“TIDAK BANYAK USKUP KATOLIK PUNYA CUCU”

Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF

 Paroki Bunda Maria – Banjarbaru, 5 Mei 2009

Sore itu langit begitu cerah. Sekitar seribu orang umat dari 4 paroki kota (Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Veteran dan Paroki Bunda Maria Banjarbaru) telah berkumpul di Paroki Bunda Maria Banjarbaru bersama 30-an orang Imam dari 4 Keuskupan di Regio Kalimantan Timur (Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Palangkaraya dan Keuskupan Tanjung Selor), para Suster, Bruder, dan Frater ikut serta berdoa dan bersyukur dalam Perayaan Ekaristi Syukur 55 Tahun Pentahbisan Uskup Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 18.00 Wita dipimpin oleh Konselebran Utama Mgr. F.X. Prajasuta, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin), didampingi oleh Mgr. Petrus Boddeng Timang, Pr (Uskup Keuskupan Banjarmasin), Mgr. Florentinus Sului (Uskup Keuskupan Agung Samarinda), Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap (Uskup Keuskupan Agung Pontianak), Mgr. Isak Dora, Pr (Uskup Emeritus Keuskupan Sintang), Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF (Uskup Keuskupan Palangkaraya), Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF (Uskup Keuskupan Tanjung Selor) dan yang berbahagian Mgr. W.J. Demarteau, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin).

Perayaan Ekaristi ini pun terasa lebih istimewa dengan kehadiran 2 orang keponakan Mgr. Demarteau, yaitu Mrs. Nancy dan Mrs. Maryo yang datang jauh-jauh dari negeri kincir angin Belanda untuk bergembira bersama Oom mereka. “Kita berkumpul di sini bersama Mgr. Demarteau untuk memuji Tuhan atas rahmat Tahbisan Uskup 55 tahun yang lalu dan juga selama 55 tahun menjadi Uskup; tidak hanya ketika beliau pensiun, namun sesudah pensiun beliau tetap memiliki jasa yang besar bagi Keuskupan ini,” ucap Mgr. Prajasuta mengawali homili singkatnya. “Maka sudah selayaknya kita juga berterimakasih dengan Mgr. Demarteau yang telah bersedia dijadikan alat Tuhan untuk meneruskan kasih-Nya kepada umat di Keuskupan Banjarmasin, yang dahulu mencakup Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Dari beliau kita bisa belajar banyak. Bayangkan saja, ketika beliau turney waktu itu selama 6 bulan dalam perjalanan memakai perahu yang masih mendayung. Beliau juga masih mengalami medan yang amat berat dan sulit sekali, tetapi semua beliau laksanakan dengan senang hati. Semangat misioner inilah yang pantas ditiru oleh saya, para Imam dan umat sekalian. Mari kita mohon rahmat Tuhan supaya hati kita dikobarkan untuk mewartakan Kabar Gembira yaitu memeruskan kebaikan kasih Allah kepada sesama kita,” himbaunya.

Mgr. Prajasuta memuji figur Mgr. Demarteau sebagai figur Uskup yang sederhana dan penuh perhatian khususnya kepada orang-orang miskin. Teladan semangat hidup yang sulit ditemukan pada masa sekarang ini. “Saya pribadi sangat terkesan dengan sikap hidup beliau. Saya yakin pada hari sepuhnya, Mgr. Demarteau mendoakan kita semua. Banyak hal-hal besar yang beliau lakukan bagi kita semua, bagi Gereja Indonesia pada masa tua beliau melalui hening dan doa-doanya. Marilah kita bersyukur dikaruniai seorang pendoa seperti beliau.” Di akhir homilinya, Mgr. Prajasuta juga menyampaikan homilinya secara singkat dalam bahasa Belanda. Homili yang begitu singkat tersebut dibuka dan ditutup dengan lagu karya Mgr. Prajasuta, masing-masing lagu HATI BARU dan BERSERAH DIRI.

