja memasukkan diri dalam pencobaan yang lebih menyakitkan seandainya kelak bersatu dalam hidup berumah tangga.</span></a></p>
<div><strong><span style="font-family:Arial;"><strong>Mengapa harus dibicarakan?</strong></span></strong></div>
<p><strong><span style="font-family:Arial;"><strong><br />
Perbedaan di antara setiap agama, akan tetap menjadi perbedaan dan selama-lamanya begitu. Tetapi hal ini tidak sama dengan pengertian bahwa agama mesti memisahkan. Perbedaan itu dapat mungkin disatukan kalau kedua orang saling mengerti, memahami dan mengenal perbedaan kemudian memutuskan untuk saling menghormati. Tetapi hal ini selalu menjadi tugas berat kalau kedua pihak selalu mempermasalahkan dan mencari pembedaan dan bahkan saling menjatuhkan keyakinan pasangannya.</p>
<p></strong></span></strong></p>
<div><span style="font-family:Arial;">Pembicaraan mengenai agama memang kadang terasa mengganggu. Hal ini benar kalau dikatakan di awal pacaran. Akan tetapi, merupakan suatu konsekuensi kalau pada beberapa waktu sesudahnya pembicaraan mulai mengarah ke hal beda agama itu, karena memang itu akan dihadapi berdua, baik selama pacaran, maupun kemudian kalau akhirnya memilih hidup bersama dalam lembaga perkawinan.</span></div>
<p><span style="font-family:Arial;">Pembicaraan mengenai agama bukanlah suatu tuntutan, melainkan membuka mata pasangan yang berpacaran bahwa sejak semula perbedaan itu ada. Penyadaran dari awal perkenalan adalah wajar sebagai bentuk hubungan yang sehat dan dewasa.perbedaan yang dibicarakan dan akhirnya diterima merupakan bentuk kesepakatan untuk saling menghormati dan selanjutnya tidak mempermasalahkan perbedaan itu sebagai alasan untuk bertengkar atau berpisah.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></p>
<p> </p>
<p> </p>
<div><strong>Apakah tidak ada risiko pacaran beda agama?<br />
<a href="http://msf-family.com/wp-content/uploads/2008/09/pacaran3.jpg"><span style="font-family:Arial;">Risiko baru ada ketika relasi antara pasangan yang berpacaran kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih jauh, perkawinan, karena pacaran tidak pernah menuntut untuk menanggung risiko tekanan dari keluarga, tekanan karena telah mempunyai keturunan, atau tekanan publik (karena risiko bercerai, berpisah,dll). Pacaran akan selalu dipandang sebagai tahap untuk mencocokkan dan mencari, bukan untuk memilih secara definitif. </span></a><span style="font-family:Arial;">Resiko baru muncul kalau rambu-rambu dalam berpacaran dilanggar dan dinodai dengan perbuatan yang belum boleh dan akhirnya berakibat fisik dan sosial, yaitu hamil. Selain itu, pacaran akan menjadi tekanan kalau dinodai oleh hubungan seks yang mengharuskan,misalnya pihak perempuan, untuk tidak dapat memilih yang lain, karena sudah dengan laki-laki yang pernah berhubungan intim dengannya. Artinya, seorang dipaksa memilih karena sudah kepalang basah.</span></strong></div>
<p><strong><span style="font-family:Arial;">Akibat dari pelanggaran aturan main pacaran ini pada semua pasangan dan khususnya pada pasangan beda agama adalah keharusan untuk memilih sesuatu yang belum tentu dapat menguntungkan dan membahagiakannya. Pilihan karena terpaksa sering pada akhirnya akan berbuah pemaksaan-pemaksaan berikutnya. Ini yang perlu dipertimbangkan dari semula.</p>
<div><strong>Apa yang mesti diketahui, secara rohani, kalau terpaksa beda?<br />
Ini semacam pertimbangan minimal yang terpaksa diberikan. Akan tetapi melihat kenyataan situasi kita, mungkin ada baiknya dipikirkan beberapa hal ini.<strong>1. Semua agama sama<br />
Pandangan seperti ini menyesatkan, apalagi kalau dikaitkan dengan seseorang yang sedang menjalin cinta dengan orang beda agama. Semua agama mempunyai kekhasan dan ciri-cirinya sendiri yang jelas membedakan cara orang berelasi dengan Tuhan.Agama memang sering diturunkan dari orang tua, tetapi mudahkah kita menghilangkan atau mengubah apa yang sudah kita pahami sebagai benar dan apa yang selama ini paling cocok dengan irama hidup kita? Beda cara beda pula rasa keagamaannya.</strong></strong></div>
<p><strong><strong>Apakah kita dapat dengan mudah menyembah patung Buddha kalau sebelumnya mengenal pun tidak? Atau mudahkan bagi kita menerima kebiasaan sholat dalam waktu-waktu tertentu sepanjang hari? Itu yang paling mudah? Yang lain, yang lebih mendalam adalah apakah mudah bagi kita meninggalkan sesuatu yang selama ini kita percaya telah memberi segalanya bagi kita, seorang pribadi, yaitu Yesus Kristus?</p>
