Kesaksian sembunyi pada weekend
26 Juli 2006 oleh redaksi

Pada tahun ini telah dijalankan di Amsterdam perjalanan yang ke 125 kali pada malam hari yang disebut “Stille Omgang”.
(= jalan keliling sambil berdiam dan berdoa). Pada malam hari berjalan di centrum ibukota Amsterdam bersama sama, disamping orang lain yang berpesta pora, mencari minum dan perempuan. “Kesepian itu sudah merupakan suatu kesaksian di dalam keramaian dunia”, kata Hao Tran. ”Amsterdam sering dipandang sebagai kota penuh kriminalitas, prostitusi dan kekerasan. Dengan berjalan begitu kita memancarkan bahwa Tuhan peduli akan manusia”. Sebagai pribadi Hao Tran senang ikut dalam perjalanan yang sudah dilaksanakan jutaan manusia sebelumnya. “Ikut dalam sebuah perjalanan sejarah dan itu membuat diri sendiri kecil dan gembirapun karena bersatu dengan gereja yang dahulu, sekarang dan yang akan datang.”
Perjalanan yang setiap tahun diadakan pada bulan Maret adalah untuk memperingati suatu kisah ajaib dari tahun 1345. Seorang bapa tua yang sakit dari Kalverstraat baru terima komuni dan terus muntah. Muntahan dilempar dalam api dan pada pagi berikutnya hosti masih utuh. Pastor paroki membawa kembali ke gereja tetapi hosti muncul lagi sampai tiga kali di rumah orang tua yang sakit.
Ekaristi
Bagi gereja pada abad pertengahan itu merupakan suatu konfirmasi tentang dogma kehadiran Tuhan dalam rupa roti (1215). Banyak cerita ajaib lain muncul dan sakramen ekaristi sungguh sungguh dihormati. Mulai dengan peraturan acara liturgis kalau seorang imam membawa sakramen kepada orang sakit. Seandainya seorang pasien muntah, sisa hosti harus diselamatakan (dimakan).
Tidak lama kemudian setelah peristiwa di Amsterdam rumah kejadian itu dijadikan kapel dan mulai perziarahan ke Amsterdam. Sejak tahun 1578 diberhentikan oleh yang berkuasa (Protestan). Kapel dihancurkan. Pada tahun 1853 gereja Katolik boleh lagi berorganisasi di Belanda meski larangan berprosesi berlaku sampai tahun 1989 kecuali di propinsi atau wilayah yang mayoritas Katolik seperti Brabant dan Limburg.
Pada tahun 1880 peringatan akan keajaiban dari Amsterdam dihidupkan kembali dalam rupa perjalanan doa seperti diadakan di Den Bosch. Bukan sebuah pawai dengan segala attribut religius, tetapi suatu perjalanan sambil berdoa. Bentuk ini dipilih untuk Amsterdam. Mereka ikut route yang dahulu dan pada pertengahan jalan dekat satu lantaran, tempat dimana disimpan hosti berhenti untuk berdoa dalam hati. Dewasa ini perjalanan model ini mulai populer lagi kalau ada peringatan akan musibah dan lain sebagainya seperti protes.
Bertobat
Ziarah Stille Omgang tetap “sembunyi” sejak larangan prosesi tidak ada lagi. Kecuali anggota “Opus Dei” yang mulai dengan prosesi lengkap sekali dalam dua tahun. Pada zaman emansipasi orang Katolik di Belanda ada kebutuhan akan prosesi. Gerard Brom seorang historicus dan artis memperjuangkan bentuk Stille Omgang. Karena bentuk ini mengenang kembali jalan sengsara Kristus dan merupakan kesaksian publik untuk mengikuti Kristus. Gerakan itu terutama untuk menerima rahmat Injil kedalam hati dan menuju ke surga. Itulah tobat, dimana Tuhan hadir di tengah kita.
Muda mudi
Tahun lalu sekitar 8000 orang muda ikut dalam “Stille Omgang”. Bukan suatu rekor. Pada waktu saya masih muda dan saya juga ikut dalam perjalanan bersama 80.000 orang (N.B. Hanya laki laki boleh ikut waktu itu!). Bersama para bapa dan pemuda dari paroki di pinggiran Amsterdam kami berjalan sampai ke pusat kota sambil berdoa rosario. Setelah keliling secara sembunyi sembunyi sembayang ikut misa dan kemudian dengan bis kembali ke gereja paroki dimana para ibu menerima kami kembali sambil bertepuk tangan. Memang merawankan hati berjalan pada malam hari di centrum kota Amsterdam. Sekaligus mengalami konfrontasi berjalan sambil berdiam diri bersama Tuhan. Kadang kadang kita ditertawakan oleh “kelompok kaum adam” lain, yang tidak tenang tetapi toh ingin tahu.
Peristiwa ajaib atau mirakel dari Amsterdam masih aktuel. Karena kita bertemu dengan Tuhan yang mengundang kita sambil percaya Tuhan sunguh hadir dalam Ekaristi.
Ia ingin bersama kita.
Begitu juga pengalaman Hao Tran. “Yesus ikut hadir dalam perjalanan kita.” Begitu Tuhan mendampingi bangsa Israel dalam perjalanannya menuju tanah yang dijanjikan.


