Mengapa Menjadi Suster, Bruder atau Imam?

1. “Lowongan Pekerjaan Seumur Hidup”

“Dicari orang yang mau bekerja keras, mau tidak menikah, berkarir namun tak mendapat upah sebagai guide dan pelayan bagi orang-orang yang hilang, miskin, lapar dan berbeban berat karena tidak dapat menemukan Allah, tak dapat menemukan diri mereka sendiri, tak dapat pula menemukan cinta atau sesamanya. PEMILIK perusahaan akan melengkapi “most essential tools” (segala sesuatu yang paling penting dan diperlukan) untuk bisnis ini. Tetapi PELAMAR harus membawa persediaan energi: pengabdian, keceriaan, kecerdasan, dan keteguhan hati untuk berbagi dengan dunia yang hanya memiliki sedikit pengabdian, sedikit keceriaan, sedikit kecerdasan dan sedikit keteguhan dan ketulusan. Bayaran upahmu adalah dalam betuk rahmat-rahmat! Antar surat lamaranmu kepada: YESUS KRISTUS.

Iklan Lowongan pekerjaan di atas tidak popular. Tidak mengherankan ketika diadakan aksi panggilan di paroki atau sekolah, pertanyaan yang bernada penasaran dan heran sering kali dilontarkan. “Mengapa anda mau menjadi suster, bruder, atau imam? Mengapa anda mau dan memilih hidup seperti itu?”
Nampaknya menjadi seorang religius atau imam memang hal yang aneh, sehingga hanya sedikit pemuda-pemudi Katolik yang mau dan memilih menjadi seorang suster, bruder, ataupun imam. Banyak orang muda Katolik barangkali sulit memahami bagaimana seseorang mau hidup tidak menikah. Bisa jadi orang-orang yang memilih jalan hidup seperti itu digolongkan dalam kelompok yang sangat suciatau yang sangat gila, sehingga dapat dimengerti bahwa hanya sedikit yang mengajukan lamaran untuk “lowongan pekerjaan” seumur hidup semacam ini.

2. Iklim Panggilan Sedang Berubah.

Jumlah panggilan untuk menjadi seorang Suster, Bruder, dan Imam memang sedang merosot. Tetapi bukan hanya panggilan untuk hidup religius dan imamat yang mengalami krisis. Saat ini orang yang memilih panggilan hidup berkeluarga juga banyak yang berada dalam suasana “krisis”. Ada tanda-tanda di mana banyak pasutri mulai tidak saling setia, lalu sebagai akibat paling fatal adalah keretakan keluarga dan perpisahan.

Kembali ke panggilan hidup religius dan imamat. Memang masih ada orang-orang yang memilih hidup membiara dan imamat, tetapi jumlahnya makin sedikit. Kita bisa menunjukkan beberapa factor.

  • Trend gaya hidup enak (suka-suka). Gaya hidup untuk bertanggungjawab seumur hidup terhadap suatu karir, tugas, maupun profesi tertentu sering kali dilihat sebagai hal yang sulit. Model hidup itu sungguh tidak mudah maka tak banyak yang menginginkannya. Tak mengherankan jika saat ini banyak orang yang selama hidupnya memiliki dua, tiga karir atau bahkan lebih. Ada politikus yang lansung bisa berkarir sebagai pengusaha, selebritis, dan entah apa lagi. Hal ini tidak mungkin dalam diri seorang religius atau imam.
  • Pilihan akan tugas pelayanan semakin beraneka ragam. Pandangan Konsili Vatikan II tentang panggilan umum kepada kesucian yang didasarkan pada martabat sebagai orang-orang yang telah dibaptis, sungguh memberikan angin segar bagi perkembangan positif Gereja untuk melibatkan kaum dalam tugas pelayanan. Tidak seperti jaman dulu, orang tidak harus menjadi suster, bruder, atau imam untuk terlibat dalam pelayanan Gereja.
  • Proses pembinaan hidup religius memang tidak sederhana. Tarekat religius atau Keuskupan sungguh bekerja keras dalam proses evaluasi para calon. Menjadi suster, bruder, atau imam bukan hanya soal keinginan. Seorang pribadi perlu “ditaksir” secara hati-hati untuk melihat apakah yang bersangkutan mempunyai keahlian (skills) dan talenta untuk melayani sebagai suster, bruder, atau imam.
  • Ketidakpercayaan kepada pelayan Gereja dan religius. Gambaran umum para imam dan religius disorot amat tajam. Media massa secara terbuka menyorot penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh religius atau imam, baik yang berkaitan dengan hidup selibat, miskin , maupun taat. Ada orang yang tidak percaya lagi dengan pelayan-pelayan Gereja, dan kemudian orang tidak mampu lagi melihat hidup religius dan imamat sebagai bentuk hidup yang dapat dipercaya (credible).
  • Perubahan struktur keluarga. Tidak bisa disangkal, saat ini secara umum pasangan suami istri hanya memiliki sedikit anak. Banyak orang tua yang menginginkan cucu-cucu yang manis. Maka banyak orang tua merasa berat bila anak-anaknya ingin menjadi suster, bruder, atau imam.
  • Iklim sosial yang tidak selalu mendukung. Saat ini, kekerasan, materialisme dan individualisme menjadi warna yang semakin dominan dalam masyarakat. Setiap hari kita dibombardir dengan pesan “you can have it all” (anda bisa memiliki semuanya). Lingkungan seperti itu sungguh kurang mendukung bagi panggilan religius maupun imam.

