Arsip untuk Agustus, 2006

Tahbisan dan Kaul Kekal

Berturut-turut pada tanggal 28 dan 29 Juni 2006, dua hajatan besar diselenggarakan oleh Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus Provinsi Kalimantan. Pada hari Rabu 28 Juni 2006, Fr. Iwan Yamrewav, MSF dan Fr. Stanley, MSF ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Samarinda, Mgr. Florentinus Sului, MSF di Katedral St Maria Samarinda. Keesokan harinya pada tanggal 29 Juni 2006, 4 orang Frater MSF Kalimantan -termasuk redaksi Musafir, Bung Onchu- mengucapkan kaul kekal kekal di hadapan Provinsial MSF Kalimantan P. Teddy Aer, MSF yang juga disaksikan Asisten IV Jenderalat MSF P. Paulinus Yan Olla, MSF.

Berikut adalah sebagian foto-foto dari hajatan tersebut. Proficiat.

DSC_0003DSC_0240DSC_0581DSC_0737

DSCF3239DSCF3243DSCF3244DSCF3238

GW109GW105GW106GW104

Foto-foto lainnya dapat dilihat di http://www.flickr.com/photos/msfmusafir/ dan juga di http://www.flickr.com/photos/gemawarta

Komentar (2)

Hasil Pertemuan Nasional Orang Muda Katolik Indonesia 2005

(Cibubur, 12-16 November 2005)

I. PENGANTAR
Pertemuan Nasional Orang Muda Katolik Indonesia 2005 ingin mengkaji secara lebih dalam tentang rusaknya keadaban publik dalam hidup bersama. Pengkajian ini didasarkan pada masalah-masalah serius yang telah dipaparkan dalam Nota Nastoral Konferensi Waligereja Indonesia 2004. Korupsi, kerusakan lingkungan hidup dan kekerasan yang ditelaah dengan analisa tiga poros memperlihatkan bagaimana interaksi antara negara, masyarakat pasar dan masyarakat warga nampak begitu tidak seimbang.
Mengingat Orang Muda Katolik Indonesia adalah bagian dari Gereja dan Bangsa, situasi dan permasalahan itu menjadi penting untuk dibaca dan diterjemahkan dengan cara pandang Orang Muda. Dengan demikian, menjadi nampak bahwa keterlibatan orang muda memang dapat menentukan dan mempengaruhi hidup bersama. Baca entri selengkapnya »

Komentar (5)

Kau Goreskan Cintamu Dalam Telapak Tanganku

“Karena engkau sangat dikasihi Sang Isa,
maka aku beranikan diri, mengajakmu untuk mengisi dan mengakhiri hidupmu dengan Indah”.

Refleksi Panggilan dari Skolastikat MSF Oleh: Fr. Ama Gebby Maing, MSF

Adikku yang sangat kucintai…..
Seiring dengan semilir angin dan senja kelabu, ijinkanlah aku berbisik di lubuk hatimu bahwa aku tengah dirundung kegelisahan yang tak kunjung pudar bahkan hadir dalam irama langkahku bagai kundur di atas dulang. Pada saat ini dengan kebulatan hati, kuberanikan diri untuk mengatakan sejujurnya kepadamu bahwa aku sedang merenungkan nasib dirimu. Aku tahu bahwa sikap ini tentu tak akan pernah membantu mengubah dirimu bahkan mungkin sebagai sesuatu yang sia-sia. Aku insaf bahwa aku mengalami kesulitan untuk mengubah sikap merenung menjadi tindakan nyata lantaran, aku semakin sadar bahwa cinta butuh pembuktian. Seandainya saat ini engkau meminta bukti maka aku hanya mengatakan; “detik ini juga kusebut namamu dalam intimitasku dengan Sang Isa”. Sesungguhnya hanya satu yang aku katakan padamu bahwa “aku sangat mencintaimu”. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Empaty Untuk Memahami dan Merasakan

Untuk mencapai sesuatu tak ada yang lebih sulit kalau mengetahui caranya, tetapi tak ada yang lebih mudah kalau mengetahui caranya.

