Dari Provinsial
10 April 2007 oleh redaksi
“ … Ya Tuhan, panggillah kaum muda kami
Untuk berkarya di Kebun Anggur-Mu,
Tetapi jangan anakku, ya Tuhan …”
Sepotong kalimat “doa” yang sering kali dipakai sebagai sebuah anekdot yang menggambarkan ketidakrelaan orang tua untuk melepas anaknya masuk seminari atau biara. Ketidakrelaan itu mempunyai banyak dan beragam alasan. Ketika ketidakrelaan itu bertemu dengan keengganan kaum muda sendiri untuk masuk seminari atau biara, maka lengkaplah argumentasi untuk mengatakan bahwa tidak ada yang masuk seminari atau biara. Itu berarti anggota seminari atau biara tidak akan bertambah; pekerja di Kebun Anggur Tuhan tidak bertambah.
Ketidakrelaan dan keengganan memang bukan merupakan satu-satunya alasan tidak bertambahnya anggota seminari/biara. Ada sejumlah orang muda yang dengan penuh semangat datang ke Seminari/Biara dan mengetuk pintu dengan penuh keyakinan. Mereka datang dengan semangat berkobar untuk menjalani panggilan Tuhan yang mereka rasakan dan yakini. Hanya saja semangat dan keyakini itu harus dibuktikan dan diikuti dengan kemampuan pribadi yang memadai. Mereka harus menjalani sejumlah tes masuk dan sejumlah wawancara-wawancara pribadi. Ketika semuanya dapat dijalani dengan baik, maka mereka akan diterima sebagai anggota baru di Seminari.
Proses untuk akhirnya sungguh dapat menjadi pekerja di Kebun Anggur Tuhan belumlah selesai dengan keberhasilan mengikuti test dan wawancara-wawancara awal. Proses masih harus dijalani selama pendampingan dan pendidikan di seminari/biara. Di Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) keseluruhan proses dijalani mulai dari tahap Postulat (tahun penjajakan yang berlangsung selama 1 atau 2 tahun), Novisiat (tahun penggemblengan hidup rohani yang berlangsung selama 1 tahun) dan Skolastikat (tahun seminari tinggi yang berlangsung selama 7 tahun untuk belajar filsafat dan teologi). Dalam keseluruhan proses yang tidak pendek itu orang-orang muda yang penuh semangat dan keyakinan itu di dampingi dan dipersiapkan untuk akhirnya sungguh siap menjadi pekerja di Kebun Anggur Tuhan yang handal, sebagai seorang Imam atau Bruder MSF. Ketika dalam keseluruhan atau sebagian proses tersebut orang-orang muda itu sampai pada kesimpulan bahwa mereka ternyata tidak mampu, entah dari sudut intelektual ataupun dari sudut kemampuan kepribadian untuk menjalani kehidupan khusus ini, maka mereka akan dibantu oleh para formator mereka untuk mengambil keputusan keluar dari pintu seminari/biara yang dulu mereka ketuk. Dengan demikian jumlah anggota pekerja di Kebun Anggur Tuhan juga tidak akan bertambah.
Mungkin akan ada yang protes : “Mengapa prosesnya harus dibuat sedemikian panjang dan berat, sehingga semangat dan keyakinan itu harus berhenti di tengah jalan?” Sekilas protes itu terdengar benar. Tetapi ketika kita harus berhadapan dengan fakta bahwa dunia dan Gereja sekarang ini berkembang dengan pesat; ketika umat menjadi semakin banyak yang pandai, juga dalam bidang rohani, tuntutan bagi para Imam dan Bruder serta calon-calonnya juga semakin berat. Dunia, Gereja dan Umat akan protes keras jika para Imam dan Brudernya hanya menyandang predikat sebagai Imam dan Bruder tanpa bisa berbuat banyak menjawab tantangan jaman dan kebutuhan Umat.
Ketidakrelaan, keengganan dan ketidak-mampuan orang muda Gereja untuk memilih dan menghidupi jalan hidup sebagai Imam atau Bruder (dan Suster bagi yang Putri) merupakan realita pahit yang sekarang ini mulai dialami oleh Gereja Katolik, mulai dari Eropa sampai di Indonesia. Semakin hari, semakin banyak seminari dan biara yang kosong dan akhirnya dengan berat hati harus ditutup. Entah kapan seminari atau biara itu dapat dibuka lagi. Sebagian terbesar bahkan sudah dialihfungsikan atau bahkan dibongkar sama sekali dan dibangun sesuatu yang baru. Akankah realita pahit itu segera berakhir dan berubah menjadi fajar harapan yang indah; ataukah relaita pahit itu akhirnya semakin menjadi tajam dan menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan? Adalah kita bersama yang diajak untuk berani menjawabnya; Adalah kita bersama yang diajak mengucapkan penggalan doa di atas, tanpa harus diembel-embeli dengan anak kalimat “…Tapi jangan anakku ya Tuhan…”; Adalah kita bersama yang diajak untuk mewujudkan fajar harapan yang indah itu. Semoga.



DEAR Rm Provincial beserta staff
Saya bangga dengan kemajuan yang MSF provinsi Kalimantan sekarang capai, kalo boleh untuk mengikuti berita-beritanya tolong Rm Tedy berkenan mengirimkan brosur dan sejenisnya siapa tahu anak-anak saya di SOS Desa Taruna Flores sebuah Lembaga International yang bergerak di bidang pengasuhan anak berbasis Keluarga, Satu Desa dengan 15 rumah mengasuh 10-12 anak yang kurang kasihsayang orangtua dan kehilangan keluarga sebagai basis Cinta Kasih,dengan satu Ibu Pengasuh Mandiri dan selibat. Saya senang membaca tulisan Romo.
Salam Penuh Hormat in YMY Yusupflores ( dulu Br Slamet ) alamatku di Maumere SOS Desa Taruna Flores .Jln Magepanda KM 14 Dsn Waturia, Desa Kolisia Kecamatan Magepanda Kotak Pos 196 Maumere Kabupaten Sikka NTT