3. Mengapa Menjadi Seorang Suster, Bruder, atau Imam?

Iklim di atas mungkin memang menjadi “musuh” bagi kesuburan panggilan Gereja. Di tengah-tengah iklim seperti itu saya juga bisa memahami pertanyaan: “Mengapa anda mau dan ingin menjadi seorang suster, bruder, atau imam?” Sebagai jawabannya setiap suster, bruder atau imam tentu mempunyai cerita panggilan yang berbeda-beda. Cerita panggilan seseorang itu bisa sungguh unik, mungkin sungguh sepele dan tidak istimewa, tetapi justru dapat menjadi best seller ketika dikisahkan. Berikut adalah petikan sharing beberapa teman.

Seorang imam bercerita bahwa panggilannya merupakan suatu peneguhan dari sanak keluarga, guru-guru, dan teman-temannya. Mereka melihat ada skills (keahlian-keahlian) dan bakat-bakat yang ada dalam dirinya yang bisa menjadi modal untuk jalan imamat. Peneguhan ini menjadi tantangan istimewa, ketika di kemudian hari seorang teman berkata, “Wow… ternyata kamu menjadi imam betulan ya..”

Berbeda lagi dengan cerita seorang bruder. “Barang kali tidak seperti religius yang lain, yang selalu mantap akan keputusan di jalan panggilan. Perjalanan panggilanku diwarnai banyak pertanyaan dan keraguan.

Namun, ketidakpastian macam itu mungkin juga merupakan rahmat yang tersamar. Rahmat yang tersamar ini menjadi kekuatanku. Rahmat itu menjagaku untuk selalu memilih lagi dan menghidupi jalan panggilan ini dengan kesetiaan dan semangat semaksimal mungkin.”

“Saya bisa saja membuat pilihan-pilihan yang lain.” Kata seorang suster mengawali cerita panggilannya. “Tetapi jalan ini memanggil perasaanku paling dalam untuk semakin berbelas kasih kepada orang-orang yang memerlukan pelayanan. Semoga bukan untuk mencari diriku sendiri, tetapi sungguh merupakan wujud commitment-ku pada Allah. Panggilan ini merupakan peziarahan untuk terus saling berbagi kebaikan dengan siapa saja.”

Kisah-kisah memang dapat mempengaruhi panggilan menjadi suster, bruder, ataupun imam. Tetapi jangan lupa; Yesus memanggil para muridNya juga secara personal. Di tengah himpitan kebingungan dunia, Gereja memerlukan orang-orang yang mampu melihat dan menempatkan Allah sebagai “YANG PALING BERARTI”. Gereja memerlukan orang-orang yang mempunyai keingingan yang berkobar-kobar untuk mejadi pelayan bagi sesamanya. Tak seorang pun terlahir menjadi suster, bruder atau imam. Panggilan pertama-tama merupakan inspirasi Allah. Manusia perlu menciptakan iklim yang bisa menyuburkan panggilan itu.

Gereja memerlukan pelayan-pelayan yang murah hati dan kreatif. Mungkin anda tahu ada orang lain yang bisa menjadi pelayan-pelayan itu: teman, sahabat, para murid, anak-cucu kita. Atau mungkin anda sendirilah yang dipanggil… Pertimbangkan ini. “Lowongan pekerjaan seumur hidup” menunggu pelamar.

Tunjukan lamaranmu ke PEMILIK perusahaan: YESUS KRISTUS, dengan alamat:

Seminari Johaninum (Postulat MSF Kalimantan)
Jl. A. Yani, KM. 36, Gang Musafir
Kotak Pos 1068, Banjarbaru 70714 Kalimantan Selatan
Telp. 0511-4778074 E-mail: marhar172004@yahoo.com

Atau hubungi juga para Pastor dan Bruder MSF di paroki-paroki atau di tempat mereka berkarya.
(P. Yohanes Marharsono, MSF)

16 responses to “Mengapa Menjadi Suster, Bruder atau Imam?

  1. Romo, bagaimana seseorang bisa yakin kalau dia benar2 dipanggil secara khusus oleh Allah sebagai suster/bruder/imam?? Karena seperti yang ditulis di atas, iklim hidup saat ini begitu keras dan ini sangat berpengaruh dalam pembuatan keputusan seseorang hendak menanggapi panggilan itu..
    Apalg adanya kenyataan bahwa banyak sekali calon suster/bruder/imam yang meninggalkan biara.. Ini menjadi pertimbangan seseorang dalam menanggapi panggilan hidup membiara, bagaimana bila nanti dia ternyata salah dalam menafsirkan suara hati yang dulu dikiranya panggilan religius sehingga dia harus keluar dr biara??

  2. Bonefasius Amadoren

    Mengapa sekarang kami yang mantan dari sebuah kongregasi tidak bisa masuk kongregasi lain? padahal kami yang telah mengundurkan diri ini masih memiliki pilihan hidup menjadi pelayan Tuhan seutuhnya.

    Apkah Kongregasi Romo masih memberikan kesempatan kepada kami untuk menjadi imam?

    Nb. Kl Boleh dibales di e-mail saya, nocerdas@yahoo.co.id

    –THANKS–

  3. Apakah mimpi tentang menjadi seorang calon suster merupakan salah satu panggilan untuk menjadi seorang suster?

    Belakangan ini saya merasa bahwa saya tidak ingin mendapatkan seorang pendamping hidup..apakah itu juga merupakan sebuah tanda bagi saya untuk menjadi pengabdi Kristus?

    Tolong balas ke e-mail saya.

    Terimakasih

  4. Ia neh…
    apakah klo kita pernah terlintah seorang wanita berjubah putih menhampiri kitra adalah suatu panggilan dan tuk kepikiran menikah juga enggak.
    Ini gmna yah mengartikan nya.. walupun sebenarnya ad niat tuk masuk biara, tp blom tau apakah itu panggilan ato hanya halusinasi saja.
    Tolong arahan dan masukannya yah romo..

  5. apa syarat dan tugas pelayanan suster, frater, diakon, pastur?
    terimakasih

  6. gerald donny anak nelson tibu

    Romo,
    Salam Damai.
    membuat keputusan bagi menangapi pangilan ini sebenarnya amat sukar juga bagi saya. bahkan saya sendiri mengalami tekanan dalam ingin membuat keputusan tersebut. sering kali persoalan ini yang akan timbul. Apakah benar saya dipangil untuk melayani? untuk pengetahuan Romo saya pernah masuk seminari di miri sarawak dan pernah juga masuk Biara CSE di sabah tapi akhirnya saya keluar juga. apa yg menyebabkan saya keluar antara faktornya ialah, saya belum bersedia walau kuat sekali keinginan itu. maka saya mengambil keputusan bekerja selama 2 tahun lagi sementara menangipi biara mana satu yang akan saya pilih kelak. sekarang ini saya telah bekerja selama 1 tahun sebagai Front Office Assistant di sebuah hotel. maka rencananya sy ingin melamar ke biara kapusin di kuala lumpur tahun depan. mohon doa daripada Romo.

  7. gerald donny anak nelson tibu

    salah satu halangan yg saya lihat dan selidiki sendiri bagi mana-mana relijius terutama sekali di Malaysia ini, adalah kerna terlalu menekan tahap aspek pendidikan yang tinggi. terutama sekali kebolehan berbahasa Inggeris. ramai yang sebenarnya ingin masuk biara tetapi terhalang oleh kerna satu perkara ini aja. termasuklah saya sendiri. walau pun saya boleh dengan lancar berhubung dengan bahasa inggeris tetapi saya tidak pandai menulis dalam bahasa tersebut. Apakah kami dari malaysia ini boleh ngak melamar masuk biara religius di indonesia? sy rasa umat katolik di indonesia cukup bersyukur kerna tidak dihalangi oleh perkara yang 1 ni. harap Romo boleh jawap soalan saya tadi yah.

  8. gerald donny anak nelson tibu

    harap romo balas ke email saya terus-spearrule84@yahoo.com

  9. Romo, menurut Romo apa benar ini panggilan?? Di suatu Retret saya pernah didoakan dan sy melihat gambaran diri saya sedang berlutut dan sy di kalungkan kalung salib sedangkan baju yg sy kenakan adalah jubah biara. Di kesempatan yg lain sy jg pernah bermimpi menjadi biarawati yg sudah mengenakan jubah biara; kerapkali sy berpikir itu tdk mungkin (sy merasa itu hny khayalan & cuma kebetulan saja). Jujur sy merasa berat sekali u/ mjd biarawati mengingat bnyk hal yg terjadi di dlm diri sy yg membuat sy jd berpikir sudah tidak mungkin sy mjd biarawati disamping masalah keuangan keluarga yg tengah terjadi di dlm keluarga sy saat ini. Saat ini sy tengah bekerja di salah satu perusahaan swasta yg ada di Bdg sbg Audit, sy pernah kuliah tp tidak selesai dikarenakan kondisi ekonomi keluarga yg tidak memungkinkan bagi sy utk melanjutkan studi. Saat ini sy sedang bingung apa yg hrs sy lakukan, sy pernah mencoba utk pacaran namun hasilnya sy tidak nyaman dan bahagia tdk spt wkt sy tinggal di biara pd saat ninjau. Pikiran dan hati sy jg selalu ke panggilan hidup membiara apalagi pada saat ekaristi dan doa meditasi (jujur sy paling suka meditasi apalagi adorasi, rasanya hati ini damai dan bahagia sekali). Sering sekali buat sy mematikan panggilan itu namun semua usaha sy sia2. Kl boleh Romo tlg balas ke alamat e-mail sy di Catharine_smile@yahoo.com. Ada beberapa hal yg sy ingin tanyakan ke Romo tp tidak u/ di publikasikan di forum ini. Sebelumnya sy ucapkan terimakasih sama Romo. Selamat Tahun Baru. GBU

  10. Salam,aku mau jd suster,sebagian keluarga dukung,ada yg gk dukung apa lg mama aku sama sekali tidak dukung,bagi aku lagu kasih ibu tak terhinga sepanjang masa hanya memberi tak harap kembali,itu BOHONG mama aku gk seperti itu padahal aku ingin se x menajadi biarawati sering x terlintas utk menjadi suster tp biarakn aja aku percaya jika Tuhan igin aku melayanin nya pasti bisa,aku tinggal dikalimantan barat naga pinoh terimakasih ya aku seneg ada rowongn seperti ini

  11. terimakasih untuk iklannya nya mo,
    saya berniat untuk menjadi suster
    tetapi banyak hal yang masih menjadi pertanyaan besar bagi saya sampai saat ini.
    bagaimana menyakinkan diri bahwa ini adalah sebuah panggilan?
    lalu bisakah saya dapat info tentang ordo/komunitas/kongregasi suster yang ada di indonesia sebagai pertimbangan saya unutk mengambil keputusan?

  12. slmat mlm mo,mo sy berniat mnjdi biarawati tetapi byk yg tdk percya sy ingin jd biarawati..dan papa sya pun tdk stju sy mjdi biara .
    skrng sy serahin dri sy pd TUHAN YESUS apakah TUHAN mengijinkan sy mnjd biarawati dan melayani TUHAN seumur hdp ku
    rmo tlng bls y

  13. mo… saya juga belakangan ini merasakan keinginan n niat untuk bisa merasakan hidup membiara dan menjadi biarawati, tetapi berat rasanya utk sy melepaskan keluarga saya karena sy berpikir jika sy menjadi biarawati sy tidak bs membahagiakan orangtua saya n tdk bs membantu ekonomi klrg saya, yah saya merasakan niat utk mjadi biarawati bru muncul blkgan ini stlh sy sering skali berkomunikasi n mendengar pengalaman” hidup dr beberapa frater ofm di gereja saya.. menurut romo bagaimana yah ? apakah ini pnggilan Tuhan ? atau hanya niat biasa saja yg sy rasakan? mohon bls ke email sy .. terima kasih.

  14. Romo,
    sy selalu ingin Tuhan Yesus memiliki saya seutuhnya.
    sy ingin bisa melayani sesama.
    sy ingin menyerahkan diri sebagai suster, Mo.

  15. salam kenal……
    panggilan yang sya rasakan hanya samar2, tapi alasan kuat saya ingin menjadi suster adalah karena saya tidak kuat lagi dengan beban hidup yang saya tanggung…. saya hanya ingin jalan keluar yang aman dan akhir yang damai…..apa itu boleh menjadi alasan u/ menjadi suster??

  16. salam
    saya juga ingin menjadi suster karena aku tidak pernah menemukan kedamaian yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s