Hidup Bersama dalam Komunitas
Untuk membangun hidup bersama dalam sebuah komunitas seperti di Seminari Johaninum, perlu sikap empathy terhadap sesama. Artinya kehidupan bersama di dalam sebuah komunitas, menjadi komunitas yang mengkrasankan kalau masing-masing pribadi mampu untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain seolah-olah memahami perasaan kita sendiri. Di samping itu untuk mampu memahami karakter setiap anggota komunitas yang berbeda-beda dalam kehidupan bersama, para postulan diajak untuk bersikap terbuka terhadapa sesama anggota komunitas (para postulan dan pen damping di Seminari) Demikianlah ajakan Pastor Felix MSF dalam rekoleksi bulan di Seminari Johaninum pada hari Sabtu-Minggu, tanggal 5-6 November 2005 yang mengusung tema “HIDUP BERSAMA DALAM KOMUNITAS“. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Aksi Peduli Propinsi

Situasi yang ideal adalah harus adanya perishing antara kasa paroki dan kas pastoran sehingga dari kas pastoran ada yang bias diserahkan untuk propinsi. Namun selama yang ideal ini belum terwujud, masing-masing anggota dipersilahkan untuk mengekspresikan kepeduliaannya menurut cara yang sesuai dengan “minat dan bakat” masing-masing, demikianlah kata sepakat para anggota Domus Sampit dalam pertemuan tanggal 09-10 November 2005 di Pastoran Katedral Keuskupan Palangkaraya.

Sejalan dengan tema pertemuan di atas, maka sejak hari Rabu siang para konfrater yang berada cukup jauh dari pastoran Katedral sudah berkumpul di pastoran sehari sebelum pertemuan dimulai seperti rombongan  dari Sampit sudah tiba sehari sebelumnya karena ada urusan lainnya yang harus diselesaikan.
Sebagai inspirasi zealous ungkapan syukur kepada Allah, pembukaan pertemuan diawali dengan ibadat sore bersama tepat pkl. 18.30 Wita. Pertemuan kali ini dihadiri semua anggota domus, tanpa kecuali mulai dari anggota tertua sampai yang termuda dalam usia (P. Willibald  P. Darmo, P. Lingai, P. Bethras, P. Lukas, P. Amel, Br. Stanis MSF, Br. Usat, Br. Urbanus dan P. Cosmas MSF). Setelah makan malam, acara dilanjutkan dengan rekreasi ’semi bersama’ di pastoran sambil menikmati aneka snack yang disediakan tuan rumah.

Hari Kamis, tanggal 10 November, rapat bersama dimulai pkl 08.00 yang membahas informasi dari Tarekat dan Keuskupan serta soal kemandirian MSF Provinsi Kalimantan dalam hal dana dan beberapa agenda lainnya. Dalam Rapat ini rektor domus yang baru P. Amel MSF, yang telah terpilih secara meyakinkan dan telah disyahkan dengan mengucapkan Syahadat panjang, mulai menjalankan tugasnya. Sesuai dengan temanya “Aksi Peduli Provinsi” dalam rangka mensuksesakan kemandirian Provinsi.

Selain dua agenda diatas, pertemuan ini juga. diisi dengan wawan hati bersama Pak Wilhem Ndoa dari Bimas Katolik Kalteng menyangkut mekanisme pengangkatan dan penempatan tenaga katekis dan Guru agama,  harapan akan pembinaan dan pendampingan dari para pastor di paroki masing-masing dalam rangka meningkatkan kerjasama yang baik antara para pastor di paroki dan para katekis yang ditugaskan di paroki tersebut.

Rangkaian acara kebersamaan  ditutup dengan Ibadat siang bersama dan dilanjutkan santap bersama. Lagu ” hapy birthday” menggema di seputar ruang makan karena hari itu, Br. Urbanus yang “Imut berwajah tua” merayakan hari ulang tahunnya yang ke-30. Met ultah Bruder, moga setia selalu. Setelah santap siang, sambil mengucapkan terima kasih pada  tuan rumah ( P. Lukas dan Bruder Usat, serta para Pastor disana ( P. Stanis SVD, P. Nevi SVD dan P. Frans PR) para konfater bergegas menuju ke tempat karyanya. Selamat berpisah, sampai ketemu lagi pada pertemuan berikutnya di Keuskupan Palangka Raya, tanggal 24-25 Februari 2006.

(Musafir Cosmas-Reporter Domus Sampit)

Tinggalkan sebuah Komentar

Siapa Yang Menggantikan Aku?

Oleh: Tuan Kopong MuSaFir (Reporter)

Seuntai pertanyaan ini merupakan topik pembicaraan pertemuan Domus Samarinda berkaitan dengan Kerasulan Panggilan yang hendak dirintis oleh Domus Samarinda sebagai bentuk dukungan bagi perkembangan karya Kerasulan Panggilan Tarekat yang dilaksanakan oleh Provinsi. Pertemuan sendiri dilaksanakan  pada tanggal 28 November 2005 di km.10,5 bertepatan dengan hari ulang tahun P. Kristianto MSF yang ke-50 (Red: pesta emas loh). Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Surat Dari Prancis

Pater Prillion MSF sekitar pertengahan bulan November mengirim surat untuk Bung Redaktur MUSAFIR dalam bahasa ibu Pater Pendiri tarekat tercinta kita MSF. Surat ini diterjemahkan kembali oleh Bung MuSaFir ke dalam bahasa Indonesia.