<div><strong>2. Di luar Gereja ada keselamatan<br />
Pandangan ini sering disalahartikan sebagai boleh berpindah-pindah ke agama manapun tanpa perlu merasa bersalah. Secara hukum memang demikian, tetapi apakah selama ini cara hidup beragama kita tidak lebih dari menjalankan formalitas, aturan dan hukum saja? Apakah kita tidak pernah merasakan suatu hubungan mendalam dengan Tuhan kita melalui cara khas kita sebagai orang Katolik?Apakah selama ini hidup beragama kita sebatas melanjutkan kepercayaan orang tua dan hanya itu? Kalau demikian, mungkin tidak heran kalau kita dengan mudah berpindah, karena selama ini kita tidak pernah merasakan hubungan kasih yang mendalam dengan Tuhan melalui cara kita sebagai orang Katolik.</strong></div>
<p><strong>Sebagai orang Katolik, kita harus percaya sebagai pribadi bahwa di luar Kristus, tidak ada keselamatan. Dia satu-satunya jalan. Dan di dalam Gereja lah Kristus paling jelas ditemukan. Mengingkari Dia berarti menjauh dari keselamatan. Pernyataan itu hanya lah istilah yang memang harus kita terima dalam rangka hubungan dan dialog antaragama yang berbeda dengan keputusan hidup bersama dalam keluarga.</p>
<p> </p>
<p></strong></strong></strong></span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/418/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=418&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/pacaran-beda-agama-mengapa-dibicarakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PACARAN</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/pacaran/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/pacaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 01:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian pacaran Pacaran berarti tahap untuk saling mengenal antara seorang pemuda dan pemudi yang saling tertarik dan berniat untuk mengadakan hubungan yang eksklusif (terpisah, sendiri, istimewa). Dengan pengertian itu, berarti pacaran memang diarahkan untuk suatu hubungan yang lebih lanjut, lebih dalam, dan lebih pribadi lagi. Ini tidak boleh diartikan sebagai keharusan untuk melanjutkan. Pacaran dimaksudkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=415&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pengertian pacaran Pacaran berarti tahap untuk saling mengenal antara seorang pemuda dan pemudi yang saling tertarik dan berniat untuk mengadakan hubungan yang eksklusif (terpisah, sendiri, istimewa). Dengan pengertian itu, berarti pacaran memang diarahkan untuk suatu hubungan yang lebih lanjut, lebih dalam, dan lebih pribadi lagi. Ini tidak boleh diartikan sebagai keharusan untuk melanjutkan. <span id="more-415"></span>Pacaran dimaksudkan sebagai situasi yang memungkinkan pasangan yang berelasi semakin dekat dan akhirnya menemukan kecocokan satu sama lain untuk melanjutkan hidup bersama dalam suatu hubungan resmi, baik pertunangan maupun perkawinan. Pacaran memang tahap perkenalan, tetapi pacaran bukanlah tahap untuk mengenal sedalam-dalamnya dan selengkap-lengkapnya. Apalagi kalau kata “lengkap” ini diartikan sebagai mengenal semuanya, bahkan sampai pada tingkat yang hanya boleh untuk pasangan resmi saja. Pacaran mempunyai “aturan main” yang harus ditaati kalau pasangan yang saling tertarik masih mau dianggap “berpacaran”. Aturan main itu secara singkat adalah sebagai berikut: Setuju untuk mengadakan hubungan yang khusus dan akan menghentikan semua hubungan khusus dengan orang-orang lain dari lawan jenis. Masih ingin saling kenal lebih jauh, tapi jelas masih ada hal-hal pribadi yang hanya boleh diketahui oleh orang itu sendiri (masih punya rahasia). Persahabatan khusus itu disertai dengan belajar saling memperhatikan, melayani, dan menyayangi dalam arti yang lebih luas dan pribadi. Tahap ini selalu ditandai dengan penyelidikan kemungkinan bahwa pacarnya memang tepat menjadi jodoh masa depannya(unsur coba-coba kepribadian). Bebas memutuskan hubungan kalau kemudian dirasakan (tidak perlu sampai dibuktikan) tidak menemui kecocokan. Pemutusan selalu disertai dengan pembicaraan bersama yang baik. Jangan menodai pacaran dengan hubungan seks yang mengarah pada regenerasi/prokreasi. Hubungan seks bukanlah tahap pacaran. Mengingat ciri-ciri dari hubungan pacaran ini, kita dapat melihat dan menilai kembali apakah caraku berpacaran sudah merupakan pacaran dalam arti yang paling pas, sehat, dan menggembirakan aku dan pacarku saat ini dan kelak. Beberapa hal yang mungkin Menodai makna terindah dari pacaran adalah: Aku sudah menjadi pacarnya, maka ia harus melaporkan