Arsip untuk November, 2007

Redaksi Menyapa

cover.jpg

“Rorate Coeli” sebuah lagu masa adven berkumandang dalam telinga saya. Bersoraklah….meskipun terkesan agak terlambat MUSAFIR menyapa para pembaca setia, namun bahan-bahan untuk edisi kali ini akhirnya terkumpul juga untuk menamani waktu senggang para pembaca setia meskipun bahan-bahan rutin seperti budaya, resep makanan dan lain-lain tidak masuk ke meja redaksi.

Awalnya edisi ini direncanakan untuk menampilkan tulisan seputar kapitel MSF Provinsi Kalimantan dan tentang usaha rumah retret di Ampah dan lain sebagainya mengenai MSF Provinsi Kalimantan, namun karena berbagai pertimbangan yang masuk, maka Team Kerja Redaksi mencoba untuk mengolahnya dalam bentuk lain.

Pada edisi kali ini, Redaksi MUSAFIR menggemakan kembali Perayaan 100 tahun misi wilayah gerejawi Keuskupan Agung Samarinda yang baru saja disyukuri dan berapa kegiatan lain yang kiranya masih sejalan dengan Gema Perayaan Syukur 100 tahun misi wilayah gerejawi Keuskupan Agung Samarinda.

Redaksi MUSAFIR pun menyadari bahwa zaman sekarang ini banyak persoalan yang dihadapi oleh keluarga-keluarga Kristiani berkaitan dengan visi-misi perutusan dan panggilan keluarga kristiani. Oleh karena itu tulisan berkaitan dengan Panggilan dan Perutusan keluarga-keluarga kristiani di tengah-tengah masyarakat ikut menyemarakan ruang Redaksi MUSAFIR yang kiranya menjadi wacana refleksi bagi para keluarga kristiani.

Tulisan seputar panggilan khusus yang menampilkan profil Mgr. F. X. Prajasuta, MSF (Uskup Banjarmasin) yang baru saja merrymaking Triwindu Tahbisan Uskup juga di tuangkan di dalamnya sebagai wacana yang membangkitkan semangat kita semua terutama para pembaca setia untuk ikut memikirkan dan bergerak bersama dalam mempromosikan panggilan hidup membiara.

Tidak ketinggalan berita dari Manca Negara kami Hadrian buat para pembaca MUSAFIR yang budiman, yaitu seputar Kapitel General MSF dan konser musik P. Garin MSF di kota Piza Italia-Roma. Syukur pada yang Kuasa, karena pada akhirnya P. Garin, MSF menyelesaikan studinya  di bidang musik Gereja. Proficiat Pastor Musik…

Semoga keterlambatan MUSAFIR edisi kali ini ke ruang hati para pembaca sekalian tidak mengurangi minat baca Anda semua.

Selamat Membaca dan Menikmati hari-hari hidup Anda sekalian bersama MUSAFIR. Baca entri selengkapnya »

Tanggapan (3)

Anggur yang Baru Disimpan Orang dalam Kantong yang Baru pula

“… anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula …” (Matius 9:17)

30 September 2007; disaat sebagian warga bangsa Indonesia tertunduk mengenangkan kekejaman dan kekejian yang terjadi 42 tahun yang lampau lewat aksi Gerakan 30 September PKI, sebagian warga Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Misionarii a Sacra Familia – MSF) tertunduk pula mengenangkan karya Allah yang agung dalam Kongregasi. Hari itu, 44 pastor MSF dari segala penjuru dunia berkumpul di Roma untuk memulai Kapitel Jenderal MSF ke – 12. Hari itu, diiringi suara angin musim gugur, di dalam Perayaan Ekaristi, 44 pastor MSF mensyukuri sekaligus memohon rahmat dari Allah yang agung bagi tahapan penting dalam sejarah hidup Kongregasi MSF, yaitu pelaksanaan forum pemegang kekuasaan tertinggi di Kongregasi dalam bentuk Kapitel Jenderal MSF, yang berlangsung setiap 6 (enam) tahun.

