Tuaian Memang Banyak tapi Pekerja Sedikit

Hari ini tamatlah seluruh sejarah dan kegiatan karya misi MSF di Belanda untuk Indonesia. Ibarat sebuah pohon, maka pohon ini sekarang perlahan-lahan mati dan selanjutnya tinggal dikenang oleh sejarah. Kendatipun pohon ini mati karena tua dan tidak akan bertunas dan tidak akan hidup lagi, namun kami saat ini merasa bangga, puas dan bahagia. Kami merasa bangga, puas dan bahagia karena pohon ini yaitu karya perutusan kami di masa lalu pernah mengirimkan buah-buahnya ke tanah misi, yaitu ke Kalimantan dan Jawa. Demikianlah kata-kata Pater Provincial MSF Belanda P. V. D. Wiel MSF pada acara pertemuan dengan empat (4) uskup MSF asal Indonesia pada tanggal 31 Mei 2006 yang sekaligus menjadi acara perpisahan dengan rumah propinsialat yang selama empat puluhan tahun, telah digunakan oleh MSF Belanda menjadi Pusat kegiatan pelayanan karya misi MSF Belanda yang dikutip kembali oleh Uskup Agung Samarinda Mgr. Sului Florentinus MSF pada Perayaan Tahbisan imam MSF Kalimantan: P. Iwan Yamrewav MSF dan P. Stanley Genial MSF, pada tanggal 28 Juni 2006 di Gereja Katedral  Sta. Maria Penolong Abadi-Samarinda.

Dua Puluh dua Tahun dalam Penantian

Apa yang disampaikan oleh Pater Provinsial MSF Belanda dalam acara perpisahan dengan rumah propinsialat bersama keempat uskup MSF asal Indonesia kiranya ada benarnya. Selama kurang lebih dua puluh dua tahun, akhirnya buah hasil taburan benih iman para misionaris MSF Belanda di Keuskupan Agung Samarinda dapat dinikmati kembali. Sebuah keprihatinan yang dialami oleh Gereja lokal di Keuskupan Agung Samarinda termasuk berbagai macam tarekat religius yang berkarya akhirnya datang juga. Selama dua puluh dua tahun Keuskupan Agung Samarinda menanti lahirnya misionaris-misionaris muda dan akhirnya penantian panjang itu datang pula dengan menghasilkan dua imam baru yang ditahbiskan seiring dengan Perayaan Ulang tahun Gereja Katedral Sta. Maria Penolong Abadi Keuskupan Agung Samarinda.

Adalah kegembiraan dan kebahagiaan seluruh Gereja khususnya Gereja di Keuskupan Agung Samarinda, karena selama dua puluh dua tahun menanti kehadiran imam baru, akhirnya penantian itu datang juga dengan ditahbiskannya Diakon Iwan Yamrewav MSF dan Diakon Stanley Genial MSF. Kalau melihat dari jumlah umat yang menghadiri upacara pentahbisan ini, memang sangat laur biasa. Bahkan sampai berada di halaman luar gereja. Bisa dipahami bagi sebagian besar umat di wailayah keuskupan Agung Samarinda pada umumnya acara tahbisan imam bisa menjadi suatu peristiwa yang ‘langka’, jarang terjadi. Harapan kita semua bahwa kebahagiaan umat di keuskupan Agung Samarinda yang dapat melihat secara dekat acara tahbisan menggerakkan mereka untuk menjadi animator panggilan agar benih-benih panggilan kian tumbuh subur di bumi Kalimantan.

Sebenarnya ada banyak kaum muda yang mungkin merasa tertarik untuk masuk seminari tetapi mengalami sedikit kendala soal biaya. Atau belum terlalu tahu tahap-tahap pendidikan para calon imam. Maka dari sebab itu momen tahbisan ini menjadi kesempatan yang dinanti-nanti untuk melihat hasilnya. barangkali dua puluh tahun menanti adalah waktu yang terlalu lama, tetapi mengingat bahwa minat anak remaja dan kaum muda pada cara hidup para biarwan-wati dewasa ini semakin menurun. Oleh sebab itu kiranya perjumpaan umat dengan kaum berjubah dalam acara tahbisan bisa menumbuhkan benih-benih panggilan dalam hati mereka. Partisipasi kaum muda dalam acara tahbisan ini yakni pada koor tahbisan juga merupakan bagian dari proses penyadaran bahwa tugas pelayanan Gereja harus dilanjutkan, dan yang pasti bahwa sebagai penerus tidak lain adalah mereka yang muda-muda ini.