segala hal kepadaku, termasuk kalau ia berjalan dan berhubungan dengan laki-laki lain (perempuan lain). Aku mau mengetahui semua hal mengenai pacarku. Kalau ternyata ada hal yang disembunyikannya, aku menganggapnya mengkhianat-iku. Ia harus membagikan semua kepadaku Aku mengukur kesetiaan dan cintanya berdasarkan sikapnya kepadaku, caranya memperhatikanku, caranya melayaniku, caranya memanjakanku, caranya menunjukkan bahwa aku adalah satu-satunya di dunia ini, yang lain adalah nomor dua. Aku tidak suka kalau ia mengatakan keragu-raguannya kepadaku. Aku paling benci kalau ia menanyakan ini-itu hanya untuk menyelidiki hidupku, seolah-olah ia kurang percaya. Aku ingin kami menikmati saja masa pacaran ini. Ketakutan utamaku dalam berpacaran adalah putus! Hubungan seks adalah kesempatan untuk mengetahui dan mengenal pacar secara paling sempurna, selagi muda, bukankah kalau dilakukan dengan hati-hati tidak akan apa-apa. Aku mengukur cinta berdasarkan kesediaannya memenuhi keinginanku untuk berhubungan intim. Berapa lama berpacaran? Tak ada ukuran yang pasti berapa lama pacaran mesti berlangsung, karena setiap pasangan mempunyai irama sendiri dalam berelasi. Biasanya tolok ukurnya adalah kemantapan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih eksklusif-publik (diresmikan dan diketahui umum). Cobalah untuk berapacaran dalam waktu yang cukup dan kurang lebih memadai untuk mengenal pasangan dengan lebih baik. (<strong>Rm. Erwin Santoso MSF</strong>)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/415/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=415&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/10/pacaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“AINAN, SEKALI-SEKALI BUKAN YANG TERKECIL….”</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/04/%e2%80%9cainan-sekali-sekali-bukan-yang-terkecil%e2%80%a6%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/04/%e2%80%9cainan-sekali-sekali-bukan-yang-terkecil%e2%80%a6%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 10:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Misi]]></category>
		<category><![CDATA[Panggilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[MISI MSF DI ATAMBUA:


 
Satu tahun sudah kami ditugaskan untuk menjajaki tempat yang akan dilayani oleh MSF Kalimantan di wilayah paroki Kiupukan, keuskupan Atambua. Sesuai pembicaraan awal antar uskup Atambua dan Provinsial MSF, bahwa MSF Kalimantan menjajaki di wilayah bagian selatan dari paroki Kiupukan. Dalam penjajakan tersebut, ada beberapa tempat yang memungkinkan untuk membangun sebuah paroki.
 

Keadaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=413&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span style="font-family:Arial;">MISI MSF DI ATAMBUA:</p>
<p></span></strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Satu tahun sudah kami ditugaskan untuk menjajaki tempat yang akan dilayani oleh MSF Kalimantan di wilayah paroki Kiupukan, keuskupan Atambua. Sesuai pembicaraan awal antar uskup Atambua dan Provinsial MSF, bahwa MSF Kalimantan menjajaki di wilayah bagian selatan dari paroki Kiupukan. Dalam penjajakan tersebut, ada beberapa tempat yang memungkinkan untuk membangun sebuah paroki.<span id="more-413"></span></p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">Keadaan Geografis</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Wilayah selatan paroki Kiupukan merupakan daerah pegunungan dan berbatu. Sebagian besar tanah belum digarap oleh masyarakat. Keadaan tanah sangat subur untuk menanam Jambu Mete, Kayu Jati dan Pisang. Sampai sekarang masyarakat hanya mengolah tanah untuk menanam jagung. Sebagian kecil masyarakat yang berusaha menanam Jambu Mete, Jati dan Pisang tetapi tidak terawat dengan baik.</p>
<p align="justify">Jalan-jalan masih berbatu. Belum ada tanda-tanda usaha pemerintah untuk pengaspalan jalan. Untuk mengujungi stasi-stasi wilayah selatan kami dapat menggunakan kendaraan roda 4 atau 2. Jarak antar stasi kurang lebih 10-25 km.</p>
<p align="justify">Salah satu kendala di sebagian besar wilayah selatan adalah air. Untuk mendapatkan air minum, masyarakat harus jauh berjalan kaki. Di musim hujan masyarakt harus menyediakan drum untuk menampung air hujan untuk keperluan sehai-hari. Pemerintah maupun masyarakat (umat) pernah berusaha membuat sumur bor tetapi tidak ada hasil.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">Situasi Sosial</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Kebiasaan gotong royong masyarakat wilayah selatan sudah terbina dengan baik. Setiap kampung memiliki ketua adat/kepala suku sebagai pemimpin. Kepala adat inilah yang memberi komando kepada Umat untuk bekerja baik itu program pemerintah maupun dari gereja.</p>
<p align="justify">Sistem kerajaan masih kuat berpengaruh. Raja sangat dihormati dibandingkan dengan pemerintah. Masyarakat lebih taat kepada raja daripada pemerintah. Raja mempunyai bawahan yang disebut Fetor. Seorang Fetor mempunyai kedudukan yang sejajar dengan camat karena dia membawahi beberapa desa. Fetor inilah yang mengontrol kehidupan sosial masyarakat. Semua tanah yang ada di wilayah yang dipimpin oleh seorang Fetor dikuasai oleh Fetor. Fetor mempunyai kuasa untuk menyerahkan tanah kepada suku-suku atau siapa saja. Masyarakat dalam satu kefetoran terdiri dari beberapa suku.</p>
<p align="justify">Wilayah selatan dari Paroki Kiupukan adalah satu kefetoran yaitu kefetoran Ainan. Kefetoran Ainan terdiri atas tiga desa yang terdiri dari terdiri dari berbagai suku.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">Situasi Ekonomi Umat</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Hampir semua umat Katolik di wilayah selatan adalah petani. Setiap tahun mereka menanam jagung. Pola pertanian berpindah-pindah. Hanya panen jagung satu kali dalam setahun. Selain bertanam jagung, beberapa umat memelihara sapi yang dijual untuk menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan juga membiayai anak sekolah</p>
<p><strong></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Sumber Daya Manusia</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Kesadaran akan pendidikan bagi masyarakat selatan masih kurang. Masih ada anak yang tidak tamat sekolah dasar (buta huruf). Rata-rata umat selatan lulusan Sekolah Dasar. Hal ini disebabkab karena kemampuan ekonomi yang tidak mencukupi, sehingga anak-anak tidak bisa melanjutkan ke SMP atau SMA. Kurangnya sumber daya manusia berdampak pula pada pola hidup ekonomi yang sederhana.</p>
<p align="justify">Berdasarkan data yang terkumpul, wilayah selatan terdiri dari 5 stasi dengan total jumlah umat 2.762 jiwa (atau 579 KK). Anak-anak dapat belajar di dua Sekolah Dasar Katolik, Dua Sekolah Dasar Negeri dan satu SMP Negeri. Umat di wilayah selatan belum memilik gedung gereja yang layak. Selama ini mereka berdoa di Gedung Gereja yang sangat sederhana. Mereka mempunyai semangat untuk bersama-sama membangun tempat Ibadat yang layak agar dapat berdoa bersama. Sebetulnya di kampong Boni, salah satu kampung dari wilayah selatan ini, pernah dimulai pembangunan sebuah gedung Greja stasi. Pembangunan itu kemudian macet ketika proses itu baru sampai pada tahap pengecoran tiang-tiang beton untuk bangunan itu. Mudah-mudahan tiang-tiang beton itu segara mendapat “teman-teman” berupa dinding yang utuh dan atap….</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">Penutup</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Laporan Panorama ini tentunya kurang lengkap karena baru “emat mata” memandang. Siapa menyusul kami, atau mengiringi langkah kami, dengan doa dan perhatian dalam aneka bentuk, menatap masa depan Gereja dan masyarakat Kefetroan Ainan? Di Wilayah Selatan? Apakah “Selatan” mesti selalu terlupakan sama seperti “pembagian dunai kita yang lebih besar: “Utara-Selatan”. Semoga bukan demikian.</p>
<p align="justify"> </p>
<p>(P. Kasmir Agung, MSF)</p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/413/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=413&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/04/%e2%80%9cainan-sekali-sekali-bukan-yang-terkecil%e2%80%a6%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PATER JEAN BERTHIER MS DI PENGHUJUNG LANSIAKU…</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/04/pater-jean-berthier-ms-di-penghujung-lansiaku%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/04/pater-jean-berthier-ms-di-penghujung-lansiaku%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 04:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun Yubileum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[
