<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Musafir MSF</title>
	<atom:link href="http://msfmusafir.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://msfmusafir.wordpress.com</link>
	<description>Misionaris Keluarga Kudus - Provinsi Kalimantan</description>
	<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 03:40:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Redaksi Menyapa</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/redaksi-menyapa/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/redaksi-menyapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 11:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/redaksi-menyapa/</guid>
		<description><![CDATA[
“Rorate Coeli” sebuah lagu masa adven berkumandang dalam telinga saya. Bersoraklah….meskipun terkesan agak terlambat MUSAFIR menyapa para pembaca setia, namun bahan-bahan untuk edisi kali ini akhirnya terkumpul juga untuk menamani waktu senggang para pembaca setia meskipun bahan-bahan rutin seperti budaya, resep makanan dan lain-lain tidak masuk ke meja redaksi.
Awalnya edisi ini direncanakan untuk menampilkan tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/cover.jpg" alt="cover.jpg" /></p>
<p>“Rorate Coeli” sebuah lagu masa adven berkumandang dalam telinga saya. Bersoraklah….meskipun terkesan agak terlambat MUSAFIR menyapa para pembaca setia, namun bahan-bahan untuk edisi kali ini akhirnya terkumpul juga untuk menamani waktu senggang para pembaca setia meskipun bahan-bahan rutin seperti budaya, resep makanan dan lain-lain tidak masuk ke meja redaksi.</p>
<p>Awalnya edisi ini direncanakan untuk menampilkan tulisan seputar kapitel MSF Provinsi Kalimantan dan tentang usaha rumah retret di Ampah dan lain sebagainya mengenai MSF Provinsi Kalimantan, namun karena berbagai pertimbangan yang masuk, maka Team Kerja Redaksi mencoba untuk mengolahnya dalam bentuk lain.</p>
<p>Pada edisi kali ini, Redaksi MUSAFIR menggemakan kembali Perayaan 100 tahun misi wilayah gerejawi Keuskupan Agung Samarinda yang baru saja disyukuri dan berapa kegiatan lain yang kiranya masih sejalan dengan Gema Perayaan Syukur 100 tahun misi wilayah gerejawi Keuskupan Agung Samarinda.</p>
<p>Redaksi MUSAFIR pun menyadari bahwa zaman sekarang ini banyak persoalan yang dihadapi oleh keluarga-keluarga Kristiani berkaitan dengan visi-misi perutusan dan panggilan keluarga kristiani. Oleh karena itu tulisan berkaitan dengan Panggilan dan Perutusan keluarga-keluarga kristiani di tengah-tengah masyarakat ikut menyemarakan ruang Redaksi MUSAFIR yang kiranya menjadi wacana refleksi bagi para keluarga kristiani.</p>
<p>Tulisan seputar panggilan khusus yang menampilkan profil Mgr. F. X. Prajasuta, MSF (Uskup Banjarmasin) yang baru saja merrymaking Triwindu Tahbisan Uskup juga di tuangkan di dalamnya sebagai wacana yang membangkitkan semangat kita semua terutama para pembaca setia untuk ikut memikirkan dan bergerak bersama dalam mempromosikan panggilan hidup membiara.</p>
<p>Tidak ketinggalan berita dari Manca Negara kami Hadrian buat para pembaca MUSAFIR yang budiman, yaitu seputar Kapitel General MSF dan konser musik P. Garin MSF di kota Piza Italia-Roma. Syukur pada yang Kuasa, karena pada akhirnya P. Garin, MSF menyelesaikan studinya  di bidang musik Gereja. Proficiat Pastor Musik…</p>
<p>Semoga keterlambatan MUSAFIR edisi kali ini ke ruang hati para pembaca sekalian tidak mengurangi minat baca Anda semua.</p>
<p>Selamat Membaca dan Menikmati hari-hari hidup Anda sekalian bersama MUSAFIR.<span id="more-187"></span></p>
<p><img src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/cover-02.jpg" alt="cover-02.jpg" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/187/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/187/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=187&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/redaksi-menyapa/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/cover.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/cover-02.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover-02.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anggur yang Baru Disimpan Orang dalam Kantong yang Baru pula</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/anggur-yang-baru-disimpan-orang-dalam-kantong-yang-baru-pula/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/anggur-yang-baru-disimpan-orang-dalam-kantong-yang-baru-pula/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 11:06:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Provinsialat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/anggur-yang-baru-disimpan-orang-dalam-kantong-yang-baru-pula/</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230; anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula &#8230;” (Matius 9:17)
30 September 2007; disaat sebagian warga bangsa Indonesia tertunduk mengenangkan kekejaman dan kekejian yang terjadi 42 tahun yang lampau lewat aksi Gerakan 30 September PKI, sebagian warga Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Misionarii a Sacra Familia – MSF) tertunduk pula mengenangkan karya Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>“&#8230; anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula &#8230;” (Matius 9:17)</em></p>
<p>30 September 2007; disaat sebagian warga bangsa Indonesia tertunduk mengenangkan kekejaman dan kekejian yang terjadi 42 tahun yang lampau lewat aksi Gerakan 30 September PKI, sebagian warga Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Misionarii a Sacra Familia – MSF) tertunduk pula mengenangkan karya Allah yang agung dalam Kongregasi. Hari itu, 44 pastor MSF dari segala penjuru dunia berkumpul di Roma untuk memulai Kapitel Jenderal MSF ke – 12. Hari itu, diiringi suara angin musim gugur, di dalam Perayaan Ekaristi, 44 pastor MSF mensyukuri sekaligus memohon rahmat dari Allah yang agung bagi tahapan penting dalam sejarah hidup Kongregasi MSF, yaitu pelaksanaan forum pemegang kekuasaan tertinggi di Kongregasi dalam bentuk Kapitel Jenderal MSF, yang berlangsung setiap 6 (enam) tahun.</p>
<p>Kapitel Jenderal MSF ke – 12 itu berlangsung pada tanggal 30 September – 18 Oktober 2007. Kapitel ini bertepatan dengan peringatan 100 tahun wafatnya Pater Berthier MS, pendiri Kongregasi MSF. Oleh karena itu, diinspirasi oleh karya dan semangat Pater Pendiri segenap Kapitulan dan semua anggota MSF dipanggil untuk memperkuat panggilan, misi dan hidup persaudaraan sebagai Misionaris Keluarga Kudus. Secara khusus ada 8 (delapan) tema yang direnungkan, didiskusikan, termasuk diperdebatkan, dan akhirnya dirumuskan untuk menjadi pegangan seluruh Kongregasi untuk perjalanan waktu 6 (enam) tahun ke depan. Ke-8 tema tersebut adalah berkaitan dengan Misi, Hidup Religius, Komunitas Lokal dan Superior Lokal, Dewan Jenderal, Pendidikan, Keluarga, Provinsi-provinsi Kecil serta Perayaan 100 Tahun P. Berthier.<span id="more-184"></span></p>
<p>Dalam perjalanan hidup Gereja upaya pembaharuan terus terjadi silih beganti. Lewat upaya-upaya itu Gereja mencoba mengimbangi perkembangan jaman yang melaju dengan sangat pesat. Perkembangan jaman itu ibaratkan pedang bermata dua. Dia selalu mempunyai sisi yang positif dan sisi yang negatif. Berhadapan dengan kedua sisi itu, Gereja harus selalu mampu memposisikan dirinya pada tempat yang tepat. Dengan demikian Gereja tidak akan ketinggalan jaman dan pewartaan Kabar Baik akan selalu berdaya guna. Pada menit yang sama, Gereja akan selalu mampu menyuarakan suara kenabiannya jika perkembangan jaman itu ternyata justru menjerumuskan kehidupan pada kesalahan. Sebuah peran yang sangat tidak mudah, yang harus diambil dan dijalani oleh Gereja. Gereja tidak boleh terlalu kaku, sehingga segala-galanya menjadi tidak boleh; Tetapi juga tidak boleh terlalu fleksibel, sehingga segala-galanya menjadi boleh.</p>
<p>Dalam ajaran Gereja, Gereja bukan pertama-tama sebuah gedung, tetapi Gereja adalah kesatuan Umat Allah yang mengimani Kristus. Kita bersama adalah Gereja; mulai dari Hirarki sampai Awam. Dipundak kitalah kemampuan memposisikan diri pada tempat yang tepat terhadap berbagai perkembangan jaman diletakkan. Dengan dipimpin oleh Hirarki Gereja dan didukung oleh Awam, Gereja menjalankan perannya dalam arus jaman yang selalu berubah setiap saat dan cepat.</p>
<p>Sepanjang sejarah Gereja kita dapat menunjuk banyak hal dimana Gereja dengan sangat mampu menanggapi perkembangan jaman itu dengan sangat baik; dengan pengambilan sikap yang tepat. Pada saat itu Gereja sungguh dapat menjadi titik orientasi manusia dan jaman untuk menentukan pilihan sikap. Dari sisi yang lain Gereja juga selalu dapat memberikan suara kenabiannya untuk mengarahkan manusia dan jaman agar tetap berada pada jalan peziarahan yang benar menuju kepada Allah. Dengan demikian Sabda Injil yang dikutip di atas tergenapi dalam pengambilan sikap Gereja, yaitu bahwa “anggur yang baru ditempatkan di dalam kantong yang baru pula”. Tetapi harus diakui pula dengan jujur dan rendah hati bahwa dalam banyak kasus dan situasi dalam sejarah Gereja orang-orang Gereja tidak mengambil sikap yang tepat ketika berhadapan dengan perkembangan jaman yang menawarkan nilai-nilai yang justru menjerumuskan kehidupan. Orang-orang Gereja tidak mampu menjalankan peran Gereja untuk memberikan orientasi dan suara kenabiannya. Sejarah membuktikan bahwa dalam situasi yang seperti itu akhirnya kondisi yang dihadapi sungguh sangat parah.</p>
<p>Dalam Kapitel Jenderal MSF yang baru berlalu berbagai hal di dalam kehidupan Kongregasi diangkat ke permukaan sidang dan dikaji bersama. Ada banyak perkembangan baru yang terjadi dalam Kongregasi MSF yang menuntut pengambilan sikap yang baru. Tuntutan pengambilan sikap baru itu tidak dapat ditolak kalau Kongregasi MSF masih mau menjadi salah satu Agen Gereja yang menjalankan peran Gereja untuk menanggapi perkembangan jaman yang terjadi. Harus diakui bahwa pengambilan pilihan sikap yang baru itu menuntut banyak perubahan yang harus dilakukan di tingkat Kongregasi dan Provinsi-provinsi. Ecclesia Semper Reformanda – Gereja selalu memperbaharui dirinya. MSF juga harus mau memperbaharui dirinya setiap saat. Jika tidak, tidak perlu disesali ketika MSF ditinggalkan oleh jaman yang terus melaju.</p>
<p><em>P. Teddy</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/184/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/184/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=184&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/anggur-yang-baru-disimpan-orang-dalam-kantong-yang-baru-pula/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gema 100 tahun Misi Katolik</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/gema-100-tahun-misi-katolik/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/gema-100-tahun-misi-katolik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 11:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/gema-100-tahun-misi-katolik/</guid>
		<description><![CDATA[Sendawar Kutai Barat, Kalimantan Timur
Sebuah Misa syukur untuk merayakan 100 tahun misi Gereja di Samarinda menyoroti keberhasilan dan tantangan misi Gereja di Borneo, Indonesia bagian timur.
Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang, ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), memimpin liturgi 8 Juli yang dihadiri ribuan umat Katolik di sebuah lapangan terbuka di Barong Tongkok, sebuah desa di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sendawar Kutai Barat, Kalimantan Timur</p>
<p>Sebuah Misa syukur untuk merayakan 100 tahun misi Gereja di Samarinda menyoroti keberhasilan dan tantangan misi Gereja di Borneo, Indonesia bagian timur.</p>
<p>Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang, ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), memimpin liturgi 8 Juli yang dihadiri ribuan umat Katolik di sebuah lapangan terbuka di Barong Tongkok, sebuah desa di Kabupaten Kutai Barat. Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Leopoldo Girelli dan Uskup Agung Samarinda Mgr Florentinus Sului Hajang Hau MSF juga memimpin liturgi tersebut.</p>
<p>“Kini 100 tahun sudah Gereja Katolik berkarya di wilayah kita. Hasil tanggapan sudah lumayan,” kata Uskup Agung Hajang Hau dalam homilinya. Namun dengan menggunakan sebuah analogi lain, ia mengatakan bahwa benih-benih iman yang ditaburkan “telah menjadi pohon, walaupun bukan pohon yang besar dan rindang.”<span id="more-183"></span></p>
<p>“Sekarang kita sudah memiliki beberapa imam, biarawan, dan biarawati. Ada sejumlah umat awam Katolik yang menjadi gubernur, bupati, dan anggota DPR,” kata uskup agung yang berasal dari Tering itu.</p>
<p>Merujuk pada perintah Yesus kepada Simon (Petrus) untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan, prelatus itu mengakui bahwa perintah yang sama “akan menjadi tantangan bagi kita, generasi periode 100 tahun kedua.”</p>
<p>Seperti para misionaris awal yang meletakkan dasar yang kokoh bagi Gereja, lanjutnya, “kita harus meletakkan Gereja kita untuk periode 100 tahun kedua di atas Kristus yang sama.” Ia menyebut cinta kasih, persekutuan, dan persaudaraan sejati sebagai ciri khas yang harus dimiliki Gereja.</p>
<p>“Ini adalah cita-cita mulia, tapi berat. Namun saya yakin, inilah tantangan yang diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan minta supaya kita lebih berani menebarkan jala kita untuk mendapatkan tangkapan yang lebih banyak lagi,” tegasnya.<br />
Uskup Situmorang mengatakan kepada umat yang menghadiri Misa: “Tugas pewartaan telah kita terima untuk pergi ke seluruh dunia dan menjadikan setiap orang anak-anak Allah. Dalam perayaan ini, marilah kita perbarui iman dan kesadaran kita akan tugas perutusan untuk mewartakan Sabda Allah.”</p>
<p>Duabelas uskup dari Pulau Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi, serta 52 imam yang berkarya di Kalimantan Timur bergabung dengan para konselebran utama. Antonius Semara, sekretaris jenderal Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia, dan beberapa pejabat setempat juga hadir.</p>
<p>Dalam sambutan, Semara meminta Gereja lokal untuk menginspirasi umatnya sehingga mereka akan selalu merasa haus akan Sabda Tuhan. Gereja harus mampu melihat dan menghadapi peluang, tantangan, dan hambatan di masa mendatang, katanya.</p>
<p>Atas nama Paus Benediktus XVI, Uskup Agung Girelli mengucapkan selamat kepada umat Katolik di Kalimantan Timur dan mengatakan: “Kita bersyukur kepada Allah yang telah mendampingi para misionaris dalam melaksanakan tugas mereka dengan baik. Perjalanan sulit mereka telah menjadi sarana pewartaan Kabar Gembira.”</p>
<p>Sebelum Misa, sejumlah tokoh Gereja termasuk umat awam menggunakan spidol warna emas untuk menandatangani tiga prasasti marmer. Prasasti pertama adalah tugu menyongsong 100 tahun kedua dari Gereja lokal, prasasti kedua adalah untuk pembangunan Catholic Center, dan prasasti ketiga adalah untuk pembangunan sebuah gereja Katolik baru.</p>
<p><img ALT="gema01.jpg" SRC="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/gema01.jpg" /></p>
<p><img ALT="gema02.jpg" SRC="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/gema02.jpg" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/183/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/183/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=183&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/gema-100-tahun-misi-katolik/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keuskupan Agung Samarinda tetapkan Tujuan Dan Strategi Baru</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/keuskupan-agung-samarinda-tetapkan-tujuan-dan-strategi-baru/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/keuskupan-agung-samarinda-tetapkan-tujuan-dan-strategi-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/keuskupan-agung-samarinda-tetapkan-tujuan-dan-strategi-baru/</guid>
		<description><![CDATA[
SENDAWAR, Kalimantan Timur ……Untuk memperingati seabad Gereja Katolik di Kalimantan Timur, Keuskupan Agung Samarinda telah mempertemukan umat Katoliknya untuk membahas bagaimana keuskupan agung itu bisa menjadi Gereja lokal yang responsif dan mandiri.
Seminar dan lokakarya (semiloka) yang diadakan di Gedung BPU Tana Ngeriman, Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat, dari 4 hingga 6 Juli itu terfokus pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/kasri.jpg" alt="kasri.jpg" /></p>
<p>SENDAWAR, Kalimantan Timur ……Untuk memperingati seabad Gereja Katolik di Kalimantan Timur, Keuskupan Agung Samarinda telah mempertemukan umat Katoliknya untuk membahas bagaimana keuskupan agung itu bisa menjadi Gereja lokal yang responsif dan mandiri.</p>
<p>Seminar dan lokakarya (semiloka) yang diadakan di Gedung BPU Tana Ngeriman, Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat, dari 4 hingga 6 Juli itu terfokus pada tema: Bertolaklah ke Tempat yang Dalam. Penyelenggara memilih tema yang diinspirasikan dari Injil Lukas 5:4 itu untuk merefleksi karya misi para misionaris pendahulu, seraya merumuskan strategi karya pastoral yang baru. <span id="more-180"></span></p>
<p>Uskup Agung Samarinda Mgr Florentinus Sului Hajang Hau menjelaskan kepada para imam, religius, tokoh awam, pemimpin suku, tokoh masyarakat, dan orang muda yang hadir bahwa semiloka itu tidak semata-mata untuk merefleksikan karya para misionaris pendahulu. Tujuan seminar itu, katanya, juga untuk merumuskan strategi pastoral di masa depan dan untuk mengimplementasikannya melalui pelbagai tindakan konkret &#8220;menuju kemandirian Gereja lokal dan kedewasaan iman.&#8221;</p>
<p>Ismael Thomas, Bupati Kutai Barat, juga mengungkapkan harapannya agar umat Katolik memperoleh semangat baru dan gambaran yang holistik tentang misi Gereja Katolik selama seabad di Kalimantan Timur yang akan &#8220;menjadi titik awal bagi upaya revitalisasi dan transformasi diri&#8221; misi itu dalam menghadapi situasi perkembangan zaman.</p>
<p>Untuk memberi konteks historis, presentasi-presentasi yang diberikan merefleksikan karya misi Katolik dan kesaksian pelaku sejarah misi di Propinsi Kalimantan Timur. Samarinda adalah ibukota propinsi itu.</p>
<p>Diskusi-diskusi dalam semiloka itu membicarakan tiga topik utama: pengembangan sumber daya umat; pendewasaan iman; dan gerakan Gereja keluar.</p>
<p>Sebagai tahap pertama untuk mengembangkan sumber daya umat Katolik lokal, peserta sepakat melakukan kaderisasi melalui pendidikan formal dan non-formal. Mereka meminta Gereja sebagai hirarki untuk mempertahankan sekolah Katolik yang ada, dan menge-lola pendidikan dengan prinsip mana-gemen organisasi. Mereka juga meminta kepada Gereja sebagai komunitas untuk membentuk lembaga-lembaga kader, mengadakan dan mengelola beasiswa, serta mendirikan asrama bagi para siswa dari daerah terpencil.</p>
<p>Dalam kaitan dengan pendidikan, mereka sepakat tentang perlunya menggali dan mengembangkan potensi sumber dana. Mereka meminta keuskupan agung itu untuk mendirikan usaha mandiri, termasuk di tingkat paroki. Peserta menjelaskan, bila kondisi ekonomi umat membaik, sumbangan mereka terhadap terciptanya Gereja lokal yang mandiri semakin besar.<br />
Untuk meningkatkan komunikasi dan akses informasi, mereka minta hirarki bukan hanya membangun kemitraan dengan awam yang punya keahlian khusus di bidang ekonomi, sospol dan website, tapi membangun dan meningkatkan pola komunikasi yang efektif antarumat, antarpastor dan antara keuskupan dengan umat melalui media Internet.</p>
<p>Masalah utama yang mereka lihat dalam pendewasaan iman adalah kurangnya pemahaman, pengetahuan dan penghayatan iman dalam hidupan sehari-hari. Mereka menilai keuskupan agung itu kurang memiliki tenaga terlatih untuk pembekalan dan pendampingan iman umat.</p>
<p>Dalam situasi seperti ini, peserta sepakat tentang perlunya katekese umat untuk semua kelompok, mengadakan kaderisasi dan pelbagai sarana pembinaan iman umat.</p>
<p>Mereka mengakui, banyak umat Katolik menemukan tayangan media massa dan berbagai kegiatan iman kelompok Kristen lain lebih menarik daripada kegiatan iman Katolik. Mereka melihat ini memerlukan pembaharuan metode dan semangat untuk kegiatan iman.</p>
<p>Sambil mengakui kurangnya panggilan imamat dan kehidupan membiara, mereka meminta hirarki menyelenggarakan promosi panggilan secara periodik dan umat mengarahkan dan merelakan putera-puterinya untuk menanggapi panggilan khusus.</p>