Konfraterku Onchu. Apa kabar? Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Merintis Jalan Menuju Perubahan – Bersama Kaum Muda

(Benih Cologne – bersemi iman di Hongkong – menuai habitus baru di Cibubur) 

Oleh: Tuan Kopong MuSaFir & P. Syamsudin MSF

Pengantar

Orang Muda Katolik adalah musim semi Gereja sekaligus rasul-rasul Kristus dan Gereja masa depan. Paus Benediktus XVI dalam kotbahnya pada hari Orang Muda Katolik sedunia di Cologne-Jerman meminta Kaum Muda untuk bijak menggunakan kebebasan yang telah dianugerahkan  Tuhan. Kebebasan bukan berarti hidup dengan otonomi total atau mutlak. Namun kehidupan dengan koridor kebenaran dan kebaikan sehingga tiap pribadi tumbuh menjadi sosok yang benar. Dalam arti ini maka yang diharapkan dari Kaum Muda sebagai musim semi Gereja adalah mengaktualisasikan berbagai usulan dan program yang telah disusun dalam sebuah tindakan konkrit dan dinamis.

Pernas Orang Muda Katolik Indonesia (OMKI) 2005 dan Lokakarya di Macau menjadi cermin bagi Gereja di Asia, khususnya Indonesia untuk melihat sejauh mana Kaum Muda mengejawantahkan aneka programnya dalam tindakan konkret. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Sangkamu, aku ini seorang penyamun ?

Kata orang; meski wajah sangar, hati tetap baik. Meski hitam tapi manis. Namun kata-kata bijak ini kiranya tak bersahabat dengan bung Musafir, pagi hari ini (20 December 2005) saat bertandang di TK Sta. Miriam-Balikpapan dalam acara Sinter Clas.

Malang benar nasibku, mentang-mentang hitam manggusung kulitku, aku dipilih sebagai “pembantunya” Sinter Clas yang dilakoni oleh P. Sinnema. Sudah hitam dirias lebih hitam lagi dengan bibir bergincu merah menyala. Baca entri selengkapnya »

Komentar (1)

Apakah Ada Bedanya Opah dan Kakek?

Suasana gelap menyelimuti “pondok hari tua” Wisma Simeon-Banjarbaru; kira-kira pkl. 19.00 Wisa (Waktu Simeon) pada hari Sabtu malam tanggal 26 November 2005. Dalam keremangan petromax, duduk sekelompok kecil komunitas (Mgr. Demarteau, P. Borst,) termasuk Reporter MUSAFIR yang pada waktu itu ikut makan bersama dengan penghuni setia pondok “renungan” Simeon sekalian mohon pamit kembali ke Balikpapan.

Sedang asyik menyantap aneka hidangan dalam sorotan remang petromax ibarat di dalam cafe “gaul abis” tiba-tiba Mgr. Demarteau MSF (Uskup Emeritus) nyeletuk dengan nada yang keras-maklum Uskup kita yang sudah 80-an tahun ini udah “kristutal” (Red: krisis tuli total) dengan acungan jempol ibarat pidato mantan presiden pertama Indonesia Bung Karno menunjuk teman sekomunitasnya P. Borst sambil berkata; “dia sudah opah”. Mendengar ocehan teman sekomunitasnya, antara tertawa dan senyum simpul yang tidak jelas P. Borst yang sudah “krispital” (Red: krisis pikun total)  menjawab; “dia jadi kakek”. Mendengar jawaban “opah Borst”; sang “sekertaris pribadi” (Red: sang PM: Procur Misi) kakek Demarteau langsung menuliskan balasan opah Borst untuk Beliau. Setelah membaca tulisan yang adalah jawaban opah Borst, kakek Demarteua masih membalas dengan akting yang sama, ohhhh… Dia opah, saya belum kakek..!! Opah Borst langsung menimpali; yah dia mau lebih tinggi alias jadi kakek… Mendengar ocehan opah dan kakek berpenampilan muda ini, gelak tawa menggema di dalam Wisam Simeon. Lalu sang Procur, Pa’ Provinsial dan Reporter Musafir langsung nyambung; “apakah ada Bedanya opah dan kakek”??. Hanya opah dan kakek yang bisa menjawabnya entah kapan… 

Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan yang Lebih Tua »