Di atas kasur busa dalam kamar tamu Provinsialat Banjarbaru, bekas garasi mobil yang diubah menjadi rangkaian kamar tidur tamu, aku terbaring kelelahan setelah mengikuti serentetan pertemuan pendalaman mengenai Sang Pendiri MSF. Pertengahan September memang dialokasikan waktunya khusus untuk suatu pertemuan ini. Mata mulai terpicing, tapi sulit tidur akibat ributnya para konfrater muda yang sedang menikmati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=411&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">Di atas kasur busa dalam kamar tamu Provinsialat Banjarbaru, bekas garasi mobil yang diubah menjadi rangkaian kamar tidur tamu, aku terbaring kelelahan setelah mengikuti serentetan pertemuan pendalaman mengenai Sang Pendiri MSF. <span id="more-411"></span>Pertengahan September memang dialokasikan waktunya khusus untuk suatu pertemuan ini. Mata mulai terpicing, tapi sulit tidur akibat ributnya para konfrater muda yang sedang menikmati rokok di teras depan Provinsialat. Sebenarnya ada kamar rekreasi, tetapi mereka menyingkir satu persatu, setelah <em>remote control</em> televisi dikuasai seorang konfrater yang terus-menerus mengubah tayangan. Padahal para konfrater muda lagi demam siaran bola. Maka jadilah teras depan Provinsialat menjadi ajang rekreasi.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">BUKIT LA SALETTE</p>
<p></strong></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Sesuatu yang luar biasa terjadi! Tidak seperti biasanya, rekaman pencerahan sejarah, pribadi dan hidup rohani sang pendiri tiba-tiba muncul seperti “Film documenter”. Aku mulai membayangkan kehidupan di La Salette dan sekitarnya, membayangkan kedua anak desa Corps: Melanie Calvat dan Maximin Giraud yang didatangi Bunda Maria untuk membawa pesan pertobatan. Aku mengenang kembali ketika dengan khusuk aku berdoa di depan arca Bunda Maria La Salette dalam kedinginan udara pegunungan kemudian menciduk air yang membual-bual dari mata air dekat arca Bunda Maria, lalu meminumnya sebagai air hidup untuk mohon kekuatan dalam hidup imamatku. Terkenang juga acara jalan Salib yang sangat melelahkan dan pendakian bukit kecil di belakang penginapan, yang juga sangat melelahkan akibat ketipisan udara. Terkenang juga ketika aku tercenung di samping makam pendiri dan berdoa untuk konggregasi, provinsi Kalimantan dan diriku.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">GRAVE DULU DAN KINI</p>
<p></strong></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Dari La Salette lamunanku terbang ke Grave. Kunjungan pertamaku masih disambut para imam dan bruder eks Kalimantan. Br. Longinus MSF membawaku menelusuri tiap-tiap sudut biara, taman sekitar biara dan pemakaman biara di mana beberapa misionaris eks Kalimantan dimakamkan, termasuk Mgr. Jac. Romeijn, MSF. Terakhir mengunjungi makam Sang Pendiri dalam kapel samping biara. Kunjungan kedua ke Grave, hanya untuk meneteskan air mata, meratapi “bekas” biara yang sudah disulap interiornya menjadi ruang pameran dan keluarga. Bekas kapel pemakaman Sang Pendiri telah rata dengan tanah dan menjadi taman parkir. Biara perdana ini telah dijual karena ketiadaan anggota MSF yang bisa merawatnya. Inilah “film documenter” yang berputar dalam benakku malam itu, sementara gelak tawa para rekan muda masih membahana dengan kepulan asap rokok.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong></p>
<p align="justify">PATER JEAN BERTHIER MS YANG (TIDAK) KUKENAL</p>
<p></strong></p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">Malam ini lalu menjadi malam pencerahan. Tiga puluh enam tahun menjadi imam dan empat puluh dua tahun bergabung dalam Kongregasi MSF, belum pernah bisa mengenal Pendiri secara mendalam. Hanya kulit ari, sehingga kecintaan terhadap Pendiripun tidak mendalam dan tidak terlalu dipusingkan. Ketika pilihan jatuh untuk menjadi imam MSF, bukan karena kecintaan dan pengenalan pada MSF. Hanya karena tidak ada pilihan lain setelah cita-cita menjadi Trapist ditentang habis-habisan oleh seorang imam trapis asal desaku. Bukan juga karena mengidolakan seorang imam MSF, karena para MSF disekitarku adalah figur yang “menakutkan” diriku sebagai anak-anak. Mereka banyak marah dan menghukumku. Bahkan dalam perjalanan menuju novisiat, aku tak diijinkan masuk pastoran untuk menjumpai pemimpin regio. Di Novisiat mulai mengenal nama P. Jean Berthier MSF, tidak terlalu mendalam, hanya tahu bahwa beliau adalah pendiri MSF. Kaul demi kaul, tahun demi tahun dilewati tanpa membawa kesan berarti terhadap Sang Pendiri. Banyak buku beliau tetapi semua dalam bahasa Perancis. Baru setelah menjadi imam, mulai sadar akan kekeliruan diriku. Sedikit demi sedikit mulai mencari tahu siapakah beliau. Tetapi belum sampai ke tingkat yang mendalam, hanya sebatas pengetahuan. Ada kesan bahwa beliau sangat pelit. Surat-surat dan tulisannya memenuhi setiap halaman kertas sehingga tidak ada keinginan untuk membaca. Secara lahiriah, <em>lay out</em> tulisan-tulisannya sama sekali tidak ada seni sehingga tidak ada daya tarik. Ketika memimpin pendidikan calon-calon MSF ada kesan sangat keras dan terlalu menekankan <em>“ora et labora”.</em> Berangkali aku mempunyai kesan agak “kurang ajar”: Beliau bukan tokoh yang menarik!</p>
