Pendidikan Anak, Aset dalam Keluarga
30 Nopember 2007 oleh redaksi
seminar pasutri di Paroki Buntok
“Pendidikan anak adalah aset dalam keluarga. Oleh karena itu setiap orang tua harus memperhatikan pendidikan anak-anaknya.” Demikianlah pengantar yang disampaikan oleh Pastor Timotium I Ketut Hardana MSF, atau yang beken dipanggil Pastor Timo, dalam seminar pasangan suami istri yang dilaksanakan di Paroki St. Paulus, Buntok. Selanjutnya P. Timo menguraikan sebuah dokumen Gereja hasil Konsili Vatikan II berjudul “Gravissimum Educationis” yang menjadi wujud perhatian Gereja terhadap pentingnya pendidikan.
Seminar dengan tema “Pendidikan Anak, Aset dalam Keluarga” dilaksanakan pada, Minggu 28 Oktober 2007 di aula paroki. Hadir sekitar 36 pasutri (pasangan suami-istri) dari lima lingkungan dan beberapa stasi. Seminar berlangsung dari pukul 10.00 WIB sampai sekitar pukul 16.00 WIB dan dibagi dalam beberapa sesi serta diselingi dengan snack dan makan siang.
Secara umum, para pasutri yang hadir sepakat bahwa pendidikan sangatlah penting, terutama bagi anak-anak mereka. Bila diumpamakan, lebih baik mewariskan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan kebun karet puluhan hektar atau uang ratusan juta. Namun belum semua pasutri mengalokasikan dana khusus demi pendidikan anak-anak mereka. Kesan yang muncul adalah cukuplah bila orangtua sanggup membiayai pendidikan dasar anak-anak. Sedangkan untuk pembiayaan sampai pendidikan tinggi belum cukup terpikirkan. Padahal itulah yang menjadi syarat bagi terciptanya generasi penerus yang kompeten dan tangguh di tengah arus globalisasi yang deras menerjang dunia kita sekarang.
Disampaikan pula oleh P. Timo problematika yang dihadapi setiap keluarga pada zaman ini. Arus globalisasi tidak hanya membawa hal-hal positif, tapi bersamanya juga hal-hal negatif. Bila keluarga tidak siap menghadapi ini dan tidak punya sikap yang jelas, maka arus deras globalisasi akan menyeret siapa saja tanpa ampun. Maka jangan heran bila pada zaman ini banyak orang yang hidup dengan nilai-nilai konsumeristis, hedonistis, pola jalan pintas atau budaya instan, dengan segala konsekwensinya. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua.
Terima kasih kepada P. Timo, Tim Kerja Kerasulan Keluarga Paroki, para ketua lingkungan, dan seluruh panitia serta umat yang mendukung pelaksanaan acara ini. Tahun depan akan diadakan lagi seminar pasutri di Paroki Buntok.