Kapitel Jenderal MSF ke – 12 itu berlangsung pada tanggal 30 September – 18 Oktober 2007. Kapitel ini bertepatan dengan peringatan 100 tahun wafatnya Pater Berthier MS, pendiri Kongregasi MSF. Oleh karena itu, diinspirasi oleh karya dan semangat Pater Pendiri segenap Kapitulan dan semua anggota MSF dipanggil untuk memperkuat panggilan, misi dan hidup persaudaraan sebagai Misionaris Keluarga Kudus. Secara khusus ada 8 (delapan) tema yang direnungkan, didiskusikan, termasuk diperdebatkan, dan akhirnya dirumuskan untuk menjadi pegangan seluruh Kongregasi untuk perjalanan waktu 6 (enam) tahun ke depan. Ke-8 tema tersebut adalah berkaitan dengan Misi, Hidup Religius, Komunitas Lokal dan Superior Lokal, Dewan Jenderal, Pendidikan, Keluarga, Provinsi-provinsi Kecil serta Perayaan 100 Tahun P. Berthier. Baca entri selengkapnya »

Tanggapan (1)

Gema 100 tahun Misi Katolik

Sendawar Kutai Barat, Kalimantan Timur

Sebuah Misa syukur untuk merayakan 100 tahun misi Gereja di Samarinda menyoroti keberhasilan dan tantangan misi Gereja di Borneo, Indonesia bagian timur.

Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang, ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), memimpin liturgi 8 Juli yang dihadiri ribuan umat Katolik di sebuah lapangan terbuka di Barong Tongkok, sebuah desa di Kabupaten Kutai Barat. Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Leopoldo Girelli dan Uskup Agung Samarinda Mgr Florentinus Sului Hajang Hau MSF juga memimpin liturgi tersebut.

“Kini 100 tahun sudah Gereja Katolik berkarya di wilayah kita. Hasil tanggapan sudah lumayan,” kata Uskup Agung Hajang Hau dalam homilinya. Namun dengan menggunakan sebuah analogi lain, ia mengatakan bahwa benih-benih iman yang ditaburkan “telah menjadi pohon, walaupun bukan pohon yang besar dan rindang.” Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Keuskupan Agung Samarinda tetapkan Tujuan Dan Strategi Baru

kasri.jpg

SENDAWAR, Kalimantan Timur ……Untuk memperingati seabad Gereja Katolik di Kalimantan Timur, Keuskupan Agung Samarinda telah mempertemukan umat Katoliknya untuk membahas bagaimana keuskupan agung itu bisa menjadi Gereja lokal yang responsif dan mandiri.

Seminar dan lokakarya (semiloka) yang diadakan di Gedung BPU Tana Ngeriman, Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat, dari 4 hingga 6 Juli itu terfokus pada tema: Bertolaklah ke Tempat yang Dalam. Penyelenggara memilih tema yang diinspirasikan dari Injil Lukas 5:4 itu untuk merefleksi karya misi para misionaris pendahulu, seraya merumuskan strategi karya pastoral yang baru. Baca entri selengkapnya »

Tanggapan (3)

Tuhan Memberi Tumbuhan

Sekelumit Awal Misi MSF di Kalimantan dan Jawa
Mgr. W.J. Demarteau MSF

Dewasa ini di Indonesia seringkali diadakan peringatan awal karya misi di wilayah tertentu maupun kongregasi-kongregasi tertentu. Dalam hal itu MSF tidak sendirian karena

  • Tahun 1926 MSF mulai di Laham, dan
  • Tahun 1932 MSF mulai di Jawa Tengah

Dalam catatan sejarah  awal misi MSF di Indonesia ada juga catatan “pra-sejarah” yang menarik. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah Konser Syukur

 konser02.jpg

Pada tanggal 11 Mei 2007, Pastor Garin mengadakan sebuah konser syukur. Konser itu diadakan di sekolah musik tempat ia menuntut ilmu, T.L. Da Victoria, di Via Caboto 20, Roma. Konser syukur itu dihadiri sekitar 100 undangan. Mereka adalah para anggota komunitas Generalat MSF, 4 anggota komisi persiapan kapitel General, para student MSF di Roma, beberapa staf kedutaan RI, dan sejumlah teman baik P. Garin, baik yang berwarga Negara Indonesia maupun Italia.
Konser syukur dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, konser dibuka dengan sebuah doa yang dilagukan dengan judul “Di Batas Bayangmu”. Segera sesudah itu, Garin sebagai konduktor konser memainkan beberapa nomor lagu hasil komposisinya sendiri untuk instrument gitar yang dia pelajari selama 4 tahun di Roma. Dengan ditemani oleh seorang student lain, Garin memainkan sebuah duet yang berjudul “Prelude Triparti”. Konser mengalir dengan tenang dan relax, lebih-lebih ketika dia memainkan lagu berjudul “Tari Gong” dan “Tumpi Wayu”. Dua lagu yang berasal dari Kalimantan ini dimainkannya bersama dua musisi Italia yang memainkan instrument marimba. Bagian pertama dari konser ini, diakhiri dengan sebuah duet gitar yang mengalunkan lagu “saltarello Batente”. Lagu ini merupakan komposisi dari sang maestro di sekolah musik itu.

konser01.jpg

Masih dengan gitar, Garin membuka bagian kedua konser syukur ini dengan memainkan sebuah “Serenata” , berduet dengan piano klasik. Suasana konser ini menjadi semakin sempurna, ketika setiap lagu yang dinyanyikan oleh para vokalisnya diiringi dengan flute, gitar, bongo, tamburin, dan piano.

Sore itu terasa sekali ritme musik instrumental memenuhi seluruh ruangan. Suasana menjadi lebih syahdu ketika para musisi mengiringi beberapa lagu yang berjudul “Ku Bersyukur” dan “Jalanku”. Pada bagian akhir, Antonio Garinsingan berterimakasih kepada siapa saja yang memberi kesempatan untuk belajar di sekolah ini, tempat ia belajar untuk membuat komposisi dan arrangement lagu. Sore itu hasil karyanya telah ditampilkan dalam konser syukur. Para hadirin berdiri dan menyambut dengan tepuk tangan. (Risdi).

Tanggapan (1)

Keluarga Kristiani dan Evangelisasi Baru

SEBUAH TANTANGAN REFLEKSI BIBLIS

PRAKATA

Dalam tulisan ini akan dibahas – dengan menggunakan metode pendekatan Kitab Suci – manakah peranan keluarga Katolik dalam Evangelisasi? Sejauh mana Kitab Suci dapat mendukung keluarga sebagai pangkal Evangelisasi yang diberi kata sifat “baru”? Dengan melihat realita yang ada dimana jumlah panggilan utuk menjadi Imam semakin berkurang dari tahun ke tahun, sementara tugas pewartaan Injil adalah tugas yang harus tetap dijalankan, maka mulai sekarang dan khususnya di masa depan evangelisasi dunia tidak lagi terutama ditangani oleh lembaga dan organisasi misioner yang khusus (tarekat-tarekat kaum religius di kalangan Gereja Katolik; lembaga-lembaga penginjilan di kalangan Gereja Reformasi); tetapi oleh keluarga-keluarga yang terpanggil untuk mengemban amanat tugas perutusan Tuhan Yesus: “…pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…” (Mat 28, 19). Baca entri selengkapnya »

Tanggapan (2)

Pendidikan Anak, Aset dalam Keluarga

seminar pasutri di Paroki Buntok

“Pendidikan anak adalah aset dalam keluarga. Oleh karena itu setiap orang tua harus memperhatikan pendidikan anak-anaknya.” Demikianlah pengantar yang disampaikan oleh Pastor Timotium I Ketut Hardana MSF, atau yang beken dipanggil Pastor Timo, dalam seminar pasangan suami istri yang dilaksanakan di Paroki St. Paulus, Buntok. Selanjutnya P. Timo menguraikan sebuah dokumen Gereja hasil Konsili Vatikan II berjudul “Gravissimum Educationis” yang menjadi wujud perhatian Gereja terhadap pentingnya pendidikan.

Seminar dengan tema “Pendidikan Anak, Aset dalam Keluarga” dilaksanakan pada, Minggu 28 Oktober 2007 di aula paroki. Hadir sekitar 36 pasutri (pasangan suami-istri) dari lima lingkungan dan beberapa stasi. Seminar berlangsung dari pukul 10.00 WIB sampai sekitar pukul 16.00 WIB dan dibagi dalam beberapa sesi serta diselingi dengan snack dan makan siang.

Secara umum, para pasutri yang hadir sepakat bahwa pendidikan sangatlah penting, terutama bagi anak-anak mereka. Bila diumpamakan, lebih baik mewariskan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan kebun karet puluhan hektar atau uang ratusan juta. Namun belum semua pasutri mengalokasikan dana khusus demi pendidikan anak-anak mereka. Kesan yang muncul adalah cukuplah bila orangtua sanggup membiayai pendidikan dasar anak-anak. Sedangkan untuk pembiayaan sampai pendidikan tinggi belum cukup terpikirkan. Padahal itulah yang menjadi syarat bagi terciptanya generasi penerus yang kompeten dan tangguh di tengah arus globalisasi yang deras menerjang dunia kita sekarang.

Disampaikan pula oleh P. Timo problematika yang dihadapi setiap keluarga pada zaman ini. Arus globalisasi tidak hanya membawa hal-hal positif, tapi bersamanya juga hal-hal negatif. Bila keluarga tidak siap menghadapi ini dan tidak punya sikap yang jelas, maka arus deras globalisasi akan menyeret siapa saja tanpa ampun. Maka jangan heran bila pada zaman ini banyak orang yang hidup dengan nilai-nilai konsumeristis, hedonistis, pola jalan pintas atau budaya instan, dengan segala konsekwensinya. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua.

Terima kasih kepada P. Timo, Tim Kerja Kerasulan Keluarga Paroki, para ketua lingkungan, dan seluruh panitia serta umat yang mendukung pelaksanaan acara ini. Tahun depan akan diadakan lagi seminar pasutri di Paroki Buntok.

Tanggapan (2)

Pemberdayaan Keluarga Kristiani menuju Keluarga Yang Harmonis

Laporan Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda
Wisma Sikhar  Banjarbaru, 13 s/d 16 September 2007

Misa pembukaan Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda ke-5, dipersembahkan oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF didampingi Pastor Gregorius, CP, dengan petugas Misa dari Keuskupan Banjarmasin. Misa dimulai pada pukul 18.00 WITA. Lagu pembukaan “Saudara Mari Semua” mengalun mengiringi perarakan Uskup Mgr. Prajasuta, MSF petugas Misa memasuki ruang Misa.

“Pertama-tama saya ingin menyampaikan selamat datang kepada Anda semua. Karena saya sangat-sangat senang dan peduli dengan kerasulan keluarga. Saya harap Anda dengan sepenuh hati mengikuti Raker ini. Saya percaya usaha kita ini akan bermanfaat untuk Gereja di Indonesia. Trimakasih kepada Rm. Jeremias yang telah hadir di sini, saya percaya Rm. Jeremias akan mampu mendampingi Anda semua. Semoga Raker ini menjadi berkat bagi kita semua, khususnya bagi keluarga-keluarga kita,” demikian kata sambutan Uskup Prajasuta membuka Misa Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda.

Dalam homili singkatnya, Mgr, Prajasuta berujar, “Saudari/saudara terkasih, kerasulan keluarga menurut pandangan saya mempunyai 3 fokus besar. Saya menyebutnya 3 M :
M yang pertama adalah mempersiapkan perkawinan, M yang kedua adalah membina perkawinan dan M yang ketiga adalah mendampingi perkawinan. Baca entri selengkapnya »

Tanggapan (1)

Imam-Imam Suam Kuku

Sambungan dari edisi yang lalu….

St. Theresa dari kanak-kanak Yesus tidak pernah melakukan suatu dosa berat, kita tahu semuanya dari surat kanonisasinya. Namun ia sendiri melihat bahwa ia sudah berada dekat jurang neraka, seandainya ia tidak cepat-cepat  keluar dari hidupnya yang “suam-suam kuku”. Banyak para santo-santa menasehatkan, agar kita memberi kemurahan  atau membuka hati terhadap Tuhan agar Ia mau datang kepada kita. Memang sepantasnya  kita mempunyai kepekaan atau kemurahan hati terhadap Tuhan namun Tuhan lebih mengharapkan kemurahan hati kita itu tertuju terhadap sesama kita. Kita harus mempunyai kemurahan hati kepada setiap orang “siapa yang telah diberi banyak maka ia juga dituntut untuk memberi banyak”  Namun ini tidak berarti bahwa kamu telah diberi sepuluh oleh Tuhan maka kamu juga hanya memberi sepuluh, kalau hal ini yang kamu lakukan, itu bukanlah kemurahan hati tapi hanya baru sampai dalam arti keadilan. Orang yang telah menyenangkan hati Tuhan adalah orang yang tidak hanya melakukan apa yang ia senangi tapi juga dalam hal yang mungkin tidak ia senangi, ia tidak hanya melihat orang-orang sempurna dan terhormat atau hanya dalam hal-hal yang besar namun juga dalam hal-hal yang sangat kecil, dialah yang sungguh-sungguh murah hati terhadap Tuhan dan tentu juga Tuhan akan memberi suatu hadiah yang sangat besar kepadanya. Ia telah membagikan kemurahan hatinya tidak hanya kepada orang yang ia sayangi atau hanya kepada orang yang menyayanginya tapi juga kepada orang yang membencinya. Ia menjadi sumber rahmat atau berkat bagi orang-orang disekitarnya, ia tidak hanya memberikan hiburan agar tetap tabah atau bertahan dalam menerima cobaan tapi ia akan lebih memberikan perhatian khusus, ia akan membuat sesuatu yang bisa membuat anggota keluarga merasa dikuatkan dalam keseharian mereka dan hal yang paling penting ia menjadi benteng dari setiap serangan setan. “Jika kamu mengasihi Tuhan maka kamu juga harus mengasihi orang-orang yang ada disekitarmu”. Tuhan akan mengasihi kamu sama seperti kamu mengasihi sesamamu. Jika kamu kikir untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada orang lain maka dengan kata lain tangan dan hatimu telah menggiring kamu kedalam kedosaan. Jika hal ini kamu lakukan juga terhadap Tuhan maka bersiaplah untuk menerima hukuman. ”Semua ukuran yang kamu pakai untuk membantu atau menolong orang lain itu juga yang dipakai Tuhan untuk memberikan rahmat-Nya kepadamu.

Tuhan telah berjanji akan memberikan rahmat kemurahan hati-Nya, tidak hanya kepada kamu tapi juga kepada seluruh dunia. Tuhan memberikan kemurahan hati-Nya kepada yang memang sungguh-sungguh memerlukan khusunya untuk menopang agar mereka sanggup menanggung beban hidupnya. Namun kamu terlalu banyak permintaan dan keluhan sehingga Tuhan tidak akan memberikan rahmat-Nya kepada kamu. Tuhan sekali lagi akan mencurahkan rahmat kemurahan hati-Nya hanya kepada orang-orang yang mempunyai kemurahan hati kepada sesamanya dan tentunya kemurahan hati terhadap Tuhan. Bila kamu tidak melakukan sesuatu terhadap sesamamu dan terhadap Tuhan maka bersiaplah untuk untuk menghadapi serangan setan dan kamu akan jatuh ke dalam dosa yang sangat berat.

Ketika seorang pandai besi membuat sebuah pisau, ia akan membakar besinya sampai sungguh-sungguh menjadi merah kemudian akan membentuknya menjadi sebuah pisau. Ia akan terus berusaha agar besinya dalam keadaan merah membara oleh karena itu, ia akan terus membakar dan membakar tanpa pernah memberikan kesempatan besinya menjadi dingin. Jika besi dalam keadaan dingin atau baru setengah panas akan sangat mustahil untuk membentuknya menjadi sebuah pisau. Bayangkanlah dirimu seperti seorang pandai besi bila ingin melakukan kemurahan hati terhadap sesamamu atau kepada Tuhan. Kamu tidak bisa melakukannya hanya dalam keadaan “suam-suam kuku” karena akan menjadi sia-sia  belaka.
Kalau kamu besok pagi akan mengadakan perjalanan, maka pada malam harinya kamu akan menyiapkan segala sesuatu dan tentu saja dengan tidur yang cukup agar besok pagi bisa bangun lebih cepat, agar kamu tidak ketinggalan atau ditegur oleh teman-temanmu karena kamu terlambat. Seperti itulah yang harus kamu lakukan setiap hari agar kamu tidak menjadi orang “suam-suam kuku”. Jadilah orang yang siap-siap sedia dan bukan menjadi batu sandungan bagi orang lain melainkan harus menjadi sumber suka-cita atau kebahagiaan khususnya untuk orang-orang disekitarmu. Amin.
(Diambil dari buku Le Prêtre  : Oleh P. Ionday MSF, Socius Seminari Johaninum MSF Banjarbaru)

Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan yang Lebih Tua »