<p align="justify">Pelan-pelan terbersit suatu pemahaman yang tidak tergalikan sebelumnya, kesan-kesan yang muncul ke permukaan, yang sangat mendalam dan tersembunyi, yang tidak muncul begitu saja kalau tidak direnungkan secara mendalam dan serius. Ibarat fajar menyingsing di ufuk Timur, mulai terungkapkan sesuatu yang luar biasa. Ada sesuatu yang sangat yang tidak terdapat pada tokoh-tokoh spiritualitas kelas dunia. Kaul kemiskinan dihayatinya dan diungkapkannya dengan penghargaan yang sangat besar terhadap pemberian Tuhan, dengan penghematan yang bisa masuk kategori ekstrim. Dari segi ini aku melihat mengapa beliau sangat menghemat kertas, sehingga tidak ada ruang kosong dalam selembar kertas yang ditulisinya. Mungkin itu suatu protes juga terhadap ketamakan manusia rakus yang tidak menghargai dan berterima kasih atas pemberian Tuhan, seperti para pencinta lingkungan hidup yang tidak mau menggunakan <em>tissue</em> dan tusuk gigi sebagai protes terhadap pembabatan hutan. Penghayatan kemiskinan yang terwujudkan dalam penghematan, hidup sederhana, bahkan protes tersembunyi tsb, sungguh-sungguh memberikan arti dalam penampilanku di tengah dunia yang menjanjikan segalanya.</p>
<p align="justify"> </p>
<p><strong>P. JEAN BERTHIER, KOMUNIKATOR ULUNG</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Relasi antar sesama, terutama dengan masyarakat, sangat mengagumkan. Kemampuan prima dalam berkomunikasi dan berkorelasi sangat luar biasa, sepertinya pemanfaatan jurus hipnotis yang mampu menaklukkan siapun juga termasuk mereka yang antipati terhadapnya. Relasi dengan para janda dan ibu-ibu muda, termasuk remaja-remaja putri tidak menggoyahkan kaul selibatnya. Ketaatan pada atasan tidak diragukan, sungguhpun banyak peristiwa yang mengundang sikap perlawanan, termasuk sikap setia pada konggregasi asalnya.</p>
<p align="justify">Disamping semuanya itu ada tiga hal yang sungguh-sungguh merasuk dan mempengaruhi jiwaku. <em>Pertama</em>, pemanfaatan positif menghadapi kondisi fisik. Beliau bukan bertubuh atletis dan tidak memiliki kesehatan prima. Penyakit sepertinya punya kenyamanan mendiami dan menggerogoti tubuhnya. Tetapi dalam kondisi seperti itu, beliau malah menjadi pengkhotbah handal, dan pemberi retret terkenal. Serangan penyakit dilawan dengan kegiatan-kegiatan rohani. Luar biasa! <em>Kedua</em>, semangat misi merasuki dirinya sampai ke tulang sumsumnya. Sungguhpun tidak pernah direalisir dengan menjadi missionaris, tetapi seluruh sisa hidupnya digunakan untuk menyiapkan pengikutnya untuk menjadi missionaris. Jiwa missionarisnya sungguh-sungguh luar biasa, sehingga mendapat predikat: missionaris tanpa lelah. <em>Ketiga</em>, spiritualitas yang sangat mendalam. Tulisan-tulisannya dengan kasat mata menggambarkan bagaimana spiritualitas seorang Jean Berthier MS. Sulit untuk melukiskan dengan kata-kata, tetapi aku dapat merasakannya.</p>
<p align="justify">Satu refleksiku yang bisa kuungkapkan: Dia menjadikan aku seorang MSF lahir batin! Dia membuat aku sangat mencintai MSF! Dia seorang hebat dan luar biasa!</p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify">St. Lukas-Samarinda, 21-11-2008</p>
<p align="justify">P. Frans Huvang Hurang, MSF.</p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/411/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=411&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/04/pater-jean-berthier-ms-di-penghujung-lansiaku%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAPAK-TAPAK KESUCIAN</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/tapak-tapak-kesucian/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/tapak-tapak-kesucian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 03:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun Yubileum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Pater Jean Berthier MS adalah seorang pribadi yang layak dipuji, seorang kristiani tersohor dalam pelbagai keutamaan. Dia seorang yang luar biasa dengan kasih berlimpah-limpah kepada Allah, dengan kesetiaan mendalam kepada Gereja. Berikut ini beberapa kesaksian dari tokoh yang mengenalnya dari dekat.