Muncul suatu pertanyaan, mengapa pangiilan untuk hidup membiara kian merosot? Tentu kita bertanya bukan untuk mencari kambing hitam, sebab memang tidak ada yang mau dijadikan kambing hitam. Hanya saja bahwa daya tarik untuk hidup membiara memang terus berkurang adalah fakta apakah ini dikarenakan para religius yang sudah berkarya tidak mampu memberi teldan hidup yang patut untuk ditiru, ataukah pastoran selalu tertutup untuk mereka, para pastor mulai menjaga jarak dengan umatnya? kurangnya sapaan dari pastor paroki kepada kaum muda?. Ini  semuanya kembali kepada kita masing-masing. Sementara dalam keluarga tidak bisa lagi tumbuh benih-benih panggilan maka pastoran atau paroki bisa menjadi alternative untuk menumbuhkan benih-benih panggilan bagi anak remaj, dan kuam muda. Sebab perjumpaan seorang anak dengan pastor paroki atau kaum berjubah paling tidak memunculkan tanda tanya dalam benaknya apa sih enaknya jadi pastor? Enaknya mengenakan jubah putih?

Lahan Kalimantan menanti para penuai

Setengah abad sudah  kongregasi MSF berlayar melayani umat di pedalaman Kalimantan. Riak gelombang cobaan telah dirasakannya. Sejak jala ditebarkan 1926, sampai kini hasilnya tentu sudah banyak dirasakan oleh Gereja sendiri. Bahtera pun semakin jelas ke mana akan dilabuhkan.

Jika MSF-provinsi Kalimantan diibaratkan sebuah kapal, maka memang sang nakhoda sudah semakin mengerti ke mana tarekat ini dilabuhkan atau diarahkan. Harapan Gereja kiranya MSF semakin mampu menjadi salah satu pilihan bagi para kaum muda untuk mengabdikan dirinya bagi Gereja. Dalam usianya yang ke-80, MSF provinsi Kalimantan telah berkarya di empat wilayah keuskupan Kalimantan dan bukan tidak mungkin bahwa MSF akan semakin memperlebar sayapnya untuk melayani umat sebab Tuain memang banyak tetapi pekerjanya masih sedikit.

Hanya saja sebelum mengembangkan sayapnya, ada baiknya tarekat kemudian berpikir sejenak bagaimana cara untuk bisa mengkaderisasi para kaum muda di bumi Kalimantan agar karya tarekat tidak berhenti. Sebab sampai saat ini hidup membiara seperti belum terlalu banyak menyapa para kaum muda di Kalimantan.

Semakin hari kian terasa betapa minimnya para pelayan Tuhan di wilayah Kalimantan, jika dibandingkan dengan luas wilayah dan paroki atau stasi (lingkungan). Hal itu berarti bahwa lahan Kalimantan masih sangat terbuka lebar untuk siap menerima para pelayan Tuhan.

Tetapi masalahnya adalah adakah yang mau mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan yakni menjadi pelayan-Nya. Kalau masalah ini kita persempit, secara khusus bagi tarekat MSF provinsi Kalimantan, cara-cara apa yang perlu ditempuh untuk bisa menjaring para kaum muda masuk biara? Bagi MSF Kalimantan tentu tidak tinggal diam, buktinya sudah mampu menghasilkan imam-imam misionaris yang berkarya di bumi Kalimantan, hanya masalahnya sekarang bagaimana mencari pengganti para pekerja itu seandainya sudah tua. Jelas tidak mungkin para “sesepuh” ini akan terus berkarya namun waktunya akan tiba saat di mana mereka ini tidak bisa lagi melayani umat. Maka dalam memperingati HUT ke-80 ini, kita para anggota missionaris keluarga kudus menjadikannya sebagai momen yang tepat untuk memikirkan perjalanan tarekat ke depan. Tentu semakin tidak muda sebab gaya hidup membiara seolah-olah tidak lagi menjadi trend yang menarik bagi para kaum muda, atau karena para konfrater yang berkarya masih kurang mampu memberi teladan hidup di tengah umat. Tentu soal teladan lalu bisa bersifat relatif tergantung orangnya. Happy birthday MSF (bhs dayaknya apa?) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s