Dalam kata sambutan yang disampaikan Mrs. Nancy dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Pastor Pieter Sinnema, MSF, terungkap ucapan terimakasih yang begitu mendalam atas perhatian dan cinta yang diberikan kepada Oom mereka selama ini. “Kami berterimakasih atas nama Oom kami dan famili kepada Kongregasi MSF dan kami berterimakasih karena dilaksanakan pesta yang bagus ini. Kami juga berterimakasih karena diterima dengan tangan terbuka selama kami berada di sini. Trimakasih kepada semua umat, khususnya kepada Ibu-ibu yang merawat Oom kami. Sungguh, pesta ini menjadi cahaya tersendiri bagi kami,” ucap Mrs. Nancy menutup sambutannya.

Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan dalam sambutannya berujar, “Kita bersyukur kepada Allah yang telah mengutus Mgr. Demarteau untuk berkarya bagi Gereja Kalimantan. Dalam diri dan hidu Mgr. Demarteau kita dapat meneladani hidup seorang Katolik; seorang Imam Allah yang sungguh mempercayai bahwa Allah itu baik dan bahwa Allah yang baik itu akan menolong kita. Kita dapat melihat dan meneladani apa yang dinamakan kesetiaan, ketekunan dan semangat hidup untuk maju. Terimakasih atas teladan hidup yang Mgr. Demarteau berikan bagi kami semua,” tutupnya.

“Tidak banyak Uskup Katolik di dunia ini yang mempunyai cucu,” kata Mgr. Timang dalam sambutannya. “Beliau adalah Mgr. Demarteau; yang setelah sekian tahun menjadi Uskup, beliau kemudian mentahbiskan Mgr. Prajasuta dan Mgr. Prajasuta telah mentahbiskan cucu dari Mgr. Demarteau (Mgr. Harjosusanto-red). Sehingga ada alasan ekstra bagi saya untuk mengucapkan terimakasih kepada Mgr. Demarteau. Mgr. Demarteau telah 55 tahun sebagai Uskup, sedangkan saya baru lima setengah bulan sebagai Uskup. Namun saya tidak perlu takut menjadi Uskup di Banjarmasin ini, karena saya selalu diingatkan oleh Mgr. Prajasuta bahwa umat di Banjarmasin ini adalah umat yang murah hati dalam segala aspeknya.” Dalam kesempatan berikutnya Mgr. Timang menyapa sekaligus mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar Mgr. Demarteau yang diwakili oleh kedua keponakannya. Mgr. Timang menyampaikannya dalam bahasa Belanda yang fasih.

Usai Perayaan Ekaristi, umat dijamu dengan santap malam bersama. Rombongan para Uskup, Imam, Suster, Biarawan/Biarawati secara khusus menikmati santap malam di ruang malam Wisma Sikhar – Banjarbaru. Tampak diantara mereka Mgr. Demarteau bersama keponakannya dalam suasana kekeluargaan yang penuh kegembiraan. Proficiat kepada Mgr. W.J. Demarteau, MSF atas Perayaan Syukur 55 tahun Pentahbisan Uskup. Berkat dan kasih Tuhan bersama Monsinyur selalu.

Perjalanan Hidup Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Mgr. W.J. Demarteau, MSF lahir di desa Horn (Belanda Selatan), pada tanggal 24 Januari 1917 pukul 10.00 pagi. Demarteau kecil adalah putera ke-5 pasutri Sebastianus Hubertus Demarteau dan Yohanna Moors. Sore harinya, dalam cuaca yang teramat dingin (150C di bawah nol), ia dibaptis dengan nama Wilhelmus (Wim). Wim kecil dibesarkan dalam sebuah keluarga besar. Ia mempunyai 4 orang kakak dan 3 orang adik. Dalam keluarganya, Wim kecil mengalami suasana asah-asih-asuh yang begitu hangat. Wim masuk TK di Horn (1921 – 1923). Saat itu Wim merasa kurang senang, karena ia beranggapan bahwa TK itu hanya “cocok” untuk anak perempuan, sebab di TK tidak diajarkan baca tulis. Tahun 1929 Wim menamatkan SD-nya di Horn. Setelah dapat membaca, Wim menjadi seorang “kutu buku”. Ketika itu orangtua Wim berlangganan “Bode v.d.Heilige Familie”, majalah bulanan yang diterbitkan para imam MSF. Majalah “Bode v.d.Heilige Familie”, memuat naskah-naskah dan surat-surat yang ditulis oleh para misionaris MSF, yang sejak tahun 1926 berkarya di Borneo (sekarang Kalimantan). Ternyata, Wim kecil sangat terkesan dengan surat-surat tersebut. Wim berkata pada ibunya, “Mama, besok kalau saya sudah besar, saya akan menjadi Pater dan pergi ke Borneo.” Ibunya menjawab, “Wim, engkau sangat sayang pada mama, mana mungkin engkau mau meninggalkan mama?!” Dengan semangat yang berkobar-kobar Wim kecil berkata kepada Ibundanya, “Mama, saya pergi ke Borneo dan di Borneo saya juga dapat sangat menyayangi mama.” Sekelumit kisah tersebut kemudian menghantarkan mimpi Wim kecil pada sebuah kenyataan. Ia sungguh-sungguh dikirim sebagai seorang Misionaris ke daratan Borneo (sekarang Kalimantan-red). Akhir Juli 1946 ia mendapatkan pemberitahuan bahwa akan dikirim ke Indonesia. Ia menyambut berita ini dengan kegembiraan yang meluap-luap. Keberangkatan P. Demarteau mengalami beberapa kali penundaan, karena pada waktu itu kapal-kapal lebih diprioritaskan untuk mengangkut “pasukan Belanda” ke Indonesia. Pada tanggal 11 April 1947 P. Demarteau bersama 2 orang rekannya sesama imam MSF berangkat menuju Indonesia. Sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 1 Mei 1947, kapal yang mereka tumpangi merapat di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah 2 kali gagal terbang ke Banjarmasin, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1947 pesawat yang ditumpangi P. Demarteau berhasil mendarat di Banjarmasin. Saat tiba di bandara, ia diberitahu bahwa akan menerima tugas sebagai pastor paroki di Katedral Banjarmasin. Ketika pertama kali tiba di Banjarmasin, P. Demarteau merasakan bahwa keadaan pada waktu itu tidak nyaman, tidak aman, banyak kerusuhan, kekerasan dan pertumpahan darah! Tanggal 27 Desember 1947, pertikaian Indonesia-Belanda dihentikan. Sampai akhir tahun 1949 Gereja Katolik tidak boleh bekerja di Kalimantan Selatan (Kalsel) kecuali di kota Banjarmasin. Akibatnya hampir semua misionaris bekerja di Kalimantan Timur (Kaltim) dan hanya Ordinarus dan dua/tiga pastor tinggal di Banjarmasin. Dewan Keuskupan Banjarmasin berpendapat bahwa situasi mendesak agar Kalimantan Timur menjadi keuskupan sendiri demi keselamatan dan perkembangan gereja di Kalsel. Tanggal 12 Desember 1951 P. Demarteau memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) demi memantapkan keberadaannya sebagai seorang misionaris. Tahun 1952, Mgr. J. Groen, MSF mulai mempersiapkan pemisahan Kaltim dari Banjarmasin, akan tetapi karena beliau sakit maka rencana tersebut kemudian dibekukan baik di Banjarmasin maupun di Roma. Pada bulan April 1953 Mgr. J. Groen, MSF, Vikaris Apostolik Banjarmasin wafat di Surabaya.

Takhta Suci Vatikan kemudian menunjuk P. Demarteau sebagai Uskup, menggantikan Mgr. Groen. Pada tanggal 5 Mei 1954 P. Demarteau ditahbiskan menjadi Uskup di Gereja Katedral Banjarmasin oleh duta Vatikan Mgr. De Jonghe d’Ardoye dan sebagai co-consencrator adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan Mgr. T. van Valenberg, OFM Cap. Dalam tahbisannya, Mgr. W. J. Demarteau, MSF mengambil motto : “Apostolus Jesu Christi” yang berarti “Utusan Yesus Kristus.” Logo uskup Mgr. W. J. Demarteau, MSF digambar oleh seorang Rahib Benediktus berkebangsaan Perancis dari Biara Benediktin di Oosterhout – Belanda. Simbol tersebut bermakna bahwa panggilan Mgr. W. J. Demarteau, MSF melalui kongregasi adalah menjadi misionaris dan uskup bagi daerah yang masih memerlukan “terang Injil.” Pada waktu itu Keuskupan Banjarmasin meliputi Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah-Kalimantan Timur, yang luasnya 12 kali lipat negeri Belanda (+ 410.000 km2). Mengingat luas dan sulitnya medan pelayanan, Mgr. Groen telah mengadakan langkah-langkah awal di Roma agar Kaltim dijadikan wilayah Gerejawi terpisah dari Keuskupan Banjarmasin. Usaha tersebut dilanjutkan oleh Mgr. W. J. Demarteau, MSF. Meski sebelumnya mendapat tanggapan yang negatif, namun Mgr. Demarteau tetap gigih memperjuangkan usaha tersebut agar pemekaran itu mendapatkan ijin dari Takhta Suci. Kegigihannya berbuah manis, sebab pada bulan September 1954 terjadi perundingan di Roma untuk membahas hal itu. Pada tanggal 25 Pebruari 1955 Vikariat Apostolik Samarinda resmi berdiri. Jika pada tahun 1954 Mgr. Demarteau menyetujui permintaan Roma untuk diangkat menjadi Uskup, maka pada tahun 1955, Roma ganti menyetujui permintaan Mgr. Demarteau untuk pemekaran Keuskupan Banjarmasin. Tahun 1954, gereja praktis belum dikenal di wilayah Keuskupan, khususnya di pedalaman Kalsel dan Kalteng. Uskup yang masih muda ini bersama-sama dengan para imam, biarawan, biarawati, para guru dan rasul-rasul awam, dengan rahmat TUHAN terus berkarya dengan giat dan penuh pengorbanan.

Pada tanggal 23 Oktober 1983 Mgr. W. J. Demarteau, MSF mentahbiskan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF sebagai Uskup Keuskupan Banjarmasin. Sampai saat ini Keuskupan Banjarmasin telah dimekarkan menjadi 4 keuskupan (Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya, dan Tanjung Selor).

reported by : Dionisius Agus Puguh Santosa & Albertus Bambang Utoyo; Divisi LITBANG KOMKEP Keuskupan Banjarmasin

Foto : Pastor Felix Sumarjono, MSF

About these ads

4 responses to ““TIDAK BANYAK USKUP KATOLIK PUNYA CUCU”

  1. selamat buat keluarga msf indonesia, salam buat kakak kami tercinta romo mateldus bambang sumartejo MSF, ultah 25 th imamat! doakan para keponakanmu terpanggil pula menjadi imam!salam dr adikmu,agnes en ponakanmu bayu, banu, aldi, agung

  2. apa kabar romo bambang sumartejo,MSF, salam buat para imam msf, tetap semangat berjuang, salam dari arek2 malang, adikmu, kami selalu berdoa utk kemajuan MSF di indonesia, doakan anak kami, marcelino bayu utuk jd imam, walau dia anak tunggal kami, tp kami sgt cinta Yesus, so why not gitu lho! loves you para imam, maju terus, setia sampai ajal menjemput!

  3. P.felix aku Argo koncomu smp biyen, kowe digoleki konco2 mu lho. No hpku +
    O85228194367 pin BB ku 23C1BAC6

  4. Ping-balik: Keuskupan di Indonesia | Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s