Kesaksian dari Jan Sprangers,
Imam dan Deken di Grave (Cuyk)
PATER JEAN BERTHIER MS: BAPA YANG MURAH [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=409&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Arial;">Pater Jean Berthier MS adalah seorang pribadi yang layak dipuji, seorang kristiani tersohor dalam pelbagai keutamaan. Dia seorang yang luar biasa dengan kasih berlimpah-limpah kepada Allah, dengan kesetiaan mendalam kepada Gereja. Berikut ini beberapa kesaksian dari tokoh yang mengenalnya dari dekat.<span id="more-409"></span></p>
<p><strong><em>Kesaksian dari Jan Sprangers,</p>
<p>Imam dan Deken di Grave (Cuyk)</p>
<p></em><strong><span style="text-decoration:underline;">PATER JEAN BERTHIER MS: BAPA YANG MURAH HATI</p>
<p></span>Pater Jan Sprangers menyampaikan khotbah istimewa dalam kesempatan pemakaman P. Berthier. Ia mengenal P. Berthier baik dari luar maupun dari dalam, baik karya maupun pribadi Bapa Pendiri. Ia memuji kepribadian dan keutamaanya, khususnya mengenai (1) kasih kebapakan dan (2) kemurahan hatinya.</p>
<p>P. Jan Sprangers mengungkapkan bahwa Allah mengirimkan hati kebapakan untuk anak-anak P. Berthier saat itu. Ia mengenang beberapa hal dalam buku P. Berthier yang berjudul Imama. P. Berthier menggarisbawahi hal ini: di antara sebutan yang diterapkan pada para imam, sebutan yang paling terhormat adalah ‘bapa’. Di depan para murid Berthier, P. Sprangers menegaskan: “Dia mencintai kalian dengan hangat dan sepenuh hati. Tentunya kalian sungguh menangkap perhatiannya yang dilimpahkan untuk mendampingi perkembangan kalian dalam rangka mendidik dan menguduskan kamu sekalian&#8230; Kamu masing-masing kiranya mampu mengatakan suatu kelemahlembutan yang luar biasa yang dimilikinya bagi kalian, untuk tiap-tiap orang dari kamu, dan untuk karya panggilan imamat yang telah ia rintis demi kemuliaan Allah”.</p>
<p>P. Jan Sprangers melanjutkan bahwa Pater Berthier dikasihi juga oleh pelbagai pribadi dengan perhatian yang istimewa bagi dunia saat ini. Hidupnya yang transparan, keluhuran jiwanya, sifat tidak mencari keuntungan dirinya, serta sikap mengorbankan dirinya; semuanya itu memberinya penghargaan, simpati, serta pujian dari mereka yang beruntung telah berjumpa dengannya. Yang mengenalnya secara tidak langsung pun merasa beruntung. Ia sungguh dikasihi karena ia seorang yang baik di mata semua orang; menyenangkan hati karena kesahajaannya, kebaikannya, serta kesederhanaan sikapnya untuk menanggapi tiap pendapat dengan bebas.</p>
<p>“Meski ia memiliki aneka kemampuan, tak pernah ia menyombongkan diri. Walaupun ia merupakan pribadi yang sungguh berkualitas ia tidak menonjolkan diri. Meskipun ia beroleh begitu banyak keberhasilan dalam karya-karyanya, ia tidak ingin diagung-agungkan, justru ia menjauhkan diri dari sikap supaya dielu-elukan&#8230; Ia begitu besar di mata sesamanya dan begitu sederhana, biasa, dan sahaja di depan matanya sendiri.”</p>
<p>Simpati dan pujian besar dari semua orang ini merupakan ujian dan godaan yang bertubi-tubi untuk seorang beriman, sekalipun sungguh suci. Ia tidak jatuh dalam godaan supaya dipuji-puji; ia tinggal dalam kesederhanaan di hadapan Allah. Dikuatkan oleh teladannya, marilah kita ikuti jejaknya sambil berupaya menjadi ragi Kristus dan menjadi harum karena tinggal dalam Dia.</p>
<p><strong><em>Kesaksian dari P. Marie Auguste Rivoire, seorang abbas Cartusian, yang pernah menjadi murid P. Berthier di Corps (dekat La Salette).</p>
<p></em><strong>PATER JEAN BERTHIER MS: SEORANG SANTO DAN CENDEKIAWAN</p>
<p></strong>“Pater Berthier merupakan sekaligus seorang santo dan cendekiawan; seorang model misionaris, pekerja yang rajin, seorang pribadi yang terbakar oleh semangat kerasulan, sunguh aktif dan memiliki kekayaan hidup interior, keras namun sekaligus lunak dan penuh kasih, mampu memikat hati dan menyatukan jiwa.</p>
<p>Ia seorang abdi Tuhan dan pendoa, amat berbakti kepada Maria, peka dalam bertutur-kata, terpuji, dianugerahi iman yang menyala, serta kaya akan gagasan ilahi. Ia merupakan sosok jiwa yang cekatan dengan kegigihan seperti baja, di atas rata-rata orang pada umumnya. Seorang imam pada zamannya, pengajar yang memakai metode para santo-santa yang agung, bukan seorang orator namun tetap saja seorang pengkhotbah yang memikat dan terkenal, bagaikan sinar yang mampu membakar tanpa membutakan mata, seperti cahaya yang menghangatkan tanpa menghanguskan – itulah dia!</p>
<p>Rendah hati, sahaja, peka, lebih memperhatikan buah-buah jangka panjang dari pada akibat-akibat sesaat. Pencinta para miskin, pelaku keugaharian, dan seorang pekerja. Berkarakter keras dan tegas &#8211; sebagaimana para kudus dan para pendiri kongregasi, penuh dan kaya akan keutamaan. Memadukan martabat dan kebaikan hati, kemampuan pribadi dan kesederhanaan. Sekaligus memiliki dan mengembangkan kepribadian yang unik, cocok untuk karya-karya agung begitu penting dan bertahan berabad-abad. Itulah dia!</p>
<p>Kita memuji dan bersyukur untuk hidup dan karya-karyanya yang terwujud berkat kasih Allah dan demi Kerajaan Allah.</p>
<p>P. Santiago Fernandez del Campo, MSF</p>
<p></strong></strong></strong></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/409/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=409&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/tapak-tapak-kesucian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“BONUS PASTOR&#8221; DARI KOMUNITAS PASTOR BONUS MANILA</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/%e2%80%9cbonus-pastor-dari-komunitas-pastor-bonus-manila/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/%e2%80%9cbonus-pastor-dari-komunitas-pastor-bonus-manila/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 02:12:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misi]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsialat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
Pada perayaan Ekaristi Hari Minggu Misi Sedunia, 19 Oktober 2008, Komunitas MSF Pastor Bonus diundang untuk ikut berkonselebrasi di gereja Katedral keuskupan Novaliches, Manila. Komunitas Pastor Bonus hadir dengan kekuatan penuh (P. Wahyu, P. Yere, P. Lukas, P. Benoit, P. Erwin, dan P. Yamrewav) bersama dengan P. Paul Yan Olla (Assisten Jenderal MSF dari Roma) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=404&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> </p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-425" title="bishopantonio" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/bishopantonio.jpg?w=219&#038;h=300" alt="bishopantonio" width="219" height="300" /> </p>
<p>Pada perayaan Ekaristi Hari Minggu Misi Sedunia, 19 Oktober 2008, Komunitas MSF <em>Pastor Bonus </em>diundang untuk ikut berkonselebrasi di gereja Katedral keuskupan Novaliches, Manila. Komunitas Pastor Bonus hadir dengan kekuatan penuh (P. Wahyu, P. Yere, P. Lukas, P. Benoit, P. Erwin, dan P. Yamrewav) bersama dengan P. Paul Yan Olla (Assisten Jenderal MSF dari Roma) dan P. Teddy (Provinsial MSF Prov. Kalimantan). Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Uskup Novaliches, Mgr. Antonio Tobias DD, dimaksudkan juga sebagai penerimaan resmi para misionaris baru dan pelepasan mereka yang akan kembali ke negara masing-masing atau berpindah tugas ke tempat lain. Hadir dalam perayaan Ekaristi tersebut sejumlah besar misionaris yang berdomisili di keuskupan Novaliches dari bermacam negara dan benua, bersama dengan umat yang memenuhi gereja. </p>
<p><span id="more-404"></span>Dalam kotbahnya, Uskup Tobias menegaskan bahwa memang banyak sekali misionarisdan juga banyak karya yang dikerjakan di kebun karet Tuhan. Tapi hendaklah jangan dilupakan Sang pemilik kebun karet dan Tuan dari para pekerja tersebut. Uskup juga mengajak segenap umat untuk senantiasa memohon kepada Tuhan untuk mengirimkan pekerja-pekerja ke kebun karetNya. Sebelum berkat penutup, kami semua diberi pot bunga kecil sebagai lambang kehidupan dan salib yang menghidupkan.</p>
<p> Sungguh membahagiakan berada bersama dengan misionaris-misionaris dari Korea, Bangladesh, Pakistan, Spanyol, Portugal, India, Afrika, dan Negara-negara lain. Juga amat meneguhkan menyaksikan umat yang mendukung dengan doa-doa mereka. Walaupun kami (MSF) hampir semuanya <em>students</em>, bukan berkarya di bidang parokial atau kategorial tapi tugas studi lanjut, tetaplah kami adalah misionaris: Misionaris Keluarga Kudus. Komunitas <em>Pastor Bonus</em> memang masih sangat baru di Manila, bahkan komunitas dan misi MSF pertama di Negara Filipina, masih dalam taraf penjajagan dan penelusuran. Namun demikian, Komunitas Pastor Bonus telah menjadi hadiah bagi Kongregasi MSF, bagi perayaan 100 tahun wafat P. Berthier, bagi Gereja Universal, dan bagi Gereja Lokal keuskupan Novaliches.  Pada saat ini, Komunitas <em>Pastor Bonus</em> telah memberikan “bonus pastor” sebanyak enam orang. Semoga pada waktu yang akan datang, jumlah ini makin bertambah dan kwalitas karya makin meningkat, sehingga cita-cita P. Berthier dapat makin terwujud. </p>
<p align="justify">P. Yamrewav, MSF</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/404/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=404&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2009/03/03/%e2%80%9cbonus-pastor-dari-komunitas-pastor-bonus-manila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13d4adef95323dbca481c54a158be25c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2009/03/bishopantonio.jpg?w=219" medium="image">
			<media:title type="html">bishopantonio</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>