<p>Pastor Pieter Sinnema MSF mempresentasikan sejarah karya misi di Kalimantan Timur, dan Uskup Palangkaraya Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka MSF menyampaikan &#8220;Refleksi Teologis Pastoral Seabad Misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur.&#8221;</p>
<p>Misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur dimulai tahun 1907, ketika tiga Kapusin asal Belanda &#8212; dua imam dan seorang bruder - mulai berkarya di Laham, sebuah kampung kecil di pinggiran Sungai Mahakam. Dari sana, berkembanglah umat Katolik ke kampung-kampung dan kota-kota lain di wilayah Gerejawi Keuskupan Agung Samarinda.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/180/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/180/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=180&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/keuskupan-agung-samarinda-tetapkan-tujuan-dan-strategi-baru/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/kasri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kasri.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuhan Memberi Tumbuhan</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/tuhan-memberi-tumbuhan/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/tuhan-memberi-tumbuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:53:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misi]]></category>

		<category><![CDATA[Panggilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/tuhan-memberi-tumbuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Sekelumit Awal Misi MSF di Kalimantan dan Jawa
Mgr. W.J. Demarteau MSF
Dewasa ini di Indonesia seringkali diadakan peringatan awal karya misi di wilayah tertentu maupun kongregasi-kongregasi tertentu. Dalam hal itu MSF tidak sendirian karena

Tahun 1926 MSF mulai di Laham, dan
Tahun 1932 MSF mulai di Jawa Tengah

Dalam catatan sejarah  awal misi MSF di Indonesia ada juga catatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Sekelumit Awal Misi MSF di Kalimantan dan Jawa<br />
<strong>Mgr. W.J. Demarteau MSF</strong></em></p>
<p>Dewasa ini di Indonesia seringkali diadakan peringatan awal karya misi di wilayah tertentu maupun kongregasi-kongregasi tertentu. Dalam hal itu MSF tidak sendirian karena</p>
<ul>
<li>Tahun 1926 MSF mulai di Laham, dan</li>
<li>Tahun 1932 MSF mulai di Jawa Tengah</li>
</ul>
<p>Dalam catatan sejarah  awal misi MSF di Indonesia ada juga catatan “pra-sejarah” yang menarik.<span id="more-178"></span></p>
<p><strong>PRASEJARAH MSF di Kalimantan</strong></p>
<p>Tidak lama setelah meninggalnya Pater Berthier, pada tahun 1910 misionaris MSF  berangkat ke wilayah misi. Pada tahun 1920 berkarya beperapa imam-imam MSF dari Jerman, Belanda, Belgia maupun Perancis di Brazilia. Suatu kelompok misionaris yang international, dimana nampak ada kerja sama yang baik antara mereka.</p>
<p>Keputusan Dewan Jenderal pada tahun 1923 membawa perubahan. Sebelum tahun 1923 misi diatur langsung oleh dewan jenderal di Grave. Sejak itu misi di Brazilia diatur oleh MSF Jerman. (Tahun 1936 di Kongregasi MSF mulai dipakai istilah kanonik: Provinsi). Sejak MSF Jerman mengurus wilayah misi di Brazilia keinginan MSF Belanda makin keras mau mencari wilayah misi sendiri. Suatu wilayah yang disebut oleh Pater A.Trampe “HEIDENMISSION” (“misi orang kafir”) </p>
<p>Pater Trampe mulai bernegosiasi dengan Uskup San Antonio (Texas) yaitu Uskup Arthur Jerome Drossaerts, yang berasal dari negeri Belanda. Negosiasi itu kemudian gagal pada tahun 1924. Percobaan lain yaitu di Uruguay juga gagal karena uskupnya tidak mempunyai banyak tawaran. Dia tidak membutuhkan Imam untuk di daerah perkotaan dan kurang begitu percaya dengan imam yang bukan berasal dari Amerika Serikat.</p>
<p>Cari terlalu jauh? Pada tanggal 18 Augustus 1924 Pater Provinsial Kapusin Belanda, Pater Stanislaus mengirim surat kepada Pastor Trampe di Grave. Dalam surat itu Provinsial Belanda mengeluh bahwa Ordo Kapusin telah menerima Sumatera dan Kalimantan sebagai wilayah misi mereka. Ternyata terlalu berat maka dimohon agar MSF bersedia membantu misi OFM.Cap di Kalimantan Timur.  Surat itu ibarat  “tawaran rohani” bagi Pater Trampe. Kongregasi MSF boleh diberikan suatu “HEIDENMISSION”. Tidak perlu dipikir panjang lebar lagi dan bersama dengan dewan surat itu dianggap sebagai suatu penyelengaraan Illahi. Hanya Kongregasi MSF (Jenderal dan Dewan c.s.) belum mempunyai pengalaman mengenai karya misi tetapi mereka selalu percaya akan bantuan Tuhan.</p>
<p>Pada tanggal 12 Januari 1925 diputuskan akan menerima wilayah misi yang ditawarkan. Dalam surat Mgr.P.Bos OFM. Cap diberitahukan bahwa wilayah itu adalah Kalimantan Timur. Sementara itu Pastor A.Kivits OFM.Cap kembali ke daerah asalnya karena mengalami buta di Kalimantan Timur dan ingin bertemu dengan Pater Trampe sebelum kontrak disetujui.  Ia menganjurkan agar tidak mengambil alih Kalimantan Selatan juga, karena karya misi di Kalimantan Timur sudah banyak dan sebenarnya Kalimantan Selatan ditutup untuk karya misi Katolik karena Perda Batavia.</p>
<p>Ironisnya, Pater Trampe tidak takut dengan perda itu. Mungkin karena semangat misi dianggap dapat memindahkan gunung gunung yang berhalangan (cfr. Mt.17:20)? Dalam kontrak Oktober 1925 dengan jelas disebut bahwa akan diambil alih Kalimantan Timur dan Selatan (Oost en Zuid-Borneo) dan Kalimantan Barat tetap dilayani oleh OFM.Cap.</p>
<p>Penyerahan itu terburu-buru diselesaikan dan pada tanggal 1 Januari 1926 kemudian diutuslah 3 misionaris MSF asal Belanda dari Amsterdam. Setelah mereka berangkat ada surat protes dari Kardinal A.M. van Rossum dari Kongregasi Propaganda Fide ke Grave. Beliau tidak menyetujui negosiasi MSF dengan OFM.Cap.  Sebenarnya dalam surat tanggal 15 Juni 1925 telah dicatat bahwa Pater Callixtus OFM.Cap dan anggota dewan OFM.Cap di Roma sudah memberitahukan kepada Kardinal van Rossum bahwa hanya akan mengirim missionaris MSF sebagai pembantu dan mungkin berikutnya akan diatur pembagian wilayah misi. Jelas bahwa Kardinal van Rossum tidak senang dan dalam suratnya tanggal 29 Januari 1926 ke Pater Trampe diberitahukan bahwa gelar “missionarius apostolicus” tidak akan diberikan kepada Pastor Fr. Groot dan J. van der Linden. (N.B. dengan gelar itu yang bersangkutan dapat beberapa fasilitas dan aflaat). Tidak diketahui hukuman ini terasa berat, meraka tiba di Laham pada tahun 1926 dalam keadaan sehat walafiat dan menebarkan jala.   </p>
<p><strong>PRASEJARAH MSF di Jawa</strong></p>
<p>Seperti para pendahulu OFM. Cap, para missionaris MSF dengan bantuan para suster melanjutkan karya misi dengan semangat dan pengabdian yang sama. Mereka tidak takut dengan tantangan dan bersedia mengubah strategi policy pelayanan. Dalam tahun 1928 Tering sudah menjadi pusat misi. Sebelum perang dunia ke-II  sampai di Indonesia mereka membuka stasi-stasi di Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Tiong Ohang (Batu Urah), Long Pahangai, Long Pakaq, Barong Tongkok dan Banjarmasin. Mereka tidak putus asa, hanya dewan Jenderal MSF di Grave termasuk prokurator misi, Pater Kouwenhoven kecewa dengan hasil misi itu. Beliau kecewa bukan dengan para missionaris yang telah dikirim ke tanah misi tetapi dengan hasilnya. Diharapkan banyak pembabtisan, tetapi orang Daya tidak menunggu hendak dibaptis dengan segera. Masyarakat Laham menganggap ke-tiga orang baru itu baik, suka menolong orang sakit. Mereka membantu dengan mendirikan pastoran dan gereja dan senang kalau mendapat upah (garam, tembako sugi atau kain). Mereka juga tidak mau diganggu dengan ajaran agama dlsb. Anak mereka dipaksakan oleh pemerintah Belanda pergi ke sekolah. Setelah 3 tahun sesudah missionaris pertama tiba, Pater A.Kouwenhoven dikirim ke Kalimantan oleh Pater Trampe dengan maksud dan tujuan menyelidiki apakah misi MSF akan terus di Kalimantan atau berhenti saja.</p>
<p>Pater Kouwenhoven tiba di Laham bulan Mei 1929. Sebelumnya ia telah mengunjungi Mgr. A.van Velsen SJ di Jakarta. Beliau mengemukan bahwa MSF salah langkah mulai di Kalimantan, sebaiknya MSF tadinya mulai dahulu di Jawa. Dengan catatan kritis ini Monseigneur menawarkan akan membantu untuk bekerja sama dengan ordo Jesuit.</p>
<p>Bulan Juni 1929 diadakan rapat para uskup di Muntilan. Yang hadir pada saat rapat itu adalah para ordinarii dan para pemimpin misi seluruh Indonesia. Pastor Kouwenhoven diundang untuk hadir dengan hak bicara. Dalam rapat di Muntilan Pater Kouwenhoven menerangkan bahwa wilayah misi yang diambil alih dari ordo Capusin sangat mengecewakan MSF. Bersama dengan dewan Jenderal dipikirkan untuk berhenti dari misi di Kalimantan. Konferensi para pemimpin gereja yang berkumpul di Muntilan tidak menyetujui hal tersebut. Dalam rapat tersebut dikemukakan pengalaman yang sama juga dirasakan oleh para misionaris SJ awal abad ke 20 di Jawa Tengah.</p>
<p>Patut dicatat bahwa Pater Trampe sebagai Jenderal bersama Pater Kouwenhoven mendapat peneguhan dari peserta rapat di Muntilan. Pater Kouwenhoven kembali ke Kalimantan dengan harapan baru. Mereka, Pater Kouwenhoven dan Pater Trampe mendalami perkataan rasul Petrus yang mengatakan :” &#8220;Guru, telah kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa” dan setelah menebarkan jala atas nama Yesus telah berhasil banyak.</p>
