Brabants Dagblad: Wawancara dengan pastor Kleijnenbreugel

Biara MSF yang terakhir di Goirle, Belanda. September 2006 biara akan dikosongkan. 

Pastor Kleijn (sebutan harian Brabants Dagblad) akan “memadamkan lampu dan mengunci pintu “biara yang terakhir MSF di Goirle (Belanda). Rumah akan dijual dan keenam penghuni akan pindah ke biara SVD di Teteringen. Biara SVD di Teteringen akan menjadi rumah untuk 38 pastor SVD, MSF dan OSB (Benediktin). Pastor Kleijn tinggal 28 tahun sebagai pastor kepala di Kutai Barat (Barong Tongkok) wilayah Tunjung Benuaq, dan 7 tahun sebagai ekonom keuskupan Samarinda. Bulan Mei 1999 beliau diminta pulang ke Belanda dan sejak itu beliau berjabat sebagai ekonom provinsi Belanda merangkap prokurator misi.

Masa kini dan masa depan

Boleh jadi bahwa nanti pastor Kleijn menjadi orang yang menurut peribahasa terkenal “mematikan lampu dan mengunci pintu.” Biara akan dijual dan para penghuni yang terakhir akan pindah bergabung dengan sisa para missionaris SVD di Teteringen. Pastor Kleijn, ditahbis menjadi imam tahun 1963, mengatakan dengan ketenangan yang mengagumkan bahwa beliau tidak menyesal untuk meninggalkan biara ini. Katanya: “Saya tidak terikat pada suatu tempat tetap. Sebagai seorang misionaris saya biasa untuk berpindahpindah tempat. Apalagi tinggal dalam komunitas yang kecil. Kadang-kadang membosankan. Semua mereka lebih tua dari saya. Baca surat kabar yang sama, nonton program T.V. yang sama juga sehingga hampir tidak ada bahan untuk dibicarakan. Keuntungan bagi saya hanya bahwa keluarga saya tinggal dekat. Semua dapat saya kunjungi dengan naik sepeda.”

Suasana di Belanda memang berbeda jauh dari keadaan di Indonesia, baik bidang material maupun spiritual. Di bidang material Indonesia apalagi Kaltim jauh ketinggalan. Tetapi di bidang spiritual boleh dikatakan Indonesia menang! Di Indonesia gereja-gereja hidup dengan umat yang muda dan bersemangat. Di Belanda banya umat yang tua ke gereja. Banyak gedung gereja kosong dan dibongkar. Panggilan imam, suster dan bruder dapat dihitung pada jari satu tangan. Pastor Kleijn menyadari keadaan ini penuh, tetapi sama sekali tidak gelisab atau merasa menyesal. “Kongregasi kami masih beranggota 900 orang, terutama di Jawa dan Kalimantan kongregasi kami terus berkembang secara subur. Saya puas dengan perkembangan itu. Karya kami temyata berhasil di situ, walaupun karya kami di Eropa selesai. Kami merasa diri bagaikan orang tua yang tugasnya selesai. Anak-anaknya telah dewasa dan menempuh hidup sendiri. Karena itu kami bukan kecewa melainkan merasa diri bahagia dan puas atas hasil karya kami.”

Lantas pastor berkata: “Untuk saya semua agama sama, walaupun cara mereka berbeda-beda. Agama Kristen-Katolik mempunyai ciri khas yaitu cintakasih kepada semua sesama. Memang semua agama termasuk adat mengajar cintakasih, tetapi cintakasih itu sering terbatas pada orang seagama atau sesuku. Kita boleh mengatakan bahwa cintakasih kepada semua sesama telah terlaksana di Eropa, umat Kristen yang tertua. Memang masih terdapat banyak dosa tetapi pada prinsipnya banyak cita-cita agama Katolik tercapai. Seperti: keadilan untuk setiap warga; kurang perbedaan antara kaya-miskin; kurang korupsi; perhatian untuk orang sakit; jaminan pensiun; kesempatan bersekolah untuk setiap anak dll. Kita bisa kagum atas bantuan besar sekali waktu tsunami tadi! Betul tanda cinta kasih kristinani yang tidak membedakan bangsa atau agama.”

Kesimpulan:
Pastor Kleijn berkata: “Di dunia ketiga agama Kristen-Katolik mulai berkembang. Semoga mereka semakin melaksanakan cita-cita Injil. Kami telah memberi andil dalam perkembangan itu. Karena itu kami bisa menutup pintu dan mematikan lampu dengan tenang. Dengan puas saya mengenangkan karya saya di Kaltim dan saya yakin bahwa Kerajaan Allah akan dibuka dan bercahaya di Kaltim.”

Beberapa fakta:

Biara “Santa Theresia” di Goirle dibangun tahun 1935.
Gedung mempunyai 25 kamar dan beberapa ruang umum.
Besarnya seluruh kompleks ternasuk tanah + 2 ha.

Tujuan utama gedung ini adalah sebagai prokura misi. Beberapa bruder aktif memetikan barang yang kemudian dikirim ke Indonesia dan Chili.

Setelah tidak perlu lagi mengirim barang ke Misi gedung menjadi seminari agung beberapa mahasiswa.
Sejak 1996 menjadi provinsialat dan rumah jompo.
Kini tinggal hanya enam pastor MSF a.l. pastor Spitters dan pastor Kleijn: keduanya mantan missionaris di Kaltim.

 

Berkaitan dengan pindahan ke Teteringen

Selasa 24 Mei 2005 Dewan paroki “Nama Kudus Yesus” di Lierop mengadakan rapat. Bahan pembicaraan a.l.: “berapa lama pastor Zwirs masih berkarya di paroki kami?” Pertanyaan ini dijawab oleh pastor Zwirs sendiri. Beberapa bulan sebelumnya sebagai anggota Kongregasi MSF beliau dipilih dalam kapitel sebagai assisten II. Pekerjaan itu dapat dilaksanakan dari Lierop. April 2005 meninggal pater Pfaff (assisten I) dan pastor Zwirs otomatis menjadi assisten I. Konsekwensi bahwa beliau harus tinggalkan Lierop dan pindah ke Goirle. Syukurlah untuk Lierop dan pastor Zwirs propinsial dan assisten II memutuskan bahwa pastor Zwirs boleh tinggal di Lierop dan darisitu bisa menolong para konfrater di Goirle. Di Lierop dalam waktu dekat akan didirikan  kelompok kerja “Ibadat sabda” untuk antisipasi ketidakhadiran pastor. Akhir tahun beliau berumur 65 tetapi tidak ada alasan untuk berhenti.
(berita dari Eindhovens Dagblad)

2 Tanggapan »

  1. Katharina Peni Mindarwasih berkata

    Pastor Kleijn, apa kabar? kapan ke Indonesia dan ke Karawaci, kalau kebetulan ke Indonesia info by e-mail. Thanks

  2. Raing berkata

    Pastor Kleijn,

    masih ingat dengan barong tongkok kan
    sekarang sudah berubah…
    kami semua dari sini mendoakan pastor selalu

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar