Biasanya, dalam tahap pacaran, pemuda dan pemudi kurang memikirkan soal agama, yang penting cinta. Akan tetapi, hal ini sangat tergantung dari pendidikan dan kebiasaan dalam keluarga.
Pebedaan agama bukanlah hal remeh dalam relasi pemuda-pemudi yang memutuskan untuk berpacaran, sejauh mereka menyadari bahwa pacaran mereka bukanlah sesuatu yang melulu “main-main” dan “asal dinikmati”.
Dalam masa perkenalan, ketika pacaran mulai menjadi serius, soal agama mesti menjadi bahan pembicaraan bersama. Tujuan pembicaraan bersama bukanlah untuk semata-mata mencari persamaan, atau mencari jalan bagaimana salah satu ikut dalam agama pacarnya. Pembicaraan justru mau membuka cakrawala berdua bahwa kehidupan yang akan mereka jalani bersama mempunyai beban dan PR yang jelas, bahwa agama kita berbeda!
Perbedaan di antara setiap agama, akan tetap menjadi perbedaan dan selama-lamanya begitu. Tetapi hal ini tidak sama dengan pengertian bahwa agama mesti memisahkan. Perbedaan itu dapat mungkin disatukan kalau kedua orang saling mengerti, memahami dan mengenal perbedaan kemudian memutuskan untuk saling menghormati. Tetapi hal ini selalu menjadi tugas berat kalau kedua pihak selalu mempermasalahkan dan mencari pembedaan dan bahkan saling menjatuhkan keyakinan pasangannya.
Pembicaraan mengenai agama bukanlah suatu tuntutan, melainkan membuka mata pasangan yang berpacaran bahwa sejak semula perbedaan itu ada. Penyadaran dari awal perkenalan adalah wajar sebagai bentuk hubungan yang sehat dan dewasa.perbedaan yang dibicarakan dan akhirnya diterima merupakan bentuk kesepakatan untuk saling menghormati dan selanjutnya tidak mempermasalahkan perbedaan itu sebagai alasan untuk bertengkar atau berpisah.
Risiko baru ada ketika relasi antara pasangan yang berpacaran kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih jauh, perkawinan, karena pacaran tidak pernah menuntut untuk menanggung risiko tekanan dari keluarga, tekanan karena telah mempunyai keturunan, atau tekanan publik (karena risiko bercerai, berpisah,dll). Pacaran akan selalu dipandang sebagai tahap untuk mencocokkan dan mencari, bukan untuk memilih secara definitif. Resiko baru muncul kalau rambu-rambu dalam berpacaran dilanggar dan dinodai dengan perbuatan yang belum boleh dan akhirnya berakibat fisik dan sosial, yaitu hamil. Selain itu, pacaran akan menjadi tekanan kalau dinodai oleh hubungan seks yang mengharuskan,misalnya pihak perempuan, untuk tidak dapat memilih yang lain, karena sudah dengan laki-laki yang pernah berhubungan intim dengannya. Artinya, seorang dipaksa memilih karena sudah kepalang basah.
Akibat dari pelanggaran aturan main pacaran ini pada semua pasangan dan khususnya pada pasangan beda agama adalah keharusan untuk memilih sesuatu yang belum tentu dapat menguntungkan dan membahagiakannya. Pilihan karena terpaksa sering pada akhirnya akan berbuah pemaksaan-pemaksaan berikutnya. Ini yang perlu dipertimbangkan dari semula.
Ini semacam pertimbangan minimal yang terpaksa diberikan. Akan tetapi melihat kenyataan situasi kita, mungkin ada baiknya dipikirkan beberapa hal ini.1. Semua agama sama
Pandangan seperti ini menyesatkan, apalagi kalau dikaitkan dengan seseorang yang sedang menjalin cinta dengan orang beda agama. Semua agama mempunyai kekhasan dan ciri-cirinya sendiri yang jelas membedakan cara orang berelasi dengan Tuhan.Agama memang sering diturunkan dari orang tua, tetapi mudahkah kita menghilangkan atau mengubah apa yang sudah kita pahami sebagai benar dan apa yang selama ini paling cocok dengan irama hidup kita? Beda cara beda pula rasa keagamaannya.
Apakah kita dapat dengan mudah menyembah patung Buddha kalau sebelumnya mengenal pun tidak? Atau mudahkan bagi kita menerima kebiasaan sholat dalam waktu-waktu tertentu sepanjang hari? Itu yang paling mudah? Yang lain, yang lebih mendalam adalah apakah mudah bagi kita meninggalkan sesuatu yang selama ini kita percaya telah memberi segalanya bagi kita, seorang pribadi, yaitu Yesus Kristus?
Pandangan ini sering disalahartikan sebagai boleh berpindah-pindah ke agama manapun tanpa perlu merasa bersalah. Secara hukum memang demikian, tetapi apakah selama ini cara hidup beragama kita tidak lebih dari menjalankan formalitas, aturan dan hukum saja? Apakah kita tidak pernah merasakan suatu hubungan mendalam dengan Tuhan kita melalui cara khas kita sebagai orang Katolik?Apakah selama ini hidup beragama kita sebatas melanjutkan kepercayaan orang tua dan hanya itu? Kalau demikian, mungkin tidak heran kalau kita dengan mudah berpindah, karena selama ini kita tidak pernah merasakan hubungan kasih yang mendalam dengan Tuhan melalui cara kita sebagai orang Katolik.
Sebagai orang Katolik, kita harus percaya sebagai pribadi bahwa di luar Kristus, tidak ada keselamatan. Dia satu-satunya jalan. Dan di dalam Gereja lah Kristus paling jelas ditemukan. Mengingkari Dia berarti menjauh dari keselamatan. Pernyataan itu hanya lah istilah yang memang harus kita terima dalam rangka hubungan dan dialog antaragama yang berbeda dengan keputusan hidup bersama dalam keluarga.



Christine Natalia Situmorang berkata
dalam Alkitab kant jugak dituliskan terang dan gelap . aku pnya shabat iang pcran beda agama . punya ayat iang KUAT ga ? untuk menyakinkan tntng persepsi pacaran beda agama . thanx .
Gbu ..
Christine Natalia Situmorang berkata
dalam Alkitab kant jugak dituliskan terang dan gelap tdk dpt bersatu . aku pnya shabat iang pcran beda agama . punya ayat iang KUAT ga ? untuk menyakinkan tntng persepsi pacaran beda agama . thanx .
Gbu ..
gubtha berkata
thank’s before for u’r writing…
Valentina berkata
Baru2 ne, peLajaran agama kmi di skoLah mngenai beda agama..
TertuLis bHwa, Agama tidak penting, y6 penting adaLah iman,,
Kta guru kmi, jdi wLaupun kta bkan agama KatoLik, tpi kLu kita percaya KRISTUS sbg JurusLamat, kita jUJa di seLamatkan..
Jdi y6 mNa nueh y6 bener??
pLiz bLaz,,
GBU
Valentina berkata
Bru2 ne, kmi bLajar agama di skuL, mengenai beda agama..
TertuLis, kLu agama itu ga penting, y9 penting IMAN,,
Jdi kLu kta bkn aGama katoLik, tpi kita percaya KRISTUS sbg jurusLamat, kita jUja akan di seLamatkan..
Yang btuL yg mNa duNk??
pLiz bLaz yah,,
GBU