<p>Visitasi ini telah berhasil dalam arti bahwa karya misi di Kalimantan diteruskan dengan  “membajak dan menabur” dengan lebih semangat di negara “dimana pohon pohon kelapa melambai” seperti yang dinyanyikan dalam salah satu lagu di Seminari dahulu. Sejak itu berapa keputusan diambil sekaligus membuktikan bahwa mereka sangat mencintai karya misi MSF di Kalimantan. Maka sejak tahun 1926 s/d 1940 dikirimlah 37 misionaris MSF ke Kalimantan .</p>
<p>Sebelum pulang ke negeri Belanda pada tahun 1929 Pater Kouwenhoven singgah di tempat vikaris apostolik Mgr. Van Velsen, di Batavia. Secara khusus beliau memohon lagi agar MSF bersedia membantu SJ di Jawa Tengah. Perspektif ini menghilangkan kekecewaan MSF di Kalimantan. Dalam hal ini Mgr. Van Velsen mengulangi harapannya dan berjanji akan membantu sedapat mungkin untuk mengatur segala-galanya dengan Kongregasi De Propaganda Fide.</p>
<p>Pada tanggal 12 April 1930 Dewan Jenderal MSF memutuskan untuk membantu Ordo SJ di Jawa. Keputusan ini ditulis dalam surat Pater Trampe kepada Mgr.van Velsen di Batavia.</p>
<blockquote><p><em>“Monseigneur”<br />
</em>Dengan gembira hati kami sudah mendengar dari prokurator misi Pater Kouwenhoven MSF yang pada tahun yang lampau sudah beberapa kali bertemu dengan Monseigneur, bahwa Monseigneur dengan baik hati bersedia memberi lapangan kerja di pulau Jawa kepada rama-rama MSF Belanda. Monseigneur, tidak usah memberitahukan bagaimana kami berterimakasih atas kesediaan itu, dan bagaimana kesediaan itu kami hargai. Hanya sekedar pandangan saja, bahwa mendapatkan tanah misi di pulau Jawa yang luas, padat penghuninya yang sangat berbeda dengan Kalimantan Timur yang umatnya hanya sedikit, kami semua menerima lapangan baru ini dengan gembira hati. Bahkan semangat misioner di antara para skolastik dan murid-murid berkobar-kobar mendengar tawaran Monseigneur. Berkat Tuhan Kongregasi kami bertambah jumlah anggotanya. Banyak pemuda yang ingin bekerja di tanah misi, hampir menyelesaikan waktu Persiapan mereka. Mulai tahun 1933 Monseigneur boleh mengharapkan tenaga MSF. Sayang untuk kita tidak mungkin memberikan kepastian sebelum tahun 1933, akan tetapi sesudah tahun itu kami tetap bersedia. Kita berharap agar kita dapat memberikan tenaga paling baik kepada pekerjaan misi di pulau Jawa. Bagian kongregasi MSF yang berada di Belanda belum mempunyai lapangan misi, kecuali Kalimantan Timur. Oleh karena itu Rama-rama MSF di Belanda sengat mengucapkan terima kasih kepada Monseigneur dan mereka mengharapkan agar dengan pertolongan Monseigneur dapat merealisir keinginan mereka.<br />
Sekali lagi kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Monseigneur atas kebaikan hati Monseigneur.</p>
<p><em>A.M. Trampe MSF<br />
Sup.Jen. MSF</em></p></blockquote>
<p>Sekali lagi surat ini membuktikan semangat kerasulan Pater Trampe untuk mengambil alih karya misi dari Kapusin. Kekecewaan-pun rupanya hilang.</p>
<p>Kontrak ini diteken di Grave pada tanggal 15 Juni 1931 oleh Pater Trampe MSF dan pempimpin di Jawa pater A. van Kalken SJ, sebagai wakil Mgr. Van Velsen. Dalam hal ini tidak ada penyerahan wilayah seperti tahun 1926 tetapi persetujuan untuk membantu Vikariat Apostolik di Batavia.</p>
<p>Tanggal 4 Februari 1932, 3 missionaris MSF ke Jawa, yaitu Pater M.Wilkens, J.v.d. Steegt dan N.Havenman MSF. Dari tahun 1932 sampai 1939 diutus 17 misionaris MSF asal negeri Belanda ke Jawa.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/178/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/178/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=178&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/tuhan-memberi-tumbuhan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Konser Syukur</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/sebuah-konser-syukur/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/sebuah-konser-syukur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Dari Roma]]></category>

		<category><![CDATA[Sosok Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/sebuah-konser-syukur/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Pada tanggal 11 Mei 2007, Pastor Garin mengadakan sebuah konser syukur. Konser itu diadakan di sekolah musik tempat ia menuntut ilmu, T.L. Da Victoria, di Via Caboto 20, Roma. Konser syukur itu dihadiri sekitar 100 undangan. Mereka adalah para anggota komunitas Generalat MSF, 4 anggota komisi persiapan kapitel General, para student MSF di Roma, beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <img src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/konser02.jpg" alt="konser02.jpg" /></p>
<p>Pada tanggal 11 Mei 2007, Pastor Garin mengadakan sebuah konser syukur. Konser itu diadakan di sekolah musik tempat ia menuntut ilmu, T.L. Da Victoria, di Via Caboto 20, Roma. Konser syukur itu dihadiri sekitar 100 undangan. Mereka adalah para anggota komunitas Generalat MSF, 4 anggota komisi persiapan kapitel General, para student MSF di Roma, beberapa staf kedutaan RI, dan sejumlah teman baik P. Garin, baik yang berwarga Negara Indonesia maupun Italia.<br />
Konser syukur dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, konser dibuka dengan sebuah doa yang dilagukan dengan judul “Di Batas Bayangmu”. Segera sesudah itu, Garin sebagai konduktor konser memainkan beberapa nomor lagu hasil komposisinya sendiri untuk instrument gitar yang dia pelajari selama 4 tahun di Roma. Dengan ditemani oleh seorang student lain, Garin memainkan sebuah duet yang berjudul “Prelude Triparti”. Konser mengalir dengan tenang dan relax, lebih-lebih ketika dia memainkan lagu berjudul “Tari Gong” dan “Tumpi Wayu”. Dua lagu yang berasal dari Kalimantan ini dimainkannya bersama dua musisi Italia yang memainkan instrument marimba. Bagian pertama dari konser ini, diakhiri dengan sebuah duet gitar yang mengalunkan lagu “saltarello Batente”. Lagu ini merupakan komposisi dari sang maestro di sekolah musik itu.</p>
<p><img src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/konser01.jpg" alt="konser01.jpg" /></p>
<p>Masih dengan gitar, Garin membuka bagian kedua konser syukur ini dengan memainkan sebuah “Serenata” , berduet dengan piano klasik. Suasana konser ini menjadi semakin sempurna, ketika setiap lagu yang dinyanyikan oleh para vokalisnya diiringi dengan flute, gitar, bongo, tamburin, dan piano.</p>
<p>Sore itu terasa sekali ritme musik instrumental memenuhi seluruh ruangan. Suasana menjadi lebih syahdu ketika para musisi mengiringi beberapa lagu yang berjudul “Ku Bersyukur” dan “Jalanku”. Pada bagian akhir, Antonio Garinsingan berterimakasih kepada siapa saja yang memberi kesempatan untuk belajar di sekolah ini, tempat ia belajar untuk membuat komposisi dan arrangement lagu. Sore itu hasil karyanya telah ditampilkan dalam konser syukur. Para hadirin berdiri dan menyambut dengan tepuk tangan. (Risdi).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/177/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/177/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=177&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/sebuah-konser-syukur/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/konser02.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">konser02.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/11/konser01.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">konser01.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keluarga Kristiani dan Evangelisasi Baru</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/keluarga-kristiani-dan-evangelisasi-baru/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/keluarga-kristiani-dan-evangelisasi-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:35:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/keluarga-kristiani-dan-evangelisasi-baru/</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH TANTANGAN REFLEKSI BIBLIS
PRAKATA
Dalam tulisan ini akan dibahas - dengan menggunakan metode pendekatan Kitab Suci – manakah peranan keluarga Katolik dalam Evangelisasi? Sejauh mana Kitab Suci dapat mendukung keluarga sebagai pangkal Evangelisasi yang diberi kata sifat “baru”? Dengan melihat realita yang ada dimana jumlah panggilan utuk menjadi Imam semakin berkurang dari tahun ke tahun, sementara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>SEBUAH TANTANGAN REFLEKSI BIBLIS</em></p>
<p><strong>PRAKATA</strong></p>
<p>Dalam tulisan ini akan dibahas - dengan menggunakan metode pendekatan Kitab Suci – manakah peranan keluarga Katolik dalam Evangelisasi? Sejauh mana Kitab Suci dapat mendukung keluarga sebagai pangkal Evangelisasi yang diberi kata sifat “baru”? Dengan melihat realita yang ada dimana jumlah panggilan utuk menjadi Imam semakin berkurang dari tahun ke tahun, sementara tugas pewartaan Injil adalah tugas yang harus tetap dijalankan, maka mulai sekarang dan khususnya di masa depan evangelisasi dunia tidak lagi terutama ditangani oleh lembaga dan organisasi misioner yang khusus (tarekat-tarekat kaum religius di kalangan Gereja Katolik; lembaga-lembaga penginjilan di kalangan Gereja Reformasi); tetapi oleh keluarga-keluarga yang terpanggil untuk mengemban amanat tugas perutusan Tuhan Yesus: “…pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…” (Mat 28, 19). <span id="more-174"></span></p>
<p><strong>KAUM AWAM YANG BERKELUARGA TULANG PUNGGUNG JEMAAT KRISTEN</strong></p>
<p><em>Paham Keluarga dalam Kitab Suci</em></p>
<p>Kiranya tidaklah berlebihan untuk mengatakan bawa selama 3 abad pertama, Injil dan Kekristenan disebarluaskan terutama oleh para Awam, mereka yang biasanya hidup berkeluarga. Memang ada juga bentuk hidup lain, yakni hidup membujang atau wadat seperti yang dikisahkan dalam Mat 19, 12; I Kor 7, 25 dst; I Tim 5, 9 dst; Luka 20, 35; namun data yang ditampilkan dalam Perjanjian Baru pada umumnya mengandaikan bahwa orang Kristen menikah dan berkeluarga seperti orang-orang lainnya. Cara hidup membujang seperti itu – walau bukan pilihan yang dipilih kebanyakan orang – namun dinilai positif oleh Matius 19, 12: dinilai sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini. Sejumlah teks, khususnya yang menyajikan semacam pedoman atau “tata tertib” keluarga Kristen dapat dibaca dalam Ef 5, 22-6, 9; Kol 3, 18-4,6; Tit 2, 1-10; 1 Ptr 2, 18-3, 7). Para Petugas jemaat diandaikan hidup berkeluarga (I Tim 3, 2.4.12; Tit 1, 6; I Kor 9, 5).</p>
<p>Secara umum, Perjanjian Baru dan Alkitab bila berbicara tentang “keluarga”, maka apa yang dimaksud dengan keluarga adalah keluarga besar, bukanlah keluarga inti (suami-istri serta anak-anak yang belum dewasa). Keluarga inti semacam ini baru muncul pada abad XVII terutama di kawasan Barat. Yang biasa dalam Alkitab adalah keluarga besar yang mencakup suami-istri, anak-anak, kakek-nenek, pembantu dan orang-orang lain yang bergantung pada keluarga ini. Tatanan keluarga demikian bersifat patriarkhal: Bapa/kepala keluarga mempunyai wewenang penuh untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah keluarga: ekonomi, keamanan, relasi dengan sesama warga dan dengan penguasa. Walau model keluarga semacam itu yang melatarbelakangi Kitab Suci,  namun tidak boleh dinilai sebagai satu-satunya model yang dapat diterima oleh umat beriman. Model keluarga lain seperti keluarga inti adalah suatu kemungkinan model yang mungkin pula diterima. Keluarga bukanlah ciptaan iman Kristiani melainkan adalah product dari suatu masyarakat tertentu dengan budaya tertentu yang senantiasa mengalami perubahan (inovasi) seiring dengan perkembangan zaman. Lambat laun model keluarga besar sudah mulai ditinggalkan dan masyarakat bergerak untuk menerima model keluarga inti sebagaimana nampak di kota-kota besar.</p>
<p><em>Keluarga Sebagai Tulang Punggung Jemaat</em></p>
<p>Kaum awam/mereka yang berkeluarga selama tiga abad pertama Kekristenan menjadi penyalur utama iman dan tradisi Kristen serta penyebar Injil dan penganjur Evangelisasi. Hal ini tentu bisa dimengerti mengingat situasi dimana jumlah „missionaris profesional“, seperti Paulus sangat langka. Suatu lembaga atau organisasi „missioner“ mirip dengan tarekat-tarekat kaum religius seperti yang ada sejak abad ke XVI belum ada dan belum terpikirkan pada waktu itu. Maka dalam situasi seperti itu, kaum awam sungguh tampil di garda depan sebagai missionaris. Di samping para awam ada juga sekolompok orang yang juga mempunyai perhatian khusus terhadap Kekristenan yang bertugas secara khusus untuk membela Kekristenan terhadap kritik yang dilontarkan oleh  para cendekiawan kafir serta rasa curiga negara ataupun pengecam kekristenan. Mereka bukanlah missionaris seperti halnya kaum awam, tetapi adalah „Apologet“, Pembela dan Penjaga ajaran Iman Kristen yang benar.</p>
<p>Dalam surat-surat „katolik“ (7 karangan yang agaknya muncul menjelang akhir abad I dan tercantum dalam Perjanjian Baru: surat Yakobus, surat Petrus pertama dan kedua, surat Yohanes pertama, kedua dan ketiga dan surat Yudas) tidak nampak lagi semangat/spirit missioner agresif yang menggerakkan santo Paulus dalam misinya mewartakan Injil. Jemaat-jemaat yang dituju oleh 7 karangan tersebut diatas mengalami kesulitan baik yang sifatnya internal maupun external. Diskriminasi, fitnahan, gangguan dalam menghayati dan mewujudkan imannya adalah fakta yang sangat jelas menunjukkan bagaimana umat mengalami situasi external yang tidak akomodatif terhadap kehadiran mereka. Dalam situasi yang demikian itu ke 7 surat/karangan „katolik“ itu bermaksud untuk mendorong umat agar mereka berani memberikan kesaksian tentang injil, menyebarkannya serta meresapkannya ke dalam kebudayaan melalui cara hidup Kristen sambil mempertahankan jati dirinya sebagai orang dan jemaat Kristen. Sejumlah teks Kitab Suci dapat memberikan informasi mengenai hal ini, misalnya: I Ptr 2, 9.12.15.17; 3,1-2.9.13-16; 4,4.5.15-16. Surat-surat Pastoral (1 dan 2 Timotius, Titus) tentu saja tahu akan Paulus, sang missionaris (1Tim 2,7; 2 Tim 2,9), tetapi tidak ditemukan suatu anjuran untuk meneruskan karya missioner dengan cara seperti yang telah dibuat oleh Paulus. Apa yang ditemukan adalah anjuran untuk membina jemaat menjadi semacam „mercu suar“ yang memancarkan Injil ke dalam masyarakat sekitarnya.</p>
<p>I Tim 3, 15-16 memakai suatu gambaran yang bagus. Jemaat Kristen disebut “rumah/keluarga Allah”. Rumah/keluarga Allah itu dibandingkan dengan suatu tugu tinggi (tiang) yang bertumpu pada suatu landasan yang lebar dan kokoh kuat. Pada landasan itu – menurut 2 Tim 2,19 –  terpahat suratan : „Tuhan Yesus mengenal siapa kepunyaanNya“ dan „Setiap orang (orang Kristen) yang menyebut nama Tuhan hendaklah  meninggalkan kejahatan“. Di puncak tugu itu bertenggerlah „Kebenaran“, ialah Injil yang diringkas dalam 1 Tim 3, 16. Dengan demikian jemaat Kristen merupakan semacam mercu suar serentak kenisah Allah yang dengan Injil bagai lampu sorot menyinari masyarakat dan menarik orang luar utuk bergabung dengan Kristus (bdk Yoh 12, 32) dan dengan paguyuban Kristen sama seperti jemaat Perdana di Yerusalem yang digambarkan dalam Kis 2, 46-47. Tentu saja agar dapat bertahan sebagai mercu suar jemaat harus mempertahankan dan memperkokoh identitasnya sebagai jemaat Kristen (1 Tim 6,3-4.20; 2 Tim 1, 13-14; 2,2; 4,14; Tit 2,9 dst) agar berdampak dalam masyarakat. Tampak dengan jelas bagaimana dengan gaya hidupnya jemaat mempengaruhi masyarakat.</p>
<p>Meskipun surat-surat Katolik dan surat-surat Pastoral tersebut tahu akan adanya petugas jemaat, namun jemaat yang menjadi mercu suar itu terbentuk oleh kaum awam yang berkeluarga. Kebudayaan Yunani-Romawi di zaman Perjanjian Baru berpusat pada kota dan kota berpusatkan keluarga besar terkemuka. Demikian juga kekristenan di zaman Yunani-Romawi (sampai abad V) berpusatkan kota. Selama kekristenan merupakan minoritas dan dicurigai dalam masyarakat, jemaat-jemaat Kristen pun berpusatkan pada keluarga (terkemuka), artinya jemaat-jemaat yang tidak mempunyai bangunan „gereja“ dan fasilitas lainnya terorganisasikan di sekitar salah satu keluarga (besar) terkemuka yang mempunyai rumah besar dan mampu menyediakan fasilitas lain yang perlu. Apa yang dikatakan dalam 1Kor 11, 17dst tentang jemaat (mungkin beberapa jemaat) yang berkumpul di satu tempat (bdk ay 20) utuk mengadakan perjamuan Tuhan mempunyai latar belakang semacam ini. Seluruh jemaat Kristen di kota Korintus datang berkumpul di rumah seorang anggota terkemuka (dan kaya) yang mempunyai rumah cukup besar untuk menampung segenap umat serta mampu menyediakan apa yang perlu untuk kepentingan ibadat termasuk makanan dan minuman. Paulus mengecam jemaat oleh karena dalam pertemuan itu nampaklah adanya perbedaan dan diskriminasi sosial (kaya-miskin, merdeka-budak dan sebagainya). Karena itu ia menyuruh agar acara makan-minum (pesta) dihentikan. Perbedaan dan diskriminasi semacam itu tidak sesuai dengan acara inti pertemuan, yakni perjamuan Tuhan.</p>
<p>Beberapa kali dalam Perjanjian Baru ditemukan ungkapan „jemaat di rumah orang tertentu“ (Rm 16,5; 1Kor 16,19; Kol 4,15; Flm 2). Terjemahan Latin mengalihbahasakan ungkapan itu dengan „ecclesia domestica“ (gereja rumah). Dari situ berasallah pandangan (yang sebenarnya tidak tepat) bahwa suatu keluarga Kristen menjadi suatu „gereja kecil“ (ecclesiola). Gereja besar atau kecil pertama-tama berdasarkan pada iman, dibangun oleh iman dan bukan pada hubungan antar manusia. Konsili Vatikan II dan khususnya Paus Yohanes Paulus II suka memakai istilah „keluarga sebagai gereja kecil“.     </p>
<p>Yang dimaksudkan oleh Perjanjian Baru dengan ungkapan tersebut adalah jemaat setempat yang kurang lebih besar, berkumpul di rumah/anggota keluarga yang terkemuka dan berada. Keluarga besar itulah yang menjadi pusat dan poros seluruh jemaat itu. Tuan rumah kiranya bertindak kurang lebih sebagai pemimpin perkumpulan jemaat itu. Filemon 2 paling jelas mengungkapkan soal ini. Demikian juga dalam Perjanjian Baru beberapa kali tercatat statement „salah seorang dengan seisi rumahnya menjadi percaya“, artinya dibaptis dan menjadi Kristen. Yang dimaksudkan dengan seisi rumah adalah keluarga besar seperti yang sudah disebut di muka: suami-istri, anak, sanak saudara, budak, pembantu dan sebagainya (bdk Kis 10,2.24.48; 11,14; 16,15.31; 18,8; 1 Kor 1,16). Kiranya ada pengandaian umum bahwa bila kepala keluarga masuk Kristen maka semua bawahannya ikut masuk Kristen sesuai dengan struktur patriarkhal keluarga Yunani. Tentu saja orang secara pribadi – lepas dari salah satu keluarga – dapat masuk Kristen dan kemudian menggabungkan diri dengan jemaat yang berpusatkan salah satu keluarga. Keluarga semacam itulah yang menjadi pusat, poros dan tulang punggung jemaat setempat. Dengan demikian kaum awam yang berkeluarga mesti disebut „tenaga inti jemaat“ dan bukan „imam, suster dan bruder“ seperti biasa dikatakan tentang peranan mereka dalam Gereja Katolik di Indonesia.</p>
<p>Banjar Baru, 30 Juli 2007<br />
                                                                        <br />
Rm  DR I Ketut Adi Hardana, MSF<br />
<em>(akan bersambung)</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/174/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/174/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=174&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/keluarga-kristiani-dan-evangelisasi-baru/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Anak, Aset dalam Keluarga</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/pendidikan-anak-aset-dalam-keluarga/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/pendidikan-anak-aset-dalam-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Unio Ampah]]></category>

		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/pendidikan-anak-aset-dalam-keluarga/</guid>
		<description><![CDATA[seminar pasutri di Paroki Buntok
“Pendidikan anak adalah aset dalam keluarga. Oleh karena itu setiap orang tua harus memperhatikan pendidikan anak-anaknya.” Demikianlah pengantar yang disampaikan oleh Pastor Timotium I Ketut Hardana MSF, atau yang beken dipanggil Pastor Timo, dalam seminar pasangan suami istri yang dilaksanakan di Paroki St. Paulus, Buntok. Selanjutnya P. Timo menguraikan sebuah dokumen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>seminar pasutri di Paroki Buntok</em></p>
<p>“Pendidikan anak adalah aset dalam keluarga. Oleh karena itu setiap orang tua harus memperhatikan pendidikan anak-anaknya.” Demikianlah pengantar yang disampaikan oleh Pastor Timotium I Ketut Hardana MSF, atau yang beken dipanggil Pastor Timo, dalam seminar pasangan suami istri yang dilaksanakan di Paroki St. Paulus, Buntok. Selanjutnya P. Timo menguraikan sebuah dokumen Gereja hasil Konsili Vatikan II berjudul “Gravissimum Educationis” yang menjadi wujud perhatian Gereja terhadap pentingnya pendidikan.</p>
<p>Seminar dengan tema “Pendidikan Anak, Aset dalam Keluarga” dilaksanakan pada, Minggu 28 Oktober 2007 di aula paroki. Hadir sekitar 36 pasutri (pasangan suami-istri) dari lima lingkungan dan beberapa stasi. Seminar berlangsung dari pukul 10.00 WIB sampai sekitar pukul 16.00 WIB dan dibagi dalam beberapa sesi serta diselingi dengan snack dan makan siang.</p>
<p>Secara umum, para pasutri yang hadir sepakat bahwa pendidikan sangatlah penting, terutama bagi anak-anak mereka. Bila diumpamakan, lebih baik mewariskan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan kebun karet puluhan hektar atau uang ratusan juta. Namun belum semua pasutri mengalokasikan dana khusus demi pendidikan anak-anak mereka. Kesan yang muncul adalah cukuplah bila orangtua sanggup membiayai pendidikan dasar anak-anak. Sedangkan untuk pembiayaan sampai pendidikan tinggi belum cukup terpikirkan. Padahal itulah yang menjadi syarat bagi terciptanya generasi penerus yang kompeten dan tangguh di tengah arus globalisasi yang deras menerjang dunia kita sekarang.</p>
<p>Disampaikan pula oleh P. Timo problematika yang dihadapi setiap keluarga pada zaman ini. Arus globalisasi tidak hanya membawa hal-hal positif, tapi bersamanya juga hal-hal negatif. Bila keluarga tidak siap menghadapi ini dan tidak punya sikap yang jelas, maka arus deras globalisasi akan menyeret siapa saja tanpa ampun. Maka jangan heran bila pada zaman ini banyak orang yang hidup dengan nilai-nilai konsumeristis, hedonistis, pola jalan pintas atau budaya instan, dengan segala konsekwensinya. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua.</p>
<p>Terima kasih kepada P. Timo, Tim Kerja Kerasulan Keluarga Paroki, para ketua lingkungan, dan seluruh panitia serta umat yang mendukung pelaksanaan acara ini. Tahun depan akan diadakan lagi seminar pasutri di Paroki Buntok.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/173/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/173/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=173&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/pendidikan-anak-aset-dalam-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemberdayaan Keluarga Kristiani menuju Keluarga Yang Harmonis</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/pemberdayaan-keluarga-kristiani-menuju-keluarga-yang-harmonis/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/pemberdayaan-keluarga-kristiani-menuju-keluarga-yang-harmonis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Marriage Encounter]]></category>

		<category><![CDATA[Misi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/pemberdayaan-keluarga-kristiani-menuju-keluarga-yang-harmonis/</guid>
		<description><![CDATA[Laporan Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda
Wisma Sikhar  Banjarbaru, 13 s/d 16 September 2007 
Misa pembukaan Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda ke-5, dipersembahkan oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF didampingi Pastor Gregorius, CP, dengan petugas Misa dari Keuskupan Banjarmasin. Misa dimulai pada pukul 18.00 WITA. Lagu pembukaan “Saudara Mari Semua” mengalun mengiringi perarakan Uskup Mgr. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Laporan Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda<br />
Wisma Sikhar  Banjarbaru, 13 s/d 16 September 2007 </em></p>
<p>Misa pembukaan Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda ke-5, dipersembahkan oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF didampingi Pastor Gregorius, CP, dengan petugas Misa dari Keuskupan Banjarmasin. Misa dimulai pada pukul 18.00 WITA. Lagu pembukaan “Saudara Mari Semua” mengalun mengiringi perarakan Uskup Mgr. Prajasuta, MSF petugas Misa memasuki ruang Misa.</p>
<p>“Pertama-tama saya ingin menyampaikan selamat datang kepada Anda semua. Karena saya sangat-sangat senang dan peduli dengan kerasulan keluarga. Saya harap Anda dengan sepenuh hati mengikuti Raker ini. Saya percaya usaha kita ini akan bermanfaat untuk Gereja di Indonesia. Trimakasih kepada Rm. Jeremias yang telah hadir di sini, saya percaya Rm. Jeremias akan mampu mendampingi Anda semua. Semoga Raker ini menjadi berkat bagi kita semua, khususnya bagi keluarga-keluarga kita,” demikian kata sambutan Uskup Prajasuta membuka Misa Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda.</p>
<p>Dalam homili singkatnya, Mgr, Prajasuta berujar, “Saudari/saudara terkasih, kerasulan keluarga menurut pandangan saya mempunyai 3 fokus besar. Saya menyebutnya 3 M :<br />
M yang pertama adalah <strong>mempersiapkan perkawinan</strong>, M yang kedua adalah <strong>membina perkawinan</strong> dan M yang ketiga adalah <strong>mendampingi perkawinan</strong>. <span id="more-172"></span>Untuk M yang pertama, mempersiapkan perkawinan, kita mempersiapkan orang-orang untuk menikah secara dewasa untuk menghindari kegagalan dalam perkawinan. M yang kedua adalah membina perkawinan supaya perkawinan sungguh-sungguh bermutu, menjadi semakin bahagia dan semakin diteguhkan. Dan M yang ketiga mendampingi perkawinan, karena kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan-tantangan yang ada sehingga tidak sedikit keluarga-keluarga yang retak/pecah. Di sini tugas kita mendampingi mereka. Saya senang menyebut dengan istilah 3 M untuk memudahkan kita memahami, dengan metode angka-angka supaya mudah diingat. Saya minta hasil Raker ini pun nantinya dirumuskan dengan metode angka-angka, dengan kata lain dirumuskan dengan metode “Jepang”, singkatan dari jelas dan gampang. Saya minta dalam Raker ini pun ada bingkai-bingkainya, sehingga dapat memperjelas tujuan kita. Bagaimana hendaknya kita merumuskan kerasulan keluarga ini? Kalian sebagai suami istri hendaknya saling mencinta, maka anak-anak pun akan bahagia. Lalu juga dalam kursus persiapan perkawinan yang ada baiknya dirumuskan juga, pikirannya hidup dan hidup pakai pikiran! Jangan lupa untuk berdoa bersama dalam keluarga. Sebaiknya dari awal sebelum pernikahan saling mendoakan satu sama lain. Demikian dalam keluarga pun doa bersama sangat penting. Semua ini berbicara tentang kasih, jangan omong kosong saja! Saya percaya pengalaman Anda sudah banyak sekali. Hal-hal yang ingin saya tekankan dalam Raker ini :</p>
<ol>
<li>Saya berharap Raker ini dapat dirumuskan dalam angka-angka dan</li>
<li>Cobalah membuat bingkai supaya perkawinan bahagia (jangan terlampau, banyak, cukup yang pokok-pokok saja). Sehingga saya berharap Raker ini dapat menjadi berkat bagi keluarga-keluarga, Gereja, keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia, juga bagi sesama dan menjadi pujian bagi Tuhan.</li>
</ol>
<p>Raker ini saya harapkan dapat membangkitkan kesadaran kita bahwa kerasulan keluarga sangat penting, karena saya banyak mendengar persoalan-persoalan keluarga dan sifatnya sangat mendesak. Kalian harus tahu mana yang penting dan mendesak…” Usai doa spontan, Misa ditutup dengan menyanyikan lagu MB. No. 304.</p>
<p>Setelah Misa, acara dilanjutnya dengan menyanyi bersama yang dipandu oleh Pastor Jeremias, MSF. Kemudian dari pihak panitia Raker mulai memberikan kata sambutan serta penjelasan acara sepanjang proses Raker yang akan dijalani sampai dengan hari Minggu, 16 September mendatang. Pastor Timotius, MSF selaku Koordinator Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda dalam kata sambutannya berkata, &#8220;Ini adalah acara Propinsi Gerejawi Samarinda. Ini Raker yang ke-5, dimana Raker yang pertama diadakan di Banjarmasin, yang ke-2 di Palangkaraya, yang ke-3 di Tanjung Selor dan yang ke-4 di Samarinda. Ada 2 tema sentral yang akan kita bahas dalam Raker ini yaitu : ME dan Kawin Campur yang kata Bapak Uskup tadi erat kaitannya dengan 3 M. Khusus untuk ME memang giat sekali melaksanakan Weekend. Bahkan ME berencana akan mengadakan Camping Weekend di luar kota. Tentang kawin campur, ini adalah masalah krusial, khususnya di Keuskupan Banjarmasin. Di sini kita memberikan pendampingan buat anak-anak yang terlibat dalam kawin campur. Anda memiliki keuskupan masing-masing, semoga setelah Raker ini ada yang bisa Anda bawa pulang ke keuskupan dan paroki masing-masing. Selamat ber-Raker!”</p>
<p>Acara dilanjutkan dengan perkenalan peserta dari masing-masing Keuskupan. Yang mendapat giliran pertama adalah perwakilan dari masing-masing paroki di Keuskupan Banjarmasin. Yang mendapat kesempatan pertama adalah Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, kemudian berturut-turut Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Veteran, Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin, Paroki Ave Maria Tanjung, Paroki Santo Yusup Kotabaru, Paroki Santo Vincensius A Paulo Batulicin, Paroki Stella Maris Sungai Danau, Paroki Santa Theresia Pelaihari, Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Perkenalan peserta kemudian berlanjut dengan peserta dari Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Agung Samarinda dan Keuskupan Palangkaraya menutup sesi perkenalan.</p>
<p>Pada hari kedua, para peserta Raker mulai masuk dalam proses. Diawali dengan laporan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing Komisi Keluarga di tiap-tiap keuskupan.</p>
<p>Dari Keuskupan Palangkaraya menyoroti beberapa hal, diantaranya :</p>
<ol>
<li>Kursus perkawinan yang ada selama ini masih banyak yang bersifat dadakan. Karena banyak terjadi orang-orang datang ke kota hanya untuk melangsungkan perkawinan. Tapi di Katedral Santa Maria sudah dilakukan penyelenggaraan kursus perkawinan dengan baik. </li>
<li>Kendala-kendala yang dihadapi terjadi mutasi pastor-pastor paroki sehingga program yang sudah dibuat tidak dapat diteruskan (tidak nyambung).</li>
</ol>
<p>Pastor Rettob, MSC dari Keuskupan Tanjung Selor mengungkapkan beberapa hal penting perihal kegiatan komisi keluarga yang telah dilaksanakan di Keuskupan Tanjung Selor. Rm. Rettob, MSC, dimana di Keuskupan Tanjung Selor sendiri sudah dibentuk Komisi Keluarga, dengan Pastor Rettob sebagai Ketuanya. Pastor Rettob pun menceritakan tentang Raker Komisi Keluarga yang telah dilaksanakan di Keuskupannya beberapa bulan silam, dimana dalam Raker tersebut kemudian memilih pendidikan nilai sebagai skala prioritas kegiatan. Dari sini dicetuskan visi dan misi ke depan, dimana hasil-hasil Raker Komisi Keluarga perlu dibawa terus kepada rapat-rapat para pastor. Dalam hal ini perlu pendampingan sebelum, saat maupun sesudah pernikahan (sama seperti 3 M yang disampaikan Bapak Uskup) dan Bapak Uskup menekankan pula untuk tingkat Paroki (pastor paroki dan komisi) untuk melakukan pendampingan keluarga dengan membuat tim pada masing-masing paroki. Hal baru yang jadi karya unggulan adalah Masalah Kesetaraan Gender dan Pro-Life, dan kalau tidak salah hal ini juga dibahas di Bali dan dalam beberapa kesempatan lain. Pastor Rettob juga mensosialisasikan Undang-undang Kekerasan dalam Rumah Tangga karena masih banyak umat yang belum tahu, sekaligus memperkenalkan Undang-undang Perlindungan Anak. Pendidikan nilai yang dijadikan skala prioritas ternyata banyak disukai oleh umat, khususnya ibu-ibu. Misalnya saja mereka membuat aneka jenis makanan dari ubi, sehingga keluarga menjadi senang.</p>
<p>Sr. Theofile, PRR dari Keuskupan Agung Samarinda menjelaskan paparannya sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Perkawinan campur (2000-2007) beda gereja di paroki-paroki meningkat, tapi ada yang menurun. Banyak yang menemukan jodoh agama lain lalu pindah agama.</li>
<li>Banyak remaja putri yang hamil sebelum nikah. Di sini penghargaan terhadap sakramen kurang. Jadi banyak yang kawin secara adat saja. Kalau tidak cocok bubar cari yang lain. Mempersiapkan kaum muda kurang berjalan dengan baik.</li>
<li>Pembatalan perkawinan, untuk saat ini baru 1 orang yang mendapat ijin dari Uskup. Sedang isu-isu pisah rumah/ranjang banyak yang tidak lapor. Dengan alasan kekerasan dalam keluarga.</li>
<li>Di Keuskupan kami, 24 paroki sudah mempunyai Seksi Keluarga tapi sampai sekarang baru menjalankan KPP (Kursus Persiapan Perkawinan) saja.</li>
<li>Bulan Agustus 2007, kami melaksanakan Turney Krisma di 14 stasi yang digabungkan di 4 tempat, dimana saat itu dilakukan dialog dengan Uskup tentang sukaduka kehidupan mereka sehari-hari. </li>
<li>Sosialisasi kesetaraan gender dan kekerasan dalam rumah tangga.</li>
<li>Pada bulan Oktober akan ada kunjungan keluarga di Paroki Katedral.</li>
<li>Untuk sosialisasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga akan dihandel oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian.</li>
</ol>
<p>Sedangkan dari Keuskupan Banjarmasin, laporan Komisi Keluarga disampaikan oleh Pastor Timotius, MSF yang menjelaskan beberapa hal, diantaranya : </p>
<ol>
<li>Kunjungan keluarga sudah rutin dilakukan, untuk menyapa mereka satu persatu. Hal ini juga dilakukan diparoki-paroki luar Banjarbaru. </li>
<li>Bekerjasama dengan Kordis ME untuk melaksanakan APME secara rutin. Untuk tahun depan akan dilaksanakan camping APME di paroki Tanjung. </li>
<li>Mengadakan perayaan Ekaristi Keluarga sebagai wahana untuk mengakrabkan antar anggota keluarga, biasanya pada perayaan pesta keluarga kudus. </li>
<li>Bekerjasama dengan Pastor Paroki untuk mendorong terbentuknya seksi keluarga di paroki-paroki. </li>
<li>Melakukan pendampingan keluarga-keluarga di paroki </li>
<li>Pendampingan khusus untuk persiapan perkawinan diparoki-paroki untuk menjangkau paroki-paroki yang jauh dari keuskupan sehingga dibuatkan program khusus </li>
<li>Membuat Pembekalan seksi keluarga diparoki-paroki dengan cara berkeliling untuk memberi animasi dan pembekalan materi. </li>
<li>Kerjasama komisi keluarga dengan propinsial MSF Kalimantan untuk membuat kegiatan-kegiatan dengan beragam tema. Untuk saat ini baru menjangkau 4 paroki kota (karena kendala jarak) dimana dilaksanakan sebulan sekali pada minggu ketiga. </li>
<li>Bekerjasama juga untuk melakukan kegiatan serupa diparoki luar kota. </li>
<li>Mengusahakan beasiswa untuk anak-anak yang kurang mampu. </li>
<li>Menyelenggarakan Weekend Tulang Rusuk yang baru-baru ini diadakan di Banjarmasin.</li>
</ol>
<p>Mulai pukul 16.00 Wita, para peserta Raker mendapat penjelasan dari Pastor Lukas Huvang Ajat, MSF dan pasutri Yenyen ? Chang Hwa tentang seluk beluk Marriage Encounter. Dalam sesi ini pun disampaikan sharing oleh mereka-mereka yang pernah mengikuti APME (Akhir Pekan ME), diantaranya dari Pastor Simon Edy Kabul Teguh Santoso, Pr, Sr. Blandina, SCMM dan satu pasangan suami istri.</p>
<p>Di hari berikutnya, para peserta Raker dibawa untuk mendalami materi Kawin Campur yang disampaikan oleh Pastor Dr. I Ketut Timotius Adi Hardana, MSF. Di sini banyak dijelaskan berbagai hal terkait dengan perkawinan campur (beda gereja dan beda agama). Dalam sesi ini banyak terlontar sharing dari para peserta Raker maupun dari beberapa Pastor yang ikut hadir.</p>
<p>Dalam Raker ini diputuskan beberapa poin penting bagi pendampingan keluarga, diantaranya : Pemberikan pelayanan pastoral dengan murah hati, karena Paus sendiri mengajak kita untuk merangkul pasangan-pasangan suami istri yang luar biasa (mengalami kawin campur). Karena dalam hal ini, Gereja tidak pernah meninggalkan para pasutri yang demikian itu; dengan catatan tidak menerobos aturan-aturan main yang telah digariskan oleh pihak Gereja.</p>
<p>“<strong>Kasih tidak hanya ada di dalam keluarga, tetapi dalam keluarga harus ada kasih. Namun di dalam perkawinan tidak selalu ada kasih</strong>,” demikian disampaikan Pastor Jeremias Bala Pito Duan, MSF selaku Konselebran Utama dalam Misa Penutupan Rapat Kerja Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda, Minggu, 16 September 2007 di Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Misa juga dipersembahkan bersama oleh Pastor Dr. I Ketut Timotius Adi Hardana, MSF selaku Koordinator Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda, Pastor Sabinus Gregorius, CP dan Pastor Pius Rettob, MSC.</p>
<p>Dalam homilinya, Pastor Jeremias berujar, “Dewasa ini banyak perkawinan yang berumur lama, telah menjadikan mereka-mereka yang terikat dalam Sakramen Perkawinan menjadi “<em>lupa</em>” akan status mereka, entah itu sebagai suami maupun sebagai istri. Suami kependekan dari “<em>selalu untuk anak maupun istri</em>”, sedangkan istri adalah singkatan dari “<em>istimewakan suami tanpa rasa iri</em>”. Bagaimana anda memberikan nilai terhadap suami atau istri Anda? Umumnya kita ini mau mencintai, yaitu cinta “<em>karena</em>” (misalnya karena cantik, karena kaya, karena ini dan itu”). Juga ada cinta, yaitu cinta “<em>supaya</em>” (misalnya saya melakukan ini untukmu, supaya di lain hari ketika saya memerlukannya, kamu bisa melakukannya untuk saya). Tapi yang paling baik adalah cinta “<em>meskipun</em>” (saya mencintai kamu karena dulu kamu ganteng, dan saya tetap mencintaimu meskipun kamu sudah menjadi orang TOP (tua, ompong, peyot) sekarang. Maka disini diharapkan kita dapat mencintai pasangan kita sampai akhir. Banyak terjadi untuk jaman sekarang ini, orang yang telah berumah tangga tidak mampu membuat komitmen seumur hidup. Maka dengan sendirinya, tantangan hidup berkeluarga adalah sangat berat. Untuk itu kita perlu berhati-hati, supaya makin hari keluarga kita makin “<em>kecé</em>”. Seperti apa yang saya sampaikan di awal Misa tadi, maka marilah kita membangun keluarga Kristiani yang harmonis, salah satunya dengan cara memberikan pujian yang positif kepada pasangan kita, maupun kepada anak-anak kita, amin.”</p>
<p>Dalam Misa kali ini pun diucapkan Pembaharuan Janji Perkawinan dan Pembaharuan Janji Imamat. Misa berlangsung meriah karena disepanjang prosesi, Pastor Jeremias beberapa kali mengajak umat untuk menyanyi bersama, diantaranya lagu “Keluarga Kudus” dan “Kumau Cinta Yesus Selamanya.” Dalam kesempatan inipun, para peserta Raker yang seluruhnya berjumlah 57 orang, dengan perincian 49 orang dari Keuskupan Banjarmasin, 2 orang perwakilan Keuskupan Agung Samarinda, 2 orang dari Keuskupan Tanjung Selor dan 4 orang dari Keuskupan Palangkaraya memperkenalkan diri satu persatu kepada umat yang hadir di Paroki Bunda Maria Banjarbaru pagi ini. Usai Misa, para peserta kembali menuju Wisma Sikhar untuk membuat RESUME Hasil Raker serta membuat Program Kerja untuk masing-masing Keuskupan.</p>
<p>Setelah makan siang bersama, para peserta Raker berjabat tangan sebelum meninggalkan Wisma Sikhar untuk kembali ke Keuskupan maupun Paroki masing-masing. Dalam kesempatan ini pun diadakan serah terima Vandel Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda kepada Keuskupan Palangkaraya, sebagai tanda bahwa Keuskupan Palangkaraya adalah tuan rumah untuk penyelenggaraan Raker Komisi Keluarga selanjutnya.</p>
<p>Sampai jumpa tahun 2008 mendatang dalam acara yang sama di Keuskupan Palangkaraya. Proficiat untuk para peserta dan panitia penyelenggara. TUHAN memberkati.</p>
<p>[reported by : Dionisius Agus Puguh Santosa; 17/09/2007; 10:50 am; anggota Panitia Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/172/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/172/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=172&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/pemberdayaan-keluarga-kristiani-menuju-keluarga-yang-harmonis/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam-Imam Suam Kuku</title>
		<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/imam-imam-suam-kuku/</link>
		<comments>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/imam-imam-suam-kuku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 15:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Panggilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/imam-imam-suam-kuku/</guid>
		<description><![CDATA[Sambungan dari edisi yang lalu&#8230;.
St. Theresa dari kanak-kanak Yesus tidak pernah melakukan suatu dosa berat, kita tahu semuanya dari surat kanonisasinya. Namun ia sendiri melihat bahwa ia sudah berada dekat jurang neraka, seandainya ia tidak cepat-cepat  keluar dari hidupnya yang “suam-suam kuku”. Banyak para santo-santa menasehatkan, agar kita memberi kemurahan  atau membuka hati terhadap Tuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sambungan dari edisi yang lalu&#8230;.</p>
<p>St. Theresa dari kanak-kanak Yesus tidak pernah melakukan suatu dosa berat, kita tahu semuanya dari surat kanonisasinya. Namun ia sendiri melihat bahwa ia sudah berada dekat jurang neraka, seandainya ia tidak cepat-cepat  keluar dari hidupnya yang “suam-suam kuku”. Banyak para santo-santa menasehatkan, agar kita memberi kemurahan  atau membuka hati terhadap Tuhan agar Ia mau datang kepada kita. Memang sepantasnya  kita mempunyai kepekaan atau kemurahan hati terhadap Tuhan namun Tuhan lebih mengharapkan kemurahan hati kita itu tertuju terhadap sesama kita. Kita harus mempunyai kemurahan hati kepada setiap orang “siapa yang telah diberi banyak maka ia juga dituntut untuk memberi banyak”  Namun ini tidak berarti bahwa kamu telah diberi sepuluh oleh Tuhan maka kamu juga hanya memberi sepuluh, kalau hal ini yang kamu lakukan, itu bukanlah kemurahan hati tapi hanya baru sampai dalam arti keadilan. Orang yang telah menyenangkan hati Tuhan adalah orang yang tidak hanya melakukan apa yang ia senangi tapi juga dalam hal yang mungkin tidak ia senangi, ia tidak hanya melihat orang-orang sempurna dan terhormat atau hanya dalam hal-hal yang besar namun juga dalam hal-hal yang sangat kecil, dialah yang sungguh-sungguh murah hati terhadap Tuhan dan tentu juga Tuhan akan memberi suatu hadiah yang sangat besar kepadanya. Ia telah membagikan kemurahan hatinya tidak hanya kepada orang yang ia sayangi atau hanya kepada orang yang menyayanginya tapi juga kepada orang yang membencinya. Ia menjadi sumber rahmat atau berkat bagi orang-orang disekitarnya, ia tidak hanya memberikan hiburan agar tetap tabah atau bertahan dalam menerima cobaan tapi ia akan lebih memberikan perhatian khusus, ia akan membuat sesuatu yang bisa membuat anggota keluarga merasa dikuatkan dalam keseharian mereka dan hal yang paling penting ia menjadi benteng dari setiap serangan setan. “Jika kamu mengasihi Tuhan maka kamu juga harus mengasihi orang-orang yang ada disekitarmu”. Tuhan akan mengasihi kamu sama seperti kamu mengasihi sesamamu. Jika kamu kikir untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada orang lain maka dengan kata lain tangan dan hatimu telah menggiring kamu kedalam kedosaan. Jika hal ini kamu lakukan juga terhadap Tuhan maka bersiaplah untuk menerima hukuman. ”Semua ukuran yang kamu pakai untuk membantu atau menolong orang lain itu juga yang dipakai Tuhan untuk memberikan rahmat-Nya kepadamu.</p>
<p>Tuhan telah berjanji akan memberikan rahmat kemurahan hati-Nya, tidak hanya kepada kamu tapi juga kepada seluruh dunia. Tuhan memberikan kemurahan hati-Nya kepada yang memang sungguh-sungguh memerlukan khusunya untuk menopang agar mereka sanggup menanggung beban hidupnya. Namun kamu terlalu banyak permintaan dan keluhan sehingga Tuhan tidak akan memberikan rahmat-Nya kepada kamu. Tuhan sekali lagi akan mencurahkan rahmat kemurahan hati-Nya hanya kepada orang-orang yang mempunyai kemurahan hati kepada sesamanya dan tentunya kemurahan hati terhadap Tuhan. Bila kamu tidak melakukan sesuatu terhadap sesamamu dan terhadap Tuhan maka bersiaplah untuk untuk menghadapi serangan setan dan kamu akan jatuh ke dalam dosa yang sangat berat.</p>
<p>Ketika seorang pandai besi membuat sebuah pisau, ia akan membakar besinya sampai sungguh-sungguh menjadi merah kemudian akan membentuknya menjadi sebuah pisau. Ia akan terus berusaha agar besinya dalam keadaan merah membara oleh karena itu, ia akan terus membakar dan membakar tanpa pernah memberikan kesempatan besinya menjadi dingin. Jika besi dalam keadaan dingin atau baru setengah panas akan sangat mustahil untuk membentuknya menjadi sebuah pisau. Bayangkanlah dirimu seperti seorang pandai besi bila ingin melakukan kemurahan hati terhadap sesamamu atau kepada Tuhan. Kamu tidak bisa melakukannya hanya dalam keadaan “suam-suam kuku” karena akan menjadi sia-sia  belaka.<br />
Kalau kamu besok pagi akan mengadakan perjalanan, maka pada malam harinya kamu akan menyiapkan segala sesuatu dan tentu saja dengan tidur yang cukup agar besok pagi bisa bangun lebih cepat, agar kamu tidak ketinggalan atau ditegur oleh teman-temanmu karena kamu terlambat. Seperti itulah yang harus kamu lakukan setiap hari agar kamu tidak menjadi orang “suam-suam kuku”. Jadilah orang yang siap-siap sedia dan bukan menjadi batu sandungan bagi orang lain melainkan harus menjadi sumber suka-cita atau kebahagiaan khususnya untuk orang-orang disekitarmu. Amin.<br />
(Diambil dari buku Le Prêtre  : Oleh P. Ionday MSF, Socius Seminari Johaninum MSF Banjarbaru)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msfmusafir.wordpress.com/171/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msfmusafir.wordpress.com/171/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msfmusafir.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msfmusafir.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msfmusafir.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msfmusafir.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msfmusafir.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msfmusafir.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msfmusafir.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msfmusafir.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msfmusafir.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msfmusafir.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msfmusafir.wordpress.com&blog=269757&post=171&subd=msfmusafir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/imam-imam-suam-kuku/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/pietersinnema-